|
|
Bulan Mei 2001
|
|
TANAMAN
TRANSGENIK YANG KONTROVERSIAL
Di Indonesia, meski tak sampai merusak areal tanaman petani, kalangan
aktivis lingkungan dan petani protes keras akan keberadaan tanaman
transgenik. Empat lembaga non-pemerintah/LSM (KONPHALINDO, YLKI, PAN
Indonesia, dan ICEL) terang-terangan menolak SK Mentan No.
107/Kpts/KB/430/2/2001 tentang Pelepasan Terbatas Kapas Transgenik Bt DP
5690B sebagai Varietas Unggul, dan ditanam di tujuh kabupaten di Sulsel.
Penerbitan SK Mentan itu dinilai sangat tergesa-gesa dan ceroboh.
Seharusnya, lebih dulu dilakukan prosedur sesuai Peraturan Pemerintah No.
27/1999 pasal 3 ayat 1 butir f, di mana introduksi jenis hewan atau tanaman
baru (kapas Bt) wajib dilakukan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL).
Meski massa Federasi Serikat Petani Indonesia (FSPI) yang berunjuk rasa di
Gedung Departemen Pertanian, Jakarta, mendesak pencabutan SK itu dan menolak
bibit transgenik, Mentan Bungaran Saragih tetap ngotot mempertahankan SK itu
sebelum ada laporan dampak negatifnya.
Sebenarnya, ada apa dengan tanaman transgenik?
"Evolusi hijau" kedua
Keberadaan tanaman transgenik diributkan, tentu bukan tanpa alasan. Tanaman
itu merupakan hasil rekayasa gen dengan cara disisipi satu atau sejumlah gen
(baca boks "Teknik Membuat 'Makhluk' Transegenik"). Gen yang
dimasukkan itu - disebut transgene - bisa diisolasi dari tanaman
tidak sekerabat atau spesies lain sama sekali. Karena berisi transgene
tadi, tanaman itu disebut genetically modified crops (GM crops).
Atau, organisme yang mengalami rekayasa genetika (genetically modified
organisms, GMOs).
Transgene umumnya diambil dari organisme yang memiliki sifat unggul
tertentu. Misal, pada proses membuat jagung Bt tahan hama, pakar
bioteknologi memanfaatkan gen bakteri tanah Bacillus thuringiensis
(Bt) penghasil racun yang mematikan bagi hama tertentu. Gen Bt ini
disisipkan ke rangkaian gen tanaman jagung. Sehingga tanaman resipien
(jagung) juga mewarisi sifat toksis bagi hama. Ulat atau hama penggerek
jagung Bt akan mati. Bahkan kupu-kupu (Lepidoptera) pengisap nektar
bunga jagung bisa koit. Begitu pun racun pada kapas Bt dapat membunuh
boll-worm, hama perusak tanaman kapas.
Repotnya, selain efektif melawan hama sasaran, toksin juga teridentifikasi
mematikan serangga lain (nontarget). Bila hal ini terjadi, salah satu
komponen ekosistem akan musnah, dan keseimbangan alam akan terganggu.
Penelitian di Universitas Cornell oleh entomolog John Losey dan koleganya,
menunjukkan hasil, kupu-kupu raja yang memakan serbuk sari jagung Bt tingkat
kematiannya tinggi dan pertumbuhan lambat. Serbuk sari jagung transgenik
berisi toksin Bt menyebabkan kematian nyaris separuh (44%) dari ulat
kupu-kupu raja. Larvanya pun ikutan tewas.
Ilmuwan protanaman GM tetap arogan dan bersikukuh, racun Bt cuma membunuh
ulat tertentu, dan tidak mampu membunuh hewan lain maupun manusia yang
mengkonsumsi jagung Bt. Jadi, tidak perlu mengkhawatirkan nasib serangga
berguna, predator pemangsa ulat, burung atau hewan ternak pemakan daun
jagung Bt. Tidak berpengaruh buruk terhadap flora dan fauna dalam tanah dan
sekitarnya.
Sebaliknya, ilmuwan Swiss menyimpulkan, tanaman jagung Bt merugikan serangga
bermanfaat dan racun Bt terakumulasi dalam tanah sehingga merugikan
ekosistem tanah. Juga penanaman secara luas varietas Bt mempercepat terjadi
evolusi resisten racun Bt pada hama serangga. Sekali hama menjadi resisten
terhadap racun Bt, akan sulit mengefektifkan pengendalian hama secara
hayati. Kalau itu terjadi serentak dan meluas, betapa "evolusi
hijau" kedua akan terjadi. Tatanan ekosistem dan kelestarian hayati pun
akan terganggu.
Dari kacamata lingkungan, menurut Prof. Dr. Hari Hartiko dari PAU
Bioteknologi UGM Yogyakarta (Berita Bumi, Juni 2000), pelepasan atau
pemanfaatan jenis asing (tanaman rekayasa genetika) di alam terbuka sukar
ditangani karena ada kemungkinan penyebaran gen asing (gen yang disisipkan
ke dalam tanaman GM) berpindah ke tanaman sekerabat yang liar atau mengubah
tatanan spesifik atau sifat unggul tanaman GM itu sendiri. Seperti pada
kasus serbuk sari kanola (Brassica napus) penghasil minyak nabati,
yang membuahi kerabatnya dan kerabat jauhnya. Di samping ada kemungkinan
produk GM dapat mengganggu kesehatan manusia dan ternak.
Lebih lanjut Hari Hartiko khawatir, perpindahan gen dapat juga terjadi pada
uji lapangan, meski di lokasi yang sangat terisolasi untuk mencegah terjadi
penyerbukan silang. Karena di alam banyak faktor yang berpengaruh, seperti
angin, kupu-kupu, kumbang, tawon, dan burung. Tidak ada jaminan serbuk sari
tidak berpindah ke kerabat tanaman itu atau gulma sehingga menjadi lebih
kuat karena resisten terhadap hama. Jika kerabat dekat tanaman Bt berupa
gulma, bisa-bisa menjadi resisten dan sukar dikendalikan.
Terjadinya penyerbukan silang yang akan memindahkan gen-gen asing ke tanaman
lain (gulma), bisa memunculkan gulma super yang resisten hama penyakit dan
herbisida. Gen-gen pengendali hama yang menyebar ke tanaman liar itu akan
melenyapkan secara besar-besaran spesies serangga dan hewan. Persilangan
antara tanaman transgenik dengan tanaman liar sangat mungkin terjadi,
seperti dilaporkan Rissler dan Mellon, yaitu antara Brassica napa
transgenik dengan kerabat liarnya Brassica campestris, Hirscheldia
incana, dan Raphanus raphanistrum (Mae-Wan Ho, 1997).
Kekhawatiran terhadap produk GM memunculkan "Surat Terbuka Ilmuwan
Dunia kepada Seluruh Pemerintah Dunia". Surat tertanggal 21 Oktober
1999 itu ditandatangani 136 ilmuwan dari 27 negara. Isinya, antara lain
meminta penghentian segera seluruh pelepasan tanaman rekayasa genetika (Genetically
Modified Crops) dan juga produk rekayasa gen (Genetically Modified
Products). Alasannya, tanaman GM tidak memberikan keuntungan. Hasil
panennya secara signifikan rendah dan butuh lebih banyak herbisida. Makin
memperkuat monopoli perusahan atas bahan pangan dan memiskinkan petani
kecil. Mencegah perubahan mendasar pada upaya pertanian berkelanjutan yang
dapat menjamin keamanan pangan dan kesehatan dunia.
Selain itu juga berbahaya terhadap keanekaragaman hayati dan kesehatan
manusia dan hewan. Penyebaran horizontal gen penanda (marker genes)
yang tahan antibiotika dalam tanaman transgenik dapat mempersulit pengobatan
penyakit menular yang mengancam kehidupan, dan penyakit itu kemudian akan
meledak dan menyebar ke seluruh dunia.
Temuan terbaru menunjukkan, penyebaran horizontal gen penanda dan DNA
transgenik lainnya dapat terjadi, tak hanya melalui sistem pencernaan,
melainkan juga lewat saluran pernapasan karena mengirup serbuk sari atau
debu. Cauliflower mosaic viral promoter yang banyak digunakan dalam
tanaman transgenik dapat meningkatkan transfer gen secara horisontal dan
berpotensi menghasilkan virus baru yang menyebarkan penyakit baru (Berita
Bumi, Oktober 1999).
Sudah begitu jelas, kelompok pro-GM tetap bersikeras, tanaman GM dan produk
olahannya aman dan menguntungkan. Pejuang produk biotekno terobsesi
memasyarakatkan produk transgenik. Pertengahan 1990-an, pelaku agribisnis
mulai mempromosikan benih tanaman GM yang diklaim mengurangi pemakaian
pestisida dan ramah lingkungan. Entah itu jagung Bt, kapas Bt, dan kedelai
Bt, kanola yang tahan hama dan toleran herbisida.
Tanaman GM tahan hama, menurut penganjurnya, punya keuntungan ganda. Karena
dengan disisipi gen bakteri tanah Bt, sel tanaman akan menghasilkan crystalline
(Cry) protein yang bersifat toksik terhadap hama serangga tertentu. Terutana
ulat bulu dan hama penggerek yang menggerogoti tanaman Bt, tapi tidak
berbahaya bagi organisme lain.
Jagung Bt hingga golden rice
Tanaman transgenik, menurut Clive James dari International Service untuk
Acquisition of Agri-biotech Applications (ISAAA), mulai ditanam secara
komersial di Cina, lewat jenis tembakau, tahun 1992. Pada 1994 tomat lambat
matang (awet segar) FlavrSavr menjadi produk GM pertama yang ditanam untuk
dipasarkan di AS. Sejak itu, areal berbagai jenis tanaman GM melonjak. Tahun
2000, melonjak sampai 11% (setara 4,3 juta ha), dan areal tanaman GM
seluruhnya 44,2 juta ha (Scientific American, April 2001).
Dari total 44,2 juta ha, 33,5 juta ha ada di negara industri, dan 10,7 juta
ha di negara berkembang. AS sebagai negara produsen tanaman GM terbesar (68%
dari total areal GM dunia), terdiri atas tanaman kedelai, jagung, kapas, dan
kanola transgenik. Argentina (23%, meliputi kedelai, jagung, dan kapas
transgenik), Kanada (7%, kedelai, jagung, dan kanola transgenik), Cina (1%,
tanaman kapas transgenik). Negara lainnya (1%), meliputi Afrika Selatan
(jagung dan kapas GM), Australia (kapas GM), Rumania (kedelai dan kentang
GM), Meksiko (kapas GM), Bulgaria (jagung GM), Spanyol (jagung GM), Jerman
(jagung GM), Prancis (jagung GM), Uruguai (kedelai GM). Sementara di negara
Asia belum tercatat.
Dewasa ini ada lebih dari ratusan produk bioteknologi modern, dan lebih dari
seratus produk pertanian pangan telah dipasarkan (US FDA, Center for Food
Safety and Appiled Nutrition, CFS-AN handout: 1995 dalam Berita Bumi,
Desember 2000). Petani pun tinggal pilih, mau varietas yang toleran
herbisida, tahan hama, atau yang tahan penyakit. Jumlah tanaman transgenik
diprediksi meningkat cepat dalam beberapa tahun terakhir ini.
Jenis yang banyak diperkenalkan mulanya jagung, kedelai, kapas, dan kentang,
kemudian disusul tanaman buah, sayuran, dan pakan ternak. Kentang Bt NewLeaf
dari Monsanto diperkenalkan tahun 1996, dirancang tahan hama penggerek
kentang (colorado potato beetle, CPB). Varietas kentang tahan virus
dirilis tahun 1998, yang disisipi Bt tahan potato leafroll virus dan potato
virus Y (mosaic).
Varietas tanaman pakan ternak alfalfa Bt ditanam secara terbatas tahun 1997,
dirancang tahan potato leafhopper. Varietas labu tahan cucumber
mosaic virus, zucchini yellow virus, dan water melon mosaic
virus, ditanam tahun 1997 dan 1998. Kanola Liberty (glufosinate) Link
yang terdaftar di Kanada, muncul pertama kali di AS tahun 1998 - 1999,
diikuti padi (2000) dan gula bit (2001). Sebagian dari tanaman yang
direkayasa tahan herbisida (glyphosate) - gandum, gula bit, selada dan
kentang - mulai tersedia tahun 2000.
Untuk tahun 2000, kedelai, jagung, kapas, dan kanola GM masih yang paling
dominan. Areal tanamnya mencapai 16% dari 271 juta ha areal tanaman empat
komoditas itu (GM dan konvensional). Luas areal tanaman jagung keseluruhan
140 juta ha (7%-nya jagung GM), kedelai 72 juta ha (36% kedelai GM), kapas
34 juta ha (16% kapas GM), dan kanola 25 juta ha (11% kanola GM). Tahun
2000, area tanam seluruh dunia untuk varietas transgenik naik 11%
dibandingkan dengan area tanam 1999.
Area kedelai 58% dari total area GM (26,64 juta ha), jagung 23% (10,27 juta
ha), kapas 12% (5,3 juta ha), dan kanola 6% (2,65 juta ha). Keempat tanaman
GM itu toleran herbisida (74%), tahan hama (19%), atau kombinasi keduanya
(7%).
Di Indonesia, meski tidak tercatat sebagai produsen tanaman GM, kenyataannya
beberapa jenis komoditas transgenik sudah tumbuh di Tanah Air. Sejak
diterbitkan SK Mentan (No. 856/Kpts/HK330/9/1997), menurut Hari Hartiko
dalam Berita Bumi (12/2000), di Indonesia sudah ditanam 10 tanaman
transgenik, antara lain jagung (4 jenis), kacang tanah, kapas (2 macam),
kakao, kedelai, padi, tebu, tembakau, ubi jalar, dan kentang.
Uji coba lapangan tanaman transgenik di Indonesia terkesan ditutup-tutupi.
Buktinya, sedikit pihak yang mengetahui bahwa PT Monagro Kimia (anak
perusahaan Monsanto) sudah melakukan uji coba lapangan untuk jagung Bt di
Jombang, Malang, dan Sulawesi Selatan (Berita Bumi, Oktober 1999).
Bahkan, pihak Litbang Deptan mengakui, saat ini ada 20 lokasi uji coba
tanaman transgenik tersebar di Indonesia. Ada kapas Bt, jagung Bt, kapas,
jagung, dan kedelai tahan herbisida. Sejauh ini pengujian tanaman transgenik
oleh Deptan masih terbatas pada pengamatan secara fisik.
Selain keempat komoditas utama (jagung, kedelai, kapas, dan kanola), di
dunia ini sudah beredar tanaman transgenik lain, meski masih relatif sedikit
jumlahnya. Ada kentang, labu, pepaya, melon, tomat, dan tanaman yang
direkayasa agar tahan virus, awet segar, dan bernilai gizi tinggi. Belum
lagi produk rekayasa gen yang kini baru diciptakan atau masih diteliti di
berbagai lab dengan macam-macam target pula.
Misal, baru-baru ini di Hawaii berhasil diciptakan varietas pepaya
transgenik UH Rainbow tahan terhadap virus ringspot. Di AS diteliti
tomat transgenik dengan target memperbaiki kadar nutrisi dan menunda
kematangan tomat (supaya tak cepat membusuk). Untuk kanola penghasil oilseed,
penelitian terfokus pada perbaikan mutu nutrisi kanola dengan mempertinggi
kadar vitamin E atau memodifikasi keseimbangan asam lemak.
Sementara peneliti Swiss dan Jerman, seperti diungkap dalam postnet.com,
merekayasa beras penghasil betakaroten, pro-vitamin A. Caranya, dengan
menyisipkan dua gen dari jenis bunga bakung dan satu gen dari spesies
bakteri ke tanaman padi. Untuk meningkatkan kadar zat besi, ditambahkan gen
tanaman buncis. Percobaan "golden rice" ini masih terus
berjalan dan akan berlangsung hingga 2003. Sementara itu IRRI telah
melakukan uji lapangan perdana bagi tanaman GM tahan penyakit karena
bakteri.
Tidak ketinggalan, pisang direkayasa untuk menghasilkan vaksin yang dapat
dimakan untuk melawan penyakit infeksi. Baru-baru ini dilakukan evaluasi
terhadap produk pisang transegenik berisi virus non-aktif (dilemahkan)
penyebab kolera, hepatitis B, dan diare (colostate.edu).
Sayuran yang ditingkatkan nilainya meliputi tomat GM yang dikembangkan
Zeneca dan Petoseed sebagai tomat berdaging tebal. Peneliti di Rutgers
University melakukan uji tanam terung Bt tahan CPB (colorado potato
beetle).
Di Indonesia pun pengembangan tanaman transgenik kini masih dilakukan,
terutama di tingkat litbang (Deptan, Batan, LIPI, dan BPPT). Komoditasnya
meliputi produk dari luar negeri dan produk dalam negeri.
Waspadai makanan olahan
Pengapalan produk pertanian AS ke luar negeri tahun 1998 perlu dicermati.
Sebab, bukan rahasia lagi, separuh dari komoditas kedelai dan sepertiga
jagung AS jelas-jelas hasil rekayasa gen. Di AS diperkirakan, sekitar 60%
dari makanan olahan di pasar swalayan - mulai dari sereal untuk sarapan
hingga softdrink - berisi bahan GM, terutama yang berbahan kedelai,
jagung, atau kanola. Begitu pula sayuran segar merupakan produk GM. Produk
makanan dari bahan transgenik juga dipasarkan di beberapa negara (Scientific
American, April 2001).
Lain dengan di Amerika, masyarakat Uni Eropa jauh-jauh hari mengharuskan
produk transgenik berlabel. Bukan rahasia lagi, produk transgenik tidak
populer di Eropa. Bahkan terhadap produk GM, sejumlah negara Eropa khawatir,
bahkan melarang (membatasi) penanaman dan mengimpor makanan
"terkontaminasi" tanaman GM (dijuluki "frankenfood").
Sikap skeptis Eropa didasari oleh tiga hal, yakni manipulasi gen
bertentangan dengan kodrat alami dan tidak etis, hasilnya berbahaya bagi
manusia, dan berdampak buruk bagi lingkungan.
Belakangan, fobia makanan produk hi-tech juga melanda Jepang.
Pemerintah Jepang mewajibkan pelabelan pada 28 produk yang mengandung
makanan rekayasa genetika. Para pembuat tahu di Jepang menanggapi
kekhawatiran masyarakat dengan beralih ke kedelai non-transgenik sehingga
membingungkan nasib 500.000 ton kedelai impor yang kebanyakan dari AS.
Sebaliknya, pihak produsen (Novartis) tetap menyatakan makanan rekayasa gen
aman. Badan Pengawasan Obat dan Makanan AS (FDA) menyatakan, strain
baru tidak perlu pelabelan khusus karena tidak ada bedanya dengan hibrida
hasil persilangan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun setuju makanan hasil
rekayasa genetika.
Jangan-jangan tahu dan tempe yang hadir di meja makan kita, juga termasuk
produk olahan dari kedelai transgenik. Mengingat bahan bakunya berupa
kedelai yang diimpor dari AS, yang jelas-jelas 50% produknya memang
transgenik.
Bila benar berdampak buruk pada lingkungan, ekosistem, kesehatan manusia dan
hewan, sebandingkah keunggulan produk GM yang digembar-gemborkan? Apa pun
risikonya, kita harus ekstra hati-hati dan cermat, sebelum menerima dan
menyebarluaskannya. (A. Hery Suyono) Baca
juga: Ikan,
Ternak dan Kayu Transgenik
|
|||||