|
|
Bulan Maret 2001
|
|
Tewasnya
Rentenir Tua
Tanggal 19 Oktober pagi di musim gugur, seorang
warga Tokyo barat yang dikenal sebagai rentenir, Jin Yamagishi (62)
ditemukan tewas mengenaskan di rumahnya. Tetangga korban, Nakamura, yang
tinggal tak jauh dari tempat kejadian perkara (TKP), menjerit kaget saat
mendapati pria tua itu tergeletak di lantai.
Hasil autopsi menunjukkan, korban meninggal karena pendarahan otak akibat
pukulan di kepala. Tengkorak bagian belakang melesak selebar telapak tangan.
Kepala korban yang nyaris plontos, sedikit berdarah. Diduga ia dipukul dari
belakang sehingga jatuh tersungkur. Ada tanda-tanda ia mencoba merangkak
sebelum tewas.
Dari pemeriksaan isi perut, korban diperkirakan tewas sekitar tiga jam
setelah makan malam. Karena Yamagishi biasa makan malam pukul 18.00,
pembunuhan berlangsung antara pukul 21.00 - 22.00, tanggal 18 Oktober.
Kondisi kamar utama tempat korban ditemukan tetap rapi. Namun pintu lemari
di kamar sebelahnya terbuka. Cashbox hitam berisi 22 surat piutang
dan dokumen lain raib. Kain penutup tempat tidur sedikit tersingkap,
sementara seprai dan sarung bantal agak kusut. Rupanya Yamagishi sempat
turun dari ranjang dan melangkah ke kamar lain. Menurut pengakuan guru yang
menyewa kamar di lotengnya, Yamagishi biasa tidur pukul 21.00.
Menurut analisis sementara pihak kepolisian, sebelum peristiwa naas itu
Yamagishi kedatangan tamu. Ia membuka pintu depan, mempersilakan
"tamunya" masuk. Pintu dikunci dengan palang kayu, mustahil bisa
dibuka dari luar. Hanya tuan rumah yang dapat membukanya dari dalam.
Buktinya, saat korban ditemukan, palang pintu tersandar di sisi pintu.
Pertanyaannya, kenapa pria renta itu keluar kamar dan menerima tamu pada
pukul sembilan malam?
Jin Yamagishi yang memiliki kepribadian aneh dan terkenal kikir itu sejak
muda tidak mudah tertarik pada wanita. Jadi, bisa dipastikan tamu
misteriusnya seorang pria. Para tetangga tak ada yang mendengar ketukan
pintu atau suara memanggil-manggil rentenir tua itu pada malam pembunuhan.
Ada kemungkinan "tamunya" menelepon dulu sebelum datang. Yamagishi
lalu mengangkat palang pintu dan menunggunya. Bila demikian, berarti ia
mengenal "tamunya". Begitu juga sebaliknya, orang itu mengenal
korban dan tahu kebiasaannya!
Hilangnya cashbox berisi surat utang para nasabah, kuitansi
pembayaran bunga dan dokumen lain memberi petunjuk tentang si pembunuh. Si
pelaku diduga tahu isi dan tempat menyimpan cashbox. Dengan maksud
mencuri surat-surat utang itu.
Di bawah patung Buddha dalam rumah itu, polisi menemukan uang Y 150.000,
tersusun rapi. Tapi tidak ditemukan jejak si pembunuh.
Penjual bakmi ditangkap
Ada sejumlah orang yang bisa diduga sebagai pelaku tindak pembunuh keji ini,
terutama mereka yang punya alasan membenci Yamagishi. Tapi untuk menjadikan
seseorang sebagai terdakwa, paling tidak harus ada penjelasan tentang alibi
antara pukul 21.00 - 22.00 pada malam pembunuhan. Yang jelas, identitas
tersangka tentu dikenali korban dan mengetahui bahwa saat itu pasangan guru
muda penyewa loteng Yamagishi sedang pergi ke luar kota. Si tersangka
mestinya juga hafal tata ruang rumah korban dan tempat menyimpan cashbox.
Atas dasar luka parah di belakang kepala korban, orang itu berbadan kekar.
Selama proses penyelidikan, polisi sulit menemukan sidik jari pembunuh.
Kecuali sidik jari guru muda dan istrinya yang menyewa loteng rumah itu.
Namun mereka punya alibi kuat, berada di Kyushu saat pembunuhan terjadi.
Kepergian mereka karena menerima kabar duka, ibu si guru meninggal.
Di rumah korban banyak sidik jari lain, sayangnya sudah tak jelas. Mungkin
sidik jari orang-orang yang menemui korban untuk urusan utang-piutang.
Polisi belum menemukan sidik jari yang mencurigakan. Pembunuh pun tidak
meninggalkan senjata. Palang pintu yang dicurigai dipakai sebagai alat
membunuh, nampak terlalu kecil dan ringan untuk menyebabkan luka mematikan.
Lagi pula pada palang pintu tak ditemukan bekas darah, kecuali hanya sidik
jari korban.
Di belakang rumah korban ada tumpukan kayu bakar cemara yang dibelah dengan
lebar penampang sisinya 4 cm. Bisa jadi pukulan kayu itu yang menewaskan
Yamagishi. Sepuluh potongan kayu bakar diselidiki. Permukaan kayu yang tidak
beraturan menyulitkan pelacakan. Hasil penyelidikan pun nihil. Tak ditemukan
titik darah ataupun helai rambut.
Setelah jungkir balik mencari jejak pelaku, akhirnya polisi menangkap Torao
Ueki (28), dua hari setelah peristiwa pembunuhan. Penangkapan didasarkan
pada kesaksian Nakamura, tetangga korban yang melihat terdakwa ada di
seputar TKP di malam pembunuhan. Dia mengaku, ketika melongok dari jendela,
melihat seorang pria tergesa-gesa menyusuri jalan ke arah rumah Yamagishi.
Orang ini mirip Torao Ueki, pemilik restoran bakmi dekat stasiun kereta api.
Restoran bakmi yang baru dibuka tiga tahun lalu merupakan usaha baru bagi
Torao Ueki. Sebelum menekuni usaha itu, ia bekerja sebagai penjaga toko buku
loakan di pusat kota sejak usia 18 - 25 tahun. Setahun sebelum pembunuhan
terjadi, ia merenovasi dan memperluas restorannya. Ia ingin bersaing dengan
restoran bakmi yang baru dibuka di kawasan itu. Ia berharap dapat menarik
lebih banyak pelanggan. Untuk itu, Ueki meminjam uang dari Yamagishi dengan
bunga tinggi.
Targetnya meleset. Jumlah pelanggannya malah menurun. Bisnisnya merosot,
sedangkan bunga utangnya tinggi. Namun Ueki bertahan. Sayang kalau harus
tutup, karena restoran itu tepat di depan stasiun kereta. Sebuah lokasi
strategis, pikirnya.
Padahal selama itu Ueki menderita gara-gara utang. Bunganya mencapai empat
kali pokok pinjaman. Total utangnya Y 7,5 juta. Di lain pihak, lantaran
khawatir piutangnya tak terbayar, si rentenir tua tanpa belas kasihan minta
jaminan tanah dan restoran Ueki. Ini makin menyiksa batin Ueki. Muncul rasa
benci dan keinginan menghabisi Yamagishi.
Sebagai mantan tuan tanah, Jin Yamagishi membangun rumah bertingkat dan
sudah 10 tahun berbisnis pinjaman kredit kecil-kecilan. Sejak istrinya
meninggal tiga tahun silam, duda tanpa anak ini hidup sendirian. Lantai atas
rumahnya disewa pasangan guru muda. Sewanya tidak mahal, karena ada
pamrihnya! Guru yang juga pejudo Dan-2 itu sekaligus bisa dijadikan
"herder".
Reputasi Yamagishi kian jelek gara-gara mematok bunga tinggi terhadap
nasabah yang umumnya pengusaha lemah.
Awalnya mengaku
Sementara itu pengacara muda Naomi Harajima yang membela Torao Ueki mulai
mempelajari laporan pengakuan Ueki. Berikut ini pengakuan Ueki yang dibuat
di depan penyidik :
"Dua tahun lalu, saya pinjam uang dari Yamagishi. Saya sangat
menderita, karena bunganya tinggi. Belakangan, rentenir sialan itu mengancam
akan melelang restoran dan tanah saya. Ancaman itu membuat saya putus asa,
rasanya ingin bunuh diri. Tapi sebelum mati, saya ingin membunuh orang tua
itu."
"Tanggal 18 Oktober, pukul 19.00, saya, Nakada, Maeda, dan Nishikawa
bermain mahjong di Manpaiso, sekitar 200 m dari stasiun kereta. Restoran
dijaga istri saya. Ketika asyik bermain, Shibata datang, lalu menggantikan
saya. Saya pamit pukul 21.00."
"Saya ke telepon umum di depan stasiun, menghubungi Yamagishi. Saya
bilang ingin membicarakan soal penyitaan tanah. Sekarang saya sudah punya
uang Y dua juta. Harapan saya, dia mau menangguhkan penyitaan itu. Awalnya
dia tetap marah-marah, namun kemudian berubah pikiran dan bilang, 'Oke,
datang ke sini. Saya tunggu'."
Tak seorang pun dijumpainya sepanjang perjalanan ke rumah Yamagishi. Hanya
ada 12 atau 13 rumah sepanjang jalan ke sana. Rumah Nakamura cukup jauh.
Itulah sebabnya, Ueki tidak yakin apakah Nakamura bisa melihat dirinya dari
jendela.
Menurut Ueki, saat itu Yamagishi pasti menunggu sendirian. Ia tahu si guru
dan istrinya pergi ke Kyushu tiga atau empat hari sebelumnya, karena
pasangan muda itu sempat menceritakan rencana kepergian mereka kepada Ueki
saat mampir ke restorannya.
"Sebelum mengetuk pintu, saya mengambil sepotong kayu dari tumpukan di
belakang rumahnya, lalu saya sembunyikan di belakang punggung."
"Saya memanggil Yamagishi."
"'Kamu terlambat. Mari masuk!' katanya menerima saya sambil
tersenyum."
"Saya berbasa-basi, mengulur waktu. Juga bercerita tentang upaya saya
mengumpulkan Y dua juta. Saya tidak berani menyimpannya di rumah karena
takut dicuri."
Sambil melangkah ke kamar sebelah, Yamagishi mengambil dua bantal duduk dari
sudut ruangan. "'Saya membawa uang itu. Sekarang, buatkan kuitansi
pembayarannya!' kata saya. Pria tua itu melangkah ke kamar, hendak mengambil
kuitansi kosong."
"Inilah saatnya, pikir saya. Dengan satu gerakan saya memukul sekuatnya
pada bagian belakang kepalanya dengan kayu. Dia memekik kesakitan. Saya
memukulnya lagi tiga kali. Dia terjerembab tidak bergerak. Agar menimbulkan
kesan terjadi pencurian, saya kembalikan dua bantal alas duduk ke sudut
ruangan."
"Saya ke kamar sebelah dan menemukan cashbox dalam lemari. Saya
ingin mengambil surat utang itu. Tapi karena tidak tahu kombinasi kuncinya,
kotak itu saya bawa kabur. Sebelum pergi, saya kembalikan potongan kayu di
belakang rumah."
"Malam itu terang bulan. Setelah menyusuri jalan setapak, lalu menyusup
ke rerumputan tinggi dan rimbun, kunci cashbox saya rusak pakai batu.
Surat utang atas nama saya, beserta lima atau enam surat lain, saya ambil.
Meski samar-samar, saya dapat membaca nama-nama itu di bawah sinar bulan.
Kotak saya lempar ke kolam irigasi di sisi kanan. Saya menyusuri lapangan
perusahaan asuransi jiwa. Tak seberapa jauh, saya menyalakan korek api dan
membakar surat itu. Abunya saya gerus ke tanah."
"Beres semua itu, saya kembali ke Manpaiso, tempat teman-teman bermain
mahjong. Saya menonton sekitar 10 menit. Mereka tak tahu saya baru saja
membunuh orang. Saya juga tenang-tenang saja."
"Saya tidur nyenyak malam itu, karena sudah membakar surat-surat itu.
Yamagishi tidak punya ahli waris sehingga utang saya terhapus sudah. Saya
amat lega dan bahagia."
Besoknya, berita kematian Yamagishi menggemparkan kawasan itu. Namun tak ada
yang berduka. Menurut Ueki, rentenir itu layak mati. Dua hari kemudian, dua
polisi menjemputnya ketika ia sedang menonton televisi di restoran.
Belakangan menyangkal
Tibalah saatnya perkara pembunuhan rentenir ini disidangkan. Ternyata di
hadapan penuntut umum, Torao Ueki menyangkal semua tuduhan yang dialamatkan
kepadanya. Pengakuan itu, katanya, dibuat di bawah tekanan dan siksaan
psikis dari penyidik.
"Sejak awal saya katakan, saya tidak membunuh Yamagishi. Tapi polisi
tak menggubris. Satu per satu mereka masuk ruang penyidikan dan mengatakan
telah menemukan cashbox di kolam. Kunci kotak itu rusak, 22 surat
utang basah, termasuk surat utang atas nama saya senilai Y 7,5 juta. Setelah
isi cashbox dicocokkan dengan catatan Yamagishi, polisi mengetahui
surat utang atas nama Tomio Inoki hilang. Mereka pun menuduh saya keliru
ambil. Surat utang atas nama Tomio Inoki terbaca Torao Ueki. Menurut polisi,
kesalahan itu bisa terjadi karena karakter hurufnya hampir sama. Apalagi
malam itu hanya diterangi cahaya bulan."
"Polisi bertanya, apakah saya mengenal Yoshiya Nakamura? Saya jawab,
tentu. Dia pelanggan saya."
"Mereka berjanji akan menggugurkan kasus ini kalau saya mau membuat
pengakuan palsu. Saya lantas mengaku saja. Setelah itu saya diperlakukan
dengan baik, diizinkan merokok, dan dipesankan makanan. Saya pun menulis
pengakuan atas instruksi mereka, termasuk diminta membuat sketsa bagian
dalam rumah Yamagishi."
"Saya tidak mengenali abu bakaran surat yang mereka temukan di
rerumputan. Bisa saja polisi membakar kertas lain yang mirip surat
utang."
"Saya merasa terperangkap kemauan polisi. 'Kan mereka berjanji
melepaskan saya. Bahkan kasus ini akan ditangguhkan jika saya mengaku. Waktu
itu saya sungguh percaya."
Setelah itu polisi membawa kembali Ueki ke rumah tahanan. Polisi juga
mengancam kalau pengakuan Ueki di pengadilan nanti berbeda dengan
pengakuannya di depan penyidik, mereka akan menjebloskannya lagi ke sel.
"Itu sebabnya di pengadilan saya katakan bahwa semuanya persis seperti
yang tertulis dalam pengakuan palsu itu. Dengan harapan setelah itu mereka
membatalkan kasus ini, lalu saya boleh pulang. Ternyata mereka bohong!"
Sulit bagi Harajima memastikan apakah pengakuan itu memang dibuat di bawah
tekanan polisi atau hanya akal-akalan sang klien. Pengakuan awal nampak
wajar. Namun, sebagai pengacara, Harajima mempertimbangkan pula pengakuan
kedua.
Di pengadilan penuntut umum menolak pengakuan kedua. Sementara terdakwa
sering berdalih pengakuan awal dibuat karena dipaksa. Namun ada bukti kuat,
antara lain menyangkut barang bukti dan kesaksian dari orang ketiga.
Torao Ueki meminjam uang dari Jin Yamagishi. Lantaran tak mampu bayar, dia
merasa terancam. Keinginannya untuk membunuh menjadi bukti tak langsung. Dia
juga tak punya alibi saat pembunuhan terjadi. Menurut kesaksian Nakada,
Maeda, Nishikawa, dan Shibata, serta manajer dan karyawan Manpaiso, dia
memang meninggalkan Manpaiso pukul 21.00 dan baru kembali pukul 22.00.
Sekarang bagaimana dengan kesaksian Yoshiya Nakamura? Dia mengaku melihat
Ueko dari jendela. Tapi tidak melihat Ueki masuk ke dalam rumah Yamagishi,
dan melakukan pembunuhan itu. Jadi bukti ini bersifat tidak langsung.
Selanjutnya, ada barang bukti berupa kayu bakar dan cashbox, namun
sidik jari Ueki tidak membekas pada kedua barang itu.
Berikut ini petikan tanya jawab antara polisi dan tersangka seputar sidik
jari pada kayu bakar:
"Dengan apa kamu memukul kepala Jin Yamagishi?" tanya polisi.
"Potongan kayu cemara," jawab tersangka.
"Seberapa panjang kayu itu?"
"Sekitar tigapuluh sentimeter."
"Kayu itu kamu sembunyikan di mana?"
"Oh. Di tumpukan kayu di belakang rumah Yamagishi. Saya telah
memikirkannya sejak berhasrat membunuhnya."
"Berarti kamu tahu kayu bakar ditumpuk di situ?"
"Ya."
"Apa yang kamu lakukan terhadap kayu itu setelah pembunuhan?"
"Mengembalikannya di tempat semula."
"Apakah kamu bisa menunjukkan potongan kayu itu?"
"Tentu, kalau tidak ada orang memindahkannya."
Dalam laporan ini tidak ada tanda-tanda Ueki dipaksa mengaku. Terdakwa
dibawa ke belakang rumah korban untuk memeriksa 35 ikat kayu tertumpuk di
bawah atap. Diambilnya potongan kayu di baris kedua dari atas. "Nah,
ini kayu yang saya pakai," ujar terdakwa.
Penyidik mengenakan kaus tangan lalu memegang potongan kayu itu. Dengan
mengenakan kaus tangan, terdakwa mengayunkan kayu itu ke kanan dan kiri.
"Benar, kayu ini," katanya.
Tidak bersalah
Menjelang persidangan berikutnya Harajima menyempatkan diri mengobrol dengan
Ueki di rutan. Pria tinggi semampai berwajah lembut pucat ini menaruh hormat
pada pengacara yang sukarela membelanya ini.
"Torao, saya pembela kasus kamu. Kamu harus jujur," kata Harajima.
"Tentu."
"Apakah kamu masih menganggap pengakuan awalmu tidak benar?"
"Sungguh, saya diperdaya polisi," sahut Ueki.
"Tentang pertanyaan yang menyudutkan?"
"Ya, ya ...."
"Katanya, kamu menunjukkan kayu bakar itu kepada penyidik."
"Bukan begitu. Justru penyidik yang menyuruh saya memilih kayu
itu."
"Kamu mau memberi kesaksian tentang itu?"
"Tentu."
"OK. Kami akan menyiapkan pembelaannya."
"Nona Harajima, saya siap membuktikan, pengakuan itu saya bikin di
bawah tekanan."
"Mau membuktikan?"
"Ya."
Ueki tersenyum. "Saya ceritakan kepada polisi bahwa malam itu Yamagishi
menerima saya, lalu mempersilakan masuk. Saat dia melangkah ke kamar lain,
saya memukulnya dengan kayu itu. Polisi tak percaya. Mereka bersikeras, saya
sempat duduk beralas bantal yang diambilkan Yamagishi, lalu mengembalikannya
ke tempat semula agar mengesankan bahwa pembunuhan dilakukan oleh pencuri,
bukan seorang yang sudah dikenal oleh korban. Akhirnya saya setuju. Tapi
sesungguhnya Jin Yamagishi tak pernah memberikan alas duduk kepada peminjam
uang. Itu yang saya alami selama ini."
"Bila pengutang dipersilakan duduk beralas bantal, mereka akan tinggal
lebih lama. Padahal rentenir itu lebih senang kalau kami cepat pamit. Tentu
bukan berarti dia tidak memberikan alas duduk kepada tamu biasa."
"Kamu punya bukti lain?"
"Surat utang atas nama saya masih ada dalam cashbox. Ini
membuktikan, saya bukan pembunuhnya. Tapi polisi mengatakan saya keliru
membaca Inoki dikira Ueki, karena saat itu gelap. Bukankah saya dituduh
membakar lima surat itu? Berarti saya membawa korek, bukan? Logikanya dengan
menyalakan korek saya pasti bisa mengecek nama itu dengan jelas. Lagipula
sidik jari saya tak ditemukan di cashbox."
"Baik. Ada lainnya?"
"Ya. Apakah kayu 'senjata pembunuhan' cocok dengan luka pada kepala
Yamagishi?"
"Maksudmu?"
"Menurut laporan dokter, tengkorak belakang Yamagishi melesak selebar
telapak tangan. Lebar penampang kayu bakar itu sekitar 4 cm. Saya tidak
yakin tiga pukulan akan meninggalkan bekas luka seperti itu. Ia harus
dipukul dengan benda lebih besar, cukup sekali saja. Itu hanya dugaan saya.
Anda harus memeriksanya."
Dalam perjalanan pulang dari rutan, Harajima memikirkan semua perkataan
Ueki. Dari 10 nasabah Yamagishi, Harajima sudah mengkonfirmasikan bahwa
memang rentenir tua itu tak pernah memberikan alas duduk kepada tamunya.
Namun menurut guru penyewa loteng rumah itu, Yamagishi memberikan bantal
duduk kepada tamu-tamunya.
Selanjutnya, Harajima minta pendapat kepada seorang temannya yang dokter
forensik. Menurut perkiraan sang dokter, untuk menyebabkan luka yang
mematikan Yamagishi cukup satu pukulan dengan senjata lebih dari 8 cm
lebarnya. "Aneh, polisi tidak melihat ini," kata dokter forensik
itu. Sementara penyidik memutuskan, kayu bakar itu sebagai senjata
pembunuhan.
Di pengadilan, Harajima minta pada ahli forensik menyampaikan pendapatnya.
Ia juga menghadirkan sejumlah orang yang bergaul dengan Jin Yamagishi
sebagai saksi. Harajima juga menanyai empat polisi yang menginterogasi Ueki
sebagai saksi.
Sayangnya, pengakuan keempat polisi itu berlawanan dengan pengakuan kedua
Ueki. Tak hanya menolak menjanjikan bebas, mereka pun mengaku tidak
melakukan paksaan apa pun, apalagi merekayasa pilihan alat pembunuh.
Ueki dongkol mendengar kesaksian polisi itu. Sidang mengalami jalan buntu.
Tiga bulan kemudian, putusan dijatuhkan. Ueki dinyatakan tidak bersalah,
karena kurang cukup bukti. Dasar putusan itu:
1. Diameter kayu yang dianggap sebagai alat pembunuhan hanya 4 cm. Menurut
hasil autopsi dokter dan kesaksian lain, lekukan pada tulang tengkorak
korban setidak-tidaknya akibat senjata seluas telapak tangan, 8 - 9 cm.
Jadi, kayu bakar itu bukan senjata pembunuh.
2. Sidik jari terdakwa tidak ditemukan pada kayu maupun cashbox milik
Jin Yamagishi.
3. Terdakwa mengaku mengambil lima dari 22 surat utang dari cashbox
dan membakarnya. Sementara dalam kotak itu masih tertinggal surat utang atas
namanya sendiri, Torao Ueki. Sedangkan kelima surat utang yang dibakar
adalah atas nama Tomio Inoki. Meskipun polisi menduga, dalam kegelapan
terdakwa telah keliru membaca nama Tomio Inoki menjadi Torao Ueki.
4. Pemeriksaan pengakuan tertulis mengungkapkan tak ada tanda paksaan agar
terdakwa mengaku. Namun, ada kesan penyidik mendesak lewat
pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan. Sebaliknya, terdakwa tetap tidak
bisa menceritakan tindak-tanduknya secara menyakinkan dan alibinya sejak
meninggalkan Manpaiso hingga dia kembali. Sementara itu kesaksian Yoshiya
Nakamura dinilai meragukan.
Menghilang dan ditemukan tewas
Setahun berlalu. Masyarakat sudah lupa akan peristiwa itu. Suatu malam,
Harajima sempat membaca buku Studies of Not-Guilty Verdicts karangan
hakim Inggris, James Hind. Jantungnya berdebar saat membaca bab penangkapan.
Diceritakan, tahun 1923, Peter Cammerton, karyawan perusahaan pelayaran di
Manchester, Inggris, ditangkap dengan tuduhan membunuh janda kaya Nyonya
Hammersham. Gara-garanya butuh uang.
Hari itu, pukul 19.00, dia bertamu dan memukul wajah wanita itu beberapa
kali dengan batang besi 50-an cm panjangnya. Setelah menjerat leher korban
dengan sabuk kulit, mengambil uang 150 ponsterling beserta perhiasan, ia
kabur.
Untuk menghilangkan jejak, pelaku kembali lagi pukul 21.00, bermaksud
membakar rumah korban. Dia sengaja menaruh lampu minyak di atas tumpukan
buku di meja tulis. Posisi pantat lampu agak miring ke tepi buku. Sedangkan
di atas lantai, dia menumpuk potongan kertas dan kain bekas. Kertas dan kain
akan segera terbakar begitu lampu terjatuh karena ada getaran kereta api
lewat di belakang rumah. Api pun menyambar rumah. Tiga jam kemudian rumah
itu terbakar. Mobil pemadam kebakaran meluncur ke tempat kejadian, namun tak
mampu memadamkan api.
Peter Cammerton ditangkap dan mengakui perbuatannya. Anehnya, belakangan dia
menyangkal, dan mengatakan dipaksa untuk mengakui itu. Di sisi lain,
pengadilan tak menemukan tanda-tanda paksaan sehingga tetap menganggap
pengakuan itu sah.
Yang bikin bingung pengakuan itu ada yang tidak cocok dengan bukti lain.
Mula-mula, dia bilang Ny. Hammersham membuka pintu sedikit, lalu dia
langsung memukul saat wajah janda itu melongok keluar pintu. Dua hari
kemudian, Cammerton bilang korban sempat mempersilakannya masuk. Mereka pun
duduk berhadapan, baru sesaat kemudian ia memukulnya.
Pada awalnya dalam sidang pengadilan, Cammerton mengaku memukul Ny.
Hammersham sekali di bagian wajah dengan batang besi. Dua hari kemudian, dia
bilang memukul dua kali. Seminggu kemudian, bilang memukul empat atau lima
kali. Namun berdasarkan kondisi tulang wajah korban, dokter menyimpulkan
penyerangan hanya berupa satu pukulan.
Polisi menunjukkan batang baja kepada Cammerton dan bertanya, "Pernah
melihat benda ini?". Cammerton tidak bisa memastikan, karena ada
beberapa besi di sana. Setelah memegang dan mengukur besi itu dengan
lengannya, dia bilang, "Tak salah lagi, itu besi yang saya
gunakan".
Luas luka di wajah korban tiga kali ukuran besi itu. Artinya, besi itu bukan
senjata dalam pembunuhan itu. Tapi, kenapa Cammerton bilang menggunakan besi
itu?
Investigasi juga gagal mengungkapkan bekas lampu minyak di lantai dekat meja
tulis di rumah itu.
Akhirnya, hakim mengumumkan terdakwa tidak bersalah, karena tak ditemukan
cukup bukti. Tak ada sidik jari atau bukti lain. Menurut teman-temannya,
tindak-tanduknya juga tak ada yang luar biasa antara waktu kejadian hingga
penangkapannya. Saat terjadi pembunuhan, dia pergi ke London. Pulangnya
mampir ke Manchester.
Pengacara Harajima merasa cerita itu mirip dengan kasus Ueki. Jangan-jangan
Ueki pernah membaca buku itu. Apalagi sejak usia 18, Ueki sempat bekerja di
toko buku loakan. Saat dia hendak membunuh Yamagishi, diduga Ueki mencoba
membuat alasan mirip cerita itu.
Pada kasus Manchester, Peter Cammerton mengakui besi sebagai senjata
pembunuhan. Sementara Ueki mengaku menggunakan potongan kayu. Belajar dari
kasus pembunuhan di Inggris itu, Ueki mengarang pengakuan yang belakangan
disangkalnya. Upaya Ueki menyontek modus operandi dari buku tersebut
berhasil, ia lolos dari jerat hukuman.
Setelah sidang pengadilan, Ueki menjual warung dan tanahnya, lalu menghilang
entah ke mana. Ia bahkan tidak menemui Harajima untuk berterima kasih.
Kecuali menelepon untuk sekadar basa-basi.
Tiba-tiba saja, Torao Ueki ditemukan tewas dalam kecelakaan lalu lintas.
Barangkali itu merupakan hukuman, atau balasan dari Tuhan? (Nonfiksi/Seicho
Matsumoto/Rye) |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online
|
|||||