|
|
Bulan Maret 2001
|
|
Kabar
dari Burung Wiwik
Slamet
Soeseno tidak seperti Tim Burton, sutradara Hollywood yang pernah
menggarap komik Batman menjadi film Batman (1989) dan Batman
Returns (1992), yang selain secara fisik agak
"karikatural", penampilan kesehariannya pun ala komik. Tidak
pula semacam Arswendo Atmowiloto, pengarang yang sehari-hari banyak
canda dan berambut gondrong seperti Senopati Pamungkas, salah satu
tokoh dalam cerita karyanya.
Maka, jangankan orang luar, anggota Redaksi Intisari pun kecele
ketika pertama kali berjumpa dengan dirinya.
Xenia Moeis, redaktur yang memakai inisial Xn dalam tulisannya,
ketika mengambil naskah saat Slamet Soeseno (SS) masih bekerja
di Ditjen Perikanan Departemen Pertanian, tak menyangka berhadapan
dengan seorang bapak yang tenang, serius tapi banyak senyum, dan jauh
dari "ramai".
"Tulisannya yang sarat canda sangat beda dengan saat ia bicara.
Sedikit, bahkan hampir tak ada bumbu jahilnya," kata Xn.
"Tutur katanya tenang, runtut, dan tanpa gurauan. Baginya gurauan
rupanya hanya untuk tulisan," tambah Helen Ishwara (HI).
Sewaktu belum kenal, HI punya bayangan serupa dengan banyak orang.
Tulisan tentang fauna, mengherankan, dimuat di majalah hiburan Varia.
"Saya senang membaca tulisannya bukan karena tertarik pada topik
yang ditulisnya, tapi gayanya yang kocak. Saya membayangkan, Pak
Slamet mestinya orang yang lincah dan senang bercanda," kesan HI.
Lily Wibisono, redaktur pelaksana yang berinisial LW,
"Sejak saya SMA, 25 tahun lalu, saya terpikat dengan cara dia
bertutur yang sangat hidup."
Pengalaman serupa dicatat G. Sujayanto yang mulai kagum pada tulisan
SS sejak mahasiswa (1980-an). Waktu itu, kata Yan, inisialnya,
ia haus aneka bacaan yang berhubungan dengan alam. "Buku
karangannya Dari Kutu sampai Gajah tentang beragam binatang,
mengusik keingintahuan saya. Dengan gaya bahasa kocak Pak Slamet
menjawab keingintahuan saya tanpa sedikit pun kehilangan kadar
ilmiahnya."
Scientainment
Gaya penulisan itu secara singkat dikesankan oleh wakil pemimpin
redaksi yang telah purnakarya, Irawati, namun masih sering menulis
dengan inisial I, "Tulisannya baik."
Bahkan menurut Rudy Badil atau Bd, tulisan Pak Slamet tak cuma
baik. "Banyak penulis bagus di Indonesia, namun penulis perihal
fauna dan flora, rasa-rasanya cuma Pak Slamet yang paling paten,"
kesan Bd.
SS memang berkonsentrasi pada satu spesialisasi, dan itu ditekuninya.
Pemimpin Redaksi Heru Kustara (HK), menyoroti dua hal dalam
dirinya: pengetahuan yang luas dan dalam, disertai kemampuan mengelola
sumber bahan tulisan dan kemampuan berbahasa asing.
"Lalu, yang membuat karya tulis ilmiahnya khas, tidak standar,
karena Pak Slamet piawai bertutur sehingga tidak menimbulkan kesan
menggurui melalui sense of humor yang tinggi," komentar
HK.
Cita rasa humor tinggi itu sesekali muncul juga di luar tulisan.
Ketika beberapa anggota Redaksi ingin berganti inisial nama, sedangkan
Slamet Soeseno yang selama itu menulis dengan nama lengkap ingin
membubuhkan inisial "SS" saja dalam rubrik "Halaman
Hijau", Mayong S. Laksono (SL) sempat terhenyak. Pasalnya,
SL mengomentari singkatan "SS" sama dengan Sylvester
Stallone, tapi ia justru menimpali, "Bisa juga kepanjangan dari
Sharon Stone, ha-ha-ha."
Hampir sama dengan HK, I Gede Agung Yudana, redaktur berinisial Gde,
berkomentar, SS tahu betul bahwa materi ilmu pengetahuan harus
menempuh jalan sederhana (kalau perlu lucu) agar mudah diterima dan
dicerna. Gde menyamakan karya tulis SS dengan acara TV semacam Flora
dan Fauna, Aneh Tapi Nyata, dll., yang kini bahkan jadi genre
baru program TV yang diwakili saluran seperti Discovery Channel,
National Geographic Channel, atau Animal Planet.
"Kalau boleh pakai istilah sendiri, tulisan Pak Slamet merupakan
bentuk scientainment," komentar Gde, mengacu pada
kecenderungan mutakhir orang menggabungkan sebuah disiplin dengan entertainment,
membentuk definisi baru seperti infotainment, edutainment,
dsb.
Jangan bikin bingung pembaca
Meski kepercayaan dirinya besar, kata LW, tak ada arogansi dalam diri
Slamet Soeseno. "SS tidak menjadi 'sok tahu' walau memang banyak
tahu. Sikapnya yang santun tidak lantas membuatnya kaku, formal,
apalagi 'sok tua'," tambah Bd.
Ada cerita dari L.R. Supriyapto Yahya alias Ypt beberapa hari
menjelang "kepergiannya". Sebelum menulis Para Lutung
yang Kedodoran (Intisari Februari 2001), SS bertanya
mengenai arti kata kasarung dalam legenda Lutung Kasarung.
Ia mendapat jawaban memuaskan dari Ypt yang asli Bogor. Kepada Ypt
pula SS pernah menawarkan pembagian royalti ketika kumpulan
karangannya dibukukan pada 1995. "Oh, itu untuk Bapak
semua," kata Ypt waktu itu.
Banyak karangannya telah dibukukan. Sejak Taman Firdaus Terakhir
(1977), yang meraih juara I penghargaan Yayasan Buku Utama tahun itu,
sampai Bisnis Sayuran Hidroponik (2000). Siti Gretiati dan
Prasasti Tyas W. dari PT Gramedia Pustaka Utama, penerbit buku itu,
menyatakan, kesan kuat pada SS adalah soal kesiapannya. Siap
menyumbangkan pikiran dalam bentuk buku, lengkap dengan susunan outline
penulisan.
Soal ilustrasi untuk kelengkapan tulisan, SS dikenal sangat rapi dan
cermat memikirkannya. Maka sangat mudah bagi para awak artistik Intisari
macam Joko Wahono alias Jack, M. Bisron Anwar alias Wawan
(sering dipanggil si Bo), Jaimoerti JR, bahkan Anton Nugroho
yang "tukang gambar", untuk menata letak naskahnya.
"Tidak perlu menagih kelengkapan tulisannya," komentar si
Bo.
Yang terkadang memunculkan rasa rikuh, kata si Bo, SS sering
mengajak berbahasa Jawa halus, "Saya sungkan untuk menjawab
karena bahasa Jawa halus saya kedodoran."
Perasaan serupa dialami Sekretaris Redaksi K. Tatik Wardayati,
misalnya ketika menyampaikan ada telepon untuk SS. "Atau saat
membantu memasangkan pita pada printernya," kata Tatik yang saat
pertama berkenalan diberi buku Teknik Penulisan Ilmiah Populer
(1993) yang ditandatangani SS.
Slamet Soeseno memang ringan membagikan "ilmu"-nya. Hery
Suyono alias Rye yang sebelum di Intisari pernah
dibimbing SS di Trubus menuturkan,
"Saat-saat awal, naskah saya dibabat habis karena bertele-tele.
Coretan di sana-sini, ada tanda panah ke sana kemari. Dalam hati saya
berkelakar, penulisnya saya atau beliau. Tapi lama-lama makin sedikit
coretan menghiasi naskah, berarti saya dianggap 'lulus'."
Tentang nama Latin tumbuhan atau hewan, kata Rye, SS sangat teliti.
Terlebih untuk tanaman berkhasiat obat, kriterianya sangat ketat.
"Untuk bisa ditulis, tanaman obat harus pernah dikaji secara
ilmiah. Paling tidak kandungan zat kimianya diketahui. Tak cuma
mengandalkan pengalaman empiris."
SS juga sadar kualitas. Lebih dari itu, ia tepat waktu. Hampir tak ada
tenggat yang dilanggarnya, sehingga melancarkan kerja redaksional.
Awak Redaksi yang juga kebagian buku Teknik Penulisan Ilmiah
Popuper adalah Yds. Agus Surono atau Yds. Selain
membubuhkan tanda tangan, SS juga menuliskan kata mutiara Everything
begins from one, segala sesuatu dimulai dari yang paling
sederhana.
"Salah satu pesannya ialah tulisan yang kita buat haruslah
bermanfaat dan jangan membuat bingung pembaca. Apalagi kalau tulisan
itu soal yang berat. Kalau malah bikin bingung, lebih baik tidak usah
ditulis. Tulisan juga harus lengkap. Kalau mau menggambarkan mata, ya
harus ada alisnya, bulu matanya harus kelihatan," kata Yds.
"Berpamitan"
Kepada anggota Redaksi senior, Nanny Selamihardja (Nn), SS
pernah memberi resep penurun kadar kolesterol berupa rebusan daun
tanjung dicampur daun salam. "Saya juga sering mendapat nasihat
soal cara menjaga kesehatan," kenang Nn.
Menurut Nn pula, belakangan SS sering mengeluh tekanan darahnya di
atas normal sampai-sampai kesukaannya makan daging empal terpaksa
dikurangi.
Di hari terakhir, Senin 22 Januari 2001, hampir semua awak Redaksi
dipamiti ketika SS pulang awal karena merasa tidak enak badan.
Rupanya, itu merupakan rangkaian pamitan dia. Sabtu, 20 Januari,
"berpamitan" ketika arisan dengan teman-teman dari Ditjen
Perikanan. Minggu, 21 Januari, arisan keluarga. Tapi "pamit"
paling menyentakkan diisyaratkan oleh burung wiwik cocomantis
merulinus lanceolatus yang pagi harinya berkicau di halaman rumah
Hj. Anglingsari SI SK (Als).
"Saya agak trauma, karena burung itu suka bawa 'berita
sedih'," kata Als pagi itu sambil mengeluh pada suaminya.
"Aku kesal sama suaranya. Tahu tidak Bap, menurut tulisan
Pak Slamet, burung itu nakal banget. Ia suka menaruh telurnya di
sarang burung lain dan pergi begitu saja. Burung lain yang dia suruh
mengerami telurnya."
Ketika siang hari mendengar kabar Slamet Soeseno berpulang, Als jadi
masygul, "Inikah arti 'kabar' dari burung wiwik yang kami
bicarakan tadi pagi?" (SL)
Boks 1: Bagaimana menurut pendapat Ir. Ciputra? Boks
2: Apa Kata Pak Jacob Oetama? |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online
|
|||||