globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan Mei 2001

Terbit Bulan Ini; Buku Kumpulan Artikel Psikologi 1

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

Repot dan Nikmatnya Berebut Bea Siswa 

Siapa orangnya yang tak ingin mendapat beasiswa belajar di manca negara? Syaratnya ... kemauan dan kerja keras. Namun selain kepuasan akademis, rupanya ada banyak juga kegiatan "senang-senang" yang memberi wacana baru.

Saya kelahiran Pontianak, 4 Februari 1966, anak pertama dari empat bersaudara. Ayah pegawai negeri Departemen Kesehatan golongan menengah, seorang sarjana muda biologi, sedangkan Ibu, ibu rumah tangga biasa dengan pendidikan SMEA. Kami pindah ke Jakarta saat saya berusia 7 tahun.

Layaknya pegawai negeri lain, kami hidup sederhana. Ayah menambah penghasilan dengan mengajar di lembaga bimbingan tes, sedangkan Ibu mengusahakan kantin dan rantangan. Orang tua saya mengajarkan dan memberi contoh agar anak-anaknya selalu bersyukur atas apa yang kami miliki. Dalam banyak hal, mereka amat transparan dan liberal. Maka, kami terbiasa mandiri dan memecahkan masalah sejauh kami bisa.

Membantu Erna Witoelar

Karena berlatar belakang guru, Ayah selalu membimbing kami mengerjakan PR. Terkadang ia mengajak kami rekreasi dengan cara sangat kreatif, murah meriah, misalnya naik bus tingkat bolak-balik Blok M - Lapangan Banteng. Atau kami berlima naik motor bebek Ayah ke taman umum di Pondok Indah untuk main ayunan dan perosotan.

Di kelas 4 SD, saya harus cabut gigi di Puskesmas Blok M. Waktu itu saya minta bolu kukus. Ayah bilang uangnya hanya cukup untuk bolu kukus atau naik bus pulang. Karena disuruh memilih, saya memilih bolu kukus. Maka, kami pun pulang berjalan kaki dari Puskesmas di Blok M sampai ke rumah kami di Kampung Sawah, Radio Dalam, sejauh 5 km.

Transparansi membuat keluarga kami amat pragmatis dalam mengambil keputusan. Setamat SMA saya langsung melakukan survei, sekolah mana paling cepat memberikan pekerjaan dan penghasilan, karena saya harus segera lepas dari beban orang tua. Pilihan saya jatuh pada salah satu lembaga pendidikan kesekretariatan di Jakarta. Ini membuat banyak pihak bertanya-tanya, termasuk orang tua saya, karena semua orang ingin saya menjadi sarjana. Maklumlah, saya sering menjadi bintang kelas.

Syukurlah, saat naik tingkat II, saya diterima bekerja sebagai sekretaris temporer untuk Ibu Erna Witoelar (kini Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah - Red.) yang saat itu Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (WALHI). Saya bekerja dari pk 08.00 - 13.00, dan mulai kuliah pk 14.00.

Setelah lulus, saya bekerja sebagai sekretaris di Australian Language Center. Di saat yang sama saya diterima di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Program Ekstension. Tahun kedua kuliah, saya pindah ke Kedubes Amerika Serikat, sebagai staf bagian konsuler dan bekerja di sana selama dua tahun.

Nekat masuk MASTEL

Memasuki tahun ketiga di sana, saya kembali bertemu Ibu Erna Witoelar yang saat itu menjabat sebagai ketua Organisasi Konsumen Sedunia (IOCU). Saya pun diminta menjadi asisten beliau.

Lulus dari UI, saya menerima tawaran kembali bekerja di Kedubes Amerika Serikat, kali ini di bagian perdagangan, sebagai Spesialis Perdagangan yang menangani bidang Telekomunikasi dan Franchise. Namun, saya tetap membantu Ibu Erna untuk menangani beberapa riset. Selama lima tahun saya menangani bagian itu sampai saya mencapai posisi tertinggi yang bisa saya raih.

Tak hanya soal pekerjaan, ada satu hal yang saya pelajari di sana. Bagaimana semestinya suatu negara memperlakukan rakyatnya. Pelayanan kepada warganegara Amerika selalu diusahakan sesuai standar dan prosedur. Misalnya, jika ada perusahaan meminta informasi, Bagian Perdagangan harus menjawab dalam tiga hari apakah informasi itu sudah didapat, dalam proses, atau harus dijawab oleh pihak lain. Ini tak lain agar si pengusaha tahu dengan pasti status permintaannya.

Saya memutuskan memulai karir baru sebagai Analis Riset dan Informasi di sebuah perusahaan asing, sebelum melangkah drastis menjadi Direktur Eksekutif Masyarakat Telekomunikasi Indonesia (MASTEL). Saat saya masuk, lembaga itu belum memiliki kantor maupun staf. Yang ada baru ketua umum dan pengurus dengan cita-cita besar ingin membangun organisasi strategis yang menjembatani kepentingan masyarakat telekomunikasi dan pemerintah. Selewat dua tahun, MASTEL mulai dikenal, baik di dalam maupun luar negeri. Saat itulah saya membaca di koran tentang "Beasiswa Merdeka", program kerja sama pemerintah Indonesia dan Australia.

Mau kursus singkat, malah MBA

Program itu mensyaratkan peserta untuk menyampaikan proposal dalam bentuk program kegiatan di Australia. Berdasarkan kriteria itu saya menentukan misi proposal saya, yaitu: mempelajari sistem regulasi telekomunikasi Australia, sehingga dapat menjadi salah satu model bagi deregulasi telekomunikasi di Indonesia.

Untuk mencapainya, saya menentukan organisasi dan institusi apa saja di Australia yang akan dikunjungi baik untuk riset, magang, maupun kunjungan singkat. Saya juga memilih universitas yang harus dihubungi untuk ikut kursus singkat.

Jawabannya, amat menggembirakan. Malah, saya ditelepon pihak Australian National University (ANU) tentang program MBA intensif mereka yang berlangsung selama 10 bulan. Setelah diwawancarai oleh direktur program tersebut, yang kebetulan berkunjung ke Indonesia, saya dinyatakan diterima. Dengan kombinasi kunjungan, riset, presentasi, dan program MBA, maka lengkaplah seluruh syarat untuk mengikuti kompetisi "Beasiswa Merdeka".

Dua minggu setelah wawancara, saya diberi tahu terpilih sebagai penerima beasiswa.

Bekerja "virtual"

Kepergian kali ini dari rumah agak berbeda, karena jangka waktunya yang satu tahun. Untunglah, saya selalu didukung oleh orang-orang terdekat saya, terutama suami dan orang tua.

Saat itu suami saya sedang bertugas di Bahuga (pedalaman Lampung) untuk membangun irigasi. Anak saya Rifqi - saat itu berusia 2,5 tahun - diasuh oleh Ana, yang juga berfungsi sebagai kepala rumah tangga. Maka, kami putuskan memanggil nenek saya dari Kalimantan untuk tinggal di Jakarta selama saya pergi.

Untuk urusan kantor, sahabat saya Nies, insinyur yang juga bergelar MBA, bersedia menjadi Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Eksekutif. Saya tetap menjabat Direktur Eksekutif meski bekerja secara "virtual" dari Australia melalui e-mail dan telepon. Saya diizinkan untuk cuti di luar tanggungan MASTEL selama 13 bulan.

Dalam satu bulan, Februari - Maret, saya sibuk mempersiapkan rumah tangga dan kantor. Adik saya, Rini, membantu mengurus masalah keuangan, transfer, dsb., karena sebagian beasiswa saya kirimkan ke Indonesia. Ibu membantu mengatur keuangan keluarga, dan pengasuh anak saya berfungsi sebagai manajer operasional rumah tangga.

Tanggal 2 Maret 1998 saya berangkat. Ada rasa sedih dan kehilangan, melihat Rifqi melambaikan tangan di bandara. Tapi saya yakin, suatu saat Rifqi akan merasakan manfaatnya. Kepergian ini akan memperluas wawasan saya sebagai seorang ibu. Lagipula, dalam setahun saya rencanakan empat kali pulang ke Indonesia.

Selama tiga bulan pertama (Maret - Mei 1998) saya melakukan studi komprehensif mengenai sektor telekomunikasi di Australia. Kegiatan ini, syukurlah, berjalan jauh lebih baik dari rencana. Saya melakukan kunjungan, riset, dan magang di berbagai institusi baik pemerintah, asosiasi, maupun perusahaan swasta. Selama itu saya bertemu dengan lebih dari 100 orang kunci dalam sistem telekomunikasi Australia.

Tak terasa tibalah tahap kedua dari program beasiswa (Juni 1998 - Maret 1999), yaitu kuliah program MBA di ANU untuk bidang Managing Business in Asia. Program ini dijalankan oleh Lembaga Manajemen Australia - Asia, dan berlangsung intensif: lima hari seminggu, pk. 08.00 - 17.00.

Setelah jam kuliah, biasanya kami mendapat tugas yang harus dikumpulkan esoknya. Dosen kami kebanyakan dosen terbang dari berbagai universitas ternama di Australia maupun dunia. Angkatan saya terdiri atas 36 mahasiswa dari 12 negara (ada 7 pelajar dari Indonesia). Pengalaman belajar di sana memberikan kenang-kenangan multikultural yang tidak terlupakan.

Kelas kami amat kompak. Setiap ada kesempatan kami bersepeda keliling danau, memancing, berenang, main golf, piknik, main tenis, atau barbeque. Hampir semua fasilitas olahraga ada di sekitar kampus. Karena lokasi gedung Program MBA terletak persis di sebelah danau, suasana kuliah sangat menyenangkan.

Stres pun kadang muncul di saat beban tugas begitu banyak akibat program yang amat intensif. Berkat kekompakan regu dan kelas kami, saya berhasil menyelesaikan program dengan baik. Saya malah terpilih menjadi student representative (semacam ketua kelas) 1998/1999.

Dikunjungi Governor General

Mayoritas orang Australia sangat pragmatis dan wajar dalam kehidupannya. Mereka sangat peduli dengan lingkungan hidup dan bersahabat dengan alam, seperti terlihat dalam kegiatan mereka yang sangat "outdoor".

Dengan konsep "Australia as a National Park", setiap tindakan pengembangan wilayah, pembuatan bangunan, dsb. harus berpedoman pada konsep tersebut. Banyak taman umum yang tersedia gratis untuk rekreasi, lengkap dengan sarana bermain anak dan tempat barbeque.

Kesejahteraan mereka juga merata, tidak ada yang terlalu kaya maupun yang terlalu miskin. Mereka sangat peduli soal pendidikan, menghargai uang, sehingga tidak boros, dan sangat mandiri sejak lulus dari SMA. Sebagai contoh, anak teman saya bekerja sebagai pelayan di restoran siap saji selulus SMA, walaupun ayahnya manajer senior suatu kantor pemerintah. Teman yang lain memanfaatkan pinjaman tanpa bunga dari pemerintah untuk mengikuti pendidikan S1, yang pembayarannya dipotong bila dia sudah bekerja.

Walau sangat serius jika bekerja, namun masa libur pun benar-benar dinikmati. Output pekerjaan mereka sangat terukur. Yang juga menarik bagi saya, masyarakat Australia amat peduli dengan Indonesia. Lima puluh persen kontak yang saya temui pernah berada di Indonesia, baik sebagai konsultan, profesional, misionaris, diplomat, pelajar, maupun turis.

Salah satu pengalaman mengesankan adalah ketika flat saya dikunjungi oleh Governor General (kepala negara) Australia saat peresmian Graduate House. Flat saya terpilih karena "very Indonesian". Pada saat HE (His Excellency) dan Madame William Deane berbincang di flat saya, saya katakan, saya baru saja berkunjung ke mansion beliau yang amat indah di acara open house.

Selain indah, mansion Governor General yang luas itu terletak di tepi Danau Burley Griffith. Tiap tahun diadakan acara open house agar warga dapat melihat mansion itu dari dekat. Apa jawaban beliau? "Risa, dibandingkan kamar anak laki-laki saya di asrama, kamar Anda sangat jauh lebih bagus."

Pertama kali tiba di Canberra, saya berucap di dalam hati ingin berkunjung ke Parliament House sebagai turis. Eh, siapa sangka, saya bahkan bisa makan siang di restoran yang bertanda "Senators Only" di gedung parlemen itu. Ini berkat ajakan kawan-kawan dari Asosiasi Industri Telekomunikasi Australia yang diundang oleh Senator Peter Cook, Menteri Keuangan bayangan.

Pemerintah dan rakyat sama-sama patuh

Di Negeri Kanguru slogan jarang terlihat. Namun warganya bekerja dengan praktis, penuh perhitungan, dan konsisten. Pemerintah dan rakyat bekerja sesuai fungsi masing-masing. Menurut amatan saya, pemerintahnya sangat peduli dan profesional dalam mengelola bumi, air, dan kekayaan bumi Australia dan digunakan sebesar-besarnya bagi kepentingan rakyat dan negara Australia. Misalnya dalam alokasi frekuensi telekomunikasi. Australian Communications Authority dapat menyumbangkan pemasukan yang sangat besar bagi pemerintah karena kecerdasan mereka dalam melakukan lelang frekuensi, dan juga menjalankan fungsi sebagai regulator yang adil.

Tidak banyak teman saya yang hafal lagu kebangsaan Australia, namun mereka taat membayar pajak, peduli terhadap lingkungan hidup, kebersihan, dan membantu mengawasi fasilitas umum. Pantai di Australia sangat bersih, hutan-hutan terjaga, karena pemerintah membuat peraturan ketat mengenai standar lingkungan, dan itu dipahami oleh rakyatnya.

Kita sering berpendapat, orang asing (termasuk Australia) sangat individualis. Ternyata sebaliknya, mereka sangat kekeluargaan, meski mereka harus yakin dulu bahwa orang yang mereka undang atau ajak berpartisipasi benar-benar cocok.

Dengan seringnya berinteraksi dengan orang Australia dan bangsa lain dari berbagai tingkat, saya mempunyai kesempatan untuk mengubah paradigma orang Australia tentang orang Indonesia. Banyak kontak saya di Australia menyatakan, mereka biasanya kesulitan berkomunikasi atau bernegosiasi dengan orang Indonesia. Menurut mereka, biasanya orang Indonesia sangat tertutup dan sedikit bicara, sehingga mereka kesulitan mengerti kemauan kita. Namun saya dapat secara praktis mengkomunikasikan dan membantu mereka memahami berbagai masalah di Indonesia dengan lebih baik.

Pada setiap kesempatan berbicara di berbagai seminar dan forum, saya selalu menyampaikan, "harus dibedakan antara rakyat Indonesia dengan pemerintahan Indonesia". "Rakyat Indonesia selalu ingin negaranya menjadi maju, makmur, sejahtera. Namun kami belum beruntung karena negara kami selalu mengalami 'mismanagement' sehingga kami belum dapat optimal berpartisipasi untuk kemajuan bangsa," begitu kata saya berterus terang.

Life has to go on. Saya percaya, Allah tetap akan melindungi kita semua. (Risa Bhinekawati)

Active Channel

©  Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/


Counter by Pandawa

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej