|
|
Bulan Maret 2001
|
|
KERETA BAYI? OGAH, AH!
Hutan hijau bukan tempat ideal bagi bayi orangutan. Di hutan
Kalimantan misalnya, macan loreng adalah musuh nomor satu. Ia bisa
memanjat lebih gesit dan cepat daripada bangsa kera mana pun. Maka,
jadilah ia bahaya bagi bayi kera yang erat menempel di punggung
induknya.
Namun dari punggung induknya, ia bisa menyaksikan tipu daya sang
ibunda dalam mengecoh si kucing raksasa. Dengan kaki dan tangannya,
orangutan meregangkan dahan pada dua buah pohon. Diam-diam ia menanti
sampai musuh mendekat. Tiba-tiba, ia lepaskan. Jederrr ... pas kena
sasaran. Raja hutan yang hilang keseimbangan pun jatuh terpental 20 -
30 m ke bawah. Induk-anak pun aman sentosa kembali.
Serangan udara
Dari udara pun tak jarang muncul serangan. Di pucuk pohon, burung
elang siap menyambar si bayi. Dengan lincah, sang induk membuat
gerakan manuver mengejutkan untuk menyelamatkan diri. Tentunya semua
dengan perhitungan, tidak membahayakan bayi yang menggelantung di
punggung. Induk lalu berayun di dahan atau sulur-sulur.
Semua bayi kera - entah simpanse, gibon, atau gorila - suka memeluk
erat bulu di punggung induknya. Terutama itu dilakukan pada minggu dan
bulan pertama kehidupannya. Memang, saat itulah masa-masa paling rawan
kehidupan mereka. Para zoolog menyebut bayi-bayi binatang yang
dibawa-bawa induknya itu sebagai "traglinge".
Kera adalah traglinge yang organ-organ sarafnya langsung
terbentuk dengan baik seketika mereka lahir, meski perkembangan
fisiknya relatif lebih lambat. Walau ia sudah bisa melihat dunia, ia
belum bisa berjalan. Itu sebabnya ia tak bisa menghindar dari bahaya.
Makin tinggi tingkat evolusi perkembangan sejenis binatang, makin
abnormal kondisinya pada saat lahir. Ia pun akan butuh waktu lebih
lama untuk menjadi dewasa. Ini terutama terjadi pada jenis kera. Jane
Goodall, peneliti primata terkenal dari Inggris, telah
mendokumentasikan perkembangan anak simpanse di hutan Afrika saat
melakukan studi selama 10 tahun.
Menurut catatannya, bulan pertama induk dan bayi kera menghabiskan
waktu terpisah dari kelompok. Itu sebabnya sang bayi selalu bergelayut
di punggung atau perut ibunya. Saat itulah si kecil belajar mengenal
bahaya serta membedakan tumbuhan yang aman dimakan dan yang beracun.
Ketika keduanya telah melewati setengah tahun bersama kelompoknya,
tiba saatnya belajar aturan-aturan di masyarakatnya. Mengenali mana
Pak Jenderal dan mana kapten sembari menyesuaikan diri dengan hirarki
yang ada. Misalnya dalam mencari kutu. Kegiatan itu bagi masyarakat
simpanse merupakan perawatan tubuh secara kolektif. Sudah pasti itu
merupakan bagian terpenting dalam hidup bermasyarakat.
Sering anak-anak simpanse turun dari punggung induknya untuk
bermain-main dengan temannya yang lain di hutan. Berbagai gerakan
menakjubkan mereka lakukan. Mulai dari bergelantungan dari satu dahan
ke dahan lain, berakrobat dengan cantik, bahkan berputar-putar seperti
gasing. Anak-anak kera memang kreatif. Mereka bermain sambil
mempelajari apa saja yang dibutuhkan dalam hidup.
Beratnya cuma 1 g
Bagaimana seandainya sang induk tidak melahirkan bayi, tetapi embrio?
Ternyata perkembangan dan masalah membawa-bawanya pun cukup mudah.
Sang embrio akan ditaruh di kantung, seperti yang biasa terjadi pada
kanguru betina. Ia biasanya melahirkan makhluk yang cuma sebesar
kacang dengan berat 1 g! Anak-anak yang masih terbalut selaput bisa
keluar-masuk kantung yang ada di perut induknya. Sebentar ia akan
mengeluarkan kepalanya untuk menyusu. Air susu yang kaya protein itu
membuat berat sang bayi melonjak jadi 4 - 5 kg pada usia 9 bulan. Saat
itulah kantung induk dirasakannya sudah makin sempit. Mulai timbul
rasa ingin tahu di dirinya, maka ia suka melompat keluar dari
"buaian" hangat.
Sebagaimana beragamnya kehidupan, demikian pula metode menggendong
anak. Banyak bayi binatang lahir buta, telanjang, dan tuli. Jarang ada
yang dapat berdiri langsung. Bahkan singa pun tanpa kecuali. Itu
sebabnya, sang induk akan menggondol si bayi dengan menggigit
tengkuknya apabila suatu tempat dirasa berbahaya. Bagi binatang buas
yang satu ini, masa kecil memang berisiko. Di Taman Nasional
Serengeti, Afrika, hanya 30% anak singa bisa mencapai usia 1 tahun.
Kebanyakan dimangsa oleh singa jantan juga!
Siapa lagi yang suka menggendong anak? Anjing, kucing, macan, hiena
memang bertingkah mirip. Tapi induk gajah tentu saja tidak
"menggendong" bayinya. Anak gajah yang masih kecil akan
"berpegangan" dengan mengaitkan belalainya ke ekor sang
induknya. Jadinya, malah seperti digandeng, supaya tidak tersesat.
Selain itu, gajah betina lainnya akan menjaga si kecil apabila ada
serangan.
Lain lagi dengan bayi kelelawar yang menemukan tempat aman di sayap
induknya. Sementara itu, induk kukang memanjat pohon dengan tangan
bertaut, agar bayinya seperti dibuai dengan lembut.
Yang lucu adalah perilaku anak-anak tikus soricidae. Bayinya
ada yang menggigit bulu di dekat buntut induknya, sementara yang lain
ada yang di tengkuk, dan di tempat lain sampai semua anaknya kebagian
tempat menggigit. Setelah semua siap, sang induk baru memulai
perjalanan.
Berjalannya tentu serentak. Kalau sang induk melangkah dengan cepat,
anak-anak juga ikut melangkah cepat. Begitu induk berhenti, rombongan
pun seketika berhenti. Bila si induk melompat menghindar dari bahaya,
mudah diduga, anak-anaknya pun ikutan melompat.
Sebagaimana binatang lain, laba-laba punya naluri membawa anaknya ke
sana-kemari di punggung. Tapi, induk laba-laba terhitung kreatif. Ia
bisa menjalin jaring di pohon atau bebatuan yang bisa menjadi tempat
bermain anak-anaknya. Di jaring itu pula si kecil dapat belajar
membuat jaring baru.
Percaya atau tidak, anak laba-laba jumlahnya bisa mencapai 300 ekor.
Namun karena di atas punggung induknya suka juga terjadi pertempuran
dan kanibalisme, maka yang bertahan hidup hingga mencapai usia dewasa
tinggal sedikit.
Tapi, buaian mana yang paling aman di dunia? Bukan di perut, atau di
punggung, namun ternyata di mulut! Banyak ikan dan jenis kodok
menyimpan anak-anaknya di mulut. Salah satunya adalah ikan Tilapia di
Afrika. Ia sering membiarkan anak-anaknya keluar dari mulutnya untuk
mencari organisme mikro di sekitar dasar laut. Tapi, begitu ada
bahaya, anak-anak ikan yang amat kecil itu kembali masuk ke mulut
induknya. Yang hebat, sang induk terpaksa "puasa" selama
anaknya masih kecil dan berada di mulutnya. Hebat nian! |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online
|
|||||