|
|
Bulan Mei 2001
|
|
Panjang
Umurnya, Seram Kisahnya
Tapi dasar bandel dan tak mau bersyukur, baobab tetap saja mengeluh. Kali
ini soal tanah yang lembap. "Maumu gimana sih?" koor para
dewa sewot bukan main. Saking murkanya, mereka lalu melemparkan pohon itu ke
sebuah gurun di Afrika nan gersang. "Biar susah dapat air
sekalian," sungut para dewa. Karena kelewat bernafsu, lemparan maha
kuat itu bikin baobab jungkir balik. "Kepala" baobab nyungsep
ke tanah, sementara "kaki-kaki"-nya menggapai-gapai langit.
Itulah duduk perkaranya, menurut versi kisah itu, kenapa sosok baobab jadi
agak nyleneh, mirip pohon terbalik. Dalam dunia nyata, ternyata itu
lumrah saja. Sama seperti pohon-pohon lain, bagian yang dulu dikira akar
terbalik, belakangan terbukti merupakan cabang pohon yang tumbuh
pendek-pendek. Tatkala daunnya pada rontok, cabang-cabang itu jadi mirip
akar.
Ada lagi yang unik, bentuk batangnya seperti botol air mineral. Walau marah,
para dewa itu maha pengasih. Meski dikirim ke gurun nan kerontang, pohon ini
dilengkapi tempat penyimpan air berupa batang berbentuk botol. Fungsinya
mirip batang kaktus atau punuk onta. Sekali air diisap lewat akarnya yang
panjang, cadangan air itu langsung disimpan dalam batangnya. Daya tampungnya
lumayan besar, sampai 120.000 l. Sayangnya, air tandon ini sering
"digarong" oleh musafir padang pasir yang kehausan. Tinggal
memotong batang atau akar sebenarnya, muncratlah air gratis itu sebagai
minuman.
Madagaskar tanah tumpah darahnya
Baobab pertama kali dikenal dalam dunia ilmu pengetahuan pada abad ke-14,
saat kisahnya meluncur dari mulut seorang petualang Arab bernama Ibnu
Batuta. Sejak abad ke-16, orang-orang Eropa mulai mengenal buahnya, yang
biasa dijual di pasar-pasar Mesir sebagai bumbu dan jamu. Namun Michel
Adanson-lah (1727 - 1806) yang paling berperan memperkenalkan baobab ke
dunia modern. Ahli botani asal Prancis ini yang pertama kali mempelajari
kehidupannya. Itu sebabnya ketika Carolus Linaeus - penemu sistem penanaman
ilmiah - hendak menamai pohon ini, ia tak perlu cari ilham ke sana kemari.
Tanpa ragu-ragu, segera dinamainya Adansonia.
Saat ini, ada beberapa spesies Adansonia. Yang paling terkenal adalah baobab
Adansonia digintata dari kawasan Sahara, Afrika. Tingginya bisa
mencapai 25 m, dengan diameter batangnya 12 m. Sedangkan Adansonia
gibbota masuk golongan baobab terkecil. Dengan tinggi hanya 10 m, ia
hidup di benua Australia. Ciri paling khas jenis ini, cabang-cabangnya
banyak dan menggembung.
Madagaskar dapat dianggap sebagai tanah tumpah darah baobab. Pasalnya, di
pulau raksasa lepas pantai Afrika Timur ini, hidup enam jenis baobab. Paling
populer Adansonia za. Tingginya 30 m lebih. Kemudian ada Adansonia
grandidieri yang hidup di daerah Morembe dan Morondava, sebelah barat
Madagaskar. Tingginya sekitar 25 m, dengan diameter 3 m. Cabang-cabangnya
tersusun horizontal.
Di Provinsi Mahajangga, masih di Madagaskar, hidup Adansonia
madagascariensis. Tingginya "hanya" 20 m. Jenis baobab
madagaskar terkecil adalah Adansonia rubrostipa. Yang ini, kebanyakan
tingginya hanya 4 - 5 m. Meskipun ada yang abnormal juga, bisa sampai 20 m.
Di pulau ini tumbuh pula dua jenis baobab paling langka, yakni Adansonia
suarezensis dan Adansonia perrieri. Keduanya hanya hidup di
sebelah utara Madagaskar. Adansonia perrieri paling terancam
kepunahan. Bayangkan saja, jumlahnya tinggal 10 buah!
Diserbuki lemur
Pohon ini sebenarnya termasuk keluarga Bombacacae, yang dekat
hubungannya dengan kapuk randu dan durian. Salah satu ciri keluarga ini,
bunganya mekar pada malam hari. Bunganya yang besar dan menggantung itu
kebanyakan berwarna putih. Hanya bunga Adansonia rubrostipa yang
berkelir kuning ngejreng.
Nyleneh-nya, bunga-bunga itu biasanya hanya mekar semalam, antara
bulan Mei dan Agustus. Penyerbukan lazimnya dibantu kelelawar. Tetapi dua
baobab madagaskar, Adansonia suarezensi dan Adansonia grandidieri,
ternyata diserbuki sejenis lemur, selain kelelawar pemakan buah. Hal ini
pernah diteliti David Baum dari Universitas Harvard. Baobab australia dan
empat spesies baobab madagaskar lainnya beda lagi. Kalau yang ini, ngengat
berlidah panjanglah mak comblang-nya.
Tentu saja jasa para penyerbuk ini tidak gratis. Iming-iming yang ditawarkan
adalah nektar nan manis. Akibatnya, banyak binatang pemakan nektar, seperti bush
baby (sejenis lemur), burung hantu, dan kelelawar, yang memilih tinggal
di atas pohon idolanya agar selalu dapat mencicipi nektar. Karena bunga
baobab hanya mekar di malam hari, kegiatan menyantap nektar hanya dilakukan
sesudah matahari terbenam. Tidak heran jika saat malam tiba, orang yang
kebetulan lewat di dekat pohon baobab sering mendengar suara-suara aneh.
Seolah-olah pohon itu ada penunggunya. Barangkali, inilah salah satu faktor
yang membuat baobab sering dihubungkan dengan cerita-cerita seram.
Tapi, yang paling mengesankan dari baobab ini, usianya di atas rata-rata.
Melihat umurnya yang bisa mencapai 1.000 atau 2.000 tahun, cuma pohon sequoia
dan cemara jepang yang dapat menandinginya. Bahkan Adanson percaya, dua
jenis baobab yang pernah tumbuh di Cape Verde, sebelah barat Mauritania,
umurnya sudah 5.150 tahun!
Akan tetapi karena pohonnya kini sudah almarhum, sulit dipastikan apakah
perkiraan itu benar atau tidak. Pendapat lain menyebut, pohon berdiamter 10
m itu mungkin usianya 2.000 tahun. Alasannya, baobab berdiameter 4,5 m di
dekat S. Zambesi, ketika diukur dengan teknik radiokarbon, umurnya
diperkirakan 1.000 tahun. Mestinya, pohon yang diameternya dua kali, umurnya
juga dua kali lipat.
Ada bukti lain untuk menjelaskan betapa tinggi daya tahan baobab. Yakni
ditemukannya sebuah peluru meriam Portugis di dalam batang sebuah pohon
baobab, dekat pintu gerbang pelabuhan Mombasa, Kenya. Peluru itu tampaknya
telah tertanam selama berabad-abad lamanya. Tepatnya, saat terjadi serangan
pasukan Kerajaan Portugis pada masa awal penjajahan di Afrika.
Pindah roh
Di alam manusia, orang yang panjang umur biasanya dianggap lebih bijak,
sehingga kerap dijadikan tempat bertanya. Takdir ini pun menimpa baobab.
Tanaman raksasa ini kerap dianggap sebagai barang sakral, yang dipercaya
memiliki roh dan dapat membantu perburuan. Di Matabeleland, Zimbabwe, sering
diadakan upacara di bawah pohon itu. Upacara seperti ini biasanya dipimpin
seorang pendeta yang nenek moyangnya masih punya hubungan dekat dengan mitos
pohon itu.
Bisa dimengerti mengapa baobab akhirnya menjadi saksi bisu sejarah komunitas
di sekitarnya. Berbagai generasi suku boleh berganti, tetapi pohon yang sama
masih juga tegak berdiri. Jika seorang anggota suku berdiri di samping pohon
baobab tua, ia seakan tahu, sedang menatap pohon serupa yang pernah dilihat
nenek moyangnya dulu. Syukur-syukur kalau bisa sekalian membayangkan tampang
sang nenek moyang.
Bahkan suku-suku tertentu percaya, baobab itu penjaga wilayah teritorial
yang baik. Ia juga dianggap sebagai pemilik tanah yang selalu
dihubung-hubungkan dengan hujan, panen, penyakit, dan serangan binatang
buas. Itulah sebabnya, orang-orang di sekitarnya bak terikat dan enggan
meninggalkannya.
Ada kasus menarik pada pertengahan 1950-an, saat akan dibangun bendungan
Kariba di S. Zambesi. Pemerintah setempat kesulitan memindahkan suku Batonga
dan Korekore. Kabarnya, mereka tidak mau meninggalkan tanah leluhurnya, yang
dilambangkan dengan pohon-pohon baobab. Mereka tidak mau meninggalkan roh
leluhur mereka yang menempati pohon-pohon baobab itu. Pemerintah pun cari
akal. Suku-suku itu hanya mau dipindahkan ke tempat yang juga terdapat pohon
baobab, maka digelarlah upacara perpisahan pepohonan baobab. Roh-roh di
baobab lama dipindah ke pepohonan baobab di tempat baru. Setelah itu,
barulah mereka mau pindah.
Di sisi lain, baobab juga dianggap sebagai lambang kesuburan, karena
batangnya dapat menyimpan air. Di Provinsi Kordovan, Sudan, misalnya, baobab
sering dilambangkan dengan ungkapan "Ur" yang artinya ibu (lambang
kesuburan).
Tapi, lepas dari segala mitos dan cerita-cerita seram tadi, baobab memang
menyimpan banyak kegunaan. Buahnya dapat dimakan. Buah baobab berbentuk
lonjong, panjangnya sekitar 10 - 30 cm. Kadang-kadang disebut juga roto
monyet. Karena di dalam buah itu banyak biji-biji besar dan berwarna hitam.
Bentuknya seperti serbuk yang menggumpal. Nah, gumpalan ini dapat juga
dijadikan minuman. Karena cukup keras, biasanya harus direbus dengan air
gula. Konon lagi, buah ini mengandung vitamin C. Kandungannya bisa mencapai
1.690 mg/kg.
Sedangkan bagian-bagian tubuh yang lain dapat digunakan untuk mengobati
berbagai penyakit, seperti malaria, infeksi mata, disentri, luka bakar, dan
infeksi saluran kencing. Kulit batangnya juga bermanfaat sebagai bahan
pembuat tali, kain, dan jaring. Buah dan daun mudanya, yang rasanya seperti
bayam, lazim dipakai untuk obat tradisional. Menurut penelitian Jean Piere
dan Abdoulaye Camara, serbuk daun baobab kering bahkan dapat menyembuhkan
anemia, rakhitis, disentri, asma, dan rematik. Sedangkan kulitnya berpotensi
mengobati diare, disentri, dan cacar air. Plus kulit kerasnya yang dapat
menyembuhkan radang saluran pencernaan.
Untuk rumah orang hidup dan mati
Sosok baobab yang raksasa bisa juga dipakai sebagai tempat tinggal. David
Livingstone, salah seorang penjelajah Eropa pertama di Afrika, pernah
memergokinya di Zimbabwe. Namun, pendeta David Boilot dalam Esquisses
Senegalaises-lah (1853) yang menerangkannya lebih detail. Cara membuatnya
sederhana. Pertama-tama, orang harus melubangi batangnya sesuai luas yang
diinginkan. Agar dinding ruangan cepat kering, biasanya dipanasi dengan api.
Sebelum ditempati, seorang pendeta dipanggil untuk memberkati. Boilot juga
pernah melihat rumah sejenis di Senegal. Salah satunya berkamar dua. Satu
untuk tempat tinggal, sisanya buat toko. Opo ora hebat?
Selain hunian mahluk hidup, baobab juga dapat dijadikan tempat
peristirahatan jenazah. Di Senegal, di sebuah tempat yang jaraknya 15 km
dari Kota Joal, ada batang baobab yang membuka secara alami. Lubang itu
dipakai sebagai kuburan orang-orang penting. Kebiasaan yang sama juga
ditemui di Zimbabwe. Di sebelah utara negeri itu, ada kebiasaan suku Batonga
menguburkan tokoh penting, seperti kepala suku ke dalam rongga baobab tua.
Mereka juga menguburkan berbagai artifak, seperti senjata, tembikar, dan
alat-alat pertanian untuk menemani kerangka sang tokoh.
Begitu menguntungkannya pohon ini. Tidak heran jika banyak orang berusaha
melestarikannya. Kesan seram seolah tak lagi dihiraukan. Saat ini makin
banyak orang yang suka menanamnya untuk hiasan atau bonsai. Apalagi cara
menanamnya mudah. Cuma diperlukan beberapa biji baobab. Bijinya sendiri
berbentuk agak lonjong, kecuali biji baobab Adonsia suarezi yang
lebih panjang.
Dalam kondisi normal, biji tadi akan berkecambah dalam waktu 10 hari.
Kecambah-kecambah ini dapat ditanam di dalam pot berisi campuran tanah dan
humus dengan perbandingan 1 : 1. Biji ditanam sedalam 1,5 cm dan disiram air
setiap hari. Beberapa hari kemudian, keping biji akan muncul. Sekarang
tinggal pilih, mau menanam di pot sebagai bonsai atau ditanam di luar
sebagai penghias halaman.
Setiap jenis baobab berbeda kadar pertumbuhannya. Baobab afrika (Adansonia
digitata) cepat tumbuh, namun relatif rentan terhadap penyakit. Jadi,
bisa saja umurnya tak sepanjang baobab di tempat lain. Sebaliknya, baobab
australia tumbuh lambat dan butuh panas tinggi saat berkembang. Umumnya,
baobab memang membutuhkan panas tinggi untuk perkembangannya. Yah, namanya
juga tumbuhan padang pasir. |
|||||