|
|
Bulan Mei 2001
|
|
Repot
dan Nikmatnya Berebut Bea Siswa
Layaknya pegawai negeri lain, kami hidup sederhana. Ayah menambah
penghasilan dengan mengajar di lembaga bimbingan tes, sedangkan Ibu
mengusahakan kantin dan rantangan. Orang tua saya mengajarkan dan memberi
contoh agar anak-anaknya selalu bersyukur atas apa yang kami miliki. Dalam
banyak hal, mereka amat transparan dan liberal. Maka, kami terbiasa mandiri
dan memecahkan masalah sejauh kami bisa.
Membantu Erna Witoelar
Karena berlatar belakang guru, Ayah selalu membimbing kami mengerjakan PR.
Terkadang ia mengajak kami rekreasi dengan cara sangat kreatif, murah
meriah, misalnya naik bus tingkat bolak-balik Blok M - Lapangan Banteng.
Atau kami berlima naik motor bebek Ayah ke taman umum di Pondok Indah untuk
main ayunan dan perosotan.
Di kelas 4 SD, saya harus cabut gigi di Puskesmas Blok M. Waktu itu saya
minta bolu kukus. Ayah bilang uangnya hanya cukup untuk bolu kukus atau naik
bus pulang. Karena disuruh memilih, saya memilih bolu kukus. Maka, kami pun
pulang berjalan kaki dari Puskesmas di Blok M sampai ke rumah kami di
Kampung Sawah, Radio Dalam, sejauh 5 km.
Transparansi membuat keluarga kami amat pragmatis dalam mengambil keputusan.
Setamat SMA saya langsung melakukan survei, sekolah mana paling cepat
memberikan pekerjaan dan penghasilan, karena saya harus segera lepas dari
beban orang tua. Pilihan saya jatuh pada salah satu lembaga pendidikan
kesekretariatan di Jakarta. Ini membuat banyak pihak bertanya-tanya,
termasuk orang tua saya, karena semua orang ingin saya menjadi sarjana.
Maklumlah, saya sering menjadi bintang kelas.
Syukurlah, saat naik tingkat II, saya diterima bekerja sebagai sekretaris
temporer untuk Ibu Erna Witoelar (kini Menteri Permukiman dan Prasarana
Wilayah - Red.) yang saat itu Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan
Hidup (WALHI). Saya bekerja dari pk 08.00 - 13.00, dan mulai kuliah pk
14.00.
Setelah lulus, saya bekerja sebagai sekretaris di Australian Language
Center. Di saat yang sama saya diterima di Fakultas Ekonomi Universitas
Indonesia Program Ekstension. Tahun kedua kuliah, saya pindah ke Kedubes
Amerika Serikat, sebagai staf bagian konsuler dan bekerja di sana selama dua
tahun.
Nekat masuk MASTEL
Memasuki tahun ketiga di sana, saya kembali bertemu Ibu Erna Witoelar yang
saat itu menjabat sebagai ketua Organisasi Konsumen Sedunia (IOCU). Saya pun
diminta menjadi asisten beliau.
Lulus dari UI, saya menerima tawaran kembali bekerja di Kedubes Amerika
Serikat, kali ini di bagian perdagangan, sebagai Spesialis Perdagangan yang
menangani bidang Telekomunikasi dan Franchise. Namun, saya tetap membantu
Ibu Erna untuk menangani beberapa riset. Selama lima tahun saya menangani
bagian itu sampai saya mencapai posisi tertinggi yang bisa saya raih.
Tak hanya soal pekerjaan, ada satu hal yang saya pelajari di sana. Bagaimana
semestinya suatu negara memperlakukan rakyatnya. Pelayanan kepada
warganegara Amerika selalu diusahakan sesuai standar dan prosedur. Misalnya,
jika ada perusahaan meminta informasi, Bagian Perdagangan harus menjawab
dalam tiga hari apakah informasi itu sudah didapat, dalam proses, atau harus
dijawab oleh pihak lain. Ini tak lain agar si pengusaha tahu dengan pasti
status permintaannya.
Saya memutuskan memulai karir baru sebagai Analis Riset dan Informasi di
sebuah perusahaan asing, sebelum melangkah drastis menjadi Direktur
Eksekutif Masyarakat Telekomunikasi Indonesia (MASTEL). Saat saya masuk,
lembaga itu belum memiliki kantor maupun staf. Yang ada baru ketua umum dan
pengurus dengan cita-cita besar ingin membangun organisasi strategis yang
menjembatani kepentingan masyarakat telekomunikasi dan pemerintah. Selewat
dua tahun, MASTEL mulai dikenal, baik di dalam maupun luar negeri. Saat
itulah saya membaca di koran tentang "Beasiswa Merdeka", program
kerja sama pemerintah Indonesia dan Australia.
Mau kursus singkat, malah MBA
Program itu mensyaratkan peserta untuk menyampaikan proposal dalam bentuk
program kegiatan di Australia. Berdasarkan kriteria itu saya menentukan misi
proposal saya, yaitu: mempelajari sistem regulasi telekomunikasi Australia,
sehingga dapat menjadi salah satu model bagi deregulasi telekomunikasi di
Indonesia.
Untuk mencapainya, saya menentukan organisasi dan institusi apa saja di
Australia yang akan dikunjungi baik untuk riset, magang, maupun kunjungan
singkat. Saya juga memilih universitas yang harus dihubungi untuk ikut
kursus singkat.
Jawabannya, amat menggembirakan. Malah, saya ditelepon pihak Australian
National University (ANU) tentang program MBA intensif mereka yang
berlangsung selama 10 bulan. Setelah diwawancarai oleh direktur program
tersebut, yang kebetulan berkunjung ke Indonesia, saya dinyatakan diterima.
Dengan kombinasi kunjungan, riset, presentasi, dan program MBA, maka
lengkaplah seluruh syarat untuk mengikuti kompetisi "Beasiswa
Merdeka".
Dua minggu setelah wawancara, saya diberi tahu terpilih sebagai penerima
beasiswa.
Bekerja "virtual"
Kepergian kali ini dari rumah agak berbeda, karena jangka waktunya yang satu
tahun. Untunglah, saya selalu didukung oleh orang-orang terdekat saya,
terutama suami dan orang tua.
Saat itu suami saya sedang bertugas di Bahuga (pedalaman Lampung) untuk
membangun irigasi. Anak saya Rifqi - saat itu berusia 2,5 tahun - diasuh
oleh Ana, yang juga berfungsi sebagai kepala rumah tangga. Maka, kami
putuskan memanggil nenek saya dari Kalimantan untuk tinggal di Jakarta
selama saya pergi.
Untuk urusan kantor, sahabat saya Nies, insinyur yang juga bergelar MBA,
bersedia menjadi Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Eksekutif. Saya tetap
menjabat Direktur Eksekutif meski bekerja secara "virtual" dari
Australia melalui e-mail dan telepon. Saya diizinkan untuk cuti di luar
tanggungan MASTEL selama 13 bulan.
Dalam satu bulan, Februari - Maret, saya sibuk mempersiapkan rumah tangga
dan kantor. Adik saya, Rini, membantu mengurus masalah keuangan, transfer,
dsb., karena sebagian beasiswa saya kirimkan ke Indonesia. Ibu membantu
mengatur keuangan keluarga, dan pengasuh anak saya berfungsi sebagai manajer
operasional rumah tangga.
Tanggal 2 Maret 1998 saya berangkat. Ada rasa sedih dan kehilangan, melihat
Rifqi melambaikan tangan di bandara. Tapi saya yakin, suatu saat Rifqi akan
merasakan manfaatnya. Kepergian ini akan memperluas wawasan saya sebagai
seorang ibu. Lagipula, dalam setahun saya rencanakan empat kali pulang ke
Indonesia.
Selama tiga bulan pertama (Maret - Mei 1998) saya melakukan studi
komprehensif mengenai sektor telekomunikasi di Australia. Kegiatan ini,
syukurlah, berjalan jauh lebih baik dari rencana. Saya melakukan kunjungan,
riset, dan magang di berbagai institusi baik pemerintah, asosiasi, maupun
perusahaan swasta. Selama itu saya bertemu dengan lebih dari 100 orang kunci
dalam sistem telekomunikasi Australia.
Tak terasa tibalah tahap kedua dari program beasiswa (Juni 1998 - Maret
1999), yaitu kuliah program MBA di ANU untuk bidang Managing Business in
Asia. Program ini dijalankan oleh Lembaga Manajemen Australia - Asia,
dan berlangsung intensif: lima hari seminggu, pk. 08.00 - 17.00.
Setelah jam kuliah, biasanya kami mendapat tugas yang harus dikumpulkan
esoknya. Dosen kami kebanyakan dosen terbang dari berbagai universitas
ternama di Australia maupun dunia. Angkatan saya terdiri atas 36 mahasiswa
dari 12 negara (ada 7 pelajar dari Indonesia). Pengalaman belajar di sana
memberikan kenang-kenangan multikultural yang tidak terlupakan.
Kelas kami amat kompak. Setiap ada kesempatan kami bersepeda keliling danau,
memancing, berenang, main golf, piknik, main tenis, atau barbeque.
Hampir semua fasilitas olahraga ada di sekitar kampus. Karena lokasi gedung
Program MBA terletak persis di sebelah danau, suasana kuliah sangat
menyenangkan.
Stres pun kadang muncul di saat beban tugas begitu banyak akibat program
yang amat intensif. Berkat kekompakan regu dan kelas kami, saya berhasil
menyelesaikan program dengan baik. Saya malah terpilih menjadi student
representative (semacam ketua kelas) 1998/1999.
Dikunjungi Governor General
Mayoritas orang Australia sangat pragmatis dan wajar dalam kehidupannya.
Mereka sangat peduli dengan lingkungan hidup dan bersahabat dengan alam,
seperti terlihat dalam kegiatan mereka yang sangat "outdoor".
Dengan konsep "Australia as a National Park", setiap
tindakan pengembangan wilayah, pembuatan bangunan, dsb. harus berpedoman
pada konsep tersebut. Banyak taman umum yang tersedia gratis untuk rekreasi,
lengkap dengan sarana bermain anak dan tempat barbeque.
Kesejahteraan mereka juga merata, tidak ada yang terlalu kaya maupun yang
terlalu miskin. Mereka sangat peduli soal pendidikan, menghargai uang,
sehingga tidak boros, dan sangat mandiri sejak lulus dari SMA. Sebagai
contoh, anak teman saya bekerja sebagai pelayan di restoran siap saji
selulus SMA, walaupun ayahnya manajer senior suatu kantor pemerintah. Teman
yang lain memanfaatkan pinjaman tanpa bunga dari pemerintah untuk mengikuti
pendidikan S1, yang pembayarannya dipotong bila dia sudah bekerja.
Walau sangat serius jika bekerja, namun masa libur pun benar-benar
dinikmati. Output pekerjaan mereka sangat terukur. Yang juga menarik
bagi saya, masyarakat Australia amat peduli dengan Indonesia. Lima puluh
persen kontak yang saya temui pernah berada di Indonesia, baik sebagai
konsultan, profesional, misionaris, diplomat, pelajar, maupun turis.
Salah satu pengalaman mengesankan adalah ketika flat saya dikunjungi oleh
Governor General (kepala negara) Australia saat peresmian Graduate House.
Flat saya terpilih karena "very Indonesian". Pada saat HE
(His Excellency) dan Madame William Deane berbincang di flat saya, saya
katakan, saya baru saja berkunjung ke mansion beliau yang amat indah
di acara open house.
Selain indah, mansion Governor General yang luas itu terletak di tepi
Danau Burley Griffith. Tiap tahun diadakan acara open house agar
warga dapat melihat mansion itu dari dekat. Apa jawaban beliau?
"Risa, dibandingkan kamar anak laki-laki saya di asrama, kamar Anda
sangat jauh lebih bagus."
Pertama kali tiba di Canberra, saya berucap di dalam hati ingin berkunjung
ke Parliament House sebagai turis. Eh, siapa sangka, saya bahkan bisa makan
siang di restoran yang bertanda "Senators Only" di gedung parlemen
itu. Ini berkat ajakan kawan-kawan dari Asosiasi Industri Telekomunikasi
Australia yang diundang oleh Senator Peter Cook, Menteri Keuangan bayangan.
Pemerintah dan rakyat sama-sama patuh
Di Negeri Kanguru slogan jarang terlihat. Namun warganya bekerja dengan
praktis, penuh perhitungan, dan konsisten. Pemerintah dan rakyat bekerja
sesuai fungsi masing-masing. Menurut amatan saya, pemerintahnya sangat
peduli dan profesional dalam mengelola bumi, air, dan kekayaan bumi
Australia dan digunakan sebesar-besarnya bagi kepentingan rakyat dan negara
Australia. Misalnya dalam alokasi frekuensi telekomunikasi. Australian
Communications Authority dapat menyumbangkan pemasukan yang sangat besar
bagi pemerintah karena kecerdasan mereka dalam melakukan lelang frekuensi,
dan juga menjalankan fungsi sebagai regulator yang adil.
Tidak banyak teman saya yang hafal lagu kebangsaan Australia, namun mereka
taat membayar pajak, peduli terhadap lingkungan hidup, kebersihan, dan
membantu mengawasi fasilitas umum. Pantai di Australia sangat bersih,
hutan-hutan terjaga, karena pemerintah membuat peraturan ketat mengenai
standar lingkungan, dan itu dipahami oleh rakyatnya.
Kita sering berpendapat, orang asing (termasuk Australia) sangat
individualis. Ternyata sebaliknya, mereka sangat kekeluargaan, meski mereka
harus yakin dulu bahwa orang yang mereka undang atau ajak berpartisipasi
benar-benar cocok.
Dengan seringnya berinteraksi dengan orang Australia dan bangsa lain dari
berbagai tingkat, saya mempunyai kesempatan untuk mengubah paradigma orang
Australia tentang orang Indonesia. Banyak kontak saya di Australia
menyatakan, mereka biasanya kesulitan berkomunikasi atau bernegosiasi dengan
orang Indonesia. Menurut mereka, biasanya orang Indonesia sangat tertutup
dan sedikit bicara, sehingga mereka kesulitan mengerti kemauan kita. Namun
saya dapat secara praktis mengkomunikasikan dan membantu mereka memahami
berbagai masalah di Indonesia dengan lebih baik.
Pada setiap kesempatan berbicara di berbagai seminar dan forum, saya selalu
menyampaikan, "harus dibedakan antara rakyat Indonesia dengan
pemerintahan Indonesia". "Rakyat Indonesia selalu ingin negaranya
menjadi maju, makmur, sejahtera. Namun kami belum beruntung karena negara
kami selalu mengalami 'mismanagement' sehingga kami belum dapat
optimal berpartisipasi untuk kemajuan bangsa," begitu kata saya
berterus terang.
Life has to go on. Saya percaya, Allah tetap akan melindungi kita
semua. (Risa Bhinekawati) |
|||||