|
|
Bulan Maret 2001
|
|
Bijaksana
menggunakan air
Padahal air merupakan keperluan semua orang. Lalu timbul kerisauan,
apakah jumlah air yang tersedia di Bumi mencukupi kebutuhan yang terus
bertambah di masa mendatang? Untuk itulah, mulai sekarang kita sudah
selayaknya memanfaatkan air secara bijaksana, terutama untuk
konservasi air tanah.
Air hujan adalah sumber air primer. Tanpa air hujan tidak ada
kehidupan di Bumi. Betapa berharganya air hujan, sampai-sampai di
Jepang ada asosiasi pencinta hujan yang bernama Sumida.
Sumida adalah nama sebuah sungai besar yang mewarnai Kota Tokyo. LSM
Sumida menyediakan segala sesuatu yang menyangkut pendayagunaan air
hujan. Yang paling monumental adalah penampungan air hujan untuk
antisipasi kebakaran di daerah perkampungan. Juga penggunaan air hujan
untuk keperluan mencuci mobil, menyiram kebun dan toilet di
gedung-gedung bertingkat. Bahkan kelompok ini pun mendesain
penampungan air di atap gelanggang olahraga sumo yang luasnya mencapai
8.400 m2. Gedung-gedung pemerintah di Sumida City pun akhirnya
memanfaatkan rancangan ini. Hasilnya? Penghematan air yang ruarr
biasaaa!
Air hujan untuk mengantisipasi kebakaran (terutama di perkampungan
yang tidak bisa dimasuki mobil pemadam) merupakan contoh pemanfaatan
air secara bijaksana. Caranya amat sederhana. Tikungan atau
persimpangan yang penting di kampung itu diperluas. Satu dua rumah
diratakan. Tentu dengan ganti untung yang memadai. Di tempat
itu dibikin kolam bawah tanah. Atasnya dipakai untuk taman. Beberapa
pohon berbuah bisa ditanam di pinggiran. Lantas di tengah dipasang
pompa. Untuk penanda apakah kolam penuh terisi air atau tidak dipasang
patung dewa hujan. Bila penuh, patung itu akan berdiri tegak
mempertontonkan seluruh tubuhnya. Kalau kosong tinggal topinya saja
menutupi lubang tempat ia berdiri.
Patung dewa hujan itu disebut Jizo. Jizo ini sangat populer di masa
silam. Anak-anak sekolah suka berteduh di bawah pohon-pohon yang
mengelilingi Jizo bila hujan turun. Selain Jizo ada lagi satu peri
yang juga populer, Kappa. Mirip katak, Kappa ini biasa menghiasi ember
penampung air hujan. Roman mukanya akan sedih jika ember kosong, dan
tersenyum gembira saat penuh.
Melalui ikon dan legenda yang sudah dikenal, Sumida menyosialisasikan
program pemanfaatan air hujan. Cara lain adalah dengan mengadakan
pertemuan, membentuk cabang dan ranting perkumpulan, membuat kuis atau
cerdas cermat seputar masalah air.
Kelompok pencinta hujan ini wajib menyuluhi masyarakat tentang
berbagai manfaat air. Bermacam-macam buku, poster, dan brosur
diterbitkan untuk memuaskan dahaga masyarakat akan informasi mengenai
hujan, pembuatan bak, penyaringan air, maupun pemasangan pompa untuk
menaikkan lagi air ke lantai-lantai gedung bertingkat. Perlu diingat,
kebanyakan air disimpan di bawah tanah karena terlalu berat bila
ditampung atap. Atap berfungsi sebagai penadah saja.
Di Indonesia tradisi pemanfaatan air secara bijaksana bukannya tidak
ada. Di NTT, misalnya, masyarakat suka menyimpan air dalam buli-buli
atau gentong besar yang ditanam dalam tanah. Air dimanfaatkan hanya
jika perlu. Sayangnya, tradisi itu tidak mengalir sampai ke perkotaan
yang umumnya lebih banyak mengonsumsi air. Mengingat krisis air sudah
di depan mata (Selamatkan Air Kita, Cing, Intisari
Januari 2001), tak ada salahnya kita mengadopsi cara-cara orang Jepang
tadi. |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online
|
|||||