|
|
Bulan Mei 2001
|
|
Oleh-olehnya
By-by
Bagaimana dengan orang Indonesia yang bertugas ke luar negeri? Tentu saja,
kami juga berusaha untuk mampu berbahasa asing, paling tidak bahasa Inggris.
Dalam rangka kerjasama dengan Negeri Belanda, saya berkunjung ke Negeri
Kincir Angin. Sayangnya, saya tak mampu berbahasa Belanda. Saya hanya tahu
sedikit-sedikit atau een beetje. Bagi saya, bahasa Belanda sangat muileg
alias angel banget.
Sewaktu berkunjung ke Kanada, ada rekan dari Belanda menghampiri kami ingin
ikut mengobrol. Dengan logat bahasa Indonesia yang masih kaku, ia bertanya,
"Apa yang sedang saudara-saudara bicarakan?" Tanpa malu-malu
seorang teman Indonesia kami menjawab, "Wah, niet wat wat kok"
Si Belanda kembali bertanya, "Wat?" Jawabannya pun masih,
"niet wat wat." Setelah saya jelaskan maksudnya, tidak ada
hal-hal yang penting, just nothing. Si Belanda pun tertawa.
Suatu saat orang Belanda ini sedang berdiskusi dengan rekannya, teman
senegara saya bertanya, "What are you talking about?"
Sungguh tak terduga, si Belanda menjawab, "Pak Anwar, niet wat wat."
Wah seimbang! Rupanya rekan dari Belanda membalas humor tadi.
Ketika berkunjung ke Indonesia, beberapa rekan asing bingung melihat
kesemrawutan lalu lintas. Jalur penyeberangan zebra cross tidak
berfungsi, banyak orang menyeberang tidak pada tempatnya. Ia pun bertanya,
apa maksud rambu itu. Sambil bercanda saya katakan, "You have to be
heart-heart. Maksud saya, "Anda harus berhati-hati". Sejenak
mereka berfikir, kemudian tertawa begitu mengerti.
Dalam rapat koordinasi di daerah, mereka pun sempat memperhatikan papan di
depan toko bertuliskan, "Di sini jual oleh-oleh khas". Mereka pun
bertanya-tanya, apa maksudnya "oleh-oleh". Langsung saya jawab
dengan bergurau, "Oleh-oleh bahasa Inggrisnya by-by."
Rupanya mereka tahu saya bercanda, langsung keluar ungkapan "I
think, it is better that you have to buy by-by."
Keingintahuan mereka tentang bahasa Indonesia memang perlu diacungi jempol.
Sewaktu memasuki kampus kedokteran gigi, mereka bertanya, "what's
the meaning of ji ai-ji ai?". Langsung saya jelaskan, artinya
"faculty of dentistry".
Soal makanan umumnya mereka senang sayur-sayuran dengan bumbu seperti
gado-gado. Lucunya, mereka menyebutnya dengan gaya Inggris,
"jedo-jedo".
Dalam kaitan kerjasama dengan pihak asing, seorang rekan kami ingin
mengemukakan bahwa pekerjaan yang dibebankan padanya cukup banyak tapi honor
tidak memadai. Di hadapan seorang atasan asing, ia dengan bercanda berani
mengatakan, "Little-little to me, little-little to me, salary no
up-up." Mendengar keluhan itu, bukannya marah, sang atasan malah
tertawa terpingkal-pingkal sambil langsung menjawab, "Ya, ya, saya
tahu. Nanti honor saudara saya tambah."
Ternyata dalam bergaul dengan orang asing sekali-kali perlu juga diselingi
humor kocak. Tujuannya, agar keakraban terus terjaga. |
|||||