globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan Maret 2001

Segera terbit buku Oei Hong Kian, Dokter Gigi Soekarno; Peranakan yang Hidup dalam Tiga Budaya

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

Kabar dari Burung Wiwik 

Karya jenaka tak selalu muncul dari orang berpenampilan lucu dan "ramai". Slamet Soeseno (16 Juni 1927 - 22 Januari 2001) sering "mengecewakan" orang yang baru mengenalnya karena pribadinya yang tenang, santun, tertib, dan teratur. Jauh dari kesan kocak dan lincah seperti tulisan-tulisannya.

Slamet Soeseno tidak seperti Tim Burton, sutradara Hollywood yang pernah menggarap komik Batman menjadi film Batman (1989) dan Batman Returns (1992), yang selain secara fisik agak "karikatural", penampilan kesehariannya pun ala komik. Tidak pula semacam Arswendo Atmowiloto, pengarang yang sehari-hari banyak canda dan berambut gondrong seperti Senopati Pamungkas, salah satu tokoh dalam cerita karyanya.

Maka, jangankan orang luar, anggota Redaksi Intisari pun kecele ketika pertama kali berjumpa dengan dirinya.

Xenia Moeis, redaktur yang memakai inisial Xn dalam tulisannya, ketika mengambil naskah saat Slamet Soeseno (SS) masih bekerja di Ditjen Perikanan Departemen Pertanian, tak menyangka berhadapan dengan seorang bapak yang tenang, serius tapi banyak senyum, dan jauh dari "ramai".

"Tulisannya yang sarat canda sangat beda dengan saat ia bicara. Sedikit, bahkan hampir tak ada bumbu jahilnya," kata Xn. "Tutur katanya tenang, runtut, dan tanpa gurauan. Baginya gurauan rupanya hanya untuk tulisan," tambah Helen Ishwara (HI).

Sewaktu belum kenal, HI punya bayangan serupa dengan banyak orang. Tulisan tentang fauna, mengherankan, dimuat di majalah hiburan Varia. "Saya senang membaca tulisannya bukan karena tertarik pada topik yang ditulisnya, tapi gayanya yang kocak. Saya membayangkan, Pak Slamet mestinya orang yang lincah dan senang bercanda," kesan HI.

Lily Wibisono, redaktur pelaksana yang berinisial LW, "Sejak saya SMA, 25 tahun lalu, saya terpikat dengan cara dia bertutur yang sangat hidup."

Pengalaman serupa dicatat G. Sujayanto yang mulai kagum pada tulisan SS sejak mahasiswa (1980-an). Waktu itu, kata Yan, inisialnya, ia haus aneka bacaan yang berhubungan dengan alam. "Buku karangannya Dari Kutu sampai Gajah tentang beragam binatang, mengusik keingintahuan saya. Dengan gaya bahasa kocak Pak Slamet menjawab keingintahuan saya tanpa sedikit pun kehilangan kadar ilmiahnya."

Scientainment

Gaya penulisan itu secara singkat dikesankan oleh wakil pemimpin redaksi yang telah purnakarya, Irawati, namun masih sering menulis dengan inisial I, "Tulisannya baik."

Bahkan menurut Rudy Badil atau Bd, tulisan Pak Slamet tak cuma baik. "Banyak penulis bagus di Indonesia, namun penulis perihal fauna dan flora, rasa-rasanya cuma Pak Slamet yang paling paten," kesan Bd.

SS memang berkonsentrasi pada satu spesialisasi, dan itu ditekuninya. Pemimpin Redaksi Heru Kustara (HK), menyoroti dua hal dalam dirinya: pengetahuan yang luas dan dalam, disertai kemampuan mengelola sumber bahan tulisan dan kemampuan berbahasa asing.

"Lalu, yang membuat karya tulis ilmiahnya khas, tidak standar, karena Pak Slamet piawai bertutur sehingga tidak menimbulkan kesan menggurui melalui sense of humor yang tinggi," komentar HK.

Cita rasa humor tinggi itu sesekali muncul juga di luar tulisan. Ketika beberapa anggota Redaksi ingin berganti inisial nama, sedangkan Slamet Soeseno yang selama itu menulis dengan nama lengkap ingin membubuhkan inisial "SS" saja dalam rubrik "Halaman Hijau", Mayong S. Laksono (SL) sempat terhenyak. Pasalnya, SL mengomentari singkatan "SS" sama dengan Sylvester Stallone, tapi ia justru menimpali, "Bisa juga kepanjangan dari Sharon Stone, ha-ha-ha."

Hampir sama dengan HK, I Gede Agung Yudana, redaktur berinisial Gde, berkomentar, SS tahu betul bahwa materi ilmu pengetahuan harus menempuh jalan sederhana (kalau perlu lucu) agar mudah diterima dan dicerna. Gde menyamakan karya tulis SS dengan acara TV semacam Flora dan Fauna, Aneh Tapi Nyata, dll., yang kini bahkan jadi genre baru program TV yang diwakili saluran seperti Discovery Channel, National Geographic Channel, atau Animal Planet.

"Kalau boleh pakai istilah sendiri, tulisan Pak Slamet merupakan bentuk scientainment," komentar Gde, mengacu pada kecenderungan mutakhir orang menggabungkan sebuah disiplin dengan entertainment, membentuk definisi baru seperti infotainment, edutainment, dsb.

Jangan bikin bingung pembaca

Meski kepercayaan dirinya besar, kata LW, tak ada arogansi dalam diri Slamet Soeseno. "SS tidak menjadi 'sok tahu' walau memang banyak tahu. Sikapnya yang santun tidak lantas membuatnya kaku, formal, apalagi 'sok tua'," tambah Bd.

Ada cerita dari L.R. Supriyapto Yahya alias Ypt beberapa hari menjelang "kepergiannya". Sebelum menulis Para Lutung yang Kedodoran (Intisari Februari 2001), SS bertanya mengenai arti kata kasarung dalam legenda Lutung Kasarung. Ia mendapat jawaban memuaskan dari Ypt yang asli Bogor. Kepada Ypt pula SS pernah menawarkan pembagian royalti ketika kumpulan karangannya dibukukan pada 1995. "Oh, itu untuk Bapak semua," kata Ypt waktu itu.

Banyak karangannya telah dibukukan. Sejak Taman Firdaus Terakhir (1977), yang meraih juara I penghargaan Yayasan Buku Utama tahun itu, sampai Bisnis Sayuran Hidroponik (2000). Siti Gretiati dan Prasasti Tyas W. dari PT Gramedia Pustaka Utama, penerbit buku itu, menyatakan, kesan kuat pada SS adalah soal kesiapannya. Siap menyumbangkan pikiran dalam bentuk buku, lengkap dengan susunan outline penulisan.

Soal ilustrasi untuk kelengkapan tulisan, SS dikenal sangat rapi dan cermat memikirkannya. Maka sangat mudah bagi para awak artistik Intisari macam Joko Wahono alias Jack, M. Bisron Anwar alias Wawan (sering dipanggil si Bo), Jaimoerti JR, bahkan Anton Nugroho yang "tukang gambar", untuk menata letak naskahnya. "Tidak perlu menagih kelengkapan tulisannya," komentar si Bo.

Yang terkadang memunculkan rasa rikuh, kata si Bo, SS sering mengajak berbahasa Jawa halus, "Saya sungkan untuk menjawab karena bahasa Jawa halus saya kedodoran."

Perasaan serupa dialami Sekretaris Redaksi K. Tatik Wardayati, misalnya ketika menyampaikan ada telepon untuk SS. "Atau saat membantu memasangkan pita pada printernya," kata Tatik yang saat pertama berkenalan diberi buku Teknik Penulisan Ilmiah Populer (1993) yang ditandatangani SS.

Slamet Soeseno memang ringan membagikan "ilmu"-nya. Hery Suyono alias Rye yang sebelum di Intisari pernah dibimbing SS di Trubus menuturkan,

"Saat-saat awal, naskah saya dibabat habis karena bertele-tele. Coretan di sana-sini, ada tanda panah ke sana kemari. Dalam hati saya berkelakar, penulisnya saya atau beliau. Tapi lama-lama makin sedikit coretan menghiasi naskah, berarti saya dianggap 'lulus'."

Tentang nama Latin tumbuhan atau hewan, kata Rye, SS sangat teliti. Terlebih untuk tanaman berkhasiat obat, kriterianya sangat ketat. "Untuk bisa ditulis, tanaman obat harus pernah dikaji secara ilmiah. Paling tidak kandungan zat kimianya diketahui. Tak cuma mengandalkan pengalaman empiris."

SS juga sadar kualitas. Lebih dari itu, ia tepat waktu. Hampir tak ada tenggat yang dilanggarnya, sehingga melancarkan kerja redaksional.

Awak Redaksi yang juga kebagian buku Teknik Penulisan Ilmiah Popuper adalah Yds. Agus Surono atau Yds. Selain membubuhkan tanda tangan, SS juga menuliskan kata mutiara Everything begins from one, segala sesuatu dimulai dari yang paling sederhana.

"Salah satu pesannya ialah tulisan yang kita buat haruslah bermanfaat dan jangan membuat bingung pembaca. Apalagi kalau tulisan itu soal yang berat. Kalau malah bikin bingung, lebih baik tidak usah ditulis. Tulisan juga harus lengkap. Kalau mau menggambarkan mata, ya harus ada alisnya, bulu matanya harus kelihatan," kata Yds.

"Berpamitan"

Kepada anggota Redaksi senior, Nanny Selamihardja (Nn), SS pernah memberi resep penurun kadar kolesterol berupa rebusan daun tanjung dicampur daun salam. "Saya juga sering mendapat nasihat soal cara menjaga kesehatan," kenang Nn.

Menurut Nn pula, belakangan SS sering mengeluh tekanan darahnya di atas normal sampai-sampai kesukaannya makan daging empal terpaksa dikurangi.

Di hari terakhir, Senin 22 Januari 2001, hampir semua awak Redaksi dipamiti ketika SS pulang awal karena merasa tidak enak badan. Rupanya, itu merupakan rangkaian pamitan dia. Sabtu, 20 Januari, "berpamitan" ketika arisan dengan teman-teman dari Ditjen Perikanan. Minggu, 21 Januari, arisan keluarga. Tapi "pamit" paling menyentakkan diisyaratkan oleh burung wiwik cocomantis merulinus lanceolatus yang pagi harinya berkicau di halaman rumah Hj. Anglingsari SI SK (Als).

"Saya agak trauma, karena burung itu suka bawa 'berita sedih'," kata Als pagi itu sambil mengeluh pada suaminya. "Aku kesal sama suaranya. Tahu tidak Bap, menurut tulisan Pak Slamet, burung itu nakal banget. Ia suka menaruh telurnya di sarang burung lain dan pergi begitu saja. Burung lain yang dia suruh mengerami telurnya."

Ketika siang hari mendengar kabar Slamet Soeseno berpulang, Als jadi masygul, "Inikah arti 'kabar' dari burung wiwik yang kami bicarakan tadi pagi?" (SL)

Boks 1: Bagaimana menurut pendapat Ir. Ciputra?

Boks 2: Apa Kata Pak Jacob Oetama? 

Boks 3: Dan bagaimana menurut Anton Hilman?

Boks 4: Tulisannya Dipengaruhi Penulis Jerman

Active Channel

© 1996 - 2000 Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/

Counter by Pandawa

Jelang Milenia III

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej