|
|
Bulan Mei 2001
|
|
CARA LAIN TURUNKAN
KOLESTEROL
Dengan diet rendah kolesterol diharapkan pasien dislipidemia tidak
mengkonsumsi kolesterol melebihi 300 mg/hari. Batas 300 mg/hari ini
ditetapkan dengan memperhitungkan kebutuhan tubuh akan kolesterol untuk
pembentukan senyawa-senyawa yang memiliki inti sterol seperti vitamin D,
hormon-hormon anabolik, dan empedu. Pembatasan konsumsi lemak jenuh dan
karbohidrat murni (gula pasir, madu, kecap manis, dendeng, tarcis, dll.)
dapat mencegah kenaikan kadar trigliserida darah. Namun, diet ketat tidak
selalu menjamin terjadinya penurunan kolesterol.
Banyak pasien dislipidemia yang sudah menjalani diet ketat tetap memiliki
kadar kolesterol tinggi dalam darah. Kenyataan ini dibuktikan dalam
penelitian Anderson dari Kentucky Medical School. Dalam penelitian
diperlihatkan, penurunan kolesterol yang lebih berarti ternyata dijumpai
pada kelompok pasien yang menjalani diet moderat dengan konsumsi serat
solubel dalam bentuk bekatul havermut sebanyak 100 g/hari. Bukan pada
kelompok yang menjalani diet ketat tetapi makanannya tidak berserat.
Hasil penelitian di atas dapat dipahami jika kita mengetahui bahwa
kolesterol ternyata bukan hanya berasal dari makanan yang kita konsumsi
setiap hari. Dari sekitar 900 mg kolesterol yang diproduksi hati kita
sendiri setiap hari, sebagai salah satu unsur getah empedu, separuhnya akan
diserap kembali ke dalam darah melalui sirkulasi enterohepatik. Untuk
mencegah penyerapan kembali kolesterol ini, dokter akan meresepkan preparat
resin sintetik (seperti cholestyramine). Namun, harga cholestyramine
yang cukup mahal bisa menjadi pertimbangan bagi pasien untuk memanfaatkan
serat makanan yang murah dan aman sebagai terapi alternatif. Serat makanan
nabati yang terdapat dalam bekatul havermut, agar-agar, psyllium, rumput
laut, cincau, labu siam, dan buah-buahan jenis labu seperti melon, semangka,
belewah, timun suri, salmon, serta hamiqua, dapat menghambat penyerapan
kolesterol dalam usus. Bahan lain yang juga dapat menghambat penyerapan
kolesterol dalam usus adalah sitosterol, yang banyak terdapat dalam sayuran
dan buah.
Dalam hewan juga terdapat serat yang bisa mengikat kolesterol dalam getah
empedu. Serat tersebut bernama chitosan yang terdapat dalam chitine
kulit udang atau cangkang kepiting. Jika chitosan ini terkena asam
lambung, senyawa tersebut akan berubah menjadi semacam gel yang dapat
membungkus bukan saja molekul kolesterol dalam getah empedu tetapi juga
molekul lemak dalam makanan. Karena itu, chitosan sering pula
diiklankan sebagai salah satu preparat pelangsing tubuh!
Meskipun udang, kepiting, dan kerang tetap digolongkan sebagai makanan
banyak mengandung kolesterol, ada baiknya bagi mereka yang masih hendak
merasakan kelezatan makanan laut tersebut untuk memperhatikan hal-hal
berikut ini:
- udang harus direbus (jangan digoreng)
- porsinya harus kecil (tidak lebih dari 50 gram)
- kulitnya harus turut dimakan (untuk udang yang kecil seperti shrimps
atau prawns).
Dari kecambah hingga jamur
Di dalam tubuh kita penurunan kadar LDL-kolesterol dalam darah bisa melalui
proses fagositosis, yang juga dapat mencegah penumpukan LDL-kolesterol yang
teroksidasi pada dinding pembuluh darah. Sayangnya, LDL-kolesterol
teroksidasi ternyata lebih sulit difagosit ("dimakan") oleh
sel-sel makrofag yang merupakan salah satu jenis sel darah putih. Karena
itu, dalam tubuh harus tersedia antioksidan untuk mencegah oksidasi
LDL-kolesterol. Salah satu obat antilipidemik yang kerjanya lewat proses
antioksidasi tersebut adalah probukol. Sementara antioksidan alami dalam
makanan yang dapat dimanfaatkan sebagai terapi alternatif mencakup kombinasi
selenium, vitamin C serta E.
Selenium merupakan trace mineral yang banyak terdapat dalam bawang
putih. Sumber selenium lain adalah biji-bijian utuh, sayuran seperti brokoli
serta tomat, dan ikan laut. Vitamin C dapat diperoleh dari sari buah seperti
jambu biji dan jeruk, sedangkan vitamin E banyak terdapat dalam kecambah,
biji-bijian, dan kacang-kacangan utuh. Susu kedelai, tahu, dan tempe
merupakan sumber vitamin E yang baik di samping makanan ini juga mengandung
sitosterol, flavonoid, dan lesitin yang dianggap dapat turut membantu
menurunkan kadar kolesterol darah. Meskipun lesitin makanan akan dipecah
dalam usus oleh enzim lesitinase, namun unsur makanan ini mungkin merupakan
bahan baku pembentukan fosfolipid yang berfungsi dalam pencegahan pelemakan
hati, perbaikan struktur saraf (otak), dan metabolisme lemak.
Penurunan kolesterol darah juga dapat dilakukan dengan cara menghambat
perombakan lemak jaringan, mengurangi pengambilan asam lemak bebas oleh
hati, dan meningkatkan pengeluaran kolesterol oleh hati melalui getah
empedu. Untuk melakukan tugas tersebut biasanya dokter meresepkan obat
klofibrat dan gemfibrozil. Asam nikotinat atau niasin pun, yang merupakan
anggota dari kelompok vitamin B-kompleks, ternyata mempunyai efek sama
dengan kedua obat tersebut.
Niasin dapat diperoleh dalam bentuk tablet berukuran 50 mg, 100 mg, dan 500
mg. Pemberiannya dapat dimulai dengan dosis 3 x 100 mg yang kemudian
dinaikkan untuk mencapai dosis efektif. Efek sampingan yang dapat timbul
pada pemberian di atas dosis 1 gram/hari adalah rasa panas dan kemerahan
pada kulit (flushing), sakit ulu-hati, serta gangguan hati. Karena
efek samping inilah, penggunaan niasin dalam bentuk tablet harus dilakukan
di bawah pengawasan dokter.
Bila memilih terapi nutrien, kita bisa memilih ragi, sereal utuh, dan
kacang-kacangan sebagai sumber niasin. Tempe misalnya, bukan hanya akan
memberikan zat antilipidemik seperti sitosterol, flavonoid, dan lesitin,
tetapi juga niasin. Penggunaan niasin dari makanan ternyata jauh lebih aman
daripada niasin bentuk tablet, kendati khasiatnya lebih rendah.
Selain menurunkan kolesterol, niasin yang juga dikenal dengan nama vitamin B3
dapat merangsang pembentukan jenis prostaglandin yang mencegah penggumpalan
darah. Kombinasi penurunan kolesterol dan pencegahan penggumpalan darah
tersebut memiliki peranan sangat penting dalam memperkecil kemungkinan
serangan jantung pada penyandang dislipidemia.
Karena kolesterol juga diproduksi oleh hati, cara lain penurunan kolesterol
adalah dengan menghambat produksi koleterol dalam hati. Dalam organ
tersebut, kolesterol dibentuk melalui rangkaian pembentukan senyawa yang
terdiri atas HMG (hidroksimetilglutaril)-Koenzim A, mevalonat, skualen,
lanosterol, dan akhirnya kolesterol. Dengan menghambat enzim hidroksilase
dan reduktase, yang diperlukan untuk perubahan HMG-Koenzim A menjadi
mevalonat, maka produksi kolesterol pun akan tersendat. Untuk tugas ini
dokter biasanya memilih obat golongan statin, yang merupakan salah satu
kelompok obat yang sangat potensial dalam menurunkan kadar kolesterol
sehingga menjadi tren pengobatan dislipidemia saat ini.
Obat antilipidemik golongan statin tersebut ternyata dibuat dari ekstraksi
sejenis jamur yang namanya tidak pernah disebutkan oleh perusahaan farmasi
pembuatnya. Namun, salah satu jenis jamur yang juga dikenal sebagai obat
antilipidemik adalah lingzhi, jamur yang termasuk dalam kelompok ganoderma.
Untuk mengetahui apakah jenis-jenis jamur yang sudah biasa dikonsumsi dan
tersedia di pasaran seperti jamur tiram, shiitake, jamur merang dll.
memiliki efek yang sama seperti obat golongan statin, memang diperlukan
penelitian lebih lanjut. Namun demikian, mengingat preparat golongan statin
sangat mahal harganya, maka tidak ada salahnya jika kita mencoba
mengkonsumsi jamur sebagai makanan sekaligus terapi alternatif. Menurut Jean
Carper dalam buku The Food Pharmacy, jamur memiliki khasiat antivirus
dan antidislipidemik dengan cara menurunkan kolesterol serta mengencerkan
darah. Hanya saja, karena jamur juga kaya akan nukleotida purin, makanan ini
dapat pula menaikkan kadar asam urat pada penderita hiperurisemia (asam urat
tinggi).
Ikan laut mencegah penggumpalan darah
Hal yang umumnya paling menakutkan penderita dislipidemia adalah serangan
jantung. Serangan tersebut biasanya terjadi karena kombinasi tiga kejadian,
yakni penggumpalan darah (agregasi trombosit), pengerasan dan penyempitan
pembuluh darah, serta pengatupan pembuluh nadi (vasokonstriksi). Untuk
mencegah penggumpalan darah dan pengatupan nadi, dokter kadang-kadang
meresepkan asam salisilat (aspirin) dosis kecil yang harus diminum seumur
hidup oleh pasien-pasien yang berisiko untuk mengalami serangan jantung
koroner. Asam salisilat bekerja menghambat enzim yang mengubah asam
arakidonat (asam lemak yang terdapat dalam lemak hewani) menjadi tromboksan,
suatu zat yang menimbulkan penggumpalan darah dan pengatupan pembuluh nadi.
Penggumpalan darah dan pengatupan pembuluh nadi dapat pula dihindari melalui
kerja prostasiklin, suatu zat yang diproduksi dinding pembuluh darah itu
sendiri. Ia bekerja melawan efek tromboksan. Prostasiklin dapat dibentuk
oleh endotel (lapisan sel gepeng di permukaan) dinding pembuluh darah jika
tersedia bahan bakunya, yaitu asam lemak omega-3, khususnya bentuk sis,
yang banyak terdapat dalam ikan laut dingin, terutama pada bagian di sekitar
mata ikan.
Agar bentuk sis tidak berubah menjadi bentuk trans yang kurang
baik, seyogyanya ikan dimasak dengan cara menanak/mengetim dan bukan
menggorengnya. Cara lain yang baik untuk memasak ikan adalah memepes.
Konsumsi ikan laut yang dapat mencegah penjendalan darah dan pengatupan
pembuluh nadi dibuktikan oleh hasil penelitian epidemiologi terhadap
penduduk Eskimo dan Okinawa yang jarang mengalami serangan jantung koroner.
Namun demikian, untuk mencegah akibat sampingan yang tidak dikehendaki,
yaitu kemungkinan pendarahan yang sulit berhenti seperti terlihat pada orang
Eskimo, Kromhaut menganjurkan menu ikan laut 1 - 2 kali saja dalam seminggu.
Di Indonesia, jenis ikan laut yang mudah didapat dan cukup banyak mengandung
asam lemak omega-3 adalah ikan teri, lemuru, marlin, kakap, tuna, serta
jenis-jenis ikan laut lainnya.
Nah, bagi penderita dislipidemia, dalam kondisi krisis keuangan seperti
sekarang, terapi alternatif yang rasional bisa saja dicoba dengan tentu saja
tidak lupa memperhatikan petunjuk dokter dan memantau kadar lemak darah
secara berkala. Demikian pula, pendekatan konvensional yang menyangkut
perubahan perilaku seperti diet rendah kolesterol lemak terbatas dan latihan
olahraga yang tepat serta teratur harus tetap dipatuhi. Kedua bentuk terapi
ini jelas cukup efektif tanpa memerlukan banyak biaya. Artinya, terapi
nutrien tidak dimaksudkan sebagai pengganti terapi medik, karena
masing-masing memiliki peranan tersendiri dalam mengendalikan kadar
kolesterol. |
|||||