|
|
Bulan Mei 2001
|
|
Nonton
Orang Utan Sarapan
Jalan yang dilalui memang agak sempit, berkelak-kelok, dan menanjak,
diselingi beberapa ruas jalan yang tidak mulus. Tetapi jangan khawatir,
perjalanan dijamin tidak membosankan. Di kiri-kanan jalan tampak pemandangan
serba hijau hamparan kebun kelapa sawit dan karet. Terkadang terlihat
tumpukan kelapa sawit hasil panen teronggok di tepi-tepi jalan. Pemandangan
itu mengingatkan kita, inilah salah satu andalan komoditas ekspor nonmigas
kita sebagai bahan baku minyak goreng dan kosmetik, kendati belakangan terus
makin kalah dengan negeri jiran, Malaysia.
Bukit Lawang termasuk wilayah Kecamatan Bohorok, Kabupaten Langkat. Kawasan
Bukit Lawang pun tercakup dalam area Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL)
dengan luas 900.000 ha. Hutan hujan tropis ini terkenal ke seluruh jagad
karena di dalamnya tinggal beberapa spesies terancam dan langka seperti
badak sumatra Dicerorhinus sumatrensis, orang utan Pongo pygmaeus,
dan bunga terbesar di dunia, Raflesia arnoldi. Taman ini juga dihuni
hewan lain seperti burung pegar bermata tajam (great argus pheasant),
gajah, macan, serta tujuh spesies primata - salah satunya siamang.
Menjelang memasuki kawasan Bukit Lawang, kita disambut hamparan sawah dengan
aliran sungai yang bening. Usai melewati jembatan, kita mulai masuk kawasan
Bukit Lawang. Pengunjung ditarik biaya Rp 2.000,- untuk parkir dan Rp
1.000,- per kepala untuk tiket tanda masuk. Hawa masih terasa dingin, maklum
baru pukul 07.00, apalagi Bukit Lawang terletak di pinggir hutan.
Sambil menunggu Andy, pengemudi kendaraan kami itu, mencari pemandu, kami
mengisi perut di restoran. Setiap pengunjung area TNGL, khususnya yang mau
melakukan trekking, memang harus dipandu. Selain bertugas mengantar
dan memberi keterangan seputar Bukit Lawang, pemandu juga mengawasi agar
pengunjung (yang dipandu) tidak membuat gaduh dan kotor kawasan Bukit
Lawang.
Peran ganda itu sempat memakan "korban". Ketika pemandu kami -
Baharuddin, Pak Udin sapaannya - bertanya, barang apa saja yang dibawa,
Merdi teman seperjalanan saya menjawab rokok, salah satunya. "Jangan,
Bang. Di atas sana tidak boleh merokok, itu akan mengganggu orang utan.
Apalagi puntungnya akan mengotori hutan," cegah Pak Udin.
Asli penduduk Bukit Lawang, pantas kalau Pak Udin paham betul seluk-beluk
kawasan ini. Katanya, ia termasuk orang yang mengangkat bahan logistik bagi
pembangunan sarana fisik pusat rehabilitasi orang utan itu sekitar awal
1970. Banyak para pekerja yang kemudian menjadi pemandu, setelah banyak
turis asing menyambangi Bukit Lawang.
Di sini pemandu lokal lebih disukai karena pengetahuan tentang Bukit Lawang
dan orang utan lebih memadai. Selain itu, ongkosnya lebih murah. Jika
memilih pemandu lewat Tourist Information Service Bukit Lawang, bisa kena
tarif Rp 80.000,-. Sementara jasa Pak Udin dan kawan-kawannya bisa didapat
cukup dengan Rp 50.000,-. Itu sudah termasuk biaya masuk ke area feeding
site, tempat pemberian makan (TPM), sebesar Rp 4.500,- per orang.
Dikarantina sebelum dilepas
Atraksi utama di Bukit Lawang memang hanya melihat para orang utan makan
pagi atau makan sore. Sebenarnya ada atraksi tambahan seperti jalan-jalan ke
hutan (jungle trek), gua kelelawar, arung jeram menggunakan ban dalam
bekas, serta perjalanan off road. Tapi kadang-kadang saja ada yang
mau melakukannya. Itu karena wisata khusus demikian belum masuk agenda turis
lokal, maka pengunjung Bukit Lawang rata-rata bule.
Ada dua waktu pemberian makan orang utan, pukul 08.00 dan 15.00. Kalau mau
menonton yang pukul 08.00, ya harus berangkat pagi-pagi dari Medan. Jarak
dari restoran sampai TPM kira-kira 2 km. Untuk mencapainya harus berjalan
kaki sekitar 30 menit.
Karena terburu-buru, kami mengambil jalan pintas. Sebenarnya, banyak yang
bisa dinikmati selama perjalanan. Kami memilih jalan yang menyusuri Sungai
Bohorok, yang di salah satu sisinya banyak berdiri penginapan. Menurut Udin,
ada 26 penginapan di sekitar Bukit Lawang. Tarifnya Rp 25.000,- - Rp
125.000,- semalam. Bahkan, kabarnya kalau sedang sepi, bisa dibanting
harganya hingga di bawah Rp 10.000,-. Berhubung mayoritas pengunjung orang
asing, semua penginapan memakai nama bahasa Inggris, dengan arsitektur
cenderung alamiah.
Puncak kunjungan wisatawan terjadi tahun 1994 – 1995, dalam seminggu bisa
200 wisman berkunjung ke Bukit Lawang. "Itu pun baru dari biro wisata,
belum termasuk dari kalangan backpacker," kata Andy sebelum
berpisah tadi. Puncak kunjungan biasanya bulan Juni - November. Tak heran,
di lokasi bertebaran tempat penukaran mata uang, agen biro perjalanan yang
menjual tiket pesawat atau kapal laut, wartel dan warnet, serta poliklinik.
Tak ketinggalan tentu, toko cinderamata dan restoran.
Selepas melewati perkampungan, kami tiba di tepi sungai tempat bersandar
sampan dari batang pohon meranti utuh dengan penarik tali. "Dulu belum
ada sampan, mau tidak mau harus nyemplung untuk menyeberang sungai,"
tutur Udin sambil mengantre untuk naik sampan. Ini pun perlu dilakukan
dengan hati-hati, karena meski kedalaman sungai tak seberapa, lumut di
bebatuan cukup licin menggelincirkan. Sampan merapat. Kami pun naik ke
dalamnya.
Keheningan di seberang sungai menyambut. Setelah sekitar 10 menit berjalan
kaki, kami tiba di pusat rehabilitasi orang utan. Di sinilah orang utan dari
luar (hasil sitaan dari pemelihara tidak sah, misalnya) dikarantina selama 5
– 6 bulan sebelum dilepas ke hutan. Beberapa wisman Jerman yang datang
bersama kami asyik melongok orang utan sedang dimandikan di dalam kandang.
Mengamati keseharian orang utan memang mengasyikkan. Asyik, karena mereka
tampak begitu "manusiawi". Tak heran kalau ada wisman yang sampai
ingin tinggal di pusat rehabilitasi itu. Tetapi, tentu tidak diizinkan
karena akan mengganggu proses adaptasi orang utan. Selain itu, mereka
(manusia-manusia itu) juga bisa menularkan penyakit.
Dari pusat rehabilitasi ini, letak TPM masih sekitar 200 m. Jalanan pun
setapak dan mulai menanjak. Waktu itu usai turun hujan, beberapa ruas jalan
jadi becek dan licin. Tapi, pengunjung berusia lanjut tidak perlu khawatir.
Di sana ada penduduk setempat yang bisa dimintai jasanya untuk menuntun
seperti tampak saat itu dilakukan beberapa turis lansia dari Jerman. Tentu
saja dengan memberi imbalan.
Setelah bersusah-payah menjaga keseimbangan tubuh supaya tidak jatuh
tergelincir, sampai juga kami di TPM. Tempat memberi makan orang utan yang
dimaksud ternyata berupa landasan dari papan kayu yang diletakkan di atas
pohon, kira-kira 5 m dari tanah tingginya.
Pagi itu sudah puluhan orang menunggu, berdiri berjubel di jalan setapak
yang tak lebih dari 50 cm lebarnya, dekat TPM. TPM itu sendiri bertengger di
lereng yang agak curam. Ditambah dengan suasana becek, tak heran ada yang
terpeleset. Untung saja, ia segera ditangkap temannya. Kalau tidak, tentu
akan terperosok.
Sarang semalam saja
Cukup lama kami menunggu datangnya orang utan. Dua petugas tampak terus
memukul-mukulkan tongkat ke landasan TPM. Begitulah cara mereka memanggil
orang utan. Setandan pisang dan seember susu sudah mereka siapkan.
Sesudah sekian lama, tiba-tiba muncul seekor orang utan betina sembari
menggendong anaknya. Ia bergelayut dari satu ranting ke ranting pohon
lainnya. Pelahan tapi pasti, didekatinya TPM. Begitu sampai, ia langsung
menengadahkan tangan seperti orang meminta-minta. Petugas lalu memberinya
secangkir susu yang langsung diteguk sendiri oleh si induk sampai ludes;
mungkin anaknya ngiler karena tidak diberi setetes pun oleh emaknya.
Masih sambil menggendong anaknya, ia beralih ke petugas lain yang sudah
menyiapkan sesisir pisang. Begitu mendapatkan pisang, ia kembali
bergelayutan ke pohon. Tak sedikit pun tampak repot, meski harus membawa
pisang plus menggendong anak. Malah, seperti pamer ia mempertontonkan cara
berpindah dari ranting satu ke ranting lainnya sambil menyuapkan pisang pada
anaknya.
Begitu pisangnya habis disantap, ia seperti membiarkan diri untuk dipotret.
Habis itu ia ngacir dan lenyap ditelan kerimbunan hutan. Pengunjung yang
sebelumnya diam membisu, seketika bergumam kagum. Bagi para wisman kejadian
itu mungkin tontonan langka; menyaksikan orang utan dengan mata kepala
sendiri di habitatnya. Sampai jadwal "sarapan" habis, yang muncul
ke TPM, ya, cuma orang utan betina dengan anaknya itu.
"Sekarang memang sedang musim buah. Jadi orang utan di dalam sana sudah
kecukupan makanan," terang Pak Udin. Selain itu, banyak orang utan
sudah mandiri. Menurut Pak Udin, hanya orang utan yang baru dilepas, atau
yang lagi bunting, yang biasa nongol minta makan di TPM.
Sama seperti manusia, orang utan juga mengandung bayinya selama sekitar
sembilan bulan lebih. Seekor induk cuma melahirkan satu anak yang digendong
ke sana kemari selama hampir lima tahun. Umur orang utan bisa mencapai 45
tahun.
Di Suaka Margasatwa Bukit Lawang terdapat sekitar 400 ekor orang utan.
Mereka umumnya membangun rumah di puncak pohon yang cukup tinggi.
"Uniknya, sarang dari ranting dan daun itu hanya ditempati semalam.
Besok ia pergi ke pohon lain," kata Pak Udin sambil menunjukkan contoh
sarang pada ketinggian kira-kira 20 m.
Hari sudah agak siang, kami segera cabut dari sana. Sekilas-sekilas
gerak laku orang utan yang begitu mirip dengan manusia, masih berkelebat
dalam bayangan. Batin saya terusik, kenapa orang utan sesekali malah
terkesan "lebih manusiawi"? (Yds. Agus Surono) Baca
juga: Bagaimana Menuju ke Sana?
|
|||||