|
|
Bulan Mei 2001
|
|
1 SURO DI CIREBON
Ribuan orang suka rela membanjiri Kota Solo, guna menyaksikan agenda tahunan
ini. Uniknya, barisan kirab justru didahului sembilan ekor kerbau bule, yang
semuanya bernama Kiai Slamet. Kesembilan kerbau bule dan keturunannya itu
bukan kerbau sembarangan, karena mereka kesayangan Sunan. Percaya atau
tidak, mereka punya hobi berkelana. Namun, menjelang 1 Suro, seperti sudah
menghayati peran sejarahnya, mereka berkumpul kembali di alun-alun selatan
Surakarta.
Suasana tak kalah sakral amat terasa di Keraton Yogyakarta. Menjelang tengah
malam, bisa disaksikan ribuan orang melakukan upacara mubeng beteng,
mengelilingi benteng keraton tanpa berucap kata sepatah pun. Sedangkan di
alun-alun selatan, ratusan orang melakukan masangin, dengan mata
tertutup berjalan di antara dua pohon beringin (kembar) yang ada di tengah
alun-alun. Upacara paling sakral, melakukan jamasan (pembersihan)
seluruh pusaka keraton, dilakukan 26 Suro.
Masa peralihan menuju penanggalan baru Jawa (1 Suro) atau tahun baru Islam
(1 Muharram) memang kerap dianggap mendatangkan berkah. Bahkan berkembang
kepercayaan, berdoa dan tirakat di tempat-tempat bersejarah dan keramat bisa
membuat keinginan terkabul. Sebuah fenomena (oleh Sumanto Al Qurtuby,
peneliti Lembaga Studi Agama dan Pembangunan, Semarang, disebut sebagai
agama humanistik) yang mensahkan seseorang tampil modern dan logis di suatu
waktu, namun sangat tradisional dan mistis di kurun waktu yang lain.
Berlainan akar
Gejala serupa bisa ditemui dalam peringatan 1 Suro atau 1 Muharram (tahun
ini jatuh pada tanggal 26 Maret) di Cirebon, bekas pusat Kerajaan Islam
besar di perbatasan Jawa Barat - Jawa Tengah. Bedanya, ritus yang melibatkan
dua keraton utamanya, Kesepuhan (dari kata sepuh, maknanya lebih tua)
dan Kanoman (dari kata anom, lebih muda) tak sebanyak di Solo dan
Yogyakarta. "Tapi bukan berarti nilai sakralnya berkurang. Kesakralan
itu tergantung bagaimana hati kita memandang," ucap Ratu Mawar, putri
Sultan Haji Muhammad Djalaludin alias Sultan Kanoman XI, penguasa teranyar
keraton Kanoman.
Melihat jumlah acara, inisiatif meramaikan 1 Suro justru lebih banyak datang
dari Pemda Kotamadya Cirebon. Seperti "Helaran (pergelaran - Red.)
Budaya" yang digelar di depan balai kota, dua hari menjelang 1
Muharram. "Helaran" menyajikan pertunjukan sendratari kolosal
"Babad Cirebon" yang berlangsung satu jam. Drama gerak yang
dibawakan puluhan penari itu diakhiri dengan penancapan "Pohon
Witana", pondokan cikal bakal Cirebon. Selanjutnya, dilakukan pawai
prajurit Keraton Kesepuhan, Kanoman, dan Kacirebonan.
Pemda pun mengadakan lomba gerak jalan, pertandingan olahraga antarinstansi.
Bahkan dua hari setelah acara "Helaran", walikota Cirebon
mengadakan Rapat Paripurna Istimewa dalam rangka HUT Cirebon.
Seorang wisatawan asal Belanda yang menghadiri rangkaian acara itu sempat
bertanya-tanya. "Apakah peringatan 1 Suro di Cirebon sudah berubah jadi
kegiatan formal?" Sebuah pertanyaan yang sulit terjawab jika wisatawan
itu hanya singgah satu-dua malam di kota pantai utara Jawa itu.
Tak kurang Sultan Anom, sebutan bagi penguasa Keraton Kanoman mengakui
kebenaran pandangan sang wisman. "Tak apa toh, tradisi kita
berbeda dengan Keraton Solo dan Yogya. Masing-masing memiliki latar belakang
sejarah berlainan," ujarnya di Bangsal Dalem Kanoman.
Ya, akar sejarah inilah kunci yang membedakan 1 Suro di Kota Udang. Bagi
warga Cirebon, maknanya bukan sekadar malam penuh berkat dan keramat, tapi
juga hari jadi. Tahun ini, Cirebon genap berusia 631 tahun.
"Mungkin, para pendirinya sengaja membangun Cirebon pas 1 Muharram,
supaya bagus," tutur Sultan. Ini sekaligus menjawab, mengapa Pemda
Cirebon merasa sangat berkepentingan memarakkan peringatan 1 Suro.
Karena aboge, terlambat sehari
Satu lagi perbedaan Cirebon dengan dua keraton lainnya adalah penetapan awal
tahun Jawa. "Satu Suro di sini, mungkin dua Suro di sana. Anggap saja
kita telat sehari," tambah Ratu Mawar. Perbedaan ini karena
metode menghitung di Cirebon memang lain. "Istilahnya aboge,"
jelas wanita lajang usia 26 tahun itu.
Keraton sendiri, meski tak banyak, tetap menggelar sejumlah acara ritual. Di
Kanoman misalnya, satu hari menjelang 1 Muharram, diadakan khitanan massal
bagi anak-anak warga masyarakat sekitar. "Mereka kami bekali dengan
baju kampret (serupa baju koko), peci, sarung, sandal, makanan, dan uang Rp
50 ribu," tutur Pangeran Raja H. Muhamad Imamuddin, adik laki-laki
tertua Sultan, yang kerap mewakili kakaknya di berbagai acara sosial.
Sebelumnya, mereka berkunjung ke makam Sunan Gunung Jati, membaca salawat
dan tahlil. Sedangkan puncak peringatan, pembacaan "Babad
Cirebon", dilaksanakan persis di malam 1 Suro. Babad yang menceritakan
awal berdirinya Kerajaan Cirebon ini dibacakan langsung Pangeran Muhammad
Amaludin, putra Sultan.
Dulu, acara ritual itu diadakan di bangunan Witana, di belakang Keraton
Kanoman. Tapi, karena bangunan itu sudah terlalu tua dan khawatir rusak,
acara dialihkan ke pendopo utama. Selama membaca naskah, Amal - begitu
Amaludin dipanggil - didampingi tujuh abdi. Tiga orang masing-masing membawa
baki berisi naskah babad, tempat kemenyan, meja kecil, sedangkan yang empat
orang membawa lilin. Tak ketinggalan, didampingi pula enam ulama sepuh.
Usai pembacaan babad, acara dilanjutkan dengan persembahan nasi tumpeng
kepada khalayak yang hadir. Di sini tampak betapa daya tarik magis keraton
masih berkibar buat kalangan tertentu. Bak "singa lapar", ratusan
pengunjung berebut tumpeng yang jumlahnya belasan.
"Bukan makanannya, tapi berkahnya yang saya cari," aku seorang
pemilik toko di Pasar Kanoman. Ia percaya, banyak sedikitnya makanan yang
bisa disantap berpengaruh terhadap rezeki yang bakal diterima.
Cuci jimat tradisional
Di Keraton Kesepuhan, acara paling menonjol dalam menyambut 1 Suro hanya
pencucian benda-benda pusaka yang tersimpan di museum keraton. Itu pun tidak
dilakukan persis pada malam peralihan tahun. "Tapi secara bertahap,
antara 1 hingga 10 Suro," tegas "Lurah Dalem" Kesepuhan
Mohamad Maskun, pemimpin upacara pencucian. Lurah Dalem merupakan jabatan di
lingkungan keraton yang bertugas mengurusi masalah internal keraton.
Persoalan ke luar, seperti hubungan dengan penduduk sekitar, ditangani oleh
Lurah Magersari. Nah, kedua lurah (penjabatnya tak mesti keluarga Sultan)
itu punya seorang atasan langsung, disebut Lurah Kepala.
Adakah upacara khusus sebelum pencucian? "Ada pembacaan doa. Tapi,
acara itu tidak melibatkan Sultan, karena pusaka utama, seperti Kereta Singa
Barong dan Piring Panjang Jimat tidak masuk daftar," tandas Maskun.
Meski tak melibatkan jimat Sultan Sepuh (sebutan penguasa Keraton
Kesepuhan), tetap ada syarat yang tak bisa ditinggalkan. Seperti larangan
menggunakan zat kimia untuk melunturkan karat. Sekuat apa pun karatnya,
tetap harus dibersihkan dengan ramuan tradisional, semisal campuran jeruk
nipis dan air kelapa. Awalnya, benda-benda pusaka itu direndam dalam bak
besar. Lama perendaman antara 2 hari - 1 minggu. "Tergantung
banyak-sedikitnya karat dan kotoran yang menempel," ujar Maskun.
Selesai direndam, sang pusaka dimandikan dengan air kembang tujuh rupa. Tak
ada patokan harus memakai bunga tertentu. "Yang penting jumlahnya tujuh
macam dan, tentu saja, masih segar," tambah Maskun. Tapi, bunga-bunga
pembawa wangi klasik, seperti mawar dan melati lazim dipakai. Pusaka-pusaka
kecil, seperti keris, pisau, atau tombak biasanya selesai paling awal.
Sementara benda seperti tameng (perisai) perang, gamelan, dan sejenisnya
jelas tak bisa diselesaikan dalam satu-dua hari. Itu sebabnya, total waktu
pencucian bisa mencapai 10 hari.
Memasuki tahun baru, ternyata tak hanya manusia yang merasa perlu
"bersih diri", benda pusaka pun perlu tampilan baru. (Muhammad
Sulhi)
Baca juga: Satu Asal, Tapi Tak Senasib
|
|||||