|
|
Bulan Mei 2001
|
|
Intisari Redakan Cekcok Pasutri Sudah sejak "dahulu kala", keluarga kami memelihara kebiasaan unik, yakni membicarakan isi Intisari, yang memang sudah dinobatkan sebagai bacaan wajib keluarga, saban bulannya. Biasanya, giliran menelaah isi dimulai dari saya sebagai kepala keluarga, disusul istri, lalu anak semata wayang kami, yang kini duduk di bangku SLTP kelas III.Setelah semua isi kami baca, Intisari pun disusun rapi di almari tempat menyimpan majalah. Jika ada yang perlu dicari, dan kira-kira pernah dimuat, barulah majalah itu kami buka lagi. Jadi, mirip-mirip pusat dokumentasi keluarga. Suatu saat, saya bertengkar dengan istri. sampai-sampai kami saling diam hingga beberapa hari. Acara makan malam, yang biasanya diisi saling bertukar cerita tentang kejadian seharian, tidak lagi kami lakukan. Padahal, secara fisik, kami tetap duduk berdampingan. Nah, ketika "perang pasutri" itu memasuki hari ketiga, terjadi kejutan. Saat tiba waktunya makan malam, di meja makan tergeletak kado yang terbungkus rapi bertuliskan "Untuk Ibu dan Bapak". Karena penasaran, kami pun berebut membuka bungkusan itu. Siapa sangka, ternyata isinya album. Tidak dihiasi foto-foto keluarga, tetapi potongan-potongan kartun yang pernah dimuat Intisari. Melihat kartun-kartun lucu itu kami pun tak bisa menahan diri lagi. Saya dan istri pun tertawa bersama-sama. Detik itu juga, berakhirlah aksi saling diam kami. Rupanya, secara rahasia, anak kami merencanakan cara jitu untuk mendamaikan kedua orangtuanya. Kini, bagi kami Intisari tak hanya menjadi pusat dokumentasi, tapi juga juru damai yang efektif. (Y. Sariyono) |
|||||