|
|
Bulan Mei 2001
|
|
Adu Nyali di Grand Prix Tahun 2001, gelaran Formula 1 memasuki usia ke-51. Tak sekadar panjang umur, sihir balap mobil single seater (kursi tunggal) ini kian "meracuni" jutaan orang di lima benua. Sebagai olahraga, kepopulerannya mungkin cuma kalah dari sepak bola. Wajar jika pembalapnya ada yang jadi miliarder, selebriti, bahkan melegenda meski raganya telah tiada.
Cikal bakal F1 sendiri telah ada sejak 1894.
Saat sebuah media di Prancis mengumpulkan para pemilik mobil (uap) untuk
menyusuri rute Paris - Rouen. Tentu saja, tak seseru sekarang, karena
kecepatannya cuma sekitar 20 km/jam (kecepatan mobil F1 sekarang bisa lebih
dari 10 kali lipatnya).
Namun, istilah Grand Prix sebagai ikon penyelenggaraan adu kebut, baru
dimasyarakatkan pada 1928 - 1933, kala balapan mulai rutin diadakan di
Prancis, Inggris, Spanyol, dan Italia. Sempat terganggu Perang Dunia II,
Grand Prix kembali dihidupkan tahun 1950, di sirkuit Silverstone, Inggris.
Sejak itu, dimulailah era GP F1 modern.
The Maestro, lima kali juara F1
Hingga kini, puluhan, bahkan ratusan, pembalap datang pergi silih berganti.
Beberapa di antaranya terukir abadi dan melegenda. Di era 1950-an,
kepiawaian Juan Manuel Fangio pasti sulit dilupakan. Perantau asal Argentina
yang malang-melintang di "dunia perkebutan" Eropa sejak 1949 ini
memegang rekor juara dunia F1 lima kali (1951, 1954, 1955, 1956, 1957).
Catatan yang belum tertandingi hingga kini.
Padahal, awal kemunculannya di tim Alfa Romeo sempat diragukan. Tifosi
Italia ingin Alfa Romeo diwakili pembalap lokal nan segar. Toh, mantan juara
Gran Premio del Norte 10.000 km (1940, Bounes Aires - Pegunungan Andes Peru)
ini menjawabnya dengan prestasi. Kemulusannya menyalip lawan pun diakui
dunia, membuatnya digelari "The Maestro".
Pribadi Fangio juga dikenal menyenangkan. Di tim Maserati, dia kerap
mendermakan 10% hadiah kemenangannya buat para mekanik. Ini membuatnya
disegani kawan dan lawan. Bahkan kalimat terakhirnya saat menyelesaikan
lomba perpisahan di GP Prancis, 1958 pun sangat sederhana. "I’m
finished." Bak menggambarkan kepedihan "kakek" berusia
47, yang harus meninggalkan trek pemberi kehidupan.
Kedigdayaan Fangio sempat terputus tahun 1952 dan 1953, setelah gelar championship
terbang ke pelukan Alberto Ascari, anak Antonio Ascari, mantan pembalap
sekaligus sobat Enzo Ferrari, bos pabrik mobil Ferrari. Di atas Ferrari jua,
Ascari menaklukkan Fangio dan mengangkat harkat Italia. Saking bangganya,
Enzo Ferrari sempat sesumbar, "Jika berlomba di belakang Alberto,
jangan harap bisa menyusulnya. Dijamin sia-sia!"
Kala itu banyak yang memprediksi, pria kelahiran Milan 1918 itu bakal
menjadi jagoan F1 sepanjang masa. Di GP Monaco 1955, dia bersaing ketat
dengan Stirling Moss hingga di lap ke-81. Saat itu, Moss terpaksa
memasukkan mobilnya ke pit. Sedangkan Ascari yang di posisi kedua, memacu
kendaraan mengejar ketinggalan.
Mendadak, terdengar pengumuman, Moss gagal melanjutkan lomba. Mobilnya tak
bisa diperbaiki. Sayang, berita itu tak didengar Ascari. Upaya penonton
memberi tahu lewat kode, malah memecah konsentrasinya. Kemenangan yang sudah
di depan mata lenyap tiba-tiba, karena konsentrasinya kacau. Puncaknya,
mobil Lancia-nya terbang, menabrak pagar pembatas, dan tercebur ke laut.
Hampir tiga detik penonton menahan napas, sebelum kepala Ascari nongol.
Ah, selamat!
Empat hari kemudian, dia sudah nonton balap di sirkuit Monza, Italia.
Sebelum makan siang, Ascari menyempatkan diri menjajal sedan sport Ferrari
karibnya, Castellotti. Berperlengkapan seadanya, dia melaju hingga tiga
putaran, untuk kemudian selip dan kehilangan kontrol, berputar-putar dan
jungkir balik dua kali. Dengan luka-luka tak terhingga, Ascari meninggal
dunia. Menorehkan duka mendalam bagi Italia.
Era 1960-an, ada satu nama yang tak bisa dikesampingkan, Jim Clark.
Statistik prestasinya amat mengesankan, juara dunia 1963 dan 1965. Bersama
Alain Prost, dia menduduki tempat ke-3 pemegang rekor pole position
(start terdepan) sepanjang masa, 33 kali. Denis Jenkinson, pengamat F1,
bahkan menempatkannya sebagai pembalap terjago sepanjang masa. Alasannya,
dia mampu menggabungkan keberanian dan intelegensia, hingga selalu menang
dengan stylish.
Sayang, anak laki-laki satu-satunya dari lima bersaudara (itu sebabnya,
aktivitas balapnya ditentang orang tua) ini bernasib sama dengan pembalap
brilian pendahulunya. Tahun 1968, dia tewas saat berlomba di ajang Formula 2
Hockenheim, Jerman. Lagi, seorang legenda meninggal prematur.
Mulai bersayap dan ber-turbo
Dalam sejarah F1, 1970-an merupakan era penting, yakni pemakaian sayap,
hingga aspek aerodinamika lebih terperhatikan. Bentuk mobil pun tak lagi
mirip mentimun, tapi lebih melebar. Mesin pakai turbo (Renault, 1976),
membuat kemampuan lari jauh lebih kencang. Di saat tenaga mobil mulai
membahayakan keselamatan inilah, mencuat nama sang legenda pelopor safety,
Jackie Stewart.
Lahir dengan nama John Young Stewart, juara dunia 1969, 1971, dan 1973 itu
punya pengalaman buruk di lintasan. Bertarung di Spa-Francorchamps 1966 di
Belgia, mobil pembalap favorit Alain Prost ini didera cuaca buruk.
Sampai-sampai, kendaraannya terbang keluar trek. Sialnya, peristiwa ini tak
terdeteksi panitia. Dalam kondisi luka parah, Jackie tertahan di mobil
sekitar 1,5 jam.
Graham Hill, pembalap pertama yang mendatangi Jackie, bercerita, "Saya
mendapati Jackie dan mobilnya di parit. Dia tampak sangat kesakitan. Di
sana-sini tampak ceceran bahan bakar. Risiko meledak sangat besar. Saya
segera menutup tangki dan mencoba mengeluarkan Jackie dari kendaraan. Karena
teralang batang setir, terpaksa, kaki harus dibebaskan dulu, baru badannya
diangkat," kenang Hill. Alhamdulillah, Jackie selamat. Barangkali, ini
adegan penyelamatan paling dramatis sepanjang gelaran mobil peluru.
Prost dan Senna
Di era 1980-an, penggunaan turbo mulai menggila. Hanya pembalap penuh
perhitungan yang mampu bertahan. Salah satunya, Alain Maria Pascal Prost
alias Alain Prost, pemilik julukan The Professor dan The
Calculator. Ini menggambarkan Prost baru bisa bertindak setelah berpikir
masak-masak. Misalnya saat memenangkan GP San Marino, Italia, 1985. Dia
menggunakan strategi pit-stop untuk menaklukkan dua lawan di depan,
Nelson Piquet dan Keke Rosberg.
Statistik prestasi Prost pun mengagumkan. Dia empat kali juara dunia (1985,
1986, 1989, 1993), pemegang rekor kemenangan GP (51 kali), ranking ke-2
pemegang rekor fastest lap sepanjang masa (46 kali), serta ranking
ke-3 rekor pole position sepanjang masa (33 kali). Banyak pengamat
menyamakan kepiawaiannya dengan Jim Clark. "Terutama kemampuan mengubah
peluang tipis menjadi kemenangan," ucap Denis Jenkinson.
Saingan Prost di masanya adalah "pembalap alam" terbaik era jet
darat, Ayrton Senna. Temperamennya yang khas, ngotot dan tidak pernah
mau jadi nomor 2, menjadi kenangan yang tak terlupakan bagi para
Senna-mania. Komunitas F1 pun bak kehabisan kata setiap menyebut nama
Senninha (panggilan akrab fansnya), kecuali memuji bakat balap juara dunia
1988, 1990, 1991 itu sebagai anugerah terbesar yang pernah turun dari
langit. Tak heran, dunia pun menangis saat maut menjemput Beco (panggilannya
di keluarga) di sirkuit Imola, Italia, 1 Mei 1994.
Hari naas itu, Senna dan Williams Renault-nya harus mengulang start. Start
pertama dibatalkan, karena mobil Benetton JJ Lehto yang gagal melaju
ditabrak Lotus Pedro Lamy. Di second start, Senna langsung tancap
gas. Tapi, lewat putaran kedua, dia menyadari ketidakberesan bannya. Suhu si
hitam bundar tak pernah mencapai panas normal. Puncaknya, di lap ketiga
(tikungan Tamburello), mobil Senna ngegelosor keluar jalur dan
menghantam dinding pembatas.
Begitu keras benturan itu, mobil melintir dan menghajar dinding beberapa
kali. Disusul kepulan asap dari balik kendaraan. Senna masih duduk di depan
kemudi, sementara darah mengucur deras dari balik helm. Tragedi ini hanya
berlangsung 1,8 detik. Tapi semua tahu, sang pembalap hebat, The Rain
Master, telah meninggalkan dunia untuk selamanya.
Kini, di awal milenium ketiga, tontonan F1 punya maskot baru, Michael
Schumacher. Mungkin terlalu dini menjadikannya sebagai legenda. Tapi,
kenyataan menunjukkan, prestasi Schumi, menyiratkan fenomena. Hingga seri
terakhir (GP Brazil 2001), rekor kemenangannya mencapai 46 seri, terbaik
ke-2 sepanjang masa, hanya kalah dari Alain Prost. Sedangkan catatan pole
positionnya nomor dua setelah Senna (35 kali berbanding 65 kali).
Juara dunia 1994, 1995, dan 2000 ini bahkan sudah mengumpulkan fastest
lap terbanyak dalam sejarah (41 kali), meninggalkan Alain Prost (40
kali). Tak seperti legenda-legenda lainnya, jantung pria kelahiran Jerman, 3
Januari 1969, itu masih sanggup berdetak kencang dan membalap puluhan,
ratusan, bahkan ribuan lap lagi. Jejak siapa yang akan diikuti Schumi, monggo
sama-sama kita mencermati. (Muhammad Sulhi) Baca
juga: Juara Dunia Anumerta |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online |
|||||