globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan Mei 2001

Terbit Bulan Ini; Buku Kumpulan Artikel Psikologi 1

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

Panjang Umurnya, Seram Kisahnya

Entah apa resepnya, umur pohon baobab bisa begitu panjang. Tanaman gurun pasir ini sanggup bertahan hingga perayaan ulang tahunnya yang ke-1.000, 2.000, bahkan 5.000 tahun. Tentu saja, kalau dirayakan saban tahun, acara HUT-nya bisa bikin sang penyanyi Happy Birthday mati bosan. Ditambah bentuknya yang aneh, seperti pohon terbalik, ia pun kerap dituduh sebagai sarang makhluk halus.

Sejak awal kemunculannya, baobab memang sudah menyimpan cerita seru. Konon, menurut cerita, dewa-dewa mulanya menanam pohon ini pertama kali di lembah S. Kongo. Tetapi baobab mengeluh karena tanahnya lembek, hingga tubuhnya gampang tenggelam. Para dewa pun jatuh kasihan. Maka dipindahlah baobab ke Pegunungan Bulan di Ruwenzori, Uganda.

Tapi dasar bandel dan tak mau bersyukur, baobab tetap saja mengeluh. Kali ini soal tanah yang lembap. "Maumu gimana sih?" koor para dewa sewot bukan main. Saking murkanya, mereka lalu melemparkan pohon itu ke sebuah gurun di Afrika nan gersang. "Biar susah dapat air sekalian," sungut para dewa. Karena kelewat bernafsu, lemparan maha kuat itu bikin baobab jungkir balik. "Kepala" baobab nyungsep ke tanah, sementara "kaki-kaki"-nya menggapai-gapai langit.

Itulah duduk perkaranya, menurut versi kisah itu, kenapa sosok baobab jadi agak nyleneh, mirip pohon terbalik. Dalam dunia nyata, ternyata itu lumrah saja. Sama seperti pohon-pohon lain, bagian yang dulu dikira akar terbalik, belakangan terbukti merupakan cabang pohon yang tumbuh pendek-pendek. Tatkala daunnya pada rontok, cabang-cabang itu jadi mirip akar.

Ada lagi yang unik, bentuk batangnya seperti botol air mineral. Walau marah, para dewa itu maha pengasih. Meski dikirim ke gurun nan kerontang, pohon ini dilengkapi tempat penyimpan air berupa batang berbentuk botol. Fungsinya mirip batang kaktus atau punuk onta. Sekali air diisap lewat akarnya yang panjang, cadangan air itu langsung disimpan dalam batangnya. Daya tampungnya lumayan besar, sampai 120.000 l. Sayangnya, air tandon ini sering "digarong" oleh musafir padang pasir yang kehausan. Tinggal memotong batang atau akar sebenarnya, muncratlah air gratis itu sebagai minuman.

Madagaskar tanah tumpah darahnya

Baobab pertama kali dikenal dalam dunia ilmu pengetahuan pada abad ke-14, saat kisahnya meluncur dari mulut seorang petualang Arab bernama Ibnu Batuta. Sejak abad ke-16, orang-orang Eropa mulai mengenal buahnya, yang biasa dijual di pasar-pasar Mesir sebagai bumbu dan jamu. Namun Michel Adanson-lah (1727 - 1806) yang paling berperan memperkenalkan baobab ke dunia modern. Ahli botani asal Prancis ini yang pertama kali mempelajari kehidupannya. Itu sebabnya ketika Carolus Linaeus - penemu sistem penanaman ilmiah - hendak menamai pohon ini, ia tak perlu cari ilham ke sana kemari. Tanpa ragu-ragu, segera dinamainya Adansonia.

Saat ini, ada beberapa spesies Adansonia. Yang paling terkenal adalah baobab Adansonia digintata dari kawasan Sahara, Afrika. Tingginya bisa mencapai 25 m, dengan diameter batangnya 12 m. Sedangkan Adansonia gibbota masuk golongan baobab terkecil. Dengan tinggi hanya 10 m, ia hidup di benua Australia. Ciri paling khas jenis ini, cabang-cabangnya banyak dan menggembung.

Madagaskar dapat dianggap sebagai tanah tumpah darah baobab. Pasalnya, di pulau raksasa lepas pantai Afrika Timur ini, hidup enam jenis baobab. Paling populer Adansonia za. Tingginya 30 m lebih. Kemudian ada Adansonia grandidieri yang hidup di daerah Morembe dan Morondava, sebelah barat Madagaskar. Tingginya sekitar 25 m, dengan diameter 3 m. Cabang-cabangnya tersusun horizontal.

Di Provinsi Mahajangga, masih di Madagaskar, hidup Adansonia madagascariensis. Tingginya "hanya" 20 m. Jenis baobab madagaskar terkecil adalah Adansonia rubrostipa. Yang ini, kebanyakan tingginya hanya 4 - 5 m. Meskipun ada yang abnormal juga, bisa sampai 20 m.

Di pulau ini tumbuh pula dua jenis baobab paling langka, yakni Adansonia suarezensis dan Adansonia perrieri. Keduanya hanya hidup di sebelah utara Madagaskar. Adansonia perrieri paling terancam kepunahan. Bayangkan saja, jumlahnya tinggal 10 buah!

Diserbuki lemur

Pohon ini sebenarnya termasuk keluarga Bombacacae, yang dekat hubungannya dengan kapuk randu dan durian. Salah satu ciri keluarga ini, bunganya mekar pada malam hari. Bunganya yang besar dan menggantung itu kebanyakan berwarna putih. Hanya bunga Adansonia rubrostipa yang berkelir kuning ngejreng.

Nyleneh-nya, bunga-bunga itu biasanya hanya mekar semalam, antara bulan Mei dan Agustus. Penyerbukan lazimnya dibantu kelelawar. Tetapi dua baobab madagaskar, Adansonia suarezensi dan Adansonia grandidieri, ternyata diserbuki sejenis lemur, selain kelelawar pemakan buah. Hal ini pernah diteliti David Baum dari Universitas Harvard. Baobab australia dan empat spesies baobab madagaskar lainnya beda lagi. Kalau yang ini, ngengat berlidah panjanglah mak comblang-nya.

Tentu saja jasa para penyerbuk ini tidak gratis. Iming-iming yang ditawarkan adalah nektar nan manis. Akibatnya, banyak binatang pemakan nektar, seperti bush baby (sejenis lemur), burung hantu, dan kelelawar, yang memilih tinggal di atas pohon idolanya agar selalu dapat mencicipi nektar. Karena bunga baobab hanya mekar di malam hari, kegiatan menyantap nektar hanya dilakukan sesudah matahari terbenam. Tidak heran jika saat malam tiba, orang yang kebetulan lewat di dekat pohon baobab sering mendengar suara-suara aneh. Seolah-olah pohon itu ada penunggunya. Barangkali, inilah salah satu faktor yang membuat baobab sering dihubungkan dengan cerita-cerita seram.

Tapi, yang paling mengesankan dari baobab ini, usianya di atas rata-rata. Melihat umurnya yang bisa mencapai 1.000 atau 2.000 tahun, cuma pohon sequoia dan cemara jepang yang dapat menandinginya. Bahkan Adanson percaya, dua jenis baobab yang pernah tumbuh di Cape Verde, sebelah barat Mauritania, umurnya sudah 5.150 tahun!

Akan tetapi karena pohonnya kini sudah almarhum, sulit dipastikan apakah perkiraan itu benar atau tidak. Pendapat lain menyebut, pohon berdiamter 10 m itu mungkin usianya 2.000 tahun. Alasannya, baobab berdiameter 4,5 m di dekat S. Zambesi, ketika diukur dengan teknik radiokarbon, umurnya diperkirakan 1.000 tahun. Mestinya, pohon yang diameternya dua kali, umurnya juga dua kali lipat.

Ada bukti lain untuk menjelaskan betapa tinggi daya tahan baobab. Yakni ditemukannya sebuah peluru meriam Portugis di dalam batang sebuah pohon baobab, dekat pintu gerbang pelabuhan Mombasa, Kenya. Peluru itu tampaknya telah tertanam selama berabad-abad lamanya. Tepatnya, saat terjadi serangan pasukan Kerajaan Portugis pada masa awal penjajahan di Afrika.

Pindah roh

Di alam manusia, orang yang panjang umur biasanya dianggap lebih bijak, sehingga kerap dijadikan tempat bertanya. Takdir ini pun menimpa baobab. Tanaman raksasa ini kerap dianggap sebagai barang sakral, yang dipercaya memiliki roh dan dapat membantu perburuan. Di Matabeleland, Zimbabwe, sering diadakan upacara di bawah pohon itu. Upacara seperti ini biasanya dipimpin seorang pendeta yang nenek moyangnya masih punya hubungan dekat dengan mitos pohon itu.

Bisa dimengerti mengapa baobab akhirnya menjadi saksi bisu sejarah komunitas di sekitarnya. Berbagai generasi suku boleh berganti, tetapi pohon yang sama masih juga tegak berdiri. Jika seorang anggota suku berdiri di samping pohon baobab tua, ia seakan tahu, sedang menatap pohon serupa yang pernah dilihat nenek moyangnya dulu. Syukur-syukur kalau bisa sekalian membayangkan tampang sang nenek moyang.

Bahkan suku-suku tertentu percaya, baobab itu penjaga wilayah teritorial yang baik. Ia juga dianggap sebagai pemilik tanah yang selalu dihubung-hubungkan dengan hujan, panen, penyakit, dan serangan binatang buas. Itulah sebabnya, orang-orang di sekitarnya bak terikat dan enggan meninggalkannya.

Ada kasus menarik pada pertengahan 1950-an, saat akan dibangun bendungan Kariba di S. Zambesi. Pemerintah setempat kesulitan memindahkan suku Batonga dan Korekore. Kabarnya, mereka tidak mau meninggalkan tanah leluhurnya, yang dilambangkan dengan pohon-pohon baobab. Mereka tidak mau meninggalkan roh leluhur mereka yang menempati pohon-pohon baobab itu. Pemerintah pun cari akal. Suku-suku itu hanya mau dipindahkan ke tempat yang juga terdapat pohon baobab, maka digelarlah upacara perpisahan pepohonan baobab. Roh-roh di baobab lama dipindah ke pepohonan baobab di tempat baru. Setelah itu, barulah mereka mau pindah.

Di sisi lain, baobab juga dianggap sebagai lambang kesuburan, karena batangnya dapat menyimpan air. Di Provinsi Kordovan, Sudan, misalnya, baobab sering dilambangkan dengan ungkapan "Ur" yang artinya ibu (lambang kesuburan).

Tapi, lepas dari segala mitos dan cerita-cerita seram tadi, baobab memang menyimpan banyak kegunaan. Buahnya dapat dimakan. Buah baobab berbentuk lonjong, panjangnya sekitar 10 - 30 cm. Kadang-kadang disebut juga roto monyet. Karena di dalam buah itu banyak biji-biji besar dan berwarna hitam. Bentuknya seperti serbuk yang menggumpal. Nah, gumpalan ini dapat juga dijadikan minuman. Karena cukup keras, biasanya harus direbus dengan air gula. Konon lagi, buah ini mengandung vitamin C. Kandungannya bisa mencapai 1.690 mg/kg.

Sedangkan bagian-bagian tubuh yang lain dapat digunakan untuk mengobati berbagai penyakit, seperti malaria, infeksi mata, disentri, luka bakar, dan infeksi saluran kencing. Kulit batangnya juga bermanfaat sebagai bahan pembuat tali, kain, dan jaring. Buah dan daun mudanya, yang rasanya seperti bayam, lazim dipakai untuk obat tradisional. Menurut penelitian Jean Piere dan Abdoulaye Camara, serbuk daun baobab kering bahkan dapat menyembuhkan anemia, rakhitis, disentri, asma, dan rematik. Sedangkan kulitnya berpotensi mengobati diare, disentri, dan cacar air. Plus kulit kerasnya yang dapat menyembuhkan radang saluran pencernaan.

Untuk rumah orang hidup dan mati

Sosok baobab yang raksasa bisa juga dipakai sebagai tempat tinggal. David Livingstone, salah seorang penjelajah Eropa pertama di Afrika, pernah memergokinya di Zimbabwe. Namun, pendeta David Boilot dalam Esquisses Senegalaises-lah (1853) yang menerangkannya lebih detail. Cara membuatnya sederhana. Pertama-tama, orang harus melubangi batangnya sesuai luas yang diinginkan. Agar dinding ruangan cepat kering, biasanya dipanasi dengan api. Sebelum ditempati, seorang pendeta dipanggil untuk memberkati. Boilot juga pernah melihat rumah sejenis di Senegal. Salah satunya berkamar dua. Satu untuk tempat tinggal, sisanya buat toko. Opo ora hebat?

Selain hunian mahluk hidup, baobab juga dapat dijadikan tempat peristirahatan jenazah. Di Senegal, di sebuah tempat yang jaraknya 15 km dari Kota Joal, ada batang baobab yang membuka secara alami. Lubang itu dipakai sebagai kuburan orang-orang penting. Kebiasaan yang sama juga ditemui di Zimbabwe. Di sebelah utara negeri itu, ada kebiasaan suku Batonga menguburkan tokoh penting, seperti kepala suku ke dalam rongga baobab tua. Mereka juga menguburkan berbagai artifak, seperti senjata, tembikar, dan alat-alat pertanian untuk menemani kerangka sang tokoh.

Begitu menguntungkannya pohon ini. Tidak heran jika banyak orang berusaha melestarikannya. Kesan seram seolah tak lagi dihiraukan. Saat ini makin banyak orang yang suka menanamnya untuk hiasan atau bonsai. Apalagi cara menanamnya mudah. Cuma diperlukan beberapa biji baobab. Bijinya sendiri berbentuk agak lonjong, kecuali biji baobab Adonsia suarezi yang lebih panjang.

Dalam kondisi normal, biji tadi akan berkecambah dalam waktu 10 hari. Kecambah-kecambah ini dapat ditanam di dalam pot berisi campuran tanah dan humus dengan perbandingan 1 : 1. Biji ditanam sedalam 1,5 cm dan disiram air setiap hari. Beberapa hari kemudian, keping biji akan muncul. Sekarang tinggal pilih, mau menanam di pot sebagai bonsai atau ditanam di luar sebagai penghias halaman.

Setiap jenis baobab berbeda kadar pertumbuhannya. Baobab afrika (Adansonia digitata) cepat tumbuh, namun relatif rentan terhadap penyakit. Jadi, bisa saja umurnya tak sepanjang baobab di tempat lain. Sebaliknya, baobab australia tumbuh lambat dan butuh panas tinggi saat berkembang. Umumnya, baobab memang membutuhkan panas tinggi untuk perkembangannya. Yah, namanya juga tumbuhan padang pasir. (Koen Setyawan, staf paro waktu Yayasan Semesta Biru)

Active Channel

© Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/


Counter by Pandawa

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej