|
|
Bulan Mei 2001
|
|
Rahasia
tajamnya pisau damaskus
Ada dua hal mengapa pisau damaskus menjadi terkenal. Pertama soal pola
gelombang (berkas) yang tampil menghias di bilah pisau. Begitu terkenalnya
sehingga diberi nama pola damask atau damascene. Kedua, dan
ini yang terpenting, adalah soal ketajamannya. Konon ada yang cerita,
ketajaman pisau atau pedang damaskus bisa membelah sapu tangan sutera yang
melayang di udara. Teddy Sutadi Kardin, pembuat pisau di Bandung yang
buatannya bisa memotong kertas koran, pun mengakui kehebatan pisau damaskus
ini (Intisari, Januari 1998).
Sayangnya, seni membuat pisau ini hilang semenjak dekade 1800-an. Bahkan di
negara asalnya juga sulit ditemui karya pandai besi yang berkualitas seperti
buatan kakek buyutnya. Hal ini membuat orang Barat berusaha meneliti, di
mana letak kesalahan generasi penerus. Yang tak kalah penting adalah
memecahkan misteri dibalik pola dan tajamnya pisau damaskus itu.
Awal tahun 1824, Jean Robert Breant di Prancis, dan tak seberapa lama
kemuidan, Pavel Anosoff di Rusia mengumumkan kesuksesan mereka dalam menguak
tabir pandai besi kaum Muslim; keduanya mengklaim bisa membuat replika pisau
damaskus asli. Dalam abad ini, solusi lain juga diketengahkan oleh Jeffrey
Wadsworth dan Oleg D. Sherby. Akan tetapi setelah diteliti secara mendetail
hasilnya tidak memuaskan. Solusi terbaru dikemukakan oleh John D. Verhoeven,
guru besar emeritus Material Science and Engineering di Iowa State
University, AS, yang dibantu oleh pandai besi asal Florida, Alfred H.
Pendray.
Temperatur harus tepat
Kehebatan pisau damaskus ternyata berawal dari pemilihan bahan yang akan
dipakai, yakni campuran antara karbon dan besi (batang logam atau ingot)
yang khusus didatangkan dari India. Sekitar tahun 1800-an bahan ini dikenal
dengan nama wootz ingot atau wootz cake. Bentuknya seperti
bola hoki yang mirip kue itu. Diamaternya sekitar 10 cm dengan ketebalan 5
cm. Bahan ini mengandung 1,5% karbon per berat, ditambah beberapa unsur
pengotor seperti silikon, mangan, fosfor, dan belerang.
Sementara pola permukaan yang atraktif itu dibuat dengan teknik tersendiri.
Ketika diteliti, berkas pola itu mengandung partikel besi karbit, Fe3C,
yang dikenal dengan nama sementit. Partikel ini umumnya berdiameter antara 6
– 9 mikron, bundar sempurna, dan mengelompok rapat dalam berkas berjarak
antara 30 – 70 mikron, berderet-deret sejajar dengan permukaan bilah.
Mirip urat pada kayu papan.
Jika dituangi asam, karbit ini akan terlihat seperti garis putih pada
permukaan bilah baja yang hitam itu. Partikel karbit ini sangat keras.
Diduga, kombinasi antara baja keras dan baja yang lebih lunak dan elastislah
yang memberikan hasil mata pisau tajam, plus fleksibilitas yang liat.
Kumpulan partikel karbit bisa diperoleh dengan melakukan pemanasan (pada
suhu tepat) dan pendinginan (pada temperatur ruangan) baja yang mengandung
1,5% karbon dan satu dari beberapa unsur pengotor (sekitar 0,03%) secara
berulang-ulang, lima atau enam kali. Partikel inilah yang menghasilkan
karakteristik pola permukaan selama penempaan. Percobaan pada pisau antik
dan modern memperlihatkan bahwa formasi berkas terbentuk dari pemisahan pada
tingkat mikroskopik beberapa unsur pengotor setelah ingot cair
menjadi dingin dan mengeras.
Beginilah ceritanya bagaimana microsegregation itu terjadi dalam
baja. Setelah batang logam panas mendingin dan membeku, bagian depan besi
kristal yang padat mengembang masuk ke dalam cairan, membikin bentuk seperti
bayangan pohon pinus, yang disebut dengan dendrit (lihat ilustrasi). Dalam
baja 1,5% karbon, jenis besi yang mengeras dari besi cair disebut austenit.
Dalam ceruk antara dendrit ini (disebut daerah interdendrit), logam cair
terperangkap.
Besi padat memuat lebih sedikit atom karbon dan unsur lain dibanding besi
cair. Oleh sebab itu, setelah logam mengeras di dalam dendrit besi yang
mengkristal, karbon dan atom pengotor cenderung untuk memisah. Karenanya,
konsentrasi atom tadi bisa menjadi sangat tinggi di daerah interdendrit
terakhir.
Setelah besi mengeras dan dendrit muncul, daerah antara keduanya diisi
pola-pola geometris dari atom-atom pengotor yang membeku membentuk untaian
mutiara. Selanjutnya, ketika batang logam menjalani serangkaian langkah
pemanasan dan pendinginan, atom-atom pengotor inilah yang mendorong
tumbuhnya untaian partikel sementit keras yaitu berkas yang lebih terang di
baja.
Pola-pola geometris ini ada kaitannya dengan berkas gelap dan terang pada wootz
steel. Jarak antara cabang dendrit sekitar 0,5 mm, dan karena batang
logam diubah (bentuknya) dan diamaternya dikurangi, jarak ini juga ikut
berkurang. Jarak akhir antardendrit ini berhubungan erat dengan jarak berkas
pada baja damaskus.
Selama penempaan, temperatur yang tepat sangat penting agar memperoleh
campuran partikel austenit dan sementit yang pas. Partikel karbit besi mulai
terbentuk jika temperatur di bawah titik kritis.
Perlu banyak langkah
Yang menjadi pertanyaan dari sebilah pedang damaskus adalah bagaimana
penempaan yang sederhana bisa membuat karbit berbaris dalam berkas yang
khas. Secara sistematis Verhoeven dan Pendray melakukan pengujian penampang
melintang dari batang tempa setelah batang itu diubah dari bentuk bola hoki
menjadi bilah. Dalam mengubah itu, batang logam dipanaskan sampai temperatur
di mana baja akan merupakan campuran antara partikel sementit dan austenit,
lalu memukulnya.
Sementara batang logam ditempa, temperatur harus diturunkan dari sekitar 50o
C di bawah Acm menjadi 250o C di bawah Acm.
Acm merupakan temperatur terendah di mana baja 0,77% karbon
merupakan austenit. Selama pendinginan ini, proporsi partikel sementit akan
meningkat. Batang logam lalu dipanaskan dan dipukul kembali di antara dua
temperatur tadi. Berdasar pengalaman, untuk memperoleh bilah yang mendekati
ukuran aslinya (lebar 45 mm dan tebal 5 mm) diperlukan sekitar 50 langkah
penempaan seperti di atas.
Lalu, bagaimana berkas itu terjadi? Inilah ceritanya.
Pada langkah ke 20 atau lebih, terbentuk secara acak partikel keras karbit.
Setiap penambahan langkah partikel-partikel ini cenderung berkumpul di
sepanjang titik-titik pola-pola geometri yang terbentuk di daerah
interdendrit. Sebab, setiap kali baja dipanaskan, beberapa partikel karbit
larut. Tetapi, atom-atom unsur pengotor laju pelarutannya lambat, membuat
lebih besar partikel karbit yang tetap tinggal.
Setiap langkah pemanasan dan pendinginan hanya membuat partikel ini sedikit
yang tumbuh. Inilah yang menjelaskan mengapa perlu banyak langkah untuk
membentuk berkas yang khas. Karena unsur-unsur pengotor berbaris di daerah
antara dendrit, partikel-partikel karbit menjadi terkonsentrasi di daerah
itu.
Hanya perlu jumlah yang sedikit
Meskipun sudah dicurigai bahwa unsur pengotor memainkan peran penting dalam
pembentukan berkas, Verhoeven belum yakin yang mana yang paling penting.
Meski silikon, belerang, dan fosfor bisa diabaikan, informasi ini belum
menyelesaikan masalah.
Untunglah, ada keberuntungan dalam langkah yang dilakukan oleh Verhoeven.
Yakni digunakannya logam Sorel sebagai salah satu bahan ingot. Logam
ini merupakan aloi besi-karbon denga kemurnian tinggi, yang mengandung 3,9
– 4,7% karbon, diproduksi dari lapisan bijih ilmenit besar di Lac Tio di
S. St. Lawrence, Quebec, Kanada. Endapan bijih ini mengandung jejak-jejak
vanadium; karenanya logam Sorel memiliki 0,003 – 0,014% vanadium. Awalnya
unsur ini diabaikan karena jumlahnya sangat kecil. Akan tetapi, justru di
sinilah letak kunci penyibak misteri itu.
Menambahkan vanadium dalam jumlah yang kecil (0,003%) ke dalam aloi
besi-karbon dengan kemurnian tinggi menghasilkan berkas yang bagus.
Molybdenum juga menghasilkan efek yang sama, dan untuk jumlah yang lebih
kecil, demikian pula dengan kromium, niobium, dan mangan. Unsur-unsur yang
tidak menghasilkan formasi karbit dan berkas meliputi tembaga dan nikel.
Analisis mikro menggunakan elektron menunjukkan bahwa kehadiran unsur-unsur
efektif itu di dalam batang cukup hanya 0,02% atau kurang sudah bisa
menimbulkan microsegregation dalam daerah interdendrit.
Untuk membuktikan analisis itu, Verhoeven dan Pendray melakukan percobaan
dengan membuat pisau dengan cara yang sama, tetapi tanpa melibatkan sama
sekali unsur-unsur pengotor. Ternyata ingot tersebut tidak
memproduksi kelompok-kelompok partikel karbit atau berkas. Setelah
unsur-unsur pengotornya ditambahkan, baru berkas itu muncul.
Hasil itu bisa menjawab mengapa seni membuat senjata ini bisa hilang selama
dua abad yang lampau. Bisa jadi tidak semua bijih besi dari India mengandung
unsur-unsur pengotor pembuat karbit. (SA/Yds)
Baca juga: Bagaimana Pisau Damaskus Dibuat? |
|||||