|
|
Bulan Maret 2001
|
|
DISLEKSIA TAK BERARTI
BODOH
Ada beberapa kata lagi yang ia ucapkan secara salah. Kabarnya,
pengungkapan kata-kata maupun kalimat salah tadi dilakukan secara
konsisten, yang notabene bisa menandakan ia menderita disleksia.
Pernyataan yang dipublikasikan sebuah majalah Amerika itu tentu bisa
mengurangi nilai pencalonan Bush sebagai presiden. Maka tim
kampanyenya terus berusaha menepis tuduhan itu.
Gajah jadi "jagah"
Kata disleksia diambil dari bahasa Yunani, dys yang berarti
"sulit dalam ..." dan lex (berasal dari legein,
yang artinya berbicara). Jadi, menderita disleksia berarti menderita
kesulitan yang berhubungan dengan kata atau simbol-simbol tulis.
Namun, sepanjang seseorang hanya mengalami disleksia murni saja,
menurut dr. W. Roan, psikiater, pada umumnya ia hanya mengalami suatu
gangguan perkembangan spesifik pada tahap usia tertentu. Pada saat
pertumbuhan otak dan sel otaknya sudah sempurna, ia akan dapat
mengatasinya. Namun selama mendapat gangguan ia memerlukan pelatihan
khusus untuk mengejar ketertinggalannya.
Disleksia bukan aleksia. Yang disebut belakangan ini merupakan
gangguan kemampuan membaca atau mengenali huruf serta simbol huruf
akibat kerusakan, infeksi, atau kecelakaan yang mengenai otak atau
selaput otak sehingga otak kiri korteks oksipital (bagian belakang)
terganggu. Padahal bagian otak ini berfungsi mengenali semua persepsi
lihat. Karena terjadi gangguan sambungan otak kiri dan kanan,
pemulihan aleksia menjadi jauh lebih sulit.
Bentuk klinis disleksia bisa macam-macam. Pertama, sulit menyebutkan
nama benda (anomi) amat sederhana sekalipun seperti pensil, sendok,
arloji, dll. Padahal penderita mengenal betul benda itu. Gangguan bisa
juga dalam kemampuan menuliskan huruf, misalnya b ditulis atau dibaca
d, p ditulis atau dibaca q atau sebaliknya.
Bisa juga salah dalam mengeja atau membaca rangkaian huruf tertentu,
seperti "left" dibaca atau ditulis "felt",
"band" dibaca atau ditulis "brand",
"itu" ditulis atau dibaca "uti", "gajah"
dibaca atau ditulis "jagah".
Yang menarik, disleksia ternyata tidak hanya menyangkut kemampuan baca
dan tulis, melainkan bisa juga berupa gangguan dalam mendengarkan atau
mengikuti petunjuk, bisa pula dalam kemampuan bahasa ekspresif atau
reseptif, kemampuan membaca rentetan angka, kemampuan mengingat,
kemampuan dalam mempelajari matematika atau berhitung, kemampuan
bernyanyi, memahami irama musik, dll.
Repotnya, gangguan disleksia adakalanya diikuti dengan gangguan
penyerta lain seperti mengompol sampai usia empat tahun ke atas, nakal
dan suka mengganggu teman serta mengganggu di kelas.
Tuduhan terhadap Bush tadi mungkin berkenaan dengan gangguan
ketidakmampuan mengungkapkan bahasa ekspresif. Namun, penderita
disleksia terbanyak adalah dalam belajar membaca dan menulis.
Seringkali kurang disadari bahwa fungsi pengenalan membaca, huruf, dan
bahasa merupakan kesatuan yang melibatkan begitu banyak bagian di otak
kita, yakni daya perhatian, daya persepsi pancaindera khususnya indera
lihat, dengar, raba, perspektif, daya motorik atau gerak sebagai
manifestasi menulis ucapan dan bahasa. Sebab itu bila ada gangguan
disleksia, menurut dr. Roan, kita tidak bisa hanya menyalahkan satu
bagian kecil otak, karena hal itu merupakan koordinasi dari banyak hal
terkait.
Menurut para ahli AS, gangguan emosional ditambah cacat kecil visual
para penderita menyebabkan mereka gagal "melatih" otaknya
tentang apa yang disampaikan. Adakalanya mereka mampu mengeja
huruf-hurufnya tapi sulit membaca rangkaiannya. Entah apa alasannya,
tapi sekitar 90% penderitanya adalah kaum pria.
Tidak seperti penyandang cacat mental, intelegensi anak disleksia
umumnya normal, bahkan acap kali di atas rata-rata. Walaupun sulit
membaca kata-kata, biasanya mereka tidak menjumpai kesulitan dalam
membaca angka atau not balok musik, kecuali kalau mereka menderita
disleksia angka. Jadi, jangan menganggap anak disleksia anak
terbelakang atau bodoh.
Pria dan menurun
Banyak orang terkenal seperti Sir Winston Churchill (1874 - 1965),
mantan perdana menteri Inggris, Sir Isaac Newton (1642 - 1727), ahli
fisika yang menemukan gaya tarik Bumi, Albert Einstein (1879-1955),
ahli fisika lain yang menemukan beberapa teori penting tentang kosmos,
dianggap anak bodoh sewaktu mereka kecil karena kurang berprestasi.
Namun, di kemudian hari malah dielu-elukan dunia karena prestasinya.
Prof. John Stein dari Universitas Oxford dan Prof. Tony Monaco dari
sebuah pusat penelitian tentang gen manusia, telah menemukan tiga gen
sama yang berhubungan dengan disleksia dalam sampel darah para
penderita. "Penemuan ini membuktikan bahwa disleksia memang
karena faktor keturunan atau bawaan," kata Prof Stein.
Penelitian dilakukan dengan mempelajari sampel DNA (deoxyribonucleic
acid atau sel inti) yang terdiri atas materi genetik berupa darah
dari 90 keluarga.
Anak dengan kelainan disleksia, menurut penelitian, dilahirkan dari
keluarga dengan kesulitan kronis dalam membaca atau mengeja, sekalipun
intelegensi mereka cukup tinggi. Selain itu para peneliti menemukan
bahwa susunan kromosom kaum disleksia berhubungan erat dengan sistem
kontrol imunitas. Ini menunjukkan, para penderitanya rentan terhadap
serangan dari antibodi.
Begitu seorang anak ditemukan mempunyai kelainan disleksia, berikan
terapi sedini mungkin. Latihan remedial teaching (terapi
mengulang) dengan penuh kesabaran dan ketekunan biasanya akan membantu
si anak mengatasi kesulitannya. Memberikan motivasi seperti pujian
atau hadiah kecil setiap kali ia berhasil mengatasinya akan sangat
membantu.
Untuk mereka yang memiliki gangguan penyerta, bisa ditambah dengan
terapi perilaku. Atau, tambahan terapi wicara bagi mereka yang
disertai kesulitan wicara. (Nanny Selamihardja) |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online
|
|||||