|
|
Bulan Maret 2001
|
|
KAPAN SUAMI SAYA
DIAUTOPSI?
Suatu pagi, ketika memeriksa seorang pasien pada kunjungan pagi, saya
dikejutkan celetukan seorang ibu.
"Kapan suami saya diautopsi, Dokter?" tanyanya.
"Mengapa Pak Cecep (menunjuk pasien di sebelahnya) sudah
diautopsi, sedangkan suami saya belum juga?" sambungnya.
Saya, ko-asisten (calon dokter), dan perawat tertegun sesaat ketika
disuguhi pertanyaan sarapan pagi tersebut. Lalu, kami pun tak bisa
membendung tawa. Sebaliknya si ibu terlihat kaget. Saya yang senang
menjahili orang segera menyahut.
"Boleh ..., boleh ..., sebentar lagi kita autopsi di ruang
sebelah."
Saya paham arah pertanyaan si ibu. Ia pun tahu, bahwa ruang di sebelah
bangsal merupakan instalasi forensik, yakni bagian kedokteran
kehakiman yang bertugas melakukan autopsi jenazah. Begitu ia akan
menyanggah jawaban saya, saya segera menjelaskan bahwa yang
dimaksudnya bukan autopsi melainkan biopsi.
Biopsi adalah tindakan mengambil sebagian jaringan, biasanya tumor,
untuk keperluan pemeriksaan jaringan (patologi anatomi) untuk
mengetahui ganas-tidaknya tumor. Sedangkan autopsi adalah pembedahan
jenazah dalam rangka mencari penyebab kematian untuk kepentingan
hukum. Autopsi terkadang juga dilakukan untuk tujuan penelitian demi
kepentingan orang banyak. Lha wong suaminya masih gerak-gerak,
bernapas, dan bisa meringis kok diminta diautopsi.
Begitu mendengarkan "kuliah" pagi dari saya si ibu pun
tersipu-sipu. "Oalah, maunya nanya malah salah,"
ucapnya. |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online
|
|||||