globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan Maret 2001

Terbit bulan ini: Buku Oei Hong Kian, Dokter Gigi Soekarno

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

The Power to Reject  

Ketidakakuran antarwarga bangsa yang akhir-akhir ini merebak dalam nuansa pertikaian antarkelompok elite, antarsuku, atau antarkelompok agama, kendati tidak selalu mencapai tingkat yang mengkhawatirkan, patut diwaspadai agar tidak makin merebak menjadi disintegrasi yang merugikan bangsa Indonesia.

Berbagai nuansa ketidakakuran tersebut bisa mencerminkan meresapnya kecenderungan manusia untuk selalu menolak apa pun yang menghampiri dirinya. Menurut filsuf Jean Baudrillard, penulis artikel "Drives and Repulsions" dalam buku The Transparency of Evil, alih bahasa James Benedict (Verso, London, 1999), kemungkinan semua ini berakar pada kekuatan kejiwaan yang disebut the power to reject, atau daya kekuatan untuk menolak.

Istilah tersebut membawa makna penting yang mewakili suatu kecenderungan manusia belakangan ini, untuk melakukan penolakan terhadap apa pun yang menghampiri dirinya. Akar dari munculnya kecenderungan itu adalah rasa muak dan hilangnya selera, yang meresap dalam jiwa manusia masa kini.

Parahnya penghayatan rasa muak serta hilangnya selera alamiah di tengah dinamika jiwa manusia, bisa terjadi karena khazanah jiwa kita terlalu banyak dibanjiri idea, citra, kesan, pesan, rangsangan, dalam kurun waktu yang seolah tidak berujung. Seperti kita lihat, dunia masa kini cenderung dicekoki sedemikian banyak idea, citra, pesan, rangsangan, yang membanjiri jiwa manusia lewat teknologi informasi dan komunikasi canggih yang makin lama meresap ke seluruh pelosok kehidupan manusia. Nah, ketika rasa muak serta hilangnya selera alamiah wajar di tengah dinamika jiwa manusia semakin parah, timbullah kekuatan jiwani untuk menolak. Ini bagaikan reaksi alergi atau hipersensitivitas yang ditandai penolakan luar biasa terhadap alergen.

Repotnya, dalam keadaan demikian penolakan biasanya bersifat berlebihan, cenderung irasional, dan tidak proporsional. Kalau sudah begini, manusia lalu tampil sebagai orang yang selalu menolak apa saja yang menghampirinya. Apa pun yang disampaikan atau dikatakan orang lain, cenderung selalu ditanggapi dengan reaksi penolakan dalam berbagai nuansa. Bahkan secara tanpa disadari, manusia juga menolak dirinya sendiri, sehingga dia tidak bisa mencintai dirinya sendiri secara wajar. Keadaan ini bisa lebih parah kalau sampai terbentuk persepsi sikap dan tindakan yang diwarnai corak asal menolak apa pun.

Bisa dibayangkan, betapa berbahayanya "kecenderungan serba menolak" yang dilandasi oleh the power to reject, terutama pada perspektif relasi antarmanusia. Relasi antarmanusia bisa sangat kacau, rusak, dan mati, jika insan-insan yang terlibat di dalamnya digelantungi kecenderungan serba menolak. Karena hakikat relasi antarmanusia adalah pertukaran timbal balik antara seorang manusia dan manusia lain, yang ditandai sikap-tindak saling menerima dan membuahkan kondisi saling menguntungkan serta menumbuhkembangkan.

Sikap-tindak serba menolak di tengah masyarakat kita, yang di sana-sini terwujud dalam tindak asal menyalahkan, atau asal menolak, sangat mungkin merupakan bagian dari manifestasi kecenderungan perilaku serba menolak di tengah kehidupan global. Namun, pada perspektif khas Indonesia, kecenderungan perilaku ini bisa berkaitan dengan dua kondisi riil khusus yang cukup penting.

Yang pertama, rasa muak itu semakin merebak seiring dengan meluasnya korupsi dan semua varian praktik hidup tak jujur yang sedemikian kronis dan tidak kunjung berakhir. Korupsi dan semua varian praktik tak jujur setiap hari membanjiri khazanah mental warga Indonesia dalam kurun sedemikian panjang. Maka di dalam jiwa warga Indonesia menggumpal rasa muak hebat, yang kemudian mematikan selera alamiah wajar insani. Kondisi ini bisa menyuburkan bibit-bibit the power to reject, yang mengarah ke orang-orang lain, namun pula menukik ke diri sendiri.

Yang kedua, rasa muak itu berkembang seiring merebaknya kebiasaan "asal ngomong tanpa tindakan nyata yang bermanfaat dan menyelesaikan masalah". Kalau diamati secara teliti, banyak kelompok elite di Indonesia mengidap kebiasaan "cuma bicara dan bicara belaka" ini. Setidaknya kebiasaan ini terwujud dalam dua varian, yakni bicara tanpa tindak lanjut; dan berbicara tentang sesuatu yang baik, indah, serta luhur namun tidak diperkuat dengan keteladanan diri yang sepadan.

Orang yang dikenal sebagai koruptor, atau setidaknya sebagai insan yang tidak bebas dari dosa korupsi masa lampau, misalnya, bisa dengan anggunnya berbicara tentang pemberantasan korupsi. Bahkan orang itu, bagaikan insan suci murni, berani melontarkan isu kemungkinan korupsi yang dilakukan orang lain.

Kedua kondisi riil tersebut harus diperhatikan ketika kita mewaspadai bahaya the power to reject di tengah relasi antarmanusia di negeri kita. Demi perbaikan relasi antarinsan, seyogianya kini setiap warga masyarakat menyadari pentingnya menghentikan sikap-tindak serba menyalahkan dan tindak serba menolak. Memang, menolak sesuatu itu tidak selalu salah. Namun ketika sikap-tindak menolak berkembang menjadi sikap-tindak serba menolak, bisa dikatakan itu sudah berlebihan. Di tengah sifat berlebih itu terdapat pula ketidakrasionalan yang patut kita koreksi.

Agar lebih efektif, upaya mengurangi dampak buruk the power to reject harus dibarengi kerja keras terpadu berkesinambungan menipiskan praktik korupsi dan semua varian praktik ketakjujuran. Ini semua menuntut rancangan tindakan yang melibatkan kerja sama semua konstituensi proreformasi di bumi Indonesia. Maka sebaiknya konstituensi-konstituensi proreformasi tidak saling menyalahkan dan saling menolak, tapi justru diharap bisa menyisihkan kecenderungan saling menolak yang berlebih, untuk kemudian bekerja sama memberantas korupsi dan ketakjujuran.

Yang kini terjadi cukup memprihatinkan. Insan-insan dan kelompok-kelompok yang proreformasi justru bekerja sendiri-sendiri, mungkin lebih untuk kepentingan diri dan kelompok sendiri ketimbang untuk masyarakat luas, bangsa, dan negara. Kalau begitu terus, relasi antarinsan di bumi negeri Indonesia akan makin buruk. ( dr. Limas Sutanto, D.S.J., pengamat psikososial dari STFT Widya Sasana, Malang. )

Active Channel

© 1996 - 2000 Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/


Counter by Pandawa


Jelang Milenia III

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej