globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan Mei 2001

Terbit Bulan Ini; Buku Kumpulan Artikel Psikologi 1

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

TANAMAN TRANSGENIK YANG KONTROVERSIAL

Laju perkembangan bioteknologi seakan tak terbendung. Ratusan macam komoditas hasil rekayasa genetika telah berhasil diciptakan, bahkan sebagian besar sudah tersebar ke seantero jagat. Mulai dari tanaman yang berembel-embel Bt yang tahan hama hingga yang toleran herbisida. Sebut saja jagung Bt, kedelai Bt, kentang Bt, kapas Bt. Bahkan sudah merambah ke komoditas lain, mulai dari sayuran hingga ikan dan ternak. Belakangan komoditas dari hasil utak-atik gen itu bikin heboh! Amankah mereka bagi lingkungan maupun kesehatan? Itu yang memancing pro-kontra.

Dua tahun lalu di Edinburgh, Scotlandia, sekelompok aktivis merusak ladang tanaman kanola. Tahun (?) di Maine, tengah malam para penjarah membabat habis 3.000-an tanaman uji coba. Di San Diego, pemrotes merusak tanaman sorgum dan menyemprotkan cat ke dinding rumah kaca. Dalam kasus ini mereka beranggapan semua tanaman itu hasil rekayasa genetika, seperti dilaporkan Scientific American, April 2001.

Di Indonesia, meski tak sampai merusak areal tanaman petani, kalangan aktivis lingkungan dan petani protes keras akan keberadaan tanaman transgenik. Empat lembaga non-pemerintah/LSM (KONPHALINDO, YLKI, PAN Indonesia, dan ICEL) terang-terangan menolak SK Mentan No. 107/Kpts/KB/430/2/2001 tentang Pelepasan Terbatas Kapas Transgenik Bt DP 5690B sebagai Varietas Unggul, dan ditanam di tujuh kabupaten di Sulsel.

Penerbitan SK Mentan itu dinilai sangat tergesa-gesa dan ceroboh. Seharusnya, lebih dulu dilakukan prosedur sesuai Peraturan Pemerintah No. 27/1999 pasal 3 ayat 1 butir f, di mana introduksi jenis hewan atau tanaman baru (kapas Bt) wajib dilakukan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL).

Meski massa Federasi Serikat Petani Indonesia (FSPI) yang berunjuk rasa di Gedung Departemen Pertanian, Jakarta, mendesak pencabutan SK itu dan menolak bibit transgenik, Mentan Bungaran Saragih tetap ngotot mempertahankan SK itu sebelum ada laporan dampak negatifnya.

Sebenarnya, ada apa dengan tanaman transgenik?

"Evolusi hijau" kedua

Keberadaan tanaman transgenik diributkan, tentu bukan tanpa alasan. Tanaman itu merupakan hasil rekayasa gen dengan cara disisipi satu atau sejumlah gen (baca boks "Teknik Membuat 'Makhluk' Transegenik"). Gen yang dimasukkan itu - disebut transgene - bisa diisolasi dari tanaman tidak sekerabat atau spesies lain sama sekali. Karena berisi transgene tadi, tanaman itu disebut genetically modified crops (GM crops). Atau, organisme yang mengalami rekayasa genetika (genetically modified organisms, GMOs).

Transgene umumnya diambil dari organisme yang memiliki sifat unggul tertentu. Misal, pada proses membuat jagung Bt tahan hama, pakar bioteknologi memanfaatkan gen bakteri tanah Bacillus thuringiensis (Bt) penghasil racun yang mematikan bagi hama tertentu. Gen Bt ini disisipkan ke rangkaian gen tanaman jagung. Sehingga tanaman resipien (jagung) juga mewarisi sifat toksis bagi hama. Ulat atau hama penggerek jagung Bt akan mati. Bahkan kupu-kupu (Lepidoptera) pengisap nektar bunga jagung bisa koit. Begitu pun racun pada kapas Bt dapat membunuh boll-worm, hama perusak tanaman kapas.

Repotnya, selain efektif melawan hama sasaran, toksin juga teridentifikasi mematikan serangga lain (nontarget). Bila hal ini terjadi, salah satu komponen ekosistem akan musnah, dan keseimbangan alam akan terganggu.

Penelitian di Universitas Cornell oleh entomolog John Losey dan koleganya, menunjukkan hasil, kupu-kupu raja yang memakan serbuk sari jagung Bt tingkat kematiannya tinggi dan pertumbuhan lambat. Serbuk sari jagung transgenik berisi toksin Bt menyebabkan kematian nyaris separuh (44%) dari ulat kupu-kupu raja. Larvanya pun ikutan tewas.

Ilmuwan protanaman GM tetap arogan dan bersikukuh, racun Bt cuma membunuh ulat tertentu, dan tidak mampu membunuh hewan lain maupun manusia yang mengkonsumsi jagung Bt. Jadi, tidak perlu mengkhawatirkan nasib serangga berguna, predator pemangsa ulat, burung atau hewan ternak pemakan daun jagung Bt. Tidak berpengaruh buruk terhadap flora dan fauna dalam tanah dan sekitarnya.

Sebaliknya, ilmuwan Swiss menyimpulkan, tanaman jagung Bt merugikan serangga bermanfaat dan racun Bt terakumulasi dalam tanah sehingga merugikan ekosistem tanah. Juga penanaman secara luas varietas Bt mempercepat terjadi evolusi resisten racun Bt pada hama serangga. Sekali hama menjadi resisten terhadap racun Bt, akan sulit mengefektifkan pengendalian hama secara hayati. Kalau itu terjadi serentak dan meluas, betapa "evolusi hijau" kedua akan terjadi. Tatanan ekosistem dan kelestarian hayati pun akan terganggu.

Dari kacamata lingkungan, menurut Prof. Dr. Hari Hartiko dari PAU Bioteknologi UGM Yogyakarta (Berita Bumi, Juni 2000), pelepasan atau pemanfaatan jenis asing (tanaman rekayasa genetika) di alam terbuka sukar ditangani karena ada kemungkinan penyebaran gen asing (gen yang disisipkan ke dalam tanaman GM) berpindah ke tanaman sekerabat yang liar atau mengubah tatanan spesifik atau sifat unggul tanaman GM itu sendiri. Seperti pada kasus serbuk sari kanola (Brassica napus) penghasil minyak nabati, yang membuahi kerabatnya dan kerabat jauhnya. Di samping ada kemungkinan produk GM dapat mengganggu kesehatan manusia dan ternak.

Lebih lanjut Hari Hartiko khawatir, perpindahan gen dapat juga terjadi pada uji lapangan, meski di lokasi yang sangat terisolasi untuk mencegah terjadi penyerbukan silang. Karena di alam banyak faktor yang berpengaruh, seperti angin, kupu-kupu, kumbang, tawon, dan burung. Tidak ada jaminan serbuk sari tidak berpindah ke kerabat tanaman itu atau gulma sehingga menjadi lebih kuat karena resisten terhadap hama. Jika kerabat dekat tanaman Bt berupa gulma, bisa-bisa menjadi resisten dan sukar dikendalikan.

Terjadinya penyerbukan silang yang akan memindahkan gen-gen asing ke tanaman lain (gulma), bisa memunculkan gulma super yang resisten hama penyakit dan herbisida. Gen-gen pengendali hama yang menyebar ke tanaman liar itu akan melenyapkan secara besar-besaran spesies serangga dan hewan. Persilangan antara tanaman transgenik dengan tanaman liar sangat mungkin terjadi, seperti dilaporkan Rissler dan Mellon, yaitu antara Brassica napa transgenik dengan kerabat liarnya Brassica campestris, Hirscheldia incana, dan Raphanus raphanistrum (Mae-Wan Ho, 1997).

Kekhawatiran terhadap produk GM memunculkan "Surat Terbuka Ilmuwan Dunia kepada Seluruh Pemerintah Dunia". Surat tertanggal 21 Oktober 1999 itu ditandatangani 136 ilmuwan dari 27 negara. Isinya, antara lain meminta penghentian segera seluruh pelepasan tanaman rekayasa genetika (Genetically Modified Crops) dan juga produk rekayasa gen (Genetically Modified Products). Alasannya, tanaman GM tidak memberikan keuntungan. Hasil panennya secara signifikan rendah dan butuh lebih banyak herbisida. Makin memperkuat monopoli perusahan atas bahan pangan dan memiskinkan petani kecil. Mencegah perubahan mendasar pada upaya pertanian berkelanjutan yang dapat menjamin keamanan pangan dan kesehatan dunia.

Selain itu juga berbahaya terhadap keanekaragaman hayati dan kesehatan manusia dan hewan. Penyebaran horizontal gen penanda (marker genes) yang tahan antibiotika dalam tanaman transgenik dapat mempersulit pengobatan penyakit menular yang mengancam kehidupan, dan penyakit itu kemudian akan meledak dan menyebar ke seluruh dunia.

Temuan terbaru menunjukkan, penyebaran horizontal gen penanda dan DNA transgenik lainnya dapat terjadi, tak hanya melalui sistem pencernaan, melainkan juga lewat saluran pernapasan karena mengirup serbuk sari atau debu. Cauliflower mosaic viral promoter yang banyak digunakan dalam tanaman transgenik dapat meningkatkan transfer gen secara horisontal dan berpotensi menghasilkan virus baru yang menyebarkan penyakit baru (Berita Bumi, Oktober 1999).

Sudah begitu jelas, kelompok pro-GM tetap bersikeras, tanaman GM dan produk olahannya aman dan menguntungkan. Pejuang produk biotekno terobsesi memasyarakatkan produk transgenik. Pertengahan 1990-an, pelaku agribisnis mulai mempromosikan benih tanaman GM yang diklaim mengurangi pemakaian pestisida dan ramah lingkungan. Entah itu jagung Bt, kapas Bt, dan kedelai Bt, kanola yang tahan hama dan toleran herbisida.

Tanaman GM tahan hama, menurut penganjurnya, punya keuntungan ganda. Karena dengan disisipi gen bakteri tanah Bt, sel tanaman akan menghasilkan crystalline (Cry) protein yang bersifat toksik terhadap hama serangga tertentu. Terutana ulat bulu dan hama penggerek yang menggerogoti tanaman Bt, tapi tidak berbahaya bagi organisme lain.

Jagung Bt hingga golden rice

Tanaman transgenik, menurut Clive James dari International Service untuk Acquisition of Agri-biotech Applications (ISAAA), mulai ditanam secara komersial di Cina, lewat jenis tembakau, tahun 1992. Pada 1994 tomat lambat matang (awet segar) FlavrSavr menjadi produk GM pertama yang ditanam untuk dipasarkan di AS. Sejak itu, areal berbagai jenis tanaman GM melonjak. Tahun 2000, melonjak sampai 11% (setara 4,3 juta ha), dan areal tanaman GM seluruhnya 44,2 juta ha (Scientific American, April 2001).

Dari total 44,2 juta ha, 33,5 juta ha ada di negara industri, dan 10,7 juta ha di negara berkembang. AS sebagai negara produsen tanaman GM terbesar (68% dari total areal GM dunia), terdiri atas tanaman kedelai, jagung, kapas, dan kanola transgenik. Argentina (23%, meliputi kedelai, jagung, dan kapas transgenik), Kanada (7%, kedelai, jagung, dan kanola transgenik), Cina (1%, tanaman kapas transgenik). Negara lainnya (1%), meliputi Afrika Selatan (jagung dan kapas GM), Australia (kapas GM), Rumania (kedelai dan kentang GM), Meksiko (kapas GM), Bulgaria (jagung GM), Spanyol (jagung GM), Jerman (jagung GM), Prancis (jagung GM), Uruguai (kedelai GM). Sementara di negara Asia belum tercatat.

Dewasa ini ada lebih dari ratusan produk bioteknologi modern, dan lebih dari seratus produk pertanian pangan telah dipasarkan (US FDA, Center for Food Safety and Appiled Nutrition, CFS-AN handout: 1995 dalam Berita Bumi, Desember 2000). Petani pun tinggal pilih, mau varietas yang toleran herbisida, tahan hama, atau yang tahan penyakit. Jumlah tanaman transgenik diprediksi meningkat cepat dalam beberapa tahun terakhir ini.

Jenis yang banyak diperkenalkan mulanya jagung, kedelai, kapas, dan kentang, kemudian disusul tanaman buah, sayuran, dan pakan ternak. Kentang Bt NewLeaf dari Monsanto diperkenalkan tahun 1996, dirancang tahan hama penggerek kentang (colorado potato beetle, CPB). Varietas kentang tahan virus dirilis tahun 1998, yang disisipi Bt tahan potato leafroll virus dan potato virus Y (mosaic).

Varietas tanaman pakan ternak alfalfa Bt ditanam secara terbatas tahun 1997, dirancang tahan potato leafhopper. Varietas labu tahan cucumber mosaic virus, zucchini yellow virus, dan water melon mosaic virus, ditanam tahun 1997 dan 1998. Kanola Liberty (glufosinate) Link yang terdaftar di Kanada, muncul pertama kali di AS tahun 1998 - 1999, diikuti padi (2000) dan gula bit (2001). Sebagian dari tanaman yang direkayasa tahan herbisida (glyphosate) - gandum, gula bit, selada dan kentang - mulai tersedia tahun 2000.

Untuk tahun 2000, kedelai, jagung, kapas, dan kanola GM masih yang paling dominan. Areal tanamnya mencapai 16% dari 271 juta ha areal tanaman empat komoditas itu (GM dan konvensional). Luas areal tanaman jagung keseluruhan 140 juta ha (7%-nya jagung GM), kedelai 72 juta ha (36% kedelai GM), kapas 34 juta ha (16% kapas GM), dan kanola 25 juta ha (11% kanola GM). Tahun 2000, area tanam seluruh dunia untuk varietas transgenik naik 11% dibandingkan dengan area tanam 1999.

Area kedelai 58% dari total area GM (26,64 juta ha), jagung 23% (10,27 juta ha), kapas 12% (5,3 juta ha), dan kanola 6% (2,65 juta ha). Keempat tanaman GM itu toleran herbisida (74%), tahan hama (19%), atau kombinasi keduanya (7%).

Di Indonesia, meski tidak tercatat sebagai produsen tanaman GM, kenyataannya beberapa jenis komoditas transgenik sudah tumbuh di Tanah Air. Sejak diterbitkan SK Mentan (No. 856/Kpts/HK330/9/1997), menurut Hari Hartiko dalam Berita Bumi (12/2000), di Indonesia sudah ditanam 10 tanaman transgenik, antara lain jagung (4 jenis), kacang tanah, kapas (2 macam), kakao, kedelai, padi, tebu, tembakau, ubi jalar, dan kentang.

Uji coba lapangan tanaman transgenik di Indonesia terkesan ditutup-tutupi. Buktinya, sedikit pihak yang mengetahui bahwa PT Monagro Kimia (anak perusahaan Monsanto) sudah melakukan uji coba lapangan untuk jagung Bt di Jombang, Malang, dan Sulawesi Selatan (Berita Bumi, Oktober 1999). Bahkan, pihak Litbang Deptan mengakui, saat ini ada 20 lokasi uji coba tanaman transgenik tersebar di Indonesia. Ada kapas Bt, jagung Bt, kapas, jagung, dan kedelai tahan herbisida. Sejauh ini pengujian tanaman transgenik oleh Deptan masih terbatas pada pengamatan secara fisik.

Selain keempat komoditas utama (jagung, kedelai, kapas, dan kanola), di dunia ini sudah beredar tanaman transgenik lain, meski masih relatif sedikit jumlahnya. Ada kentang, labu, pepaya, melon, tomat, dan tanaman yang direkayasa agar tahan virus, awet segar, dan bernilai gizi tinggi. Belum lagi produk rekayasa gen yang kini baru diciptakan atau masih diteliti di berbagai lab dengan macam-macam target pula.

Misal, baru-baru ini di Hawaii berhasil diciptakan varietas pepaya transgenik UH Rainbow tahan terhadap virus ringspot. Di AS diteliti tomat transgenik dengan target memperbaiki kadar nutrisi dan menunda kematangan tomat (supaya tak cepat membusuk). Untuk kanola penghasil oilseed, penelitian terfokus pada perbaikan mutu nutrisi kanola dengan mempertinggi kadar vitamin E atau memodifikasi keseimbangan asam lemak.

Sementara peneliti Swiss dan Jerman, seperti diungkap dalam postnet.com, merekayasa beras penghasil betakaroten, pro-vitamin A. Caranya, dengan menyisipkan dua gen dari jenis bunga bakung dan satu gen dari spesies bakteri ke tanaman padi. Untuk meningkatkan kadar zat besi, ditambahkan gen tanaman buncis. Percobaan "golden rice" ini masih terus berjalan dan akan berlangsung hingga 2003. Sementara itu IRRI telah melakukan uji lapangan perdana bagi tanaman GM tahan penyakit karena bakteri.

Tidak ketinggalan, pisang direkayasa untuk menghasilkan vaksin yang dapat dimakan untuk melawan penyakit infeksi. Baru-baru ini dilakukan evaluasi terhadap produk pisang transegenik berisi virus non-aktif (dilemahkan) penyebab kolera, hepatitis B, dan diare (colostate.edu).

Sayuran yang ditingkatkan nilainya meliputi tomat GM yang dikembangkan Zeneca dan Petoseed sebagai tomat berdaging tebal. Peneliti di Rutgers University melakukan uji tanam terung Bt tahan CPB (colorado potato beetle).

Di Indonesia pun pengembangan tanaman transgenik kini masih dilakukan, terutama di tingkat litbang (Deptan, Batan, LIPI, dan BPPT). Komoditasnya meliputi produk dari luar negeri dan produk dalam negeri.

Waspadai makanan olahan

Pengapalan produk pertanian AS ke luar negeri tahun 1998 perlu dicermati. Sebab, bukan rahasia lagi, separuh dari komoditas kedelai dan sepertiga jagung AS jelas-jelas hasil rekayasa gen. Di AS diperkirakan, sekitar 60% dari makanan olahan di pasar swalayan - mulai dari sereal untuk sarapan hingga softdrink - berisi bahan GM, terutama yang berbahan kedelai, jagung, atau kanola. Begitu pula sayuran segar merupakan produk GM. Produk makanan dari bahan transgenik juga dipasarkan di beberapa negara (Scientific American, April 2001).

Lain dengan di Amerika, masyarakat Uni Eropa jauh-jauh hari mengharuskan produk transgenik berlabel. Bukan rahasia lagi, produk transgenik tidak populer di Eropa. Bahkan terhadap produk GM, sejumlah negara Eropa khawatir, bahkan melarang (membatasi) penanaman dan mengimpor makanan "terkontaminasi" tanaman GM (dijuluki "frankenfood"). Sikap skeptis Eropa didasari oleh tiga hal, yakni manipulasi gen bertentangan dengan kodrat alami dan tidak etis, hasilnya berbahaya bagi manusia, dan berdampak buruk bagi lingkungan.

Belakangan, fobia makanan produk hi-tech juga melanda Jepang. Pemerintah Jepang mewajibkan pelabelan pada 28 produk yang mengandung makanan rekayasa genetika. Para pembuat tahu di Jepang menanggapi kekhawatiran masyarakat dengan beralih ke kedelai non-transgenik sehingga membingungkan nasib 500.000 ton kedelai impor yang kebanyakan dari AS.

Sebaliknya, pihak produsen (Novartis) tetap menyatakan makanan rekayasa gen aman. Badan Pengawasan Obat dan Makanan AS (FDA) menyatakan, strain baru tidak perlu pelabelan khusus karena tidak ada bedanya dengan hibrida hasil persilangan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun setuju makanan hasil rekayasa genetika.

Jangan-jangan tahu dan tempe yang hadir di meja makan kita, juga termasuk produk olahan dari kedelai transgenik. Mengingat bahan bakunya berupa kedelai yang diimpor dari AS, yang jelas-jelas 50% produknya memang transgenik.

Bila benar berdampak buruk pada lingkungan, ekosistem, kesehatan manusia dan hewan, sebandingkah keunggulan produk GM yang digembar-gemborkan? Apa pun risikonya, kita harus ekstra hati-hati dan cermat, sebelum menerima dan menyebarluaskannya. (A. Hery Suyono)

Baca juga: Ikan, Ternak dan Kayu Transgenik

Teknik Membuat "Makhluk" Transgenik

Active Channel

© Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/


Counter by Pandawa

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej