|
|
Bulan Mei 2001
|
|
Otak
ketinggalan di rumah
Saya heran mendengar percakapan dua anak tersebut. Hal itu terjadi saat saya
pertama kali bertugas mengajar di sebuah SD terpencil di pedalaman Kabupaten
Pasir, Kalimantan Timur. Waktu itu sekolah tersebut sedang mengadakan
gerakan kebersihan, memotong rumput di halaman sekolah. Dalam hati saya
bertanya-tanya, apa maksudnya "otak ketinggalan di rumah"?
Ternyata, menurut kepala sekolah, "otak" dalam bahasa setempat
berarti "parang".
Peristiwa lucu lain muncul saat saya menjadi guru pengganti di kelas I. Di
depan kelas saya mengatakan, "Anak-anak, hari ini Bapak ingin memeriksa
kuku kalian. Nah, perlihatkan kuku kalian di atas meja!"
Serentak anak-anak mengangkat kedua kakinya ke atas meja. Tentu saja saya
bingung melihat perilaku mereka.
"Lo, mengapa kalian mengangkat kaki ke atas meja? Yang ingin Bapak
periksa adalah kuku tangan kalian!" kata saya. Herannya, mereka tidak
juga memindahkan kaki dari meja.
Ketika saya menceritakan hal itu ke kepala sekolah, kembali beliau tertawa.
Rupanya "kuku" dalam bahasa setempat artinya "kaki".
Yah, lain ladang memang lain belalangnya! |
|||||