|
|
Bulan Maret 2001
|
|
Serendipiti:
Kekeliruan Positif
Kekeliruan berdampak positif disebut sebagai serendipiti,
sebuah istilah yang dipetik dari sebuah mitologi Persia kuno yang
berkisah tentang tiga pangeran Kerajaan Serendip (kini: Sri Lanka)
yang berperilaku serba keliru, namun malah berhasil membangun negara
dan bangsanya menjadi makmur-sejahtera. Maka, sesuai nama sang
kerajaan tiga pangeran serba keliru itu, perilaku keliru yang
berdampak positif dan konstruktif, disebut Serendipiti.
Suasana serendipiti banyak mewarnai kisah penemuan berbagai jenis
makanan dan minuman. Seperti misalnya minuman teh yang ditemukan
akibat air yang direbus dalam panci lupa ditutup, hingga rontokan daun
teh masuk ke dalamnya.
Roti dalam bentuk menggembung seperti sekarang ini tidak
dikenal sampai sekitar abad ke-27 SM. Semula bentuk roti datar-datar
saja seperti martabak, sampai pada suatu hari seorang budak di Mesir
yang bertugas membuat roti, seperti biasa membuat adonan tepung dan
air lalu meletakkannya ke dalam oven.
Mungkin akibat terlalu letih dan udara terlalu panas, sang budak jatuh
tertidur. Setelah bangun tidur, sang budak kaget, teringat bahwa lupa
menyalakan api oven hingga adonan menggembung hampir dua kali
lipat. Akibat udara panas di dalam oven, adonan meragi! Sang
budak bingung, cepat-cepat memasang api panggangan dengan harapan
ukuran roti susut kembali.
Ternyata adonan roti makin menggembung dan telanjur matang dengan
warna kulit kecoklatan mulus mengkilat. Karena waktu makan sudah tiba,
sang budak tidak punya pilihan lain kecuali segera menyajikan roti bengkak
itu kepada tuannya. Ternyata sang majikan dan segenap keluarga nikmat
melahapnya! Sang budak dipuji atas karya inovatif itu, dan dipaksa
untuk setiap hari membuat roti "rusak" itu! Sampai hari ini
hasil-karya keliru budak Mesir itu masih asyik dilestarikan di seluruh
dunia.
Mentega juga ditemukan lewat proses serendipiti, juga di kawasan Timur
Tengah. Unta merupakan sarana transpor utama untuk menempuh perjalanan
di gurun pasir. Biasanya bekal minuman air susu dibawa di dalam
kantung kulit yang dipikulkan ke atas punggung unta. Akibat guncangan
gontaian gerak langkah unta dan panasnya sinar matahari di gurun, susu
di dalam kantung kulit itu terkocok-kocok dan terpanasi hingga terjadi
proses pengasaman menjadi substansi kental masam. Maka lahirlah: mentega.
Ilmu farmasi kaya hasil karya akibat serendipiti. Saccharin
ditemukan di laboratorium Universitas John Hopkins oleh Fahlberg
(1879) akibat keliru: lupa cuci tangan langsung makan roti hingga
ramuan untuk produk-sampingan tar batu-arang ikut terlahap.
Merasakan rasa manis padahal roti tidak bergula, Fahlberg meneliti
asal-usul ramuan di tangan kotornya itu. Lalu temuan serendipitis itu
diberi nama saccharin, istilah sanskrit untuk "gula".
Alexander Fleming melakukan penelitian bakteri staphylococcus
di laboratorium Rumah Sakit St. Mary, London. Akibat teledor,
sekelompok kultur bakteri tercecer dan terlupakan. Beberapa saat
kemudian, Fleming menemukan kembali budaya bakteri tercecer itu, namun
celaka, ternyata sudah menjamur.
Jengkel atas kekeliruannya, Fleming ingin membuang budaya yang
dianggap sudah mubazir itu. Namun warna kehijauan kultur kadaluwarsa
itu menarik perhatian Fleming hingga iseng-iseng diteliti lebih
jauh. Ternyata hasil penelitian Fleming melahirkan salah satu obat
terpenting dalam sejarah peradaban dan kebudayaan umat manusia yaitu Penicillin.
|
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online
|
|||||