|
|
Bulan Maret 2001
|
|
Berkaca pada Negeri Kangguru Pelestarian
dan menjaga kebersihan lingkungan berawal dari kebiasaan. Semua orang tahu
itu. Namun untuk menjalaninya ternyata amat sulit, walau bukan sebuah
kemustahilan.
Seorang pria wisatawan asal Hongkong berdebat
dengan dua perempuan "bule" di Pantai Bondi, Sydney. Si wisatawan
bersikeras "menahan" dalam bejana plastik seekor kepiting kecil
hasil tangkapan anaknya, sementara kedua perempuan itu mendesak agar si
kepiting dilepaskan.
"Biar saja, Maam, ini hasil tangkapan anak saya. Dia senang
sekali mendapat mainan baru," kata si pria.
"Tapi ini bukan mainan. Ini makhluk hidup. Anda tak berhak menahan dia
karena tak bisa menyediakan habitatnya. Kalau Anda bawa pergi, nanti
kepiting ini akan mati," si perempuan kulit putih ngotot.
Perdebatan tak terselesaikan. Si laki-laki tetap bertahan, sementara kedua
perempuan itu tak berhasil mempengaruhi keputusan. Akhirnya, sambil
menggerutu, mereka pergi dengan ekspresi dongkol campur sedih.
Masalahnya mungkin bukan soal ada atau tidak ada larangan untuk mengganggu,
mencederai, atau mengambil setiap makhluk hidup dari pantai itu. Tapi
ketiadaan titik temu karena dilandasi perbedaan cara berpikir, barangkali
pula karena kebiasaan. Yang satu menganggap tidak apa-apa mengambil
"hanya" seekor kepiting, sementara pihak lain punya kesadaran
ekologis tanpa harus menjadi penegak kebersihan atau pelestari lingkungan.
Tidak cuma saya, orang lain juga
Di banyak negara maju, koreksi kedua perempuan itu bukan hal yang
mengada-ada. Sementara kita di sini biasa mendapati tempat wisata yang
kotor, bau, atau ekologinya rusak. Tempat yang indah dan terawat barangkali
justru mengherankan.
Di pantai kecil yang menjadi kebanggaan warga Kota Sydney itu, misalnya,
sampah dan kotoran sulit ditemui bahkan pada masa liburan ketika para
wisatawan tumplek-blek menyerupai cendol. Selain petugas kebersihan
bergaji A $ 19 (hampir Rp 100.000,-) per jam sesekali lewat sambil bawa
kantong plastik untuk memunguti sampah, kesadaran masyarakat atas kebersihan
memang merata.
Adalah pemandangan biasa, misalnya, orang yang joging atau berjalan
menyusuri pantai memungut entah gelas plastik, karton tempat makanan, tempat
rokok, atau sandal jepit buangan, lantas memindahkannya ke tempat sampah.
Tak ada rasa rikuh, malu, apalagi terhina. Malah sebaliknya, perbuatan itu
merupakan contoh nyata bagi anak-anak dan orang lain yang mau
"coba-coba" meninggalkan kotoran. Betapa "orang biasa",
bukan petugas kebersihan atau pelestari lingkungan, mudah tergerak untuk
menjaga kebersihan dan merawat lingkungan.
Di banyak tempat wisata di negara kita, kesadaran untuk merawat dan menjaga
kebersihan bukannya tidak ada. Tetapi orang-orang dengan kesadaran semacam
itu kalah pengaruhnya dibandingkan dengan mereka yang sedikit atau bahkan
tak punya kepedulian. Setiap jalur pendakian di wisata pegunungan, misalnya,
hampir selalu kotor oleh tebaran sampah. Pantai pun menderita pengotoran
sejak air berada di sungai. Orang bukannya memulai kebersihan dari diri
sendiri, namun malah berpikir sebaliknya: tidak cuma saya yang mengotori,
orang lain juga. Atau pembelaan diri semacam ini: "Ah tidak apa-apa,
cuma puntung rokok yang menyisip di antara semak-semak."
Tidak cuma memiliki, tetapi juga membutuhkan
Seorang pemerhati masalah sosial di Jakarta pernah menyatakan, rasa memiliki
(sense of belonging) rata-rata masyarakat kita rendah. Pendapat yang
agak menyinggung perasaan, namun sulit untuk dibantah rupanya. Kita tahu
banyak fasilitas umum yang rusak sebelum waktunya, juga perlengkapan dan
sarana perkotaan yang tak lagi bisa difungsikan atau bahkan hilang. Melihat
banyaknya telepon umum yang rusak, atau cepatnya penurunan kualitas gerbong
kereta api padahal belum lama diresmikan, seorang teman sejak akhir 1970-an
telah menyimpulkan, "Masyarakat kita, kalau punya barang bagus cepat
rusak; sedangkan kalau barang bekas justru awet."
Di negara maju, kerusakan – bahkan perusakan - sarana umum bukannya tidak
ada. Tapi tingkat dan jumlahnya relatif rendah. Kembali berkaca dari Taman
Victoria di Sydney, misalnya, mudah ditemui keadaan yang bertolak-belakang
dengan rata-rata taman kota kita.
Selain dibiayai dengan anggaran memadai yang diambilkan dari uang pajak,
rasa memiliki masyarakat pun sangat kelihatan. "Karena setiap saat
membutuhkan tempat ini, kami jadi punya kewajiban untuk menjaganya. Tak ada
alasan untuk merusak atau mengotori, karena kami juga yang menikmati
keindahannya," kata Taufik, mahasiswa asal Indonesia di Universitas
Sydney yang kampusnya tak jauh dari taman itu.
Di tempat itu toilet umum dengan kualitas standar mudah ditemukan. Tempat
sampah pun tersebar, bahkan ada satu-dua yang memisahkan jenis sampah basah
dan kering untuk didaur ulang. Malah pernah terjadi, seorang lelaki yang
sedang berjalan-jalan dengan anjingnya merapikan patahan pagar besi yang
melintang mengalangi lajur pejalan kaki. Ada pula perempuan setengah baya
yang sebelum menghabiskan waktu untuk membaca di taman itu, menyempatkan
diri mengambili ranting-ranting dahan kering yang berserakan dan menumpuknya
di dekat tempat sampah. Taufik berkomentar,
"Di negara kita bisa jadi barang itu dibiarkan berserakan. Orang tak
merasa bertanggung jawab, menyerahkan sepenuhnya kepada petugas kebersihan
yang belum tentu tergerak untuk membereskan hal yang bukan tanggung
jawabnya."
Mengurangi konsumsi rokok
Telah lama pemerintah Australia memberlakukan larangan merokok di tempat
umum tertutup. Sedangkan larangan merokok di restoran baru diberlakukan dua
tahun belakangan. Memang ada toleransi di beberapa bar atau kafe, atau
pengelola tempat itu yang menyiasati peraturan dengan menyediakan meja di
luar ruangan, terkadang sampai di kaki lima.
Pajak rokok naik dari hari ke hari, sehingga sampai tahun ini harga
sebungkus rokok lokal berisi 25 batang mencapai A $ 7 – 8 (sekitar Rp
40.000,-). Di bandara domestik tak tersedia tempat khusus untuk merokok,
sementara di bandara internasional hanya satu tempat kecil yang letaknya
"jauh dari mana-mana". Lembaga antikanker semacam Heart Council
agresif berkampanye antirokok. Di sisi lain, kontrol terhadap emisi gas
buang kendaraan juga cukup ketat, terbukti dengan penggunaan bus "ramah
lingkungan" yang melayani para penonton olimpiade September – Oktober
tahun lalu.
Kampanye individual juga ada. Malah terkesan unik caranya. Di kawasan ramai
sesekali ada orang, entah perempuan atau lelaki setengah baya, yang meminta
rokok dari para perokok. Ia mengucapkan terima kasih dan langsung pergi
setelah diberi satu batang, tanpa menyambut tawaran api si pemberi. Sesampai
di tempat yang tidak terjangkau pengamatan pemberi, ia mematahkan rokok itu
dan membuangnya ke tempat sampah. Relawan sosial semacam itu rupanya
menganut pemahaman, dengan meminta satu batang dari setiap perokok, ia telah
berperan dalam penurunan konsumsi rokok.
Justru bisa dilakukan oleh lebih banyak orang
Ternyata tak cuma asap rokok dan asap knalpot kendaraan yang
"dimusuhi". Hampir setiap warga tahu larangan membakar
sembarangan. Sehingga tiap kali ditemui sempalan dahan kering teronggok di
sudut halaman rumah, pemilik tak bisa membakar begitu saja atau memotongnya
kecil-kecil lantas dibuang bersama dengan sampah rumah tangga. Perlu usaha
lebih untuk membawanya ke suatu tempat untuk dihancurkan petugas dewan kota.
Soal sampah rumah tangga, telah lama pula orang mengenal pemisahan jenis
yang membedakan pula tempatnya. Satu untuk sampah basah, dan satu lagi untuk
sampah kering siap didaur ulang. Sekali seminggu petugas bergaji A $ 23
(hampir Rp 120 ribu) per jam mengemudikan truk sampah berlengan mekanis
untuk mengangkat tong plastik dan menumpahkan sampah ke dalamnya.
"Kalau ada kesengajaan memasukkan sampah yang bukan jenisnya, si
petugas tahu karena di dalam truk ada kamera untuk mengamati sampah sebelum
digiling. Akibatnya, minggu depan kami kena teguran atau didenda," kata
Jeffrey Hasan, orang Indonesia yang tinggal di Campbelltown, kawasan
pinggiran Sydney, yang telah 18 tahun menetap di Australia.
Memang tidak cocok membandingkan cara penanganan sampah di tempat kita
dengan negara semaju Australia. Tapi kesadaran menjaga kebersihan dan
semangat memelihara lingkungan tidak harus berpatokan pada perbandingan itu.
Bagaimana dengan perbedaan kemakmuran? Mungkin ya. Negara makmur punya
sumber dana untuk merawat dan menjaga kebersihan. Bagaimana pula dengan
jumlah penduduk? Bukankah beban lingkungan akan besar jika kepadatan
penduduknya tinggi? Mungkin pula jawabannya ya. Tapi Ken Maynand, staf di
Fairfield City Council, wilayah pemerintahan di pinggiran Sydney, punya
argumentasi, "Justru dengan penduduk yang banyak, upaya kebersihan bisa
dilakukan bersama-sama oleh banyak orang. Kotoran lebih banyak, tapi yang
membersihkan juga banyak. Jadi klop, kan?"
Maynand pasti tidak mengerti, orang banyak yang dia maksudkan itu sangat
sulit bersatu dalam kebersamaan. Apalagi dimobilisasi dalam hal kebersihan.
(SL) |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online
|
|||||