|
|
Bulan Mei 2001
|
|
TERTOLONG TAPE RECORDER
Padahal buku ajar dan catatannya cukup, serta semua program pelajaran
tambahan di sekolah diikutinya. Usut punya usut, ternyata Andik kurang tekun
dalam belajar. Dalam satu jam belajar tidak kurang 3 - 4 kali ia
meninggalkan tempat belajar. Cara belajarnya pun kurang efektif. Saya pikir
hal-hal itulah yang menjadi persoalannya.
Ebtanas semakin dekat, saya pun mencoba sebuah kiat. Andik saya minta tidak
meninggalkan meja belajar sekurang-kurangnya satu jam. Sambil bergurau namun
tegas, ia saya "ikat" di kursinya. Bahan ajar harus dibaca dan
direkam menggunakan tape recorder. Hasil rekaman diputar kembali
untuk didengarkan.
Bentuk kalimat beberapa bagian bahan ajar saya minta diubah dari kalimat
berita menjadi kalimat tanya. Umpamanya, "Manila adalah ibukota
Filipina" diubah menjadi "Apa nama ibukota Filipina?". Kaset
dibiarkan tetap berputar sejenak menunggu jawaban. Ketika kaset diputar
ulang Andik seolah-olah berhadapan dengan guru.
Luar biasa! Dengan cara ini, Andik benar-benar tertolong, terutama untuk
mata pelajaran hapalan. Andik berhasil memperoleh jumlah NEM 35,23 dan
tergolong sepuluh besar dari 28 peserta Ebtanas di kelasnya. Padahal, ketika
latihan Ebtanas ia cuma menduduki peringkat dua dari bawah!
Ketika menghadapi Ebtanas tingkat SMTP tahun lalu, cara yang sama ia pakai
kembali. Saat hasil Ebtanas diumumkan, ia menduduki peringkat sembilan dari
48 siswa. |
|||||