globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan Mei 2001

Terbit Bulan Ini; Buku Kumpulan Artikel Psikologi 1

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

Dinosaurus

Di bangku sekolah, kita diajar bahwa dinosaurus adalah nenek moyang satwa marga reptilia. Akibat bentuk dinosaurus - berdasar rekonstruksi fosil tulang belulang menurut versi imajinasi para paleontologis masa kini - memang mirip binatang melata, maka kita percaya memang begitu. Namun kini, menurut para ilmuwan mutakhir berdasar pengamatan ulang lebih cermat atas bentuk kaki dan konstruksi tulang belulang lainnya, ternyata dinosaurus adalah nenek moyang burung. Untuk sementara ini, terpaksa kita percaya saja bahwa anggapan ilmiah terbaru itu tidak atau belum keliru.

Mendengar kata "dinosaurus", maka langsung terbayang di dalam benak kita, pada margasatwa berukuran tubuh besar, raksasa, gigantis, kolosal menyeramkan. Kesan itu tidak selalu benar. Memang ada jenis dinosaurus berukuran raksasa seram bengkak, namun ada pula dinosaurus semungil ayam, seperti Compsognathus yang pemakan serangga, atau Microraptor zhaoianus yang tidak lebih besar dari gagak masa kini.

Dalam film Jurassic Park-nya Steven Spielberg, tampil adegan pemandu Taman Dinosaurus mengajak anak-anak memanjat pepohonan tinggi lalu membelai kepala brachiosaurus nan kolosal itu, sambil berusaha meredakan ketakutan anak-anak itu dengan informasi bahwa satwa raksasa itu sama sekali tidak berbahaya, sebab vegetarian, bukan pemakan daging. Pada kenyataan, sebaiknya anak-anak jangan mudah percaya wejangan sang pemandu ceroboh itu. Karena badak, kuda nil, gajah, atau babi rusa, juga vegetarian, bukan pemakan daging, namun di alam liar, maupun di taman safari, bukan berarti mereka tidak berbahaya! Apalagi jika sembarangan dibelai-belai.

Masih dalam film Jurassic Park, juga tampil sebuah adegan mengerikan, di mana seekor dinosaurus jenis velociraptor yang ganas itu, ketika berkeliaran di dalam sebuah ruang pendingin, embusan napasnya mengepulkan uap. Menurut biolog Harvard, Tomasz Owerjowics, adegan itu keliru. Karena yang bisa mengembuskan uap-napas di ruangan berhawa dingin, hanya mereka yang berdarah panas, padahal Owerjowics yakin bahwa dinosaurus berdarah dingin.

Di sisi lain, kita sebaiknya juga jangan langsung percaya atas suara-suara para dinosaurus yang kita dengar lewat film, karena semua itu sekadar rekayasa fantasi para penata suara film masa kini belaka. Suara asli kaum dinosaurus belum dapat direkonstruksi, akibat fosil-fosil sebagai sumber penelitian paleontologi, semuanya bisu seribu bahasa!

Sebagai manusia, kita merasa kasihan atas nasib para dinosaurus yang telah punah tersebut, sambil mensyukuri - bahkan bangga - atas superioritas jenis kita sendiri dalam daya bertahan hidup. Kepongahan itu keliru, sebab menurut perhitungan sang begawan biologi, Stephen Jay Gould, yang dipublikasikan di Natural History edisi Mei 1978, para dinosaurus berhasil mempertahankan kelestarian eksistensi hidup jenis mereka selama minimal 100.000.000 tahun! Sementara, homo sapiens, yang kerap merasa diri paling superior di antara segenap makhluk hidup, baru mampu mempertahankan kelestarian kehidupan jenisnya selama maksimal sekitar 50.000 tahun saja.

Menyimak berbagai fakta tragedi kerusakan bahkan perusakan lingkungan hidup yang terjadi sampai masa kini ini saja, layak diragukan apakah manusia akan mampu mengungguli para dinosaurus. Sebab demi mencapai seratus juta tahun, berarti umat manusia masih harus menempuh 2.000 kali masa eksistensi jenis mereka yang telah begitu susah payah dipertahankan sampai ke masa naskah ini dimuat di Intisari ini! Maka, jangan takabur, ah!

Active Channel

© Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/


Counter by Pandawa

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej