|
|
Bulan Mei 2001
|
|
Gelinding Bola dari Masa ke Masa
Informasi tentang bola tertua dan pertama di
dunia hanya dapat ditarik dari catatan lama atau gambar grafis bola di
beberapa situs kuno. Salah satu referensi tertua ditemukan di makam
Beni-Hasan, Mesir, dari tahun 2500 SM. Yang mengeezuutkan, para
pemuda pemain bola ditampilkan ... tanpa busana!
Rupanya, bola sudah sejak dulu makan korban. Konon menurut politikus Cicero
(106 - 43 SM), permainan bola yang sudah amat populer di Romawi kuno pernah
melahirkan kasus unik di pengadilan. Ceritanya, waktu itu anak-anak biasa
bermain di jalanan. Tak terduga, bola melambung, lalu menghantam tangan
tukang cukur yang tengah mencukur jenggot pelanggannya. Celakanya, ia
mencukur dengan sebilah pisau. Tragedi pun jatuh. Pelanggan itu tewas oleh
pisau.
Bukti populernya permainan bola ditunjukkan oleh lukisan dinding dari abad I
di makam bawah tanah Roma. Pada gambar beberapa pemuda tampak bermain
lempar-lemparan bola dengan bertelanjang kaki. Selain itu, konon olahraga
serupa sepak bola juga dipakai sebagai bagian latihan militer, menandakan
permainan bola di Romawi saat itu cukup beragam.
Demikian merasuknya hobi main bola sampai-sampai tiap pagi ada saja orang
Romawi yang main bola, entah di lapangan bola atau pekarangan. Jangan kaget,
saat itu hampir setiap kediaman kaum terpandang memiliki lapangan bola!
Namun dari cukup banyaknya lukisan dinding peninggalan masyarakat Romawi
bisa disimpulkan, mereka mengenal beberapa jenis bola. Mulai dari yang
keras, yang empuk, yang melambung, yang besar, sampai yang kecil.
Bahan-bahannya pun beragam, dari bola keras nan berat terbuat dari kaca dan
batu seukuran bola boling - seperti peninggalan di Pompeii - sampai
jenis-jenis ringan yang berbahan dasar wol, kain, spons, kulit, atau bulu
unggas.
Mereka pun punya beberapa cara untuk membuat bola membal. Cara pertama,
kandung kencing babi digembungkan lalu dibungkus kuat dengan kulit sapi,
babi, atau rusa. Yang kedua, menggulung usus kambing hingga berbentuk
bundar, serta membungkusnya dengan kulit rusa. Cara terakhir, membungkus
potongan-potongan spons dengan kain. Konon hingga kini masyarakat Turki dan
Mesir masih mengenal sepak bola dengan bola spons itu.
Diduga dua bola jenis pertama memiliki daya membal yang baik, tinggal
tergantung mutu bahan dan keterampilan pembuatnya. Kalau yang ketiga? Tanda
tanya besar.
Tak hanya Romawi, pelbagai kawasan di dunia sebenarnya memiliki bola menurut
tradisinya sendiri. Bahkan pada masa yang kurang-lebih sama dengan kejayaan
Romawi, popularitas permainan bola tumbuh juga di belahan dunia yang lain.
Tepatnya di Cina, meski tak jelas nama dan jenis permainannya.
Dari Cina, seni rakyat membuat bola lalu "diekspor" ke Jepang.
Demikianlah misalnya temari alias bola sutera, menjadi seni
tradisional Jepang. Dengan diameter 7,5 - 12,5 cm, temari baru
diperkenalkan ke Jepang 500 - 600 tahun silam. Bola berbahan
potongan-potongan kimono tua itu menurut tradisi adalah buah kasih para ibu
atau nenek untuk anak atau cucunya. Kini temari juga punya fungsi
sebagai cinderamata.
Memang, ukuran dan bahan asal bola terus berubah dari waktu ke waktu seiring
perkembangan jenis dan aturan permainan yang ada. Omong-omong, bagaimana
dengan bola khas permainan di daerah kita masing-masing? (Dari pelbagai
sumber/Sht) |
|||||