|
|
Bulan Mei 2001
|
|
MEMBUNUH SEPI MENUNGGU
MERAPI
Bagi Sugiyono Himawan Susetyo (50), nyawa dia pertaruhkan demi keselamatan
orang banyak. Begitulah prinsip petugas pengamat Gunung Merapi di Pos
Babadan yang berjarak 4,4 km dari puncak Merapi.
Sejak kecil sudah mengamati
Sepertinya tinggal menunggu waktu saja bagi Sugiyono untuk menjadi pengamat
gunung api. Kebiasaannya main ke pos pengamatan tahun 1960-an ketika
ayahnya, Kartodikoro, menjalani profesi serupa dan memberinya pengetahuan
tentang perilaku Merapi. Apalagi kakeknya pun dulu berprofesi serupa.
"Saya kenal Merapi sejak umur 10-an tahun. Waktu itu saya bantu-bantu
Bapak dengan bersih-bersih pos. Kadang-kadang ikut jip Willys yang mengantar
Bapak ke Pos Babadan," kenang Sugiyono. Sejak kecil itulah ia sudah
terlibat dengan dunia amat-mengamati Merapi.
Baru tahun 1974 saat berumur 23 tahun Sugiyono menjadi tenaga harian sebagai
pengamat betulan di Pos Babadan. Enam tahun kemudian ia diangkat menjadi
pegawai tetap. Berkat ketekunannya, pimpinan Sugiyono menaruh perhatian
kepadanya. "Saya diberi perlengkapan lapangan seperti ransel dan
sepatu," tuturnya.
Berhubung hanya lulusan SMU dengan bekal ilmu kegunungapian yang didapat
dari ayahnya, Sugiyono diikutsertakan dalam Kursus Pengamat Gunung Api di
Bandung tahun 1982. "Saya termasuk angkatan pertama," katanya.
Kursus yang seharusnya ditempuh dalam waktu 1,5 tahun itu dipercepat menjadi
hanya dalam jangka enam bulan.
Setelah itu Sugiyono sempat mencicipi tugas mengamati G. Semeru, Kawah Ijen,
G. Kelud, dan G. Tangkubanperahu. Baru tahun 1984 Sugiyono kembali ke
Merapi. Saat itu pula Merapi diamati secara khusus mengingat keunikannya.
Peralatan untuk mengamati keseharian Merapi pun khusus (baca Merapi
Diawasi dari Beberapa Sisi). Tahun 1996 Sugiyono mengisi baterai
keilmuannya dengan mengikuti Kursus Manajemen Akibat Gunung Api selama 2,5
bulan di Yogyakarta.
Memelototi seismometer
Sebagai petugas pengamat gunung api, tugas keseharian Sugiyono memelototi
seismometer yang ada di ruangan berukuran sekitar 2,5 m2.
Seismometer merupakan alat pencatat gempa bumi yang ditunjukkannya dalam
kurva. Alat ini hanya sebagian dari pemantau aktivitas Merapi selama 24 jam.
Dari sini bisa terbaca apakah Merapi akan meletus atau tidak. Selain itu,
yang utama adalah mengamati Merapi secara visual. Untuk melakukan semua
tugas, Sugiyono dibantu Yulianto dan Budiono.
Seismometer yang dipakai sekarang ini sudah lebih bagus. "Seismograf PS
V ini lebih praktis dibandingkan dengan OSAKA (seismograf terdahulu - Red.),"
tutur Yulianto yang pernah merasakan kedua alat itu.
OSAKA, selain memakai kabel untuk menghubungkan sensor ke alat pencatat,
kertas pencatatnya harus diberi jelaga sebab jarum pencatat benar-benar
hanya berupa jarum. Jadi cuma bisa menggores. Goresan itu akan membekas di
kertas berjelaga itu. Selanjutnya, kertas itu dicelup dalam spiritus dan
sirlak (sejenis pelitur). Hasilnya, kurva naik-turun atau garis mendatar pun
tercetak di kertas.
Sementara itu, seismograf PS V – selain memakai telemetri dalam pengukuran
– jarumnya bisa mengalirkan tinta. Alhasil, seismogram bisa langsung
dianalisis. Ini tidak bisa dilakukan bila memakai OSAKA. "Akan sangat
membantu bila aktivitas Merapi meningkat," kata Yuli. Sebab, dalam
saat-saat seperti itu, kertas yang normalnya habis dalam enam jam, bisa
dilibas dengan gerakan-gerakan eksplosif hanya dalam setengah jam.
Penggantian kertas itu harus cepat agar kesinambungan grafik terjaga. Ini
berpengaruh saat analisis nanti.
Meski praktis, seismogram dari seismograf PS V tidak tahan lama dibandingkan
hasil OSAKA. Padahal dari seismogram itu bisa dianalisis mengenai jumlah
gempa, guguran lava, maupun awan panas. Awan panas bukanlah awan dalam arti
harafiah, namun merupakan aliran massa turbulen yang terdiri atas bongkah
kerikil, pasir, debu, dan gas panas dari hancuran kubah lava aktif. Awan ini
bisa meluncur dengan kecepatan sekitar 90 km/jam. Disebut awan panas karena
suhunya bisa mencapai 350oC.
Data hasil olahan itu dikirim ke Balai Penyelidikan dan Pengembangan
Teknologi Kegunungapian (BPPTK) di Yogyakarta. "Sebagai pembanding
saja," tegas Yuli yang menjadi petugas pengamat gunung api sejak
Februari 1992. Di Balai (begitu para petugas menyebut BPPTK) memang ada alat
sejenis yang memantau aktivitas Merapi.
Pos, rumah kedua
Diakui Yuli maupun Sugiyono, jika kondisi Merapi normal-normal saja, mereka
sering merasa jenuh. Pos Babadan yang berdiri tahun 1954 ini memang tidak
terpencil dalam arti sulit dicapai. Jalan aspal sudah menghubungkannya
sampai jalan Muntilan - Yogya. Tetapi, memelototi seismometer yang
anteng-anteng saja tentu melahirkan kebosanan.
Saat seperti itu, Yuli lalu mencari kesibukan. "Misalnya bersih-bersih
pos," pengamat gunung api turunan kedua ini memberi contoh. Begitu pula
dengan Sugiyono. Soal kebersihan pos ini sudah diwasiatkan oleh bapaknya.
Apalagi di pos tidak ada pembantu. "Jadi, kami anggap sebagai rumah
kedua," ujar Sugiyono. Kebersihan memang langsung terasa begitu
memasuki halaman satu-satunya pos yang berbungker itu. Meski beralaskan
tanah, halaman itu resik.
Kalau pos sudah bersih sementara kejenuhan tetap menggantung? "Ya,
bolak-balik duduk melihat seismometer dan melihat ke luar ke puncak
gunung," kiat Sugiyono. Sedangkan Yuli memilih kegiatan serius:
melihat-lihat kembali hasil analisis terdahulu.
Keadaan itu sontak berbalik 180 derajat manakala Merapi mengamuk. Bahkan
bisa mengundang keharuan yang mendalam. Semisal peristiwa pada 19 Juli 1998.
Kebetulan waktu itu Sugiyono membawa dua dari enam anaknya, anak ketiga dan
keempat yakni Azwar Nurman Aji (14) dan Ahmad Yanuar (11). Tiba-tiba langit
menjadi gelap. Asap dari gunung mulai menyelimuti sekitar pos. Suasana
sangat mencekam. Sugiyono menyuruh kedua anaknya segera pulang. Tetapi
mereka menolak, karena ingin tetap bersama ayahnya.
Pengunjung waktu itu lumayan banyak, kebanyakan datang dari daerah sekitar
Yogya, Magelang, dan Temanggung. Merapi memang selalu mempesona baik saat
tenang maupun berulah. Sugiyono pun "mengusir" para tamu demi
keamanan. Sedangkan kedua anaknya disuruh masuk bungker buatan tahun 1931
yang ada dekat Pos. Segera ia berlari memberi tahu masyarakat bahwa status
Merapi sudah menjadi "Awas Merapi", tingkat tertinggi setelah
"Siaga Merapi" dan "Waspada Merapi".
Setelah itu segera pula ia masuk bungker. Dari sini ia bisa melihat puncak
Merapi dari jendela kecil berukuran 20 cm2. "Saya tidak
pernah lupa peristiwa menegangkan itu, sebab menyangkut hidup mati anak
saya," lelaki kelahiran Banyubiru, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang,
itu mengenang sembari bersyukur tidak ada akibat buruk yang menimpa dua
anaknya maupun masyarakat saat itu. Wedhus Gembel - (si domba -
(sebutan masyarakat setempat untuk awan panas Merapi - Red.) hanya
diteruskan dengan batuk-batuk. Sang Merapi tidak sampai memuntahkan isi
perutnya.
Situasi mencekam itu bukan kali pertama bagi suami Sri Hartiningsih ini. Pun
tahun 1994 ketika terjadi longsor dari kubah lava yang besar, Sugiyono ada
dalam ketidakpastian. Keadaan gelap total dengan jarak pandang kurang dari 5
m. Akibatnya, arah awan panas belum bisa diketahui. Telepon onthel-nya
mati. Untunglah, kabar dari Yogyakarta menyejukkan. Wedhus gembel itu
mengalir ke Kaliurang. "Wah, plong, lega sekali saya,"
ujarnya.
Percaya profesi turun-temurun
Pengalaman mengharukan lain dirasakan Sugiyono ketika terpilih sebagai
Pengamat Gunung Merapi Teladan dari Menteri Perhubungan, kala itu Haryanto
Dhanutirto, pada 1993. Lugu ia mengaku, itulah kali pertama ia melihat
Jakarta dan merasakan naik pesawat udara. "Saya tidak tahu apa
kriterianya. Saya hanya menjalankan tugas dengan memberikan laporan-laporan
ke Badan Meteorologi dan Geofisika," ungkapnya.
Setelah itu ia pun kebanjiran penghargaan. Tahun 1996 ia menerima
penghargaan yang sama. Kali ini dari Menteri Pertambangan dan Energi (saat
itu), IB Sudjana. Gubernur dan bupati pun memberinya penghargaan. Hadiah
berupa radio, pakaian, dan sarung kini menemani Sugiyono dalam membunuh sepi
dan melawan dingin di tempat berketinggian 1.278,6 m di atas permukaan air
laut.
Kini, menjelang masa pensiunnya yang tinggal beberapa tahun lagi, Sugiyono
berharap anaknya, Ahmad Yanuar, bisa menggantikannya. "Dia sudah
mengenal perilaku Merapi. Juga bisa tahu perubahan arah awan panas,"
tuturnya. Sugiyono percaya, pekerjaan sebagai pengamat gunung merupakan
tugas turun-temurun. Kebisaan terasah karena terbiasa bergumul dengan
permasalahan. (Yds. Agus Surono) Baca juga: Merapi
Diawasi dari Beberapa Sisi |
|||||