|
|
Bulan Mei 2001
|
|
Dinosaurus
Mendengar kata "dinosaurus", maka langsung terbayang di dalam
benak kita, pada margasatwa berukuran tubuh besar, raksasa, gigantis,
kolosal menyeramkan. Kesan itu tidak selalu benar. Memang ada jenis
dinosaurus berukuran raksasa seram bengkak, namun ada pula dinosaurus
semungil ayam, seperti Compsognathus yang pemakan serangga, atau Microraptor
zhaoianus yang tidak lebih besar dari gagak masa kini.
Dalam film Jurassic Park-nya Steven Spielberg, tampil adegan pemandu
Taman Dinosaurus mengajak anak-anak memanjat pepohonan tinggi lalu membelai
kepala brachiosaurus nan kolosal itu, sambil berusaha meredakan
ketakutan anak-anak itu dengan informasi bahwa satwa raksasa itu sama sekali
tidak berbahaya, sebab vegetarian, bukan pemakan daging. Pada kenyataan,
sebaiknya anak-anak jangan mudah percaya wejangan sang pemandu ceroboh itu.
Karena badak, kuda nil, gajah, atau babi rusa, juga vegetarian, bukan
pemakan daging, namun di alam liar, maupun di taman safari, bukan berarti
mereka tidak berbahaya! Apalagi jika sembarangan dibelai-belai.
Masih dalam film Jurassic Park, juga tampil sebuah adegan mengerikan,
di mana seekor dinosaurus jenis velociraptor yang ganas itu, ketika
berkeliaran di dalam sebuah ruang pendingin, embusan napasnya mengepulkan
uap. Menurut biolog Harvard, Tomasz Owerjowics, adegan itu keliru. Karena
yang bisa mengembuskan uap-napas di ruangan berhawa dingin, hanya mereka
yang berdarah panas, padahal Owerjowics yakin bahwa dinosaurus berdarah
dingin.
Di sisi lain, kita sebaiknya juga jangan langsung percaya atas suara-suara
para dinosaurus yang kita dengar lewat film, karena semua itu sekadar
rekayasa fantasi para penata suara film masa kini belaka. Suara asli kaum
dinosaurus belum dapat direkonstruksi, akibat fosil-fosil sebagai sumber
penelitian paleontologi, semuanya bisu seribu bahasa!
Sebagai manusia, kita merasa kasihan atas nasib para dinosaurus yang telah
punah tersebut, sambil mensyukuri - bahkan bangga - atas superioritas jenis
kita sendiri dalam daya bertahan hidup. Kepongahan itu keliru, sebab menurut
perhitungan sang begawan biologi, Stephen Jay Gould, yang dipublikasikan di Natural
History edisi Mei 1978, para dinosaurus berhasil mempertahankan
kelestarian eksistensi hidup jenis mereka selama minimal 100.000.000 tahun!
Sementara, homo sapiens, yang kerap merasa diri paling superior di
antara segenap makhluk hidup, baru mampu mempertahankan kelestarian
kehidupan jenisnya selama maksimal sekitar 50.000 tahun saja.
Menyimak berbagai fakta tragedi kerusakan bahkan perusakan lingkungan hidup
yang terjadi sampai masa kini ini saja, layak diragukan apakah manusia akan
mampu mengungguli para dinosaurus. Sebab demi mencapai seratus juta tahun,
berarti umat manusia masih harus menempuh 2.000 kali masa eksistensi jenis
mereka yang telah begitu susah payah dipertahankan sampai ke masa naskah ini
dimuat di Intisari ini! Maka, jangan takabur, ah! |
|||||