globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan Mei 2001

Terbit Bulan Ini; Buku Kumpulan Artikel Psikologi 1

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

Nonton Orang Utan Sarapan 

Selain Danau Toba dengan Pulau Samosir-nya dan Brastagi, Sumatra Utara memiliki objek wisata alam lain yang menarik, Suaka Margasatwa Bukit Lawang. Menjadi bagian dari Taman Nasional Gunung Leuser, kawasan ini menawarkan keindahan hutan hujan tropis dengan para penghuninya yang tergolong langka, orang utan.

Jarak Medan - Bukit Lawang kira-kira 88 km. Butuh waktu sekitar dua jam jika ditempuh dengan kendaraan pribadi. Dari Medan, berdua dengan seorang rekan saya berangkat pukul 05.00 dengan mobil sewaan plus pengemudi. Jalan-jalan di Kota Medan masih relatif sepi. Tetapi kesibukan di hari Minggu sudah tampak. Orang-orang mulai lari pagi.

Jalan yang dilalui memang agak sempit, berkelak-kelok, dan menanjak, diselingi beberapa ruas jalan yang tidak mulus. Tetapi jangan khawatir, perjalanan dijamin tidak membosankan. Di kiri-kanan jalan tampak pemandangan serba hijau hamparan kebun kelapa sawit dan karet. Terkadang terlihat tumpukan kelapa sawit hasil panen teronggok di tepi-tepi jalan. Pemandangan itu mengingatkan kita, inilah salah satu andalan komoditas ekspor nonmigas kita sebagai bahan baku minyak goreng dan kosmetik, kendati belakangan terus makin kalah dengan negeri jiran, Malaysia.

Bukit Lawang termasuk wilayah Kecamatan Bohorok, Kabupaten Langkat. Kawasan Bukit Lawang pun tercakup dalam area Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) dengan luas 900.000 ha. Hutan hujan tropis ini terkenal ke seluruh jagad karena di dalamnya tinggal beberapa spesies terancam dan langka seperti badak sumatra Dicerorhinus sumatrensis, orang utan Pongo pygmaeus, dan bunga terbesar di dunia, Raflesia arnoldi. Taman ini juga dihuni hewan lain seperti burung pegar bermata tajam (great argus pheasant), gajah, macan, serta tujuh spesies primata - salah satunya siamang.

Menjelang memasuki kawasan Bukit Lawang, kita disambut hamparan sawah dengan aliran sungai yang bening. Usai melewati jembatan, kita mulai masuk kawasan Bukit Lawang. Pengunjung ditarik biaya Rp 2.000,- untuk parkir dan Rp 1.000,- per kepala untuk tiket tanda masuk. Hawa masih terasa dingin, maklum baru pukul 07.00, apalagi Bukit Lawang terletak di pinggir hutan.

Sambil menunggu Andy, pengemudi kendaraan kami itu, mencari pemandu, kami mengisi perut di restoran. Setiap pengunjung area TNGL, khususnya yang mau melakukan trekking, memang harus dipandu. Selain bertugas mengantar dan memberi keterangan seputar Bukit Lawang, pemandu juga mengawasi agar pengunjung (yang dipandu) tidak membuat gaduh dan kotor kawasan Bukit Lawang.

Peran ganda itu sempat memakan "korban". Ketika pemandu kami - Baharuddin, Pak Udin sapaannya - bertanya, barang apa saja yang dibawa, Merdi teman seperjalanan saya menjawab rokok, salah satunya. "Jangan, Bang. Di atas sana tidak boleh merokok, itu akan mengganggu orang utan. Apalagi puntungnya akan mengotori hutan," cegah Pak Udin.

Asli penduduk Bukit Lawang, pantas kalau Pak Udin paham betul seluk-beluk kawasan ini. Katanya, ia termasuk orang yang mengangkat bahan logistik bagi pembangunan sarana fisik pusat rehabilitasi orang utan itu sekitar awal 1970. Banyak para pekerja yang kemudian menjadi pemandu, setelah banyak turis asing menyambangi Bukit Lawang.

Di sini pemandu lokal lebih disukai karena pengetahuan tentang Bukit Lawang dan orang utan lebih memadai. Selain itu, ongkosnya lebih murah. Jika memilih pemandu lewat Tourist Information Service Bukit Lawang, bisa kena tarif Rp 80.000,-. Sementara jasa Pak Udin dan kawan-kawannya bisa didapat cukup dengan Rp 50.000,-. Itu sudah termasuk biaya masuk ke area feeding site, tempat pemberian makan (TPM), sebesar Rp 4.500,- per orang.

Dikarantina sebelum dilepas

Atraksi utama di Bukit Lawang memang hanya melihat para orang utan makan pagi atau makan sore. Sebenarnya ada atraksi tambahan seperti jalan-jalan ke hutan (jungle trek), gua kelelawar, arung jeram menggunakan ban dalam bekas, serta perjalanan off road. Tapi kadang-kadang saja ada yang mau melakukannya. Itu karena wisata khusus demikian belum masuk agenda turis lokal, maka pengunjung Bukit Lawang rata-rata bule.

Ada dua waktu pemberian makan orang utan, pukul 08.00 dan 15.00. Kalau mau menonton yang pukul 08.00, ya harus berangkat pagi-pagi dari Medan. Jarak dari restoran sampai TPM kira-kira 2 km. Untuk mencapainya harus berjalan kaki sekitar 30 menit.

Karena terburu-buru, kami mengambil jalan pintas. Sebenarnya, banyak yang bisa dinikmati selama perjalanan. Kami memilih jalan yang menyusuri Sungai Bohorok, yang di salah satu sisinya banyak berdiri penginapan. Menurut Udin, ada 26 penginapan di sekitar Bukit Lawang. Tarifnya Rp 25.000,- - Rp 125.000,- semalam. Bahkan, kabarnya kalau sedang sepi, bisa dibanting harganya hingga di bawah Rp 10.000,-. Berhubung mayoritas pengunjung orang asing, semua penginapan memakai nama bahasa Inggris, dengan arsitektur cenderung alamiah.

Puncak kunjungan wisatawan terjadi tahun 1994 – 1995, dalam seminggu bisa 200 wisman berkunjung ke Bukit Lawang. "Itu pun baru dari biro wisata, belum termasuk dari kalangan backpacker," kata Andy sebelum berpisah tadi. Puncak kunjungan biasanya bulan Juni - November. Tak heran, di lokasi bertebaran tempat penukaran mata uang, agen biro perjalanan yang menjual tiket pesawat atau kapal laut, wartel dan warnet, serta poliklinik. Tak ketinggalan tentu, toko cinderamata dan restoran.

Selepas melewati perkampungan, kami tiba di tepi sungai tempat bersandar sampan dari batang pohon meranti utuh dengan penarik tali. "Dulu belum ada sampan, mau tidak mau harus nyemplung untuk menyeberang sungai," tutur Udin sambil mengantre untuk naik sampan. Ini pun perlu dilakukan dengan hati-hati, karena meski kedalaman sungai tak seberapa, lumut di bebatuan cukup licin menggelincirkan. Sampan merapat. Kami pun naik ke dalamnya.

Keheningan di seberang sungai menyambut. Setelah sekitar 10 menit berjalan kaki, kami tiba di pusat rehabilitasi orang utan. Di sinilah orang utan dari luar (hasil sitaan dari pemelihara tidak sah, misalnya) dikarantina selama 5 – 6 bulan sebelum dilepas ke hutan. Beberapa wisman Jerman yang datang bersama kami asyik melongok orang utan sedang dimandikan di dalam kandang. Mengamati keseharian orang utan memang mengasyikkan. Asyik, karena mereka tampak begitu "manusiawi". Tak heran kalau ada wisman yang sampai ingin tinggal di pusat rehabilitasi itu. Tetapi, tentu tidak diizinkan karena akan mengganggu proses adaptasi orang utan. Selain itu, mereka (manusia-manusia itu) juga bisa menularkan penyakit.

Dari pusat rehabilitasi ini, letak TPM masih sekitar 200 m. Jalanan pun setapak dan mulai menanjak. Waktu itu usai turun hujan, beberapa ruas jalan jadi becek dan licin. Tapi, pengunjung berusia lanjut tidak perlu khawatir. Di sana ada penduduk setempat yang bisa dimintai jasanya untuk menuntun seperti tampak saat itu dilakukan beberapa turis lansia dari Jerman. Tentu saja dengan memberi imbalan.

Setelah bersusah-payah menjaga keseimbangan tubuh supaya tidak jatuh tergelincir, sampai juga kami di TPM. Tempat memberi makan orang utan yang dimaksud ternyata berupa landasan dari papan kayu yang diletakkan di atas pohon, kira-kira 5 m dari tanah tingginya.

Pagi itu sudah puluhan orang menunggu, berdiri berjubel di jalan setapak yang tak lebih dari 50 cm lebarnya, dekat TPM. TPM itu sendiri bertengger di lereng yang agak curam. Ditambah dengan suasana becek, tak heran ada yang terpeleset. Untung saja, ia segera ditangkap temannya. Kalau tidak, tentu akan terperosok.

Sarang semalam saja

Cukup lama kami menunggu datangnya orang utan. Dua petugas tampak terus memukul-mukulkan tongkat ke landasan TPM. Begitulah cara mereka memanggil orang utan. Setandan pisang dan seember susu sudah mereka siapkan.

Sesudah sekian lama, tiba-tiba muncul seekor orang utan betina sembari menggendong anaknya. Ia bergelayut dari satu ranting ke ranting pohon lainnya. Pelahan tapi pasti, didekatinya TPM. Begitu sampai, ia langsung menengadahkan tangan seperti orang meminta-minta. Petugas lalu memberinya secangkir susu yang langsung diteguk sendiri oleh si induk sampai ludes; mungkin anaknya ngiler karena tidak diberi setetes pun oleh emaknya.

Masih sambil menggendong anaknya, ia beralih ke petugas lain yang sudah menyiapkan sesisir pisang. Begitu mendapatkan pisang, ia kembali bergelayutan ke pohon. Tak sedikit pun tampak repot, meski harus membawa pisang plus menggendong anak. Malah, seperti pamer ia mempertontonkan cara berpindah dari ranting satu ke ranting lainnya sambil menyuapkan pisang pada anaknya.

Begitu pisangnya habis disantap, ia seperti membiarkan diri untuk dipotret. Habis itu ia ngacir dan lenyap ditelan kerimbunan hutan. Pengunjung yang sebelumnya diam membisu, seketika bergumam kagum. Bagi para wisman kejadian itu mungkin tontonan langka; menyaksikan orang utan dengan mata kepala sendiri di habitatnya. Sampai jadwal "sarapan" habis, yang muncul ke TPM, ya, cuma orang utan betina dengan anaknya itu.

"Sekarang memang sedang musim buah. Jadi orang utan di dalam sana sudah kecukupan makanan," terang Pak Udin. Selain itu, banyak orang utan sudah mandiri. Menurut Pak Udin, hanya orang utan yang baru dilepas, atau yang lagi bunting, yang biasa nongol minta makan di TPM.

Sama seperti manusia, orang utan juga mengandung bayinya selama sekitar sembilan bulan lebih. Seekor induk cuma melahirkan satu anak yang digendong ke sana kemari selama hampir lima tahun. Umur orang utan bisa mencapai 45 tahun.

Di Suaka Margasatwa Bukit Lawang terdapat sekitar 400 ekor orang utan. Mereka umumnya membangun rumah di puncak pohon yang cukup tinggi. "Uniknya, sarang dari ranting dan daun itu hanya ditempati semalam. Besok ia pergi ke pohon lain," kata Pak Udin sambil menunjukkan contoh sarang pada ketinggian kira-kira 20 m.

Hari sudah agak siang, kami segera cabut dari sana. Sekilas-sekilas gerak laku orang utan yang begitu mirip dengan manusia, masih berkelebat dalam bayangan. Batin saya terusik, kenapa orang utan sesekali malah terkesan "lebih manusiawi"? (Yds. Agus Surono)

Baca juga: Bagaimana Menuju ke Sana?

Active Channel

© Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/


Counter by Pandawa

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej