globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan Maret 2001

Segera terbit buku Oei Hong Kian, Dokter Gigi Soekarno; Peranakan yang Hidup dalam Tiga Budaya

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

KERETA BAYI? OGAH, AH!

Begitu mungkin komentar para induk binatang. Memang benar, mereka tak perlu repot menyediakan kereta bagi bayinya. Si anak, cukup ditaruh di punggung, atau dibiarkan menggelayut di dada. Menggigit tengkuk pun menjadi salah satu cara menggendong. Bagaimanapun, membawa si orok ke sana kemari ada maksudnya: agar si buah hati terhindar dari bahaya.

Punggung ibu memang tempat paling nyaman di dunia! Punggung memang tempat ideal untuk bergelayut atau berlompatan di antara serpihan bulu tebal atau sayap halus yang lembut. Tapi jangan salah sangka, kulit bersisik pun tetap menyamankan. Bagi makhluk kecil tak berdaya, tempat-tempat itulah wilayah teraman dari dunia yang penuh bahaya.

Hutan hijau bukan tempat ideal bagi bayi orangutan. Di hutan Kalimantan misalnya, macan loreng adalah musuh nomor satu. Ia bisa memanjat lebih gesit dan cepat daripada bangsa kera mana pun. Maka, jadilah ia bahaya bagi bayi kera yang erat menempel di punggung induknya.

Namun dari punggung induknya, ia bisa menyaksikan tipu daya sang ibunda dalam mengecoh si kucing raksasa. Dengan kaki dan tangannya, orangutan meregangkan dahan pada dua buah pohon. Diam-diam ia menanti sampai musuh mendekat. Tiba-tiba, ia lepaskan. Jederrr ... pas kena sasaran. Raja hutan yang hilang keseimbangan pun jatuh terpental 20 - 30 m ke bawah. Induk-anak pun aman sentosa kembali.

Serangan udara

Dari udara pun tak jarang muncul serangan. Di pucuk pohon, burung elang siap menyambar si bayi. Dengan lincah, sang induk membuat gerakan manuver mengejutkan untuk menyelamatkan diri. Tentunya semua dengan perhitungan, tidak membahayakan bayi yang menggelantung di punggung. Induk lalu berayun di dahan atau sulur-sulur.

Semua bayi kera - entah simpanse, gibon, atau gorila - suka memeluk erat bulu di punggung induknya. Terutama itu dilakukan pada minggu dan bulan pertama kehidupannya. Memang, saat itulah masa-masa paling rawan kehidupan mereka. Para zoolog menyebut bayi-bayi binatang yang dibawa-bawa induknya itu sebagai "traglinge".

Kera adalah traglinge yang organ-organ sarafnya langsung terbentuk dengan baik seketika mereka lahir, meski perkembangan fisiknya relatif lebih lambat. Walau ia sudah bisa melihat dunia, ia belum bisa berjalan. Itu sebabnya ia tak bisa menghindar dari bahaya.

Makin tinggi tingkat evolusi perkembangan sejenis binatang, makin abnormal kondisinya pada saat lahir. Ia pun akan butuh waktu lebih lama untuk menjadi dewasa. Ini terutama terjadi pada jenis kera. Jane Goodall, peneliti primata terkenal dari Inggris, telah mendokumentasikan perkembangan anak simpanse di hutan Afrika saat melakukan studi selama 10 tahun.

Menurut catatannya, bulan pertama induk dan bayi kera menghabiskan waktu terpisah dari kelompok. Itu sebabnya sang bayi selalu bergelayut di punggung atau perut ibunya. Saat itulah si kecil belajar mengenal bahaya serta membedakan tumbuhan yang aman dimakan dan yang beracun.

Ketika keduanya telah melewati setengah tahun bersama kelompoknya, tiba saatnya belajar aturan-aturan di masyarakatnya. Mengenali mana Pak Jenderal dan mana kapten sembari menyesuaikan diri dengan hirarki yang ada. Misalnya dalam mencari kutu. Kegiatan itu bagi masyarakat simpanse merupakan perawatan tubuh secara kolektif. Sudah pasti itu merupakan bagian terpenting dalam hidup bermasyarakat.

Sering anak-anak simpanse turun dari punggung induknya untuk bermain-main dengan temannya yang lain di hutan. Berbagai gerakan menakjubkan mereka lakukan. Mulai dari bergelantungan dari satu dahan ke dahan lain, berakrobat dengan cantik, bahkan berputar-putar seperti gasing. Anak-anak kera memang kreatif. Mereka bermain sambil mempelajari apa saja yang dibutuhkan dalam hidup.

Beratnya cuma 1 g

Bagaimana seandainya sang induk tidak melahirkan bayi, tetapi embrio? Ternyata perkembangan dan masalah membawa-bawanya pun cukup mudah. Sang embrio akan ditaruh di kantung, seperti yang biasa terjadi pada kanguru betina. Ia biasanya melahirkan makhluk yang cuma sebesar kacang dengan berat 1 g! Anak-anak yang masih terbalut selaput bisa keluar-masuk kantung yang ada di perut induknya. Sebentar ia akan mengeluarkan kepalanya untuk menyusu. Air susu yang kaya protein itu membuat berat sang bayi melonjak jadi 4 - 5 kg pada usia 9 bulan. Saat itulah kantung induk dirasakannya sudah makin sempit. Mulai timbul rasa ingin tahu di dirinya, maka ia suka melompat keluar dari "buaian" hangat.

Sebagaimana beragamnya kehidupan, demikian pula metode menggendong anak. Banyak bayi binatang lahir buta, telanjang, dan tuli. Jarang ada yang dapat berdiri langsung. Bahkan singa pun tanpa kecuali. Itu sebabnya, sang induk akan menggondol si bayi dengan menggigit tengkuknya apabila suatu tempat dirasa berbahaya. Bagi binatang buas yang satu ini, masa kecil memang berisiko. Di Taman Nasional Serengeti, Afrika, hanya 30% anak singa bisa mencapai usia 1 tahun. Kebanyakan dimangsa oleh singa jantan juga!

Siapa lagi yang suka menggendong anak? Anjing, kucing, macan, hiena memang bertingkah mirip. Tapi induk gajah tentu saja tidak "menggendong" bayinya. Anak gajah yang masih kecil akan "berpegangan" dengan mengaitkan belalainya ke ekor sang induknya. Jadinya, malah seperti digandeng, supaya tidak tersesat. Selain itu, gajah betina lainnya akan menjaga si kecil apabila ada serangan.

Lain lagi dengan bayi kelelawar yang menemukan tempat aman di sayap induknya. Sementara itu, induk kukang memanjat pohon dengan tangan bertaut, agar bayinya seperti dibuai dengan lembut.

Yang lucu adalah perilaku anak-anak tikus soricidae. Bayinya ada yang menggigit bulu di dekat buntut induknya, sementara yang lain ada yang di tengkuk, dan di tempat lain sampai semua anaknya kebagian tempat menggigit. Setelah semua siap, sang induk baru memulai perjalanan.

Berjalannya tentu serentak. Kalau sang induk melangkah dengan cepat, anak-anak juga ikut melangkah cepat. Begitu induk berhenti, rombongan pun seketika berhenti. Bila si induk melompat menghindar dari bahaya, mudah diduga, anak-anaknya pun ikutan melompat.

Sebagaimana binatang lain, laba-laba punya naluri membawa anaknya ke sana-kemari di punggung. Tapi, induk laba-laba terhitung kreatif. Ia bisa menjalin jaring di pohon atau bebatuan yang bisa menjadi tempat bermain anak-anaknya. Di jaring itu pula si kecil dapat belajar membuat jaring baru.

Percaya atau tidak, anak laba-laba jumlahnya bisa mencapai 300 ekor. Namun karena di atas punggung induknya suka juga terjadi pertempuran dan kanibalisme, maka yang bertahan hidup hingga mencapai usia dewasa tinggal sedikit.

Tapi, buaian mana yang paling aman di dunia? Bukan di perut, atau di punggung, namun ternyata di mulut! Banyak ikan dan jenis kodok menyimpan anak-anaknya di mulut. Salah satunya adalah ikan Tilapia di Afrika. Ia sering membiarkan anak-anaknya keluar dari mulutnya untuk mencari organisme mikro di sekitar dasar laut. Tapi, begitu ada bahaya, anak-anak ikan yang amat kecil itu kembali masuk ke mulut induknya. Yang hebat, sang induk terpaksa "puasa" selama anaknya masih kecil dan berada di mulutnya. Hebat nian! (Jochen Malms/Als)

Active Channel

© 1996 - 2000 Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/

Counter by Pandawa

Jelang Milenia III

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej