|
|
Bulan Mei 2001
|
|
MENYULAP LIMBAH JADI
BETON UNGGUL
Memang tidak sembarang limbah bisa. Sebab, untuk dapat dijadikan bahan
konstruksi ada syaratnya. Limbah itu tidak mengandung bahan berbahaya yang
bisa mengganggu kesehatan, dan unsur-unsur yang dikandungnya tidak
menimbulkan reaksi yang bertentangan dengan semen sebagai bahan perekatnya.
Kalau syarat kedua dipenuhi, maka limbah itu harus diberi perlakuan tertentu
lebih dulu untuk mengatasi bahan berbahayanya.
Bahan beton dan semen
Belakangan jenis limbah lain yang terbukti bisa untuk bahan konstruksi ialah
limbah pertambangan yang populer disebut tailling. Salah satunya
limbah buangan PT FI yang disalurkan melalui Sungai Aghawagon dan Sungai
Otomona menuju Sungai Akjwa, dan beristirahat di daerah pengendapan Akjwa
(DPA). Limbah ini bagian tak berguna dari proses pengolahan batuan bijih
untuk diambil tembaga, emas, dan peraknya. Ujudnya berupa pasir dan bebatuan
kecil berwarna abu-abu keperakan.
Oleh sementara pihak tailling dianggap telah mengganggu lingkungan.
Pasalnya, limbah itu telah mengubah ekosistem di sepanjang sungai yang
dilalui hingga ke Laut Arafura. Namun, pihak lain (terutama si pembuang)
tidak memandangnya sebagai sesuatu yang mengganggu dan membahayakan. Dari
situlah muncul pro-kontra.
Namun, di tengahnya ada kelompok "netral" yang tidak ingin
terlibat dalam arus pro-kontra itu. Kelompok itu tidak mengutuk kegelapan,
tetapi justru mulai menyalakan lilin. Mereka mencoba mencari jalan tengah
yang tidak merugikan kelompok mana-mana. Malah sebaliknya menguntungkan
dengan melakukan penelitian ... dan berhasil. Dari penelitian itu terbukti, tailling
berpotensi besar untuk bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku beton!
Kelompok "poros tengah" itu adalah sejumlah peneliti yang
tergabung dalam tim peneliti pemanfaatan tailling PT FI, di bawah
payung Lembaga Afiliasi Penelitian dan Industri (LAPI) ITB. Tim material itu
ada tiga orang yakni Prof. Ir. H. Djuanda Suraatmadja, Dr. Ir. Dicky Rezardi
Munaf, dan Ir. Budi Lationo, M.Sc.
Beton dari limbah pertambangan itu di antaranya bisa dimanfaatkan untuk
jalan beton dan buis beton. Bahkan, saat ini tim yang sama juga
sedang menguji penggunaan tailling sebagai bahan pembuatan beton
pracetak untuk jembatan.
Menurut Budi, jenis beton baru ini tak tertutup kemungkinannya untuk dipakai
dalam pembangunan perumahan. Tentu saja bagian-bagian rumah itu perlu
dicetak terlebih dahulu, dari pondasi, balok, dinding, hingga bagian
lainnya. Setelah itu baru disusun menjadi sebuah rumah.
Bukan hanya itu. Saat ini juga sedang dikaji (dalam skala laboratorium)
penggunaan tailling sebagai bahan baku semen. Unsur-unsur dalam
limbah pertambangan itu diketahui sudah memenuhi syarat. Tinggal menambah
kapur (CaO) saja. Selama ini semen yang kita kenal dibuat dari tiga bahan
baku yakni kapur, pasir besi, dan tanah liat. Sebagai bahan baku semen, tailling
menggantikan pasir besi dan tanah liat. Diperkirakan, biaya produksi semen
dari limbah ini lebih murah karena bahan kapurnya banyak terdapat di Irian
Jaya.
Lebih unggul dari beton biasa
Penelitian pemanfaatan tailling sebagai bahan konstruksi sudah
dimulai pada 1997, menyusul penandatanganan Perjanjian Kerjasama antara PT
FI dan LAPI ITB tahun 1996. Dari penelitian terbukti, limbah itu bisa
dijadikan beton mortar (beton yang tidak menggunakan batu kerikil sebagai
salah satu bahannya). Namun, limbah pertambangan Freeport ada kelemahannya.
Di antaranya kandungan magnesium di dalamnya. Kandungan ini membuat beton
yang dihasilkan akan retak bila perekatnya cuma semen. Tapi ini bukan
masalah besar. Agar tidak retak, ramuan beton itu ditambahi polimer khusus.
"Polimer yang digunakan di sini adalah selulosa asetat yang
dimodifikasi dengan beberapa bahan supaya bisa mengantisipasi masalah
keretakan awal. Jadi, polimer ini akan memperkuat semen. Sebenarnya, tailling
bisa diikat dengan semen, tapi lama-lama akan retak karena tailling
banyak mengandung magnesium. Jadi, dalam hal ini bisa dikatakan semennya
berfungsi sebagai matriks pengikat, sementara polimernya sebagai komatriks
pengikat," jelas Budi. Selain mendongkrak kekuatan beton yang
dihasilkan, penambahan polimer juga untuk menetralisasi unsur berbahaya
dalam limbah itu.
Dalam ramuan beton, bahan terbanyak memang tailling. Untuk
menghasilkan beton 1 m3 dibutuhkan 1.500 kg tailling, 500
kg semen, dan 10 kg polimer. Mengingat kombinasi tiga bahan itu, beton itu
dinamai copper tailling polymer modified concrete (CTPMC).
Dalam pengujian, menurut Budi, beton mortar berbahan tailling
memiliki kekuatan tekan lebih tinggi dibandingkan dengan beton konvensional.
Karena itu, CTPMC digolongkan ke dalam highstrength concrete,
sedangkan beton konvensional termasuk normalstrength concrete.
CTPMC juga memiliki durability (ketahanan atau keawetan terhadap
asam, basa, dan garam) lebih dibanding yang konvensional. Nilai lebih
lainnya, ketika menyangga beban sampai beban puncaknya, dia tidak langsung
runtuh, tapi perlahan-lahan. "CTPMC lebih ulet. Beton konvensional
tidak memiliki kemampuan seperti itu, kecuali beton konvensional yang diberi
fiber. Karena kekuatan dan kelebihannya, beton tailling ini
boleh dibilang sebagai highperformance concrete," tutur Budi
bangga.
Ada lagi keunggulannya, bila CTPMC digunakan untuk membuat jalan, proses
pengeringannya lebih cepat, sehingga bisa segera dilalui kendaraan. Dari
penelitian, jalan beton tailling sudah bisa dilalui kendaraan setelah
berumur tujuh hari. Sementara, beton konvensional perlu 28 hari untuk bisa
dilalui kendaraan. Jadi, waktu pemakaiannya bisa dipersingkat empat kali
lipat.
"Ini terjadi karena polimernya ikut memacu semen cepat melakukan
dehidrasi. Selama proses pembuatan, air dari dalam beton cepat keluar ke
permukaan, sehingga selama proses pengeringan kita tidak perlu memberi air
ke permukaannya agar tidak retak sepeti pada beton konvensional. Dia bisa
merawat dirinya sendiri," jelas peneliti muda ini.
Dari sisi ekonomi, beton tailling juga lebih
"menguntungkan" bila dijadikan jalan beton untuk lalu lintas
berat. Dengan beton biasa diperlukan besi beton, sedangkan beton mortar
berbahan baku tailling tidak butuh pertulangan. Hanya saja untuk
volume tertentu, beton mortar memerlukan semen lebih banyak ketimbang beton
konvensional. "Secara kasar untuk membuat jalan beton biasa perlu biaya
AS $ 119 per m3. Bila menggunakan beton tailling cuma AS $
80 per m3," ungkap Budi. Tapi perhitungan biaya ini
berdasarkan kondisi di Timika.
Dari sisi ketersediaannya, tailling boleh dibilang berlimpah di DPA.
Menurut Budi Lationo, saat ini setiap harinya tak kurang 30.000 truk limbah
dikirim ke tempat itu.
Bila setiap kilometer jalan dengan lebar 12 m volume dan ketebalan pondasi
jalannya 75 cm, maka volume pondasi itu 9.000 m3 (dengan bahan tailling
seluruhnya). Sementara itu dengan ketebalan 15 cm, lapisan pengerasannya
(dari beton tailling) memiliki volume 1.800 m3. Maka
setiap kilometer jalan memerlukan sekitar 1.900 truk limbah (dengan asumsi
tiap truk berkapasitas 9 m3 atau 3 ton). Artinya, dari limbah
yang dibuang per hari bisa dibangun jalan sepanjang 15,8 km. Dalam setahun
(365 hari), jalan yang bisa dibangun menggunakan tailling sudah
sejauh 5.763 km atau sekitar tujuh kali panjang jalan Jakarta – Surabaya
lewat Pantura.
Kini, beton tailling hasil temuan trio ilmuwan dari ITB itu sudah
dipatenkan. Patennya diberikan untuk ide, proses pembuatan beton, dan
pembuatan beton pracetak yang mereka hasilkan. Paten dikeluarkan di
Indonesia atas nama ketiga penemu itu.
Apakah kelak semen berbahan tailling juga bisa mendapatkan paten?
Kita tunggu saja tanggal mainnya. Sementara kalau pabrik semen berbahan tailing
berhasil didirikan di sana, limbah pertambangan yang melahirkan kontroversi
itu tak lagi jadi bahan perdebatan. (I Gede Agung Yudana) Baca
juga : Beton Mortar dan Kawan-kawan |
|||||