globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan Mei 2001

Terbit Bulan Ini; Buku Kumpulan Artikel Psikologi 1

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

CARA LAIN TURUNKAN KOLESTEROL

Penderita penyakit lemak darah (dislipidemia) kerap kebingungan ketika harus menebus obat antilipidemik yang berharga relatif mahal. Karena itu, selain diet rendah kolesterol dan olahraga, penderita juga bisa mencoba alternatif yang berupa terapi nutrien (nutraceuticals).

Penanganan penderita dislipidemia tanpa faktor risiko lain atau tanpa riwayat jantung koroner umumnya lewat diet rendah kolesterol lemak terbatas dengan cara menghindari makanan tinggi kolesterol, seperti otak, jerohan, kuning telur, serta daging merah/berlemak. Juga dengan membatasi konsumsi lemak jenuh seperti minyak sawit/kelapa, mentega, margarin, susu full-cream, keju, serta santan kental. Di samping itu, perlu pula melakukan latihan jasmani aerobik teratur dan menghindari faktor risiko lainnya seperti kebiasaan merokok, minum kopi kental, makan tidak teratur, kurang istirahat, dll.

Dengan diet rendah kolesterol diharapkan pasien dislipidemia tidak mengkonsumsi kolesterol melebihi 300 mg/hari. Batas 300 mg/hari ini ditetapkan dengan memperhitungkan kebutuhan tubuh akan kolesterol untuk pembentukan senyawa-senyawa yang memiliki inti sterol seperti vitamin D, hormon-hormon anabolik, dan empedu. Pembatasan konsumsi lemak jenuh dan karbohidrat murni (gula pasir, madu, kecap manis, dendeng, tarcis, dll.) dapat mencegah kenaikan kadar trigliserida darah. Namun, diet ketat tidak selalu menjamin terjadinya penurunan kolesterol.

Banyak pasien dislipidemia yang sudah menjalani diet ketat tetap memiliki kadar kolesterol tinggi dalam darah. Kenyataan ini dibuktikan dalam penelitian Anderson dari Kentucky Medical School. Dalam penelitian diperlihatkan, penurunan kolesterol yang lebih berarti ternyata dijumpai pada kelompok pasien yang menjalani diet moderat dengan konsumsi serat solubel dalam bentuk bekatul havermut sebanyak 100 g/hari. Bukan pada kelompok yang menjalani diet ketat tetapi makanannya tidak berserat.

Hasil penelitian di atas dapat dipahami jika kita mengetahui bahwa kolesterol ternyata bukan hanya berasal dari makanan yang kita konsumsi setiap hari. Dari sekitar 900 mg kolesterol yang diproduksi hati kita sendiri setiap hari, sebagai salah satu unsur getah empedu, separuhnya akan diserap kembali ke dalam darah melalui sirkulasi enterohepatik. Untuk mencegah penyerapan kembali kolesterol ini, dokter akan meresepkan preparat resin sintetik (seperti cholestyramine). Namun, harga cholestyramine yang cukup mahal bisa menjadi pertimbangan bagi pasien untuk memanfaatkan serat makanan yang murah dan aman sebagai terapi alternatif. Serat makanan nabati yang terdapat dalam bekatul havermut, agar-agar, psyllium, rumput laut, cincau, labu siam, dan buah-buahan jenis labu seperti melon, semangka, belewah, timun suri, salmon, serta hamiqua, dapat menghambat penyerapan kolesterol dalam usus. Bahan lain yang juga dapat menghambat penyerapan kolesterol dalam usus adalah sitosterol, yang banyak terdapat dalam sayuran dan buah.

Dalam hewan juga terdapat serat yang bisa mengikat kolesterol dalam getah empedu. Serat tersebut bernama chitosan yang terdapat dalam chitine kulit udang atau cangkang kepiting. Jika chitosan ini terkena asam lambung, senyawa tersebut akan berubah menjadi semacam gel yang dapat membungkus bukan saja molekul kolesterol dalam getah empedu tetapi juga molekul lemak dalam makanan. Karena itu, chitosan sering pula diiklankan sebagai salah satu preparat pelangsing tubuh!

Meskipun udang, kepiting, dan kerang tetap digolongkan sebagai makanan banyak mengandung kolesterol, ada baiknya bagi mereka yang masih hendak merasakan kelezatan makanan laut tersebut untuk memperhatikan hal-hal berikut ini:

- udang harus direbus (jangan digoreng)

- porsinya harus kecil (tidak lebih dari 50 gram)

- kulitnya harus turut dimakan (untuk udang yang kecil seperti shrimps atau prawns).

Dari kecambah hingga jamur

Di dalam tubuh kita penurunan kadar LDL-kolesterol dalam darah bisa melalui proses fagositosis, yang juga dapat mencegah penumpukan LDL-kolesterol yang teroksidasi pada dinding pembuluh darah. Sayangnya, LDL-kolesterol teroksidasi ternyata lebih sulit difagosit ("dimakan") oleh sel-sel makrofag yang merupakan salah satu jenis sel darah putih. Karena itu, dalam tubuh harus tersedia antioksidan untuk mencegah oksidasi LDL-kolesterol. Salah satu obat antilipidemik yang kerjanya lewat proses antioksidasi tersebut adalah probukol. Sementara antioksidan alami dalam makanan yang dapat dimanfaatkan sebagai terapi alternatif mencakup kombinasi selenium, vitamin C serta E.

Selenium merupakan trace mineral yang banyak terdapat dalam bawang putih. Sumber selenium lain adalah biji-bijian utuh, sayuran seperti brokoli serta tomat, dan ikan laut. Vitamin C dapat diperoleh dari sari buah seperti jambu biji dan jeruk, sedangkan vitamin E banyak terdapat dalam kecambah, biji-bijian, dan kacang-kacangan utuh. Susu kedelai, tahu, dan tempe merupakan sumber vitamin E yang baik di samping makanan ini juga mengandung sitosterol, flavonoid, dan lesitin yang dianggap dapat turut membantu menurunkan kadar kolesterol darah. Meskipun lesitin makanan akan dipecah dalam usus oleh enzim lesitinase, namun unsur makanan ini mungkin merupakan bahan baku pembentukan fosfolipid yang berfungsi dalam pencegahan pelemakan hati, perbaikan struktur saraf (otak), dan metabolisme lemak.

Penurunan kolesterol darah juga dapat dilakukan dengan cara menghambat perombakan lemak jaringan, mengurangi pengambilan asam lemak bebas oleh hati, dan meningkatkan pengeluaran kolesterol oleh hati melalui getah empedu. Untuk melakukan tugas tersebut biasanya dokter meresepkan obat klofibrat dan gemfibrozil. Asam nikotinat atau niasin pun, yang merupakan anggota dari kelompok vitamin B-kompleks, ternyata mempunyai efek sama dengan kedua obat tersebut.

Niasin dapat diperoleh dalam bentuk tablet berukuran 50 mg, 100 mg, dan 500 mg. Pemberiannya dapat dimulai dengan dosis 3 x 100 mg yang kemudian dinaikkan untuk mencapai dosis efektif. Efek sampingan yang dapat timbul pada pemberian di atas dosis 1 gram/hari adalah rasa panas dan kemerahan pada kulit (flushing), sakit ulu-hati, serta gangguan hati. Karena efek samping inilah, penggunaan niasin dalam bentuk tablet harus dilakukan di bawah pengawasan dokter.

Bila memilih terapi nutrien, kita bisa memilih ragi, sereal utuh, dan kacang-kacangan sebagai sumber niasin. Tempe misalnya, bukan hanya akan memberikan zat antilipidemik seperti sitosterol, flavonoid, dan lesitin, tetapi juga niasin. Penggunaan niasin dari makanan ternyata jauh lebih aman daripada niasin bentuk tablet, kendati khasiatnya lebih rendah.

Selain menurunkan kolesterol, niasin yang juga dikenal dengan nama vitamin B3 dapat merangsang pembentukan jenis prostaglandin yang mencegah penggumpalan darah. Kombinasi penurunan kolesterol dan pencegahan penggumpalan darah tersebut memiliki peranan sangat penting dalam memperkecil kemungkinan serangan jantung pada penyandang dislipidemia.

Karena kolesterol juga diproduksi oleh hati, cara lain penurunan kolesterol adalah dengan menghambat produksi koleterol dalam hati. Dalam organ tersebut, kolesterol dibentuk melalui rangkaian pembentukan senyawa yang terdiri atas HMG (hidroksimetilglutaril)-Koenzim A, mevalonat, skualen, lanosterol, dan akhirnya kolesterol. Dengan menghambat enzim hidroksilase dan reduktase, yang diperlukan untuk perubahan HMG-Koenzim A menjadi mevalonat, maka produksi kolesterol pun akan tersendat. Untuk tugas ini dokter biasanya memilih obat golongan statin, yang merupakan salah satu kelompok obat yang sangat potensial dalam menurunkan kadar kolesterol sehingga menjadi tren pengobatan dislipidemia saat ini.

Obat antilipidemik golongan statin tersebut ternyata dibuat dari ekstraksi sejenis jamur yang namanya tidak pernah disebutkan oleh perusahaan farmasi pembuatnya. Namun, salah satu jenis jamur yang juga dikenal sebagai obat antilipidemik adalah lingzhi, jamur yang termasuk dalam kelompok ganoderma. Untuk mengetahui apakah jenis-jenis jamur yang sudah biasa dikonsumsi dan tersedia di pasaran seperti jamur tiram, shiitake, jamur merang dll. memiliki efek yang sama seperti obat golongan statin, memang diperlukan penelitian lebih lanjut. Namun demikian, mengingat preparat golongan statin sangat mahal harganya, maka tidak ada salahnya jika kita mencoba mengkonsumsi jamur sebagai makanan sekaligus terapi alternatif. Menurut Jean Carper dalam buku The Food Pharmacy, jamur memiliki khasiat antivirus dan antidislipidemik dengan cara menurunkan kolesterol serta mengencerkan darah. Hanya saja, karena jamur juga kaya akan nukleotida purin, makanan ini dapat pula menaikkan kadar asam urat pada penderita hiperurisemia (asam urat tinggi).

Ikan laut mencegah penggumpalan darah

Hal yang umumnya paling menakutkan penderita dislipidemia adalah serangan jantung. Serangan tersebut biasanya terjadi karena kombinasi tiga kejadian, yakni penggumpalan darah (agregasi trombosit), pengerasan dan penyempitan pembuluh darah, serta pengatupan pembuluh nadi (vasokonstriksi). Untuk mencegah penggumpalan darah dan pengatupan nadi, dokter kadang-kadang meresepkan asam salisilat (aspirin) dosis kecil yang harus diminum seumur hidup oleh pasien-pasien yang berisiko untuk mengalami serangan jantung koroner. Asam salisilat bekerja menghambat enzim yang mengubah asam arakidonat (asam lemak yang terdapat dalam lemak hewani) menjadi tromboksan, suatu zat yang menimbulkan penggumpalan darah dan pengatupan pembuluh nadi.

Penggumpalan darah dan pengatupan pembuluh nadi dapat pula dihindari melalui kerja prostasiklin, suatu zat yang diproduksi dinding pembuluh darah itu sendiri. Ia bekerja melawan efek tromboksan. Prostasiklin dapat dibentuk oleh endotel (lapisan sel gepeng di permukaan) dinding pembuluh darah jika tersedia bahan bakunya, yaitu asam lemak omega-3, khususnya bentuk sis, yang banyak terdapat dalam ikan laut dingin, terutama pada bagian di sekitar mata ikan.

Agar bentuk sis tidak berubah menjadi bentuk trans yang kurang baik, seyogyanya ikan dimasak dengan cara menanak/mengetim dan bukan menggorengnya. Cara lain yang baik untuk memasak ikan adalah memepes. Konsumsi ikan laut yang dapat mencegah penjendalan darah dan pengatupan pembuluh nadi dibuktikan oleh hasil penelitian epidemiologi terhadap penduduk Eskimo dan Okinawa yang jarang mengalami serangan jantung koroner.

Namun demikian, untuk mencegah akibat sampingan yang tidak dikehendaki, yaitu kemungkinan pendarahan yang sulit berhenti seperti terlihat pada orang Eskimo, Kromhaut menganjurkan menu ikan laut 1 - 2 kali saja dalam seminggu. Di Indonesia, jenis ikan laut yang mudah didapat dan cukup banyak mengandung asam lemak omega-3 adalah ikan teri, lemuru, marlin, kakap, tuna, serta jenis-jenis ikan laut lainnya.

Nah, bagi penderita dislipidemia, dalam kondisi krisis keuangan seperti sekarang, terapi alternatif yang rasional bisa saja dicoba dengan tentu saja tidak lupa memperhatikan petunjuk dokter dan memantau kadar lemak darah secara berkala. Demikian pula, pendekatan konvensional yang menyangkut perubahan perilaku seperti diet rendah kolesterol lemak terbatas dan latihan olahraga yang tepat serta teratur harus tetap dipatuhi. Kedua bentuk terapi ini jelas cukup efektif tanpa memerlukan banyak biaya. Artinya, terapi nutrien tidak dimaksudkan sebagai pengganti terapi medik, karena masing-masing memiliki peranan tersendiri dalam mengendalikan kadar kolesterol. (dr. Andry Hartono, DAN)

Active Channel

© Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/


Counter by Pandawa

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej