globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan Mei 2001

Terbit Bulan Ini; Buku Kumpulan Artikel Psikologi 1

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

RAHASIA LUKA DI DADA 

Setelah mengantar pulang kedua tamunya sampai di pintu, Marcus Hunt melangkah balik ke ruang makan. Saat itu jam dinding menunjukkan pukul 23.00 lewat sedikit. Di atas meja, nampak keping-keping kartu poker sudah tertumpuk rapi lagi.

"Main lagi?" ajak Rolfe.

"Percuma," Derek Henderson menyahut. Suaranya seperti biasa mengesankan nada kecapaian. "Tidak seru kalau hanya bertiga."

Ruang makan dengan dinding berlapis panel kayu itu sungguh luas. Bagian atasnya dihiasi lampu lilin, yang cahayanya menonjolkan keindahan lukisan-lukisan yang terpajang di dinding. Tak sembarang ruang makan dihiasi dua lukisan karya para maestro dunia, Rembrandt, dan sebuah lagi karya Van Dyck. Perangkat rumah tangga, seperti satu set peralatan makan dari perak yang tertata rapi di atas meja bufet, di antaranya wadah buah dengan apel dan anggur, semakin membangkitkan suasana klasik. Di ruangan inilah biasanya Marcus Hunt bersama para karibnya bermain poker menghabiskan malam-malam panjang.

Di mata Arthur Rolfe, yang berprofesi sebagai pedagang benda seni, semua barang yang dilihatnya di rumah itu adalah aset yang tak ternilai harganya. Lukisan karya pelukis terkenal, dan segala perabotan antik itu merupakan barang dagangan yang amat mahal. Lain halnya dengan Derek Henderson, sang kritikus seni. Keberadaan karya seni di luar galeri resmi atau museum tanpa perlindungan ini suatu ketika pasti akan menimbulkan masalah. Bagaimana pula pandangan Marcus Hunt, sang pemiliknya, sendiri? Entahlah.

Selain ketiga pria tersebut, di rumah itu terdapat pula seorang pria bernama Lewis Butler, yang datang bersama Harriet Davis, keponakan sang tuan rumah. Semula Butler sempat main bersama-sama mereka. Tetapi setelah selesai, ia lantas ke luar ruangan bersama Harriet.

Tuan rumah, Hunt, masih berdiri di samping meja. Perawakan pria ini sedang-sedang saja, agak kekar, wajah bulat dengan dahi agak nongnong. Ia geli bercampur heran ketika memandang Henderson yang sedang sibuk mengatur kartu.

"Saya bingung melihat Anda."

"Memangnya kenapa?"

"Bagaimana Anda bisa menyukai permaian poker? Apa tidak terlalu, hm ... borjuis?"

"Oh, itu karena saya suka membaca karakter orang," sahut Henderson. "Tahu tidak, kartu poker adalah salah satu cara paling canggih?"

Hunt menyipitkan kedua matanya. "Masa? Bisakah Anda baca karakter saya, misalnya?"

"Dengan senang hati," sahut yang ditanya seraya langsung mengocok dan memainkan kartunya. Setelah kartu-kartu itu dibuka, ia sempat termenung dulu sebelum berbicara.

"Sekarang justru Anda yang membuat saya bingung. Boleh saya berterus terang? Semula saya mengira Anda masuk kategori manusia yang menyukai risiko. Ternyata tidak."

Marcus Hunt tertawa lebar. Tapi Henderson bergeming.

"Anda banyak akal, tapi waspada. Sedemikian hati-hatinya, sehingga jangan-jangan seumur hidup belum sekalipun Anda mengambil risiko." Ia mengocok kartu lagi. "Lain lagi dengan Rolfe. Justru dia orang yang berani ambil risiko besar."

Arthur Rolfe menyimak, kaget-kaget senang. Tapi ia cuma senyum sambil menyahut, "Wah, kalau orang dengan profesi seperti saya berani nekat, bisa-bisa bisnisnya cuma bertahan semalam." Ekor matanya menyapu seluruh ruangan, "Terus terang, saya akan sangat berhati-hati menaruh tiga lukisan maestro dengan nilai tak kurang dari tiga puluh ribu ponsterling. Tidak digantung di lantai satu begitu saja tanpa perlindungan memadai. Apalagi di teras ada jendela-jendela besar yang memungkinkan dimasuki orang," ujar pedagang barang antik tersebut.

"Coba bayangkan, kalau sampai ada perampok ...," tambahnya tiba-tiba dengan nada suara meninggi.

"Sial!" seru Henderson kaget. Rupanya saat itu ia sedang mengupas apel dengan pisau buah yang amat tipis dan berkilat-kilat ditimpa sinar lampu dinding.

"Anda bikin saya kaget. Hampir saja saya teriris," katanya sambil menaruh pisau. "Lalu ada apa lagi?"

"Aneh, dalam waktu lima menit As sekop ini sudah dua kali muncul," sahut Henderson tercenung.

Arthur Rolfe menimpali, "Memangnya kenapa?"

"Ah, saya kira teman kita ini cuma sedang main-main jadi peramal," kata Hunt. "Anda ini mau menebak karakter orang atau meramal?"

Pandangan Henderson meragu. Matanya beralih dari Hunt ke dinding tempat tergantung lukisan Old Woman with Cap-nya Rembrandt. Lalu beralih lagi ke arah jendela-jendela besar yang tidak jauh dari tempat lukisan itu terpajang.

"Kenapa pusing-pusing?" akhirnya ia berkata sambil mengangkat bahu. "Ini rumah Anda, koleksi Anda, jadi ya tanggung jawab Anda sendiri. Tapi tentang Butler tadi, siapa dia sebenarnya?"

"Butler? Oh, dia teman Harriet, keponakan saya. Harriet berkenalan dengannya di London. Lalu ia meminta saya untuk mengundangnya kemari. Sebenarnya apa sih yang ada di benak Anda?"

"Dengar!" ujar Rolfe sambil mengacungkan telunjuk. Dengan isyarat tangan itu seakan ia minta yang hadir di situ untuk memperhatikan suara-suara aneh yang terdengar dari luar rumah.

Suara berisik yang tadi terdengar dari arah teras tak terulang lagi. Padahal sumber suara itu tak lain adalah Harriet Davis, keponakan tuan rumah yang sedang bercakap-cakap dengan temannya, Lewis Butler. Rupanya mendengar pernyataan sang paman, gadis ini menjadi gugup dan bingung. Setelah lari menjauh ke ujung rumah, kini ia bersandar di pagar teras. Cerlangnya cahaya rembulan membuat gadis bergaun panjang tipis berwarna putih ini tampak makin mempesona.

Lewis Butler menyusulnya. Ditatapnya rambut dan mata Harriet yang hitam. Sungguh makin bercahaya.

"Itu tadi bohong 'kan?" ujar Harriet.

"Apanya yang bohong?"

"Yang dikatakan Paman Marcus. Kau dengar 'kan?" Jari-jarinya mencengkeram kencang pagar. "Bahwa aku temanmu dan mengundangmu kemari. Kita ‘kan baru saja berkenalan. Apa Paman Marcus mulai gila, atau maukah kaujawab satu pertanyaanku?"

"Kalau bisa."

"Oke. Apakah kau penjahat?"

Ia mengajukan pertanyaan itu dalam nada yang begitu tenang, seakan-akan bertanya apakah Butler seorang dokter. Sebetulnya yang ditanya ingin ketawa, tapi ia tahu itu akan menyulut sumbu kemarahan Harriet. "Terus terang saja," jawabnya tak kalah serius. "Bukan, tuh. Kenapa?"

"Rumah ini biasanya dijaga ketat dengan alarm antimaling. Cukup sentuh jendela, seluruh rumah bakal heboh seperti di kantor pemadam kebakaran. Tapi minggu lalu Paman mencopot semua alarm. Lukisan-lukisan itu pun biasanya ada di loteng, dalam ruang terkunci di sebelah kamar tidurnya. Itu pun ia suruh pindahkan ke bawah sini. Kenapa ya? Ia sepertinya ingin dirampok."

Butler tahu mesti berhati-hati.

"Bisa jadi memang begitu. Siapa tahu salah satu Rembrandt-nya palsu? Malu juga 'kan kalau sampai ketahuan teman-temannya yang ahli lukisan?"

Tapi Harriet menggeleng, "Tak mungkin. Semua lukisan itu asli. Semula aku pun sempat berpikir begitu."

"Tapi ada juga orang yang memang ingin koleksinya dicuri, terutama kalau diasuransikan melebihi nilai sebenarnya."

"Mungkin saja," ujar Harriet kalem. "Masalahnya, tak satu pun lukisan itu diasuransikan."

Saking terkejutnya Butler sampai ia tak sengaja menjatuhkan kotak rokoknya, hingga isinya bertebaran di lantai teras. Di kejauhan lonceng gereja berdentang menunjukkan pukul setengah dua belas.

"Kau yakin?"

"Yakin bener! Sesen pun tidak. Kata Paman, buang-buang uang saja. Sekarang, polah tingkahnya semakin tak bisa kumengerti. Apa sih maunya?"

Mayat di depan lemari

Dugaan akan adanya pencurian seperti dikhawatirkan orang-orang di rumah itu, rupanya memang bukan isapan jempol. Malam semakin larut. Tak terdengar lagi kesibukan atau suara orang bicara di rumah itu. Suasana senyap, semua orang sudah lelap dalam tidur. Nampak sekelebat bayangan orang mengendap-endap di kerimbunan semak-semak yang mengelilingi teras belakang rumah. Siapa orang yang mencurigakan ini? Rupanya rasa percaya diri orang ini besar, buktinya ia sempat mengisap rokok segala. Bunyi dentang lonceng gereja menunjukkan bahwa malam sudah merangkak pukul 02.30. Sejenak setelah lonceng gereja berbunyi, bayangan hitam itu naik tangga, mendekati jendela-jendela besar di ruang makan tadi.

Ia menggarap jendela tengah dengan peralatan lipat yang cuma sebesar tool kit sepeda motor. Ditempelkannya dua potong plester di kaca dekat gerendel. Dengan pisau pemotong kaca ia membuat lubang setengah lingkaran di atas plester. Aktivitas itu tak menimbulkan gangguan berarti. Suaranya hanya sekeras bunyi mesin bor gigi.

Dengan plester tetap menempel untuk menahan kaca agar tak jatuh, tangannya yang bersarung tangan itu diselipkan ke lubang untuk membuka gerendel. Akhirnya, dengan berat tubuhnya ia mendorong pelan daun jendela tanpa sedikit pun bunyi derit terdengar.

Tool kit dimasukkan ke saku, lalu senter dikeluarkan. Cahayanya disorotkan ke meja bufet. Tampak sendok - garpu perak, mangkuk perak wadah buah dengan sebilah pisau kecil tertancap di apel (mengingatkan pada tubuh manusia saja). Akhirnya sorotan itu berhenti di wajah nenek jelek pada lukisan The Old Woman with Cap.

Karena ukuran lukisan itu tidak besar, orang itu dengan gampang menurunkan, melepaskan dari bingkai, lalu menggulungnya. Meski semua dilakukannya dengan amat berhati-hati, ada saja bagian kanvas yang retak-retak sehingga remah-remah catnya berjatuhan, membuat wajah si "nenek" dalam lukisan cacat. Konsentrasinya begitu terpusat sehingga tak sadar ada orang lain di ruangan itu.

Ah, dasar ceroboh. Tak punya indera keenam untuk mengendus bau darah.

Tak lama kemudian, di lantai dua, Lewis Butler terjaga mendengar suara kelontangan seperti benda logam terjatuh. Bergegas ia bangun dan memakai sandalnya. Seperti biasa, saat harus buru-buru, lipatan kimononya malah ruwet hingga lubang lengannya sulit dicari. Untung lampu senternya sudah siap di dalam saku.

Tampaknya bunyi itu hanya membangunkan dia seorang. Buktinya, penghuni lainnya tidak menampakkan tanda-tanda bangun. Tanpa senter, ia berhasil menuruni tangga dan menjejak lantai dasar yang beralas karpet tebal tanpa suara. Sesampainya di gang terasa terpaan arus angin yang deras. Artinya, ada jendela atau pintu yang terbuka. Ia langsung menuju ruang makan. Namun, terlambat!

Begitu ia menemukan sakelar lalu menyalakan lampu, tampak si pencuri masih ada. Tapi sosok itu sudah tergeletak tak bergerak di depan lemari bufet. Melihat genangan darah di sweater dan celananya, sepertinya ia tak mungkin bangun lagi.

Sebuah cangkir perak dan poci teh terjungkal di lantai. Mayat itu tergeletak di tengah hamburan jeruk, apel, dan anggur. Wajahnya masih tertutup topeng kain. Topi kupluk dari kain rapat menutupi kepala sampai telinganya, dua tangannya yang bersarung tangan terpentang lebar. Pecahan kaca dan pigura lukisan kosong bertebaran di dekat tubuh itu. Bahkan Old Woman with Cap setengah kusut tertindih tubuhnya. Dari posisi bercak darah yang paling mencolok, tampaknya ia ditusuk dengan pisau buah di sampingnya.

"Ada apa?" terdengar suara nyaris pas di telinganya.

Tahu-tahu Harriet Davis sudah berdiri di belakangnya. Berkimono, rambut hitamnya tergerai di pundak. Ketika Butler menjelaskan apa yang terjadi, ia membuang muka, mundur, menghindari arah ruang makan dengan kepala digeleng-gelengkan keras.

"Lekas bangunkan pamanmu!" Butler memerintah dengan suara mantap. "Juga para pelayan. Aku pinjam telepon." Kemudian dipandanginya kedua mata Harriet lekat-lekat. "Kau benar. Mungkin kau juga telah menduganya. Aku polisi."

Harriet mengangguk.

"Ya. Sudah kuduga. Siapa namamu? Benar-benar Butler?"

"Aku sersan di Departemen Penyidikan Kriminal. Namaku memang Butler. Pamanmu sendiri yang memanggilku."

"Untuk apa?"

"Entahlah. Ia belum sempat mengatakannya."

"Kalau ia tidak memberitahukan alasannya membutuhkan polisi, bagaimana pimpinanmu bisa memutuskan untuk mengirimmu ke sini?"

Pemikiran yang kritis. Tapi Butler cuek saja. "Aku harus segera ketemu pamanmu. Tolong naik dan bangunkan dia."

"Enggak bisa," ujar Harriet. "Paman Marcus tak ada di kamarnya."

"Tak ada ...?"

"Tidak. Tadi ketika aku turun, sudah kuketuk pintunya. Tapi dia tak ada."

Butler melesat naik, meloncati anak tangga dua-dua.

Kamar Marcus Hunt memang kosong. Jas yang dipakainya saat makan malam tersampir rapi di kursi, sedangkan kemeja dan dasinya ada di jok kursi. Arloji, uang, dan kunci-kuncinya tergeletak di meja rias. Rupanya ia belum sempat tidur, karena keadaan ranjang masih rapi tertutup bed cover.

Di keheningan menjelang subuh itu, ditingkah detak bunyi arloji di meja rias, hati Butler bertanya-tanya. Ia curiga.

Butler ke lantai bawah lagi, di tengah jalan bertemu Arthur Rolfe yang baru keluar dari salah satu pintu kamar di gang itu. Tubuh pendek kekarnya terbungkus kimono flanel. Tanpa kacamata, tampak ekspresi wajahnya agak bingung. Ia langsung mencegat Butler.

"Tak usah bertanya. Ada pencuri," sergah Butler.

"Sudah kuduga," ujar Rolfe kalem. "Apa dia berhasil?"

"Tidak. Malah terbunuh."

Sejenak Rolfe terdiam membisu, tetapi tangannya meraba ke bagian dada kimononya, seperti ada yang terasa tak nyaman di situ.

"Terbunuh? Maksudmu, si pencuri terbunuh?"

"Ya."

"Tapi kenapa? Apakah oleh kawan segerombolannya? Siapa pencurinya?"

"Itulah yang akan saya cek."

Harriet Davis berdiri di ambang pintu ruang makan. Matanya lekat menatap mayat itu. Meski ekspresi wajahnya tak berubah, air mata mengambang di pelupuk matanya.

"Kau akan membuka topengnya ‘kan?" tanyanya tanpa menoleh.

Dengan hati-hati, sambil menghindari remah-remah buah dan serpihan kaca, Butler membungkuk di atas mayat itu. Ujung atas topi kupluk ditariknya, lalu dibukanya topeng kain hitam yang diikat cuma dengan karet. Dugaannya tepat. Maling itu adalah Marcus Hunt – jantungnya telah tertusuk saat mencoba mencuri di rumahnya sendiri.

Anehnya pecahan piring

"Itulah masalahnya," jelas Butler kepada Dr. Gideon Fell, seorang ahli krominologi yang ikut menangani masalah ini, keesokan sorenya. "Dari sudut mana pun kasus ini sungguh tak masuk akal."

Ia beberkan kembali semua fakta.

"Untuk apa ia mencuri di rumah sendiri? Semua lukisannya amat berharga, tapi tidak satu pun diasuransikan. Kenapa? Apakah hanya untuk sekadar nyentrik? Apa maunya dia?"

Desa Sutton Valence yang terletak di puncak bukit Weald, wilayah Kent, Inggris, kala itu sedang berada di puncak musim panas. Suasananya menjadi sangat gerah. Dr. Gideon Fell duduk di kursi kebun sambil menenggak bir. Ia berada di kebun apel, yang lokasinya tepat di belakang Losmen Tabard. Tawon beterbangan di sekitarnya. Tubuh suburnya dibalut jas linen putih. Wajah bundarnya yang kemerah-merahan bagai menguap kepanasan. Tampak sekali tawon-tawon itu membuat dia semakin capek. Apalagi otaknya sedang bekerja keras.

Katanya, "Superintendent Hadley yang meminta saya kemari. Wewenang ada pada polisi setempat ‘kan?"

"Ya. Saya cuma mendampingi."

Dr. Fell mengatakan lagi, "Ada lagi yang aneh dalam kasus ini?"

"Well, untuk apa orang mencuri di rumahnya sendiri?"

"Bukan! Bukan! Bukan!" gerutu Fell. "Jangan terobsesi dengan itu dulu."

Sambil meniup seekor tawon yang terbang di sekitar gelasnya, doktor itu melanjutnya bicaranya, "Misalnya, nona muda itu mengajukan pertanyaan yang bagus sekali. Kalau Marcus Hunt tidak mau mengatakan alasannya membutuhkan polisi, masa kepolisian setuju untuk mengutus Anda?"

Butler mengangkat pundaknya.

"Inspektur Kepala Ames mengendus Hunt mau berbuat yang aneh-aneh dan ia ingin mencegahnya."

"Aneh-aneh bagaimana?"

"Pura-pura kecurian, padahal ia sendiri yang mencuri. Cara klasik untuk mengalihkan perhatian polisi. Mulanya yang terjadi sepertinya persis seperti itu; sampai saya mendengar - dan hari ini sudah saya konfirmasikan - bahwa tak satu pun dari lukisan itu diasuransikan. Sesen pun tidak."

Setelah berhenti sebentar, ia melanjutkan. "Tak mungkin kalau cuma bercanda. Semuanya dipersiapkan serius. Dari kostum pencuri, berupa baju-baju lama yang sudah dipreteli cap penjahitnya, sampai alat-alat bongkarnya yang modern. Bahkan ia keluar lewat pintu belakang, karena kami menemukan pintu terbuka, dan beberapa puntung rokok ...."

"... terbunuh," sambung Fell.

"Ya. Mengapa dia dibunuh?"

"Hm. Petunjuknya?"

"Negatif." Butler mengeluarkan buku catatannya. "Menurut petugas koroner, ia tewas akibat tusukan langsung ke jantung - pasti dengan pisau buah itu. Lukanya begitu tipis, sehingga bekasnya sulit ditemukan. Ada beberapa sidik jarinya, tapi tak ada sidik jari orang lain. Kami juga menemukan sesuatu yang aneh. Piring cangkir perak yang terjatuh itu tergores dengan cara yang aneh sekali. Sepertinya, bukan karena tersenggol akibat pertarungan, tapi terkesan ditumpuk dulu sampai tinggi, lalu didorong ...."

Butler berhenti, karena Dr. Fell sedang menggerak-gerakkan kepalanya ke depan ke belakang karena kegerahan.

"Well, well, well, dan Anda bilang itu bukan bukti?"

"Memang begitu ‘kan? Tidak menjelaskan kenapa seseorang membobol rumahnya sendiri."

"Dengar," kata Fell halus. "Saya mau mengajukan satu pertanyaan saja. Apa yang paling penting dalam kasus ini? Sebentar! Saya tidak bilang yang paling menarik, tapi yang paling penting. Tentu fakta bahwa ada orang yang mati dibunuh?"

"Ya, Pak. Jelas."

"Saya bilang fakta, karena hal ini justru hampir terlewatkan. Kenapa tidak coba mencarinya dari sisi lain. Coba, siapa yang membunuh Hunt?"

Lama sekali Butler terdiam.

"Tak mungkin para pelayan," akhirnya dia buka suara. "Kamar tidur mereka di lantai atas, dan terletak di sayap lain. Dan karena suatu sebab," ujarnya ragu, "ada orang mengunci ruangan mereka dari luar."

"Nah, Anda bisa antar saya ke Cranleigh Court?" tanya Dr. Fell.

Malingnya terlalu ceroboh

Sore yang terik itu, mereka semua keluar ke teras.

Dr. Fell duduk di kursi rotan, Harriet lunglai di sampingnya. Derek Henderson, berkemeja flanel, berdiri di pagar. Cuma Arthur Rolfe yang mengenakan jas gelap. Saat itu pemandangan pedalaman Kent yang biasanya hijau dan coklat pucat, berbinar kemerahan. Angin mati, daun tak gemerisik. Di kebun, di bawah sana, air kolam renang menyilaukan mata.

Derek Henderson mulai mengawali pembicaraan.

"Percuma. Jangan tanyakan terus untuk apa Hunt membobol rumahnya sendiri. Tapi saya bisa memberi satu petunjuk."

"Ya?" sambung Dr. Fell.

"Pasti dia punya alasan. Pasalnya, Hunt adalah orang yang sangat hati-hati dan cerdik. Tak mungkin dia melakukan sesuatu tanpa alasan kuat. Saya sudah katakan itu semalam."

Dr. Fell langsung menyahut keras, "Hati-hati? Mengapa Anda berkata demikian?"

"Well, bisa dilihat dari cara dia bermain poker."

Henderson ketawa pelan. Tapi melihat ekspresi wajah Harriet, ia segera berubah serius.

"Tadi malam tampaknya ia sedang memikirkan banyak hal."

Semua bisa menangkap perubahan nada suaranya.

"Jadi apa yang sedang dia pikirkan?"

"Mengekspos seseorang yang selama ini dia percaya," sahut Henderson dingin. "Itu sebabnya saya amat tak senang melihat kartu As sekop terus-terusan muncul."

"Apa dia mengatakannya?" tanya Harriet.

"Tidak. Cuma mengisyaratkan."

Rolfe nerocos masuk dalam percakapan. "Dengar. Saya sudah sering mendengar kegemaran Hunt mengekspos orang." Ia kembali menyelipkan satu tangan ke bagian dada jasnya dengan gaya yang khas. "Tapi demi akal sehat, apa hubungannya? Ia ingin mengekspos seseorang. Dan untuk itu, ia mengenakan kostum lucu dan menyamar sebagai pencuri. Masuk akalkah? Kalau menurut saya sih, dia gila! Tak ada penjelasan lain."

"Sebenarnya ada lima penjelasan lain," sergah Dr. Fell.

Derek Henderson pelan-pelan bangun dari kursinya, tapi duduk lagi karena dipelototi Rolfe. Semua yang hadir di situ diam.

"Saya tidak akan menyia-nyiakan waktu kalian semua dengan mengemukakan empat alasan di antaranya. Sebaliknya, saya hanya akan mengungkap satu alasan saja. Yang sebenarnya."

"Anda mengetahuinya?" tanya Henderson.

"Kelihatannya begitu."

"Sejak kapan?"

"Sejak saya mendapat kesempatan melihat Anda semua," jawab Dr. Fell.

Ia menyandarkan diri lagi. Oleh bobot tubuh yang begitu besar, kursi rotan itu berderak-derik seperti kapal diayun gelombang pasang. Dagunya yang lebar mendongak, lalu ia menganggukkan kepala, seperti mengiyakan sesuatu di dalam benaknya.

"Saya sudah bicara dengan inspektur resor kepolisian sini," lanjutnya tiba-tiba. "Sebentar lagi tiba. Atas usul saya, ia akan meminta sesuatu dari Anda sekalian. Saya harap tidak akan ada yang keberatan."

"Permintaan?" tanya Henderson. "Permintaan apa?"

"Hari ini sangat panas," ujar Dr. Fell, sambil menyipitkan matanya memandang ke arah kolam renang. "Ia akan meminta Anda semua untuk berenang."

Harriet berdesah, menoleh kepada Lewis Butler seperti minta tolong.

"Ini cara terhalus untuk memancing perhatian semua orang kepada si pembunuh," lanjut Dr. Fell. "Sementara itu, mari kita memperhatikan salah satu bukti yang sampai sekarang agak terabaikan. Tn. Henderson, apa Anda mengetahui sesuatu tentang luka di jantung akibat tusukan pisau baja yang amat tipis?"

"Seperti luka Hunt? Tidak tahu saya. Memangnya kenapa?"

"Lukanya hampir tidak ada," jawab Dr. Fell.

"Tapi ...!" Harriet akan menyela, namun dicegah Butler.

"Ahli koroner polisi sebenarnya sudah memperhatikan hal itu, karena lukanya sangat sulit ditemukan. Korban langsung tewas, dan ujung lukanya menutup kembali. Namun bagaimana mungkin sweater Hunt bergelimang darah sampai menciprat ke celananya?"

"Well?"

"Ya karena itu bukan darahnya," ujar Dr. Fell.

"Saya tak tahan lagi," kata Harriet, melompat berdiri. "Ma ... maaf, apa Anda sendiri masih waras? Apakah maksud Anda kita tidak melihatnya tergeletak di dekat lemari bufet dengan berdarah-darah?"

"Oh, ya. Anda memang melihatnya."

"Biarkan dia melanjutkan," kata Henderson, yang sekitar cuping hidungnya jadi memucat.

"Ini memang masalah kecil. Tetapi kenapa Hunt yang selalu rasional memilih berpakaian sebagai pencuri dan main-main jadi maling? Jawabannya pendek dan sederhana. Ia memang tidak melakukannya.

"Tentunya kita semua sudah melihat, bahwa Hunt sedang dengan sengaja memasang perangkap untuk orang lain, pencuri yang sebenarnya. Ia yakin bahwa seseorang kemungkinan besar akan mencoba mencuri salah satu atau beberapa lukisannya. Boleh jadi ia mengetahui orang ini pernah melakukannya di tempat lain. Pencurian yang dilakukan oleh orang dalam, tetapi dibuat seolah-olah dilakukan oleh orang luar. Untuk mempermudah pembuktian ia sekalian menyediakan juga seorang polisi.

"Ternyata pencuri yang tolol itu masuk perangkap. Tak lain dan tak bukan, ia salah seorang tamu di rumah ini. Setelah menunggu sampai lewat pukul 2.00 dini hari, pria tersebut kemudian mengenakan pakaian tua, topeng, sarung tangan dan lainnya. Ia keluar rumah lewat pintu belakang. Melakukan semua hal yang selama ini kita kira dilakukan oleh Marcus Hunt. Lalu jebakan itu menutup! Ketika ia sedang menggulung lukisan Rembrandt itu, terdengar suara. Senternya ia sorotkan dan dilihatnya Marcus Hunt masih berpiyama dan kimono, sedang memandangnya.

"Ya, memang sempat terjadi pertarungan. Hunt menyerangnya dan si maling mengambil pisau buah itu untuk melawannya. Marcus Hunt mendorong tangan berpisau itu dan berhasil menggores dada si maling, membuat luka ringan tapi berdarah banyak. Maling itu panik. Ia memiting dan memutar balik pergelangan tangan Hunt, menangkap pisaunya lalu menusuk Hunt tepat di jantungnya.

"Kemudian dalam cahaya remang-remang lampu senter di atas meja bufet, si pembunuh melihat bagaimana darah lukanya sendiri meresap ke luar, meski tidak parah. Itu bisa membawanya ke tiang gantungan!

"Apa akal? Ia toh tak mungkin memusnahkan atau membawa kostum itu pergi dari rumah ini. Seluruh rumah pasti akan disidik dan pasti akan ditemukan. Hanya ada satu hal yang bisa dilakukan ...."

Harriet Davis sedang berdiri di belakang kursi rotan, melindungi matanya dari teriknya sorot sinar matahari. Tangannya tidak gemetar ketika berkata,

"Ia bertukar pakaian dengan pamanku."

"Tepat," ujar Dr. Fell. "Pembunuhnya mengenakan pakaiannya pada si korban sambil tak lupa melubangi pakaian itu di tempat di mana ada noda-noda darah. Ia kemudian mengenakan piyama dan kimono Hunt. Saya rasa kimononya sudah terbuka dalam perkelahian, sehingga yang sedikit robek paling-paling piyamanya."

"Tapi begitu semua ini telah dikerjakan, ia tentu harus menghipnotis Anda semua supaya berpikir bahwa tidak ada waktu bagi si maling untuk menukar pakaian. Ia harus membuat orang mengira bahwa perkelahiannya terjadi saat itu juga. Seluruh rumah harus dibuat terbangun. Maka ia harus membuat keramaian dengan mendorong setumpuk perabot perak, lalu buru-buru naik ke atas."

Dr. Fell berhenti.

"Tak mungkin pencurinya Marcus Hunt, karena sidik jarinya ada di mana-mana. Padahal korban mengenakan sarung tangan."

Pada saat itu terdengar langkah-langkah kaki di rerumputan di bawah teras, lalu langkah sepatu bot polisi menaiki tangga teras. Inspektur polisi datang ditemani oleh dua polisi.

Dr. Fell menoleh dengan wajah puas.

"Ah!" katanya, mengambil napas dalam-dalam. "Mereka pasti datang untuk mengurus soal pesta renang itu. Memang mudah menutup luka dengan kapas atau saputangan. Tapi luka semacam itu tetap akan kentara kalau pemiliknya mengenakan pakaian renang.

"Tapi tak mungkin kalau ..." teriak Harriet. Matanya memandang berkeliling. Tangannya lekat berpegangan pada lengan Butler, perilaku naluriah yang bakal diingat Butler lama setelah itu, ketika ia sudah mengenal Harriet lebih dekat.

"Tepat," si dokter setuju. "Tak mungkin seorang pria jangkung kurus seperti Henderson. Juga tak mungkin seorang gadis yang mungil dan langsing macam Anda.

"Hanya ada satu orang dengan perawakan seperti Marcus Hunt, baik tingginya maupun bentuk tubuhnya. Yang dapat memakaikan pakaiannya pada Hunt tanpa membuat orang lain curiga. Orang yang sama yang selama ini sering meraba bagian dalam jasnya untuk mengecek apakah pembalut di dadanya masih tertempel aman. Seperti yang sekarang sedang dilakukan Rolfe."

Arthur Rolfe duduk terdiam. Tangan kanannya masih berada di dalam bagian dada jasnya. Di bawah terik matahari wajahnya tampak berantakan, tapi dari balik kacamatanya tetap tersorot misteri. Setelah polisi menangkapnya, cuma satu komentar terluncur lewat bibirnya yang kering, "Seharusnya aku menyimak peringatan anak muda itu, katanya. "Ia sudah mengatakan, aku jenis orang yang berani ambil risiko."(Fiksi/John Dickson Carr/LW)

Active Channel

© Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/


Counter by Pandawa

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej