|
|
Bulan Maret 2001
|
|
Mengukur Kadar Gula Darah Sendiri
Diabetes merupakan momok untuk banyak orang yang
menderitanya. Sayang sekali, sebagian besar tidak menyadarinya. Bahkan
mungkin lebih dari 80% penderita diabetes, kadar gulanya dalam darah tidak
terkontrol dengan baik. Padahal, mereka terancam hari tua yang tidak
menyenangkan, karena berbagai komplikasi akan terjadi bila kontrol jelek.
Sebut saja gangguan penglihatan, fungsi ginjal buruk dengan kemungkinan cuci
darah, luka yang tidak bisa sembuh dan berakhir dengan amputasi anggota
tubuh, kemunduran kesehatan pada umumnya, dsb.
Bagaimana mengontrol sendiri kadar gula dalam dalam darah sambil tetap
memperoleh regimen pengobatan dokter? Pertama (dan terpenting) harus
disadari bahwa tidak ada cara lain daripada mengendalikan diri terhadap
makanan manis (lihat Intisari Februari 2001). Pengobatan apa dan
berapa pun tidak akan berhasil jika kita tidak bisa mengontrol masukan
makanan. Kedua, gerak badan dan menjaga berat tubuh tidak berlebih,
mengurangi lemak di perut dan bagian lain. Ketiga, untuk verifikasi ukur
kadar gula setidaknya seminggu sekali untuk menilai apakah upaya kita sudah
berhasil.
Target pengobatan diabetes ialah untuk mencapai kadar gula darah yang normal
(atau mendekati), tanpa terjadi hipoglikemia. American Diabetic Association
(ADA) tahun 2000 telah menetapkan patokan nilai gula darah untuk menjamin
minimalnya risiko komplikasi diabetes. Ini agar kita bisa menikmati hidup
seperti orang normal tanpa dihantui oleh komplikasi. Kriteria itu
menyebutkan, kadar gula sebelum makan harus di antara 80 - 120 mg, dua jam
sesudah makan dan sebelum tidur (malam) harus di antara 100 - 140 mg%,
sedangkan glikoHb harus di antara 6 - 7%.
Yang disebut terakhir ini paling menentukan dan berhubungan erat dengan
adanya komplikasi. GlikoHb yang disebut juga HbA1c mencerminkan kadar gula
selama 2 - 3 bulan terakhir dan merupakan persentase kadar gula dalam sel
darah merah (yang masa hidupnya memang tiga bulan). Maka parameter ini
mencerminkan kontrol gula selama 2 - 3 bulan terakhir. Dengan alat kecil
untuk mengukur kadar gula sendiri di rumah, pengontrolan ini dapat dilakukan
meski tetap di bawah pengawasan dokter Anda.
Pengaturan dosis obat di rumah sakit sering dalam suasana artifisial,
padahal di rumah cara hidup sangat berlainan.
Benchmark ini merupakan standar yang berat sekali, karena memaksa
kita untuk mengubah pola hidup dan makan. Di sisi lain kita akan
"terjamin" (dengan batasan 'arti jaminan' dalam ilmu pengobatan)
bisa hidup lebih lama dan sehat. Dengan kemauan keras, hal ini tidak
mustahil, terutama untuk mereka yang mau menikmati kebahagiaannya selama
hidup.
Misi ini tentu harus diusahakan bersama dokter keluarga/spesialis kita yang
juga menggunakan target ini sebagai sasaran regimen pengobatannya. Tentu
dokter mau tak mau harus menyediakan waktu untuk itu, serta terus memantau
ketat perkembangan gula darah pasiennya dalam suasana hidup sehari-hari
(tidak perlu di rumah sakit yang artifisial). Sudah tentu kita sendiri dapat
memantau kemajuan atau kemundurannya berdasarkan benchmark di atas.
Target yang ditentukan oleh ADA sebenarnya sangat riel dan bisa tercapai
karena dewasa ini tersedia obat antidiabetik dengan empat macam cara kerja.
Beda dengan beberapa tahun lalu, ketika hal ini sulit dilakukan karena
insulin dan obat oral berisiko sangat besar menimbulkan hipoglikemia (kadar
gula anjlok mendadak di bawah normal). Nah, beberapa obat relatif baru kini
dapat menghindarkan hipoglikemia.
Susahnya, hipoglikemia biasanya disusul dengan hiperglikemia karena
penderita hipoglikemia akan minum/makan yang manis-manis. Hal ini tentu
menimbulkan masalah kontrol. Belum lagi efek over-correction oleh
insulin maupun obat oral yang dosisnya ditambah karena fenomena ini.
Kadar gula sebaiknya tak boleh naik-turun seperti yoyo, karena bisa
berakibat fatal. Andai ini terjadi, kita juga tidak akan menyadarinya bila
kadar gula hanya diperiksa pagi sebelum sarapan. Soalnya, nilai ini hanya
berlaku untuk menentukan dosis pengobatan, terutama insulin, bukan untuk
meraih long-term benefit. |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online |
|||||