globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan Mei 2001

Terbit Bulan Ini; Buku Kumpulan Artikel Psikologi 1

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

MEMBUNUH SEPI MENUNGGU MERAPI 

Banyak profesi harus dilalui dengan berteman sepi. Namun, tanggung jawab yang diemban tidaklah ringan. Petugas pengamat gunung api Merapi, Jawa Tengah, salah satunya.

Satu alasan mengapa gunung berapi harus diamati adalah faktor bahaya akibat letusannya. Terutama bila di sekitar gunung itu terdapat permukiman penduduk. Maka peran penjaga menjadi amat berarti manakala si gunung api sudah menunjukkan gejala "batuk-pilek". Dalam situasi genting mereka bisa menaikkan status gunung api yang dia amati, tentu berdasarkan data serta telah melapor ke atasannya. Perubahan status itu bisa berakibat keputusan mengungsikan penduduk yang mungkin terkena dampak.

Bagi Sugiyono Himawan Susetyo (50), nyawa dia pertaruhkan demi keselamatan orang banyak. Begitulah prinsip petugas pengamat Gunung Merapi di Pos Babadan yang berjarak 4,4 km dari puncak Merapi.

Sejak kecil sudah mengamati

Sepertinya tinggal menunggu waktu saja bagi Sugiyono untuk menjadi pengamat gunung api. Kebiasaannya main ke pos pengamatan tahun 1960-an ketika ayahnya, Kartodikoro, menjalani profesi serupa dan memberinya pengetahuan tentang perilaku Merapi. Apalagi kakeknya pun dulu berprofesi serupa.

"Saya kenal Merapi sejak umur 10-an tahun. Waktu itu saya bantu-bantu Bapak dengan bersih-bersih pos. Kadang-kadang ikut jip Willys yang mengantar Bapak ke Pos Babadan," kenang Sugiyono. Sejak kecil itulah ia sudah terlibat dengan dunia amat-mengamati Merapi.

Baru tahun 1974 saat berumur 23 tahun Sugiyono menjadi tenaga harian sebagai pengamat betulan di Pos Babadan. Enam tahun kemudian ia diangkat menjadi pegawai tetap. Berkat ketekunannya, pimpinan Sugiyono menaruh perhatian kepadanya. "Saya diberi perlengkapan lapangan seperti ransel dan sepatu," tuturnya.

Berhubung hanya lulusan SMU dengan bekal ilmu kegunungapian yang didapat dari ayahnya, Sugiyono diikutsertakan dalam Kursus Pengamat Gunung Api di Bandung tahun 1982. "Saya termasuk angkatan pertama," katanya. Kursus yang seharusnya ditempuh dalam waktu 1,5 tahun itu dipercepat menjadi hanya dalam jangka enam bulan.

Setelah itu Sugiyono sempat mencicipi tugas mengamati G. Semeru, Kawah Ijen, G. Kelud, dan G. Tangkubanperahu. Baru tahun 1984 Sugiyono kembali ke Merapi. Saat itu pula Merapi diamati secara khusus mengingat keunikannya. Peralatan untuk mengamati keseharian Merapi pun khusus (baca Merapi Diawasi dari Beberapa Sisi). Tahun 1996 Sugiyono mengisi baterai keilmuannya dengan mengikuti Kursus Manajemen Akibat Gunung Api selama 2,5 bulan di Yogyakarta.

Memelototi seismometer

Sebagai petugas pengamat gunung api, tugas keseharian Sugiyono memelototi seismometer yang ada di ruangan berukuran sekitar 2,5 m2. Seismometer merupakan alat pencatat gempa bumi yang ditunjukkannya dalam kurva. Alat ini hanya sebagian dari pemantau aktivitas Merapi selama 24 jam. Dari sini bisa terbaca apakah Merapi akan meletus atau tidak. Selain itu, yang utama adalah mengamati Merapi secara visual. Untuk melakukan semua tugas, Sugiyono dibantu Yulianto dan Budiono.

Seismometer yang dipakai sekarang ini sudah lebih bagus. "Seismograf PS V ini lebih praktis dibandingkan dengan OSAKA (seismograf terdahulu - Red.)," tutur Yulianto yang pernah merasakan kedua alat itu.

OSAKA, selain memakai kabel untuk menghubungkan sensor ke alat pencatat, kertas pencatatnya harus diberi jelaga sebab jarum pencatat benar-benar hanya berupa jarum. Jadi cuma bisa menggores. Goresan itu akan membekas di kertas berjelaga itu. Selanjutnya, kertas itu dicelup dalam spiritus dan sirlak (sejenis pelitur). Hasilnya, kurva naik-turun atau garis mendatar pun tercetak di kertas.

Sementara itu, seismograf PS V – selain memakai telemetri dalam pengukuran – jarumnya bisa mengalirkan tinta. Alhasil, seismogram bisa langsung dianalisis. Ini tidak bisa dilakukan bila memakai OSAKA. "Akan sangat membantu bila aktivitas Merapi meningkat," kata Yuli. Sebab, dalam saat-saat seperti itu, kertas yang normalnya habis dalam enam jam, bisa dilibas dengan gerakan-gerakan eksplosif hanya dalam setengah jam. Penggantian kertas itu harus cepat agar kesinambungan grafik terjaga. Ini berpengaruh saat analisis nanti.

Meski praktis, seismogram dari seismograf PS V tidak tahan lama dibandingkan hasil OSAKA. Padahal dari seismogram itu bisa dianalisis mengenai jumlah gempa, guguran lava, maupun awan panas. Awan panas bukanlah awan dalam arti harafiah, namun merupakan aliran massa turbulen yang terdiri atas bongkah kerikil, pasir, debu, dan gas panas dari hancuran kubah lava aktif. Awan ini bisa meluncur dengan kecepatan sekitar 90 km/jam. Disebut awan panas karena suhunya bisa mencapai 350oC.

Data hasil olahan itu dikirim ke Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) di Yogyakarta. "Sebagai pembanding saja," tegas Yuli yang menjadi petugas pengamat gunung api sejak Februari 1992. Di Balai (begitu para petugas menyebut BPPTK) memang ada alat sejenis yang memantau aktivitas Merapi.

Pos, rumah kedua

Diakui Yuli maupun Sugiyono, jika kondisi Merapi normal-normal saja, mereka sering merasa jenuh. Pos Babadan yang berdiri tahun 1954 ini memang tidak terpencil dalam arti sulit dicapai. Jalan aspal sudah menghubungkannya sampai jalan Muntilan - Yogya. Tetapi, memelototi seismometer yang anteng-anteng saja tentu melahirkan kebosanan.

Saat seperti itu, Yuli lalu mencari kesibukan. "Misalnya bersih-bersih pos," pengamat gunung api turunan kedua ini memberi contoh. Begitu pula dengan Sugiyono. Soal kebersihan pos ini sudah diwasiatkan oleh bapaknya. Apalagi di pos tidak ada pembantu. "Jadi, kami anggap sebagai rumah kedua," ujar Sugiyono. Kebersihan memang langsung terasa begitu memasuki halaman satu-satunya pos yang berbungker itu. Meski beralaskan tanah, halaman itu resik.

Kalau pos sudah bersih sementara kejenuhan tetap menggantung? "Ya, bolak-balik duduk melihat seismometer dan melihat ke luar ke puncak gunung," kiat Sugiyono. Sedangkan Yuli memilih kegiatan serius: melihat-lihat kembali hasil analisis terdahulu.

Keadaan itu sontak berbalik 180 derajat manakala Merapi mengamuk. Bahkan bisa mengundang keharuan yang mendalam. Semisal peristiwa pada 19 Juli 1998. Kebetulan waktu itu Sugiyono membawa dua dari enam anaknya, anak ketiga dan keempat yakni Azwar Nurman Aji (14) dan Ahmad Yanuar (11). Tiba-tiba langit menjadi gelap. Asap dari gunung mulai menyelimuti sekitar pos. Suasana sangat mencekam. Sugiyono menyuruh kedua anaknya segera pulang. Tetapi mereka menolak, karena ingin tetap bersama ayahnya.

Pengunjung waktu itu lumayan banyak, kebanyakan datang dari daerah sekitar Yogya, Magelang, dan Temanggung. Merapi memang selalu mempesona baik saat tenang maupun berulah. Sugiyono pun "mengusir" para tamu demi keamanan. Sedangkan kedua anaknya disuruh masuk bungker buatan tahun 1931 yang ada dekat Pos. Segera ia berlari memberi tahu masyarakat bahwa status Merapi sudah menjadi "Awas Merapi", tingkat tertinggi setelah "Siaga Merapi" dan "Waspada Merapi".

Setelah itu segera pula ia masuk bungker. Dari sini ia bisa melihat puncak Merapi dari jendela kecil berukuran 20 cm2. "Saya tidak pernah lupa peristiwa menegangkan itu, sebab menyangkut hidup mati anak saya," lelaki kelahiran Banyubiru, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, itu mengenang sembari bersyukur tidak ada akibat buruk yang menimpa dua anaknya maupun masyarakat saat itu. Wedhus Gembel - (si domba - (sebutan masyarakat setempat untuk awan panas Merapi - Red.) hanya diteruskan dengan batuk-batuk. Sang Merapi tidak sampai memuntahkan isi perutnya.

Situasi mencekam itu bukan kali pertama bagi suami Sri Hartiningsih ini. Pun tahun 1994 ketika terjadi longsor dari kubah lava yang besar, Sugiyono ada dalam ketidakpastian. Keadaan gelap total dengan jarak pandang kurang dari 5 m. Akibatnya, arah awan panas belum bisa diketahui. Telepon onthel-nya mati. Untunglah, kabar dari Yogyakarta menyejukkan. Wedhus gembel itu mengalir ke Kaliurang. "Wah, plong, lega sekali saya," ujarnya.

Percaya profesi turun-temurun

Pengalaman mengharukan lain dirasakan Sugiyono ketika terpilih sebagai Pengamat Gunung Merapi Teladan dari Menteri Perhubungan, kala itu Haryanto Dhanutirto, pada 1993. Lugu ia mengaku, itulah kali pertama ia melihat Jakarta dan merasakan naik pesawat udara. "Saya tidak tahu apa kriterianya. Saya hanya menjalankan tugas dengan memberikan laporan-laporan ke Badan Meteorologi dan Geofisika," ungkapnya.

Setelah itu ia pun kebanjiran penghargaan. Tahun 1996 ia menerima penghargaan yang sama. Kali ini dari Menteri Pertambangan dan Energi (saat itu), IB Sudjana. Gubernur dan bupati pun memberinya penghargaan. Hadiah berupa radio, pakaian, dan sarung kini menemani Sugiyono dalam membunuh sepi dan melawan dingin di tempat berketinggian 1.278,6 m di atas permukaan air laut.

Kini, menjelang masa pensiunnya yang tinggal beberapa tahun lagi, Sugiyono berharap anaknya, Ahmad Yanuar, bisa menggantikannya. "Dia sudah mengenal perilaku Merapi. Juga bisa tahu perubahan arah awan panas," tuturnya. Sugiyono percaya, pekerjaan sebagai pengamat gunung merupakan tugas turun-temurun. Kebisaan terasah karena terbiasa bergumul dengan permasalahan. (Yds. Agus Surono)

Baca juga: Merapi Diawasi dari Beberapa Sisi

Active Channel

© Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/


Counter by Pandawa

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej