|
|
Bulan Mei 2001
|
|
Kiat
Manggarai Menjaga Kebersihan Air Tawar
Buat masyarakat Manggarai, air memang sesuatu yang sakral dan memiliki nilai
magis. Hal ini sudah berkembang sejak zaman nenek moyang, dan masih bertahan
hingga sekarang. Itu sebabnya, Anda masih dapat menyaksikan air sungai yang
bening, nyaris tanpa cela. Mulus dan seksi, ibarat tubuh wanita. Sulit
menemukan kotoran atau sampah nyangkut di pinggir sungai, yang
arusnya mengalir teduh dari lereng-lereng gunung ke laut lepas.
Bahkan di pesisir pantai yang dihuni ribuan penduduk sekalipun, dijamin Anda
masih bisa menemukan air bersih. Padahal, di banyak tempat di Indonesia,
daerah pantai biasanya pusat krisis air tawar. Inilah dampak kepercayaan
tadi, yang membuat warga tak berani buang hajat, sampah, dan kotoran lainnya
di pinggir, apalagi di tengah sungai. Penduduk setempat benar-benar
mempertahankan kebersihan cairan lambang kehidupan itu dengan berbagai cara.
Untuk memelihara kebiasaan positif ini, pada awal musim menanam, para tetua
adat di Manggarai mempersembahkan sesaji di setiap mata air yang mereka
manfaatkan sehari-hari. Tujuannya, agar mata air itu tidak kering selama
proses menanam. Jangan heran, saat musim kemarau panjang datang, mata air
tiba-tiba meluap deras dari lereng-lereng gunung, lalu mengalir lembut di
lahan-lahan pertanian mereka.
Meski berlimpah, air yang mengalir deras di lereng gunung, lembah-lembah,
ngarai, dan sungai-sungai tidak boleh dipergunakan sesuka hati. Hampir di
setiap tempat di Manggarai, ada aturan tegas dalam mempergunakan air.
Misalnya, air yang meluap di lereng-lereng gunung hanya dipergunakan untuk
minum, sedangkan air sungai dipakai untuk "M+C-K" (maksudnya,
mandi dan cuci, minus kakus).
Itu pun tidak semua pakaian bisa dicuci di sini. Pakaian yang kotor kena
berak, kencing, dan haid, dilarang nyemplung. Bahkan setiap wanita yang
sedang haid dilarang mandi di sungai. Demikian juga para ibu yang baru
melahirkan. Mengapa? Masih menurut kepercayaan mereka, semua kotoran yang
keluar dari wanita dan terbawa air sungai, suatu saat akan menjelma dalam
bentuk banjir, hama tikus, dan belalang.
Buang air besar (BAB) dan kencing di sungai juga ditabukan. Bahkan setelah
BAB atau kencing (di tempat lain), tetap tidak boleh mencuci
"anunya" di sungai. Itu sebabnya, orang Manggarai yang tidak
memiliki WC terpaksa BAB atau kencing di semak-semak, hutan, atau batu
besar, dilanjutkan membersihkan diri dengan daun kayu, tongkol jagung, atau
serabut kelapa.
Bagaimana jika ada warga yang membandel? Siapa saja yang buang sampah atau
kotoran lainnya di sungai, akan mendapat dua hukuman berat. Pertama, didenda
oleh tetua adat. Biasanya berbentuk uang, hewan (ayam, babi, kambing, kuda,
atau kerbau), tergantung tingkat kesalahannya. Kedua, orang itu harus
mempersembahkan sesaji di tempat ia membuang sampah dan kotoran. Ujud sesaji
itu dianggap sebagai permohonan maaf kepada pemilik air, para arwah yang
meninggal jutaan tahun lalu.
Sesaji yang dipersembahkan biasanya berupa ayam, kambing atau babi,
tergantung jenis pelanggaran. Bahkan di kampung Genang, Kecamatan Macang
Pacar, mulai diterapkan peraturan baru yang mungkin bisa diikuti di daerah
lain. Yakni dilarang mencuci pakaian di sungai menggunakan deterjen, apa pun
mereknya.
Sayangnya, tradisi yang sangat baik ini mulai ditinggalkan penduduk ibukota
Kabupaten Manggarai. Orang-orang Ruteng kini sering BAB, kencing, membuang
sampah atau limbah industri dan kotoran lainnya di sungai. Makanya, jangan
protes kalau kemudian mereka juga menerima balasan yang setimpal. |
|||||