|
|
Bulan Mei 2001
|
|
CARA HALUS BILANG TIDAK
Maka setiap kali teman menelepon dan bertanya, "Punya waktu
sebentar?", jawaban Mary bukan "Maaf, saya sedang sibuk".
Rupanya ia sudah mempunyai kiat tersendiri. Sengaja dibelinya bel pintu,
yang dibunyikannya saat obrolan sudah melantur berlarut-larut. Kebetulan
juga ia memelihara anjing yang menyalak setiap kali bel berdering. Maka ia
lantas bisa berkata dengan enak, "Maaf, ada bel." Cara ini akan
sukses mengakhiri obrolan tak menentu tanpa menimbulkan rasa sakit hati.
Umumnya kita memang sulit mengatakan "tidak". Seperti halnya Mary
Kay Ash, kita tak ingin menyinggung perasaan atau mengecewakan orang lain.
Sepanjang permintaan bicara itu penting, okelah. Tapi bila kita sedang tidak
siap atau sedang tak berselera ngobrol, justru perasaan kita sendiri yang
bisa tersiksa.
Sungguh keliru berkata "ya", kalau sesungguhnya kita ingin berkata
"tidak". Demikian pendapat terapis Herbert Fensterheim, Ph.D.,
pengarang Don't Say Yes When You Want to Say No.
Bahkan ia yakin ketidaksanggupan berkata "tidak" bisa menimbulkan
konsekuensi negatif. Pertama, kita akan terbawa dalam kegiatan yang kita
sendiri tidak sreg untuk melakukannya. Membiarkan orang lain ngerecoki,
bisa menciptakan kekesalan dalam diri. Kedua, menyebabkan kita kurang
komunikatif dengan orang lain. Adakalanya secara tegas mengatakan
"tidak" bisa berarti amat menghemat waktu, di samping memelihara
ketenangan diri. Ternyata mengatakan "tidak" terhadap permintaan
atau ajakan, asalkan dengan cara yang halus, dinilai cukup bijaksana.
Berikut ini beberapa cara bijak untuk mengatakan "tidak":
1. Sertakan pujian saat berkata "tidak". Delores, guru besar
Universitas East Coast di AS, punya jurus jitu menolak. Ia melunakkan
penolakannya dengan pujian. Saat diminta menjadi dewan pengurus suatu
organisasi, ia berkata, "Saya senang Anda memperhatikan saya. Saya
memang penggemar berat organisasi Anda, sayang sekali jadwal saya tak
memungkinkan menerima tawaran ini." Begitu pula kita. Saat diajak makan
siang, kita bisa menjawab, "Saya senang diajak makan siang, tapi sayang
banyak tugas yang tak bisa dielakkan." Atau, saat diundang ke pesta,
kita berkata, "Sangat senang saya diundang ke rumah Anda. Bisa bertemu
keluarga dan teman-teman Anda. Tapi maaf saya tidak dapat hadir saat
ini."
2. Menolak secara tegas dan meyakinkan. "Saya hargai Anda telah
mengantar koran setiap hari, tetapi kali ini saya terpaksa tidak
membacanya." Ini contoh penolakan halus. Menyusun jawaban menolak
secara meyakinkan memungkinkan kita tetap bisa menjaga
hubungan/persabahatan, sekaligus menghindari rasa sakit hati. Jawaban tegas
lain, "Tawarannya sangat bagus, tetapi maaf sekali kami tidak mungkin
menerimanya saat ini." "Gagasan bagus (atau produk yang bagus),
tapi belum kami perlukan saat ini."
3. Menawarkan kompromi. Karena tak mungkin menampung semua permintaan, perlu
dipertimbangkan tanggapan secara tegas dan meyakinkan. Dalam buku Your
Perfect Right: A Guide to Assertive Living , Robert E. Alberti, Ph. D.,
dan Michael L. Emmons, Ph. D., memberikan contoh ini, "Ibu mertua
menelepon untuk mengabarkan rencananya mengunjungi Anda selama tiga
minggu."
Pengarang buku itu mencatat tiga kemungkinan jawaban Anda:
a. Anda berpikir, "Aduh, celaka!", tapi berkata, "Kami senang
Ibu akan berkunjung. Tinggallah selama Ibu suka."
b. Anda pura-pura berterus terang dengan mengatakan bahwa anak-anak sedang
pilek, atau Anda pas ke luar kota saat dia berkunjungan.
c. Anda dapat menolak, tetapi dengan nada kompromistis, "Kami senang
Ibu akan datang, tapi kalau tidak terlalu lama, barangkali akan lebih
menyenangkan. Kita malah akan lebih cepat ingin bertemu lagi. Masalahnya,
anak-anak banyak kegiatan sekolah, atau, kami banyak kegiatan lingkungan
yang menyita waktu sepulang bekerja."
4. Berlatih layaknya tokoh masyarakat. Mereka umumnya berlatih agar mampu
menyampaikan tanggapan dengan percaya diri dan meyakinkan saat berhadapan
dengan wartawan. Prinsip yang sama juga berlaku bagi Anda untuk menyatakan
"tidak". Praktikkan dan berlatihlah di dalam hati atau langsung di
hadapan anggota keluarga atau teman.
5. Minta waktu. Dengan maksud menolak, kita bisa menjawab, "Coba saya
pikirkan dulu"; "Bagaimana kalau saya membicarakannya dengan
suami/istri, keluarga, dsb.?"; "Saya akan periksa agenda
dulu"; "Sekarang saya sungguh belum ada waktu. Bagaimana kalau
saya minta waktu 1 - 2 hari lagi untuk menanggapi?"
Siasat itu memberikan tiga keuntungan. Pertama, kita punya waktu untuk
membuat alasan yang bisa diterima. Kedua, masih ada kesempatan bagi kita
untuk mempertimbangkan lagi permintaan itu. Ketiga, kita membuat senang
orang lain dengan sikap seolah-olah menerima permintaan itu secara serius.
6. Jawaban singkat dan to the point. Bulatkan pikiran dan katakan
secara terus terang penolakan itu. Contoh, "Maaf, saya tak bisa duduk
dalam kepengurusan yayasan ini." Singkat dan to the point.
Penjelasan panjang lebar, kenapa tidak dapat atau tidak setuju, justru
memungkinkan orang mengejar alasan-alasan kita. Sebuah contoh dialami
Louise. Ia pernah gagal menolak, karena menyampaikan banyak alasan kenapa
tak mau duduk dalam kepengurusan yayasan penyelenggara pendidikan
pra-sekolah, tempat anaknya (4 tahun) menjalani pendidikan.
"Saya menjelaskan bahwa pengurus rapat setiap minggu dan saya tak punya
waktu senggang. Saya juga tidak mempunyai sarana trasportasi malam hari.
Saya malah tersudut ketika mereka menanggapi, 'Anda tidak harus datang
setiap minggu, cukup dua minggu sekali. Jangan cemas soal angkutan, akan ada
anggota pengurus yang menjemput.'" Jadi, jawaban terbaik adalah singkat
dan sederhana, "Maaf, tidak, saya tidak dapat duduk dalam kepengurusan
yayasan!"
7. Katakan "tidak". Cara terbaik untuk menolak adalah dengan
berkata "tidak". Jangan takut berkata "tidak". Jika kita
menyanggupi semua permintaan orang lain, dari duduk dalam kepengurusan atau
kepanitiaan, menghadiri makan siang dan makan malam, dst. jelas kita tidak
akan punya waktu untuk mengerjakan hal lain. Ikut berperan serta itu baik,
sepanjang ada waktu. Bagaimana mungkin kita dapat mengelola waktu, jika
waktu itu sudah kita berikan kepada setiap orang?
Begitu kita terbiasa berkata "tidak", kita pun akan merasakan
keuntungannya. Harga diri semakin kuat, rasa gelisah dan depresi berkurang,
dan kita pun semakin profesional. |
|||||