|
|
Bulan Maret 2001
|
|
ASTERIX, PAHLAWAN GALIA Para penggemar komik tak sulit mengenal nama Uderzo dan Goscinny. Di negeri asalnya, Prancis, kedua orang itu disebut pahlawan komik. Karya mereka yang terkenal, Petualangan Asterix, menjadi kisah kepahlawanan yang kondang di seantero dunia. Cerita
tentang Asterix ber-setting sekitar tahun 20 SM, tepatnya saat
kekuasaan Romawi dipegang Julius Caesar. Romawi memang sedang jaya-jayanya
saat itu. Hampir sepertiga dunia dikuasainya.
Tapi alkisah ada satu daerah di Galia (sekarang Prancis), di sekitar benteng
Totorum, Aquarium, Laudanum, dan Compendium, yang masih bebas dari kekuasaan
Romawi. Tentu saja ini cuma isapan jempol penulisnya karena sebenarnya saat
itu semua wilayah Galia takluk di bawah kekuasaan Romawi.
Tak apa. Namanya juga cerita. Daerah merdeka itulah yang didiami oleh
Asterix dan kawan-kawannya. Dipimpin oleh Abraracourcix (Vitalitastix),
tokoh pemberani tapi selalu khawatir langit akan runtuh menimpanya,
menjadikan desanya seperti duri dalam daging bagi Caesar. Maka diutuslah
berbagai macam panglima dan tentara untuk menaklukkan desa kecil itu. Tapi
sampai bertahun-tahun, Asterix dan penduduk desa mampu memorakporandakan
pasukan Romawi.
Kunci kekuatan Asterix ternyata ada pada ramuan ajaib buatan dukun Getafix
(versi Prancisnya Panoramix). Ramuannya mampu memberikan kekuatan berlipat
ganda bagi yang meminumnya. Sayangnya, ramuan itu harus selalu diminum
sebelum sang jagoan beraksi. Itulah sebabnya Panoramix selalu membekali
sebotol ramuan setiap kali Asterix bertualang. Namun, berbeda dengan Obelix
- raksasa sahabat Asterix. Saat masih bayi, Obelix pernah tercebur ke dalam
kuali berisi ramuan ajaib itu, akibatnya tubuhnya tetap kuat walau tanpa
meminum ramuan.
Petualangan Asterix menceritakan berbagai pengalaman Asterix dalam
membebaskan kampungnya dari kekuasaan Romawi. Tak jarang ia bepergian ke
luar negeri untuk membantu sekutu-sekutunya memerangi Romawi. Tercatat
berbagai negeri seperti Inggris, Skandinavia, Belgia, Jerman (Visigoth),
Korsika, Mesir, India, Romawi, Yunani, dan Persia pernah dikunjunginya.
Dalam pengembaraannya Asterix selalu ditemani Obelix. Obelix mau mengikuti
Asterix dengan satu syarat ... ada babi hutan panggang dan pertarungan seru.
Pasangan abadi
Persahabatan Asterix dan Obelix mirip persahabatan penciptanya, Uderzo dan
Goscinny. Uderzo yang keturunan Italia dan Gozcinny yang Prancis tulen
pertama kali bertemu tahun 1950. Mereka membuat komik pertamanya, Jehan
Pistolet. Beberapa tahun kemudian keduanya menciptakan Asterix.
Sebelumnya mereka berkarya sendiri-sendiri.
Albert Uderzo memulai debutnya pada usia 14 tahun. Komik Mickey Mouse-nya
diterbitkan di Majalah Le Petit Parisien. Tahun 1956 ia melukis Clopinard.
Kemudian berturut-turut tercipta Ary Buck dan Belloy
l'Invulnerable. Kemudian ia bekerja untuk Majalah KID, Bravo,
France-Dimanche, dan France-Soir. Pada 1958, Uderzo
mengerjakan ilustrasi Oumpah-pah (bersama Goscinny) dan La Famille
Moutonet di Majalah Tintin. Tahun 1959, bersama Goscinny dan
Charlier, Uderzo mendirikan penerbitan sendiri, Pilote. Dua seri pertamanya
adalah Asterix dan Michel Tanguy.
Berbeda dengan Uderzo yang lahir di Italia, Renee Goscinny lahir di Paris
tapi besar di Buenos Aires, Argentina. Pada 1944 ia pindah ke Amerika
Serikat dan bekerja pada agen perdagangan. Empat tahun kemudian ia bekerja
di studio yang dipenuhi penulis terkenal seperti Harvey Kurtzman, Will
Elder, dan John Severin. Tiga tahun kemudian Goscinny kembali ke Eropa dan
bekerja di kantor Surat Kabar Dick Dicks, kemudian World Press.
Sejak 1956 Goscinny menghasilkan berbagai karya seperti Spaghetti
bersama Dino Attanasio, Strapontin bersama Berck, Prudence
Petitpas bersama Marechal, Modeste et Pompon bersama Franquin,
serta Oumpah-pah bersama Uderzo. Ia juga menulis Lili Mannequin
(bersama Will tahun 1957) di Majalah Paris-Flirt. Le Capitaine
Bibobu yang dilukisnya sendiri, juga Pistolin, La Fee Aveline,
serta Petit Nicolas yang ilustrasinya dikerjakan oleh Sempe.
Meski telah menghasilkan banyak karya, masterpiece keduanya
sebenarnya adalah Petualangan Asterix. Duet ini bertahan hingga
Goscinny mengembuskan napas terakhir tahun 1977 karena serangan jantung.
Tapi sebelum meninggal, Goscinny masih meninggalkan satu naskah cerita, Asterix
in Belgium (Asterix di Belgia).
Sepeninggal sahabatnya, Uderzo tidak patah semangat. Dibantu putranya, ia
melanjutkan pembuatan kisah Asterix.
Hingga kini tercatat 30 buah komik dengan judul Asterix, termasuk
enam seri karya tunggal Uderzo. Tentu saja kualitasnya tidak sebaik karya
berduanya dengan Goscinny. Tapi tidak semuanya jelek. Asterix & Son
(Le Fils d'Asterix, 1986) dan Asterix'Odysse (1981) termasuk
bagus. Pada tahun 1980, Uderzo mendirikan Les Editions Albert-Renee yang
menerbitkan komik-komik Asterix.
Difilmkan pun laris
Asterix terbit pertama kali tahun 1959 di komik terbitan Pilote.
Nomor perdana ini hanya dicetak 6.000 eksemplar. Baru edisi kedua, La
Serpe d'or (Asterix and the Golden Sickle), laku hingga 20.000
kopi. Tapi sukses besar diraih saat pemunculan komik Asterix dan
Cleopatra pada 1965. Sampai awal 1967, lebih dari satu juta kopi
terjual.
Pilote terus menerbitkan Asterix hingga jilid ke-20. Komik terakhir
adalah Asterix di Korsika. Sedangkan episode Le Cadeau de Caesar
diterbitkan oleh Sud-Quest pada tahun 1975. Komik berikutnya diterbitkan
oleh Le Nouvel Observateur.
Antara 1961 - 1974 telah terjual 22 juta kopi Asterix, setara dengan
22 album Tintin. Komik terakhir berjudul La Galeve d'Obelix,
terbit pada 1966. Semuanya telah diterjemahkan ke dalam 70 bahasa.
Sebagai sebuah produk massa, Asterix juga cukup berhasil. Sukses di
komik, Asterix melangkah ke dunia lain, yaitu film. Mula-mula muncul video
kartunnya, dan belakangan versi manusianya. Film karya Claude Zidi berjudul Asterix
and Obelix versus Caesar laris seperti kacang goreng. Film yang antara
lain dibintangi Gerard Depardieu dan Christian Clavier ini videonya laku
hingga 1,2 juta buah. Sedangkan DVD-nya laku 40.000 keping. Versi layar
lebarnya ditonton lebih dari 20 juta orang. Di Prancis disaksikan 9 juta
pasang mata dan di Jerman 4 juta penonton.
Winston Churchill dan The Beatles juga muncul
Kekuatan karya duet Uderzo dan Goscinny terletak pada karakternya yang
kompleks dan sangat berbau Prancis. Seperti biasanya, musuh selalu
digambarkan sebagai pecundang. Pasukan Romawi digambarkan sebagai sekumpulan
orang dungu dan selalu kalah perang. Setiap adegan pertempuran selalu kocak
dan konyol. Pengarangnya meledek orang Romawi habis-habisan. Padahal leluhur
Uderzo adalah orang Romawi. Tapi itu tak mengalanginya menggambarkan betapa
konyolnya pasukan nenek moyang bangsa Italia itu. Lucunya, film itu juga
laris di Italia.
Asterix dengan cerdik menyentil masalah-masalah modern dengan setting
masa Romawi kuno. Maka gaya hidup konsumerisme dan perang dagang muncul
dalam Obelix et Campagnie. Atau emansipasi wanita dalam La Rose et
la Glaive.
Goscinny tidak lupa menambahkan tokoh-tokoh sejarah sebagai pemanis. Selain
Julius Caesar yang benar-benar pernah hidup, hadir juga Cleopatra dan
Brutus. Tokoh-tokoh modern macam Winston Churchill, Edith Creeson (mantan
Perdana Menteri Prancis), Charles De Gaulle, Brigitte Bardot, Sean Connery,
dan The Beatles diselipkan juga dengan nama samaran.
Cerita menarik itu menjadi hidup di tangan Uderzo. Kalau karakternya
digambarkan berhidung besar dan kaki kecil, maka bangunan-bangunan
sejarahnya justru digambarkan megah dan mendetail. Lihatlah bagaimana
Goscinny menggambarkan detail Koloseum, teater di Olimpus, atau istana
Cleopatra di Mesir. Detailnya cukup sempurna. Mungkin hanya Herge (pelukis
dan penulis Tintin) yang mampu menandinginya. Lukisan Uderzo makin
indah berkat warna-warna menawan. Untuk itu ia harus mengerahkan anak
buahnya karena ternyata ia ... buta warna!
Dituduh pembenci wanita
Ada yang kurang dalam petualangan Asterix, yakni peran kaum perempuan.
Wanita hanya muncul sebagai pemanis. Memang ada istri kepala suku yang
cerewet, atau istri yang seksi dan mirip Brigitte Bardot. Tetapi peran
mereka terlalu kecil dibandingkan dengan kaum laki-laki. Kalau ada yang
menonjol, mungkin Cleopatralah orangnya. Ratu Mesir ini digambarkan lebih
berkuasa daripada sang Kaisar.
Kritikus menilai, kisah Asterix sebagai komik laki-laki. Kesan romantis pun
jauh dari harapan. Asterix digambarkan hanya sekali jatuh cinta dalam La
Rose et la Glaive. Selebihnya, dipenuhi adegan bak-bik-buk kaum
laki-laki.
Dalam komik pertama tokoh perempuan bahkan tidak muncul sama sekali.
Perempuan baru muncul dalam LaZizanie (1970) yang diwakili oleh Mrs.
Senilix. Dalam Le Cadeau de Cesar (Hadiah Caesar, 1974) wanita
baru digambarkan dalam jamuan terakhir. Sementara dalam La Rose et la
Glaive (Asterix dan Senjata Rahasia, 1991), Uderzo justru membuat
kesalahan fatal: keliru menggambarkan feminisme.
Dalam komik yang dibuatnya sepeninggal Goscinny itu, pasukan Romawi
menggunakan taktik baru dengan menurunkan pasukan wanita untuk menyerang
Galia dengan alasan pasukan Galia tentu tidak akan menyakiti wanita.
Sebelumnya, seorang feminis dari luar kota bernama Maestria (tokoh
karikatural dari Edith Creeson) membuat perubahan mendadak yang menyebabkan
para pria menyingkir ke hutan. Ketika pasukan wanita Romawi datang, para
wanita desa menggunakan taktik menjual pakaian dan perhiasan untuk
mengalihkan perhatian lawan. Akibatnya, pasukan Romawi tidak jadi perang,
tapi berbelanja.
Padahal dalam sejarah Prancis kuno, wanita juga ikut berperang. Tidak heran
jika komik ini dianggap melecehkan wanita dan dinilai sebagai komik Asterix
terburuk. Tapi Uderzo menangkis kecaman itu. "Saya hanya mencoba
mempermalukan Asterix dengan menggunakan feminis. Ia sama sekali tidak
berdaya melawan wanita, terutama wanita yang berkepribadian kuat,"
kilahnya.
Para pengritik juga menuduh Gosciny dan Uderzo pembenci perempuan, rasis,
dan bermental imperialisme ala De Gaulle. Sisi imperialisme diwakili Julius
Caesar, sedangkan tokoh rasis diwakili oleh Senilix. Tokoh ini dilukiskan
selalu membenci orang luar. The World Encyclopedia of Comics karya
Maurice Horn menyebutkan, "Ada beberapa hal menarik dalam komik Asterix
seperti penggunaan dialog dalam gambar lingkaran, gambar yang rapi, dan
penggambaran situasi lucu. Tapi alurnya yang menjemukan dan kegemaran
Goscinny untuk selalu menyindir, membuat komiknya tidak menyenangkan. Itulah
sebabnya Asterix selalu gagal masuk Amerika Serikat."
Tapi Asterix tetap Asterix, yang seperti kata pepatah, "Dibenci tapi
juga dirindukan." |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online
|
|||||