|
|
Bulan Mei 2001
|
|
Bukan mengaku-aku
Beberapa bulan terakhir saya dan istri mengenal
seorang tukang ojek yang mangkal di Pasar Lawang, Kab. Malang, Jawa Timur,
meski kami tidak mengetahui namanya. Hampir setiap hari Minggu pagi ia
mengantar kami ke gereja. Tapi ia belum tahu bahwa kami berdua adalah
suami-istri. Itu karena istri saya selalu berangkat sendiri lebih dulu, lalu
saya menyusulnya belakangan.
Suatu kali setiba di Pasar Lawang, saya segera mencarinya untuk diantar ke
gereja seperti biasa. Di perjalanan ia dengan penuh semangat bercerita
panjang lebar.
Menurut penuturannya, kira-kira sejam sebelumnya ia mengantar seorang gadis
yang sangat cantik dengan tujuan yang sama. Tambahnya lagi, bukan hanya kali
itu, tapi sudah beberapa kali ia mengantar si gadis cantik yang kemudian ia
gambarkan ciri-cirinya. Saya kaget mendengar uraiannya, karena yang dimaksud
sebagai gadis cantik itu adalah istri saya.
Saya pun menyahut, "Saya kenal gadis itu, Mas."
"Oh, ya? Mas kenal dia?"
"Tentu saja! Wong dia istri saya, Mas," jawab saya dengan
yakin dan bangga.
Sesaat tukang ojek itu terdiam, tapi lalu disusul meledak tawanya dengan
keras. Saya bengong. Adakah yang aneh dengan jawaban jujur saya tadi?
Sambil masih tertawa, ia menimpali, "Mas ini ada-ada saja! Masa, iya
sih, Mas? Mas memang pintar guyon. Tapi memang gadis itu cantik
benar, Mas!"
"Mas, di kalangan teman-teman saya sesama tukang ojek, saya terkenal
lucu, tapi ternyata Mas jauh lebih lucu daripada saya," tambahnya
terkekeh.
Baru kemudian saya ingat. Mengaku-aku seorang gadis cantik yang sudah
dikenal sebagai pacar atau istri demi gengsi di antara rekan-rekan adalah guyonan
yang biasa dilakukan di daerah Lawang. Pantas saja, pengakuan jujur saya
dianggapnya cuma sebatas guyon alias bercanda. Tapi tak apalah, meski
si tukang ojek tak percaya, toh istri saya tetap cantik. (Wignyo Pranoto,
ST) |
|||||