|
|
Bulan Maret 2001
|
|
AWAS KALENG, MAS! Sebagai pendatang baru asal Jawa Tengah yang kemudian harus tinggal di Situbondo, Jawa Timur, dengan bahasa pergaulan sehari-harinya memakai dialek Madura khas Situbondo, saya acap mengalami hal-hal menggelikan, bahkan terkadang memusingkan. Maklum, 90% penduduk Situbondo adalah etnis Madura. Ketika memanjat pohon mangga di depan rumah, seorang tetangga mengingatkan saya, "Mas, hati-hati banyak kalengnya lo!" Mendengar itu, saya terheran-heran, apa hubungan "kaleng" dengan "hati-hati"? Saya perhatikan di sekitar cuma ada sebuah kaleng, itu pun agak jauh dari pohon. Tapi, saya iyakan. Mungkin si tetangga ingin bergurau saja. Beberapa minggu kemudian, saat saya duduk dekat sebuah pohon mangga di rumah seorang teman, ia mengingatkan akan hal yang sama. Saya sungguh bingung, sebab tidak ada satu kaleng pun di atas pohon mangga itu. Saya langsung bertanya padanya, "Mana kalengnya?" Ia langsung menunjuk ke semut rang-rang (semut merah) yang merayap di batang pohon itu. Astaga, rupanya yang dimaksud "kaleng" itu semut merah. Pengalaman lucu lain terjadi saat saya menyuruh seorang murid agar membawa kaleng untuk menyirami halaman dan taman sekolah. Tebak apa yang dibawa? Benar, si murid membawa kantung plastik berisi beberapa ekor semut merah! Wah, diminta bawa kaleng, malah bawa semut. Tapi pikir saya lagi, jangan-jangan murid saya pun sama bingungnya dengan saya, kenapa pula Pak Guru menyuruh murid repot-repot membawa semut ke sekolah! (Sigit Dwi Sasongko) |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online
|
|||||