|
|
Bulan Maret 2001
|
|
BURUNG
TAKUT DANGDUT
Sebagian besar penduduk Dendang berpenghidupan sebagai petani dengan
areal pertanian pasang surut. Maka, musim tanam pun hanya setahun
sekali, yang dimulai pada bulan Agustus.
Di bulan itu, para petani mulai menebarkan benih. Masa tanam padi
varietas tinggi itu biasanya sekitar enam bulan. Celakanya, bulan itu
bersamaan dengan musim berkumpulnya burung pemakan gabah. Akibatnya,
tidak jarang puluhan kilogram semaian padi sering habis dilalap
burung. Tak aneh, bila kemudian semaian terus-menerus dijaga, dari
pagi hingga petang.
Suatu ketika saya dikejutkan oleh bunyi lantang musik dangdut dari
arah semak belukar, tidak jauh dari tempat tinggal saya. Ternyata
bunyi itu berasal dari sebuah tape recorder lengkap dengan amplifier
dan loudspeaker-nya. Tape dengan tenaga aki itu
diletakkan di samping persemaian padi. Di sana tampak pula dua orang
sibuk menebas belukar untuk lahan tanam baru.
Dari mereka baru saya tahu, musik sengaja dibunyikan keras-keras untuk
mengusir burung pemakan gabah. Konon, upaya itu cukup manjur! Selama
ini terbukti bahwa burung pemakan gabah hanya berani berkeliaran di
sekitar lokasi persemaian.
Yang lebih lucu, di lokasi lain tampak ada petani memilih berita
berbahasa Inggris dari BBC. Padahal, si petani sama sekali tidak
mengerti bahasa Inggris. Ternyata, pendapatnya sama, cara itu pun
untuk mengusir burung. Jadi, si burung tak berani mendekat karena
mendengar bunyi radio yang serupa dengan suara sejumlah orang yang
sedang asyik ngobrol di lokasi itu. |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online
|
|||||