|
|
Bulan Mei 2001
|
|
TETAPLAH TENANG JIKA
ANAK KEJANG DEMAM
Upaya lain, menurunkan suhu badan dengan cara membalurkan cairan alkohol ke
bagian dada, tengkuk, dan dahi si anak. Sedangkan secara tradisional dengan
mengusapkan tumbukan bawang merah dicampur jeruk nipis dan sedikit minyak
kayu putih pada dada serta perut si anak.
Apakah semua tindakan ini memang berkhasiat?
Menurut dr. Dwi P. Widodo, neurolog anak RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta,
dalam seminar "Kejang Demam pada Anak" beberapa waktu lalu,
tindakan awal yang mesti dilakukan adalah menempatkan anak pada posisi
miring. Tidak perlu memasukkan apa pun di antara gigi. Dr. M.V. Ghazali,
dokter spesialis anak RS Pondok Indah Jakarta, dalam seminar yang sama
menambahkan, anak yang sedang demam tinggi jangan diselimuti dengan selimut
tebal, karena malah akan menambah demamnya akibat pembebasan panas dari
dalam tubuh terhambat. Selain itu, pakaian yang kencang hendaknya
dilepaskan.
Mengoleskan alkohol juga bisa menurunkan demam, tetapi kurang dianjurkan
karena dikhawatirkan bisa mengenai mata. Bagi yang tidak tahan pada baunya,
anak cukup dikompres air hangat suam-suam kuku dengan harapan saat air
hangat menguap, panas dari tubuh si anak ikut terangkat. "Sikap kita
harus tetap tenang," tambah dr. Dwi. "Namun bila kejang tidak
berhenti setelah lima menit, sebaiknya anak segera dibawa ke fasilitas
kesehatan terdekat".
Sederhana dan kompleks
Jumlah penderita kejang demam diperkirakan mencapai 2 - 4% dari jumlah
penduduk di AS, Amerika Selatan, dan Eropa Barat. Namun di Asia dilaporkan
penderitanya lebih tinggi. Sekitar 20% di antara jumlah penderita mengalami
kejang demam kompleks yang harus ditangani secara lebih teliti. Bila dilihat
jenis kelamin penderita, kejang demam sedikit lebih banyak menyerang anak
laki-laki.
Penderita pada umumnya mempunyai riwayat keluarga (orangtua atau saudara
kandung) penderita kejang demam. Perkembangan anak yang sering mengalami stuip
sering agak terlambat, mempunyai masalah pada masa neonatus (saat baru
lahir), serta kadar natrium serum darah rendah.
Faktor risiko utama yang umum menimpa anak balita usia 3 bulan - 5 tahun ini
adalah demam tinggi (di atas 38 oC). Bisa diakibatkan oleh
misalnya infeksi tenggorokan atau infeksi lain seperti radang telinga,
campak, cacar air, dll. Yang paling mengkhwatirkan kalau demam tinggi
tersebut merupakan gejala peradangan otak, seperti meningitis atau
ensefalitis.
Dalam keadaan demam, kenaikan suhu tubuh sebesar 1 oC pun bisa
menyebabkan kenaikan metabolisme basal (jumlah minimal energi yang
dibutuhkan untuk mempertahankan fungsi vital tubuh - Red.) sebanyak
10 - 15%, sementara kebutuhan oksigen pada otak naik sebesar 20%.
Pada anak balita, aliran darah ke otak mencapai 65% dari aliran seluruh
tubuh (pada orang dewasa hanya 15%). Sebab itu kenaikan suhu tubuh lebih
mudah menimbulkan gangguan pada metabolisme otak. Sehingga akan mengganggu
keseimbangan sel otak yang menimbulkan terjadinya pelepasan muatan listrik
yang menyebar ke seluruh jaringan otak. Akibatnya terjadi kekakuan otot yang
menyebabkan kejang tadi.
Wujud kejang dapat pula berupa mata berbalik ke atas disertai kekakuan atau
kelemahan. Atau, terjadi gerakan sentakan berulang tanpa didahului kekakuan.
Serangan pada umumnya timbul pada awal kenaikan suhu tubuh dan berlangsung
kurang dari 10 menit. Kejang seluruh tubuh ini akan berhenti dengan
sendirinya setelah mendapat pertolongan pertama. Setelah itu anak tampak
capek, mengantuk, dan tidur pulas. Begitu terbangun kesadaran sudah pulih
kembali.
Dr. Dwi menguraikan bahwa kejang demam dibedakan atas dua macam. Pertama,
kejang demam sederhana, yang berlangsung kurang dari 15 menit dan sama
sekali tidak menimbulkan kerusakan otak ataupun membahayakan jiwa si anak.
Yang kedua, demam kompleks, yang berlangsung lebih dari 15 menit dan bisa
terjadi lebih dari satu kali dalam 24 jam.
Pada umumnya pada kejang demam kompleks, si anak mempunyai kelainan
neurologi atau riwayat kejang dalam keluarganya. Karena serangannya lebih
lama, maka harus segera ditanggulangi. Bila tidak, adakalanya bisa
mengakibatkan kerusakan otak. Kejang yang berlangsung lama dan terus menerus
bisa mengganggu peredaran darah ke otak, kekurangan oksigen, kekurangan
keseimbangan air dan elektrolit yang dapat mengakibatkan pembengkakan otak.
Bukan epilepsi
Indikasi perawatan di rumah sakit pada anak dengan kejang demam tergantung
keadaan klinis dan keluarganya. Pada serangan kompleks, sebaiknya memang
anak diobservasi di ruang gawat darurat selama beberapa jam untuk
dievaluasi. Pada umumnya kondisi akan pulih setelah penyebab demam diketahui
dan diobati.
"Namun, kalau keadaaan tidak stabil, misalnya ada kecurigaan penyebab
lebih serius, sebaiknya dirawat," pesan dr. Dwi. "Sekitar 16% anak
akan mengalami rekurensi dalam 24 jam pertama walaupun adakalanya belum bisa
dipastikan apakah anak akan mengalami kejang kembali".
Untuk mencegah serangan pada seorang anak dengan bawaan kejang demam, begitu
anak mengalami demam yang terpenting secepat mungkin usahakan turunkan suhu
badannya, dengan cara memberi obat penurun panas atau kompres. Selain itu
perbanyak minum air putih.
Dokter pada umumnya juga akan memberikan resep obat pencegah kejang pada
anak dengan bawaan demikian. Sehingga begitu si anak mengalami demam, obat
bisa segera diberikan. Obat seperti diazepam dan phenobarbital
dapat digunakan untuk mencegah serangan ulang, meskipun bukan jaminan penuh.
Sebab, seperti diakui dr. Dwi, sampai saat ini, belum ada pengobatan yang
aman dan efektif. Dengan alasan itu pula obat hanya diberikan selama demam,
tidak boleh berlebihan. Pemberian berlebihan dikhawatirkan bisa menimbulkan
efek samping. Kalau pemberian obat tidak mempan, hendaknya segera diteliti
apakah ada penyebab lain yang lebih serius.
Sementara itu, anak terus dimonitor suhu badannya, karena dalam 16 jam
pertama kemungkinan serangan ulang masih besar. Apalagi, kadangkala suhu
yang tidak terlalu tinggi pun bisa memicu kejang demam.
Untuk mengetahui suhu badan, dr. Ghazali menganjurkan penggunaan termometer
air raksa saja, karena kerjanya paling sederhana dan akurat. Caranya dengan
memasukkan sebagian ke mulut, dijepitkan di ketiak, atau dimasukkan anus,
selama lima menit. Sebelumnya, air raksa dalam termometer harus diturunkan
sampai di bawah suhu normal dengan cara mengapitkan selama beberapa kali.
Lalu, apa beda kejang demam dengan kejang epilepsi? Pada epilepsi, tidak
disertai demam. Epilepsi merupakan faktor bawaan yang disebabkan karena
gangguan keseimbangan kimiawi sel-sel otak yang mencetuskan muatan listrik
berlebihan di otak secara tiba-tiba. Penderita epilepsi adalah seseorang
yang mempunyai bawaan ambang rangsang rendah terhadap cetusan tersebut.
Cetusan bisa di beberapa bagian otak dan gejalanya beraneka ragam. Serangan
epilepsi sering terjadi pada saat ia mengalami stres, jiwanya tertekan,
sangat capai, atau adakalanya karena terkena sinar lampu yang tajam.
Memang, menurut survai ada sekitar 15% kasus epilepsi yang didahului dengan
gejala kejang demam. Namun, kurang dari 5% anak kejang demam berkembang
menjadi epilepsi.
Yang penting, para orangtua disarankan tetap waspada terhadap kemungkinan
serangan kejang demam. Kalau serangan datang, orang tua hendaknya tetap
tenang. Sebab emosi atau kebingungan tidak akan menyelesaikan masalah dengan
cepat! |
|||||