globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan Maret 2001

Segera terbit buku Oei Hong Kian, Dokter Gigi Soekarno; Peranakan yang Hidup dalam Tiga Budaya

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

KAPAN SUAMI SAYA DIAUTOPSI? 

Ketika menjalani stase di Subbagian Bedah Onkologi, RSU Dr. Hasan Sadikin, Bandung, saya sempat mendapat jatah di bangsal kelas III pria. Karena pasien yang dirawat di ruang zaal ini kalangan bawah, mereka umumnya datang dengan kasus unik, tingkah laku polos, namun tidak rewel seperti kebanyakan pasien kelas lebih tinggi. Secara pribadi saya senang sekali ngobrol dengan pasien, terutama tentang penyakitnya, sehingga umumnya hubungan saya dengan mereka lumayan akrab.

Suatu pagi, ketika memeriksa seorang pasien pada kunjungan pagi, saya dikejutkan celetukan seorang ibu.

"Kapan suami saya diautopsi, Dokter?" tanyanya. "Mengapa Pak Cecep (menunjuk pasien di sebelahnya) sudah diautopsi, sedangkan suami saya belum juga?" sambungnya.

Saya, ko-asisten (calon dokter), dan perawat tertegun sesaat ketika disuguhi pertanyaan sarapan pagi tersebut. Lalu, kami pun tak bisa membendung tawa. Sebaliknya si ibu terlihat kaget. Saya yang senang menjahili orang segera menyahut.

"Boleh ..., boleh ..., sebentar lagi kita autopsi di ruang sebelah."

Saya paham arah pertanyaan si ibu. Ia pun tahu, bahwa ruang di sebelah bangsal merupakan instalasi forensik, yakni bagian kedokteran kehakiman yang bertugas melakukan autopsi jenazah. Begitu ia akan menyanggah jawaban saya, saya segera menjelaskan bahwa yang dimaksudnya bukan autopsi melainkan biopsi.

Biopsi adalah tindakan mengambil sebagian jaringan, biasanya tumor, untuk keperluan pemeriksaan jaringan (patologi anatomi) untuk mengetahui ganas-tidaknya tumor. Sedangkan autopsi adalah pembedahan jenazah dalam rangka mencari penyebab kematian untuk kepentingan hukum. Autopsi terkadang juga dilakukan untuk tujuan penelitian demi kepentingan orang banyak. Lha wong suaminya masih gerak-gerak, bernapas, dan bisa meringis kok diminta diautopsi.

Begitu mendengarkan "kuliah" pagi dari saya si ibu pun tersipu-sipu. "Oalah, maunya nanya malah salah," ucapnya. (Bob Bachsinar)

Active Channel

© 1996 - 2000 Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/

Counter by Pandawa

Jelang Milenia III

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej