|
|
Bulan Maret 2001
|
|
HARUSKAH
IKUT MENDERITA "KOLES-TELUR-FOBIA"?
Padahal telur itu sumber gizi hewani murah yang lengkap gizi:
mengandung 13 vitamin esensial serta mineral dengan protein bermutu
tinggi. Nilai energinya pun hanya 75 kalori per butirnya. Rasanya, tak
ada makanan hewani lain yang bisa dimasak sepraktis telur, dengan rasa
yang begitu lezat.
Melihat "kebaikannya" itu, kita jadi bertanya-tanya, apa
betul telur memang provokator PJK? Bagaimana sih duduk perkaranya?
Didakwa menaikkan kolesterol
Kolestrol merupakan bagian dari lipid, yang secara gampang sering
disebut lemak tubuh. Di dalam tubuh, kolesterol merupakan bagian dari
membran sel dan myelin (pelindung serat saraf), khususnya saraf
otak. Tak kurang dari 11% berat otak adalah kolesterol.
Ia juga memegang peranan penting dalam pembentukan hormon seks,
vitamin D, dan asam empedu yang diperlukan untuk menerima lemak
makanan. Meningkatnya kekebalan tubuh antara lain karena jasanya pula,
lewat kerjanya membentuk sel darah putih.
Jadi, secara alami kolesterol memang sudah terdapat dalam tubuh. Kadar
normalnya 15 - 250 mg/dl. Belum pernah ada laporan tentang timbulnya
defisiensi kolesterol. Sebaliknya, sudah mulai banyak yang menderita
kelebihan kolesterol (hiperkolesterolemia) lantaran kadar kolesterol
darahnya melebihi 250 mg/dl.
Selama beberapa dasawarsa sejak 1960-an, telur menjadi lauk sarapan
favorit di Amerika Serikat. Bersamaan dengan itu, muncul kesimpulan
sejumlah penelitian yang menyebutkan adanya peningkatan drastis
prevalensi (angka kejadian) penderita penyempitan pembuluh darah
(aterosklerosis) akibat menumpuknya kerak lemak pada dinding pembuluh.
Karena makanan telur sedang jadi tren kala itu, jadilah telur didakwa
sebagai biang keroknya.
Maklumlah kalau ia dicurigai sebab sebutir telur (70 g) mengandung 213
mg kolesterol. Padahal menurut American Heart Association dan US
National Institute of Health, asupan kolesterol yang aman tidak lebih
dari 300 mg per orang per hari. Berarti sebutir telur sudah
menjejalkan dua pertiganya. Bagi penderita hiperkolesterolemia,
kolesterol sebutir telur itu berlebihan. Soalnya, mereka tidak
diperbolehkan mengkonsumsi kolesterol melebihi 200 mg per hari.
Jika konsentrasi kolesterol dalam darah berlebihan, maka protein
tertentu, yakni apo-protein B, akan pontang-panting mengangkutnya
dalam ikatan lipoprotein, untuk diamankan ke dalam hati. Berjejalnya
jumlah kolesterol itu membuat protein dalam ikatan lipoprotein mesti
mengalah dan mengurangi kepadatannya guna memberi tempat pada lemak.
Karena itu, ikatannya disebut lipoprotein kepadatan (berat jenis)
rendah (low density lipoprotein, LDL).
Ibarat sebuah truk yang memuat dua kelompok berbeda, maka kelompok
mayoritas biasanya akan mendominasi. Begitu pun dengan kolesterol,
jumlahnya yang melimpah dan wataknya yang cenderung destruktif
menutupi sifat baik dari protein. Tak heran jika ikatan LDL tadi lalu
dikenal sebagai "kolesterol jahat".
Kalau jumlahnya berlebihan, LDL yang kelayapan dalam darah akan mondok
di mana-mana di sepanjang dinding pembuluh darah, membentuk kerak
lemak. Akibatnya, pembuluh darah menebal dan mengeras, hilang pula
kelenturannya. Makin lama kerak lemak akan makin menggunung sehingga
lubang pembuluh darah menjadi makin sempit.
Lantaran jalannya menyempit, debit pengiriman oksigen menuju otak dan
jantung jadi terganggu. Kalau sampai pasokannya ke otak sempat
terhenti, terjadilah stroke, kelumpuhan saraf otak. Lebih gawat lagi
jika kemacetan sampai mengganggu pasokan oksigen menuju jantung,
bisa-bisa jantung mogok. Syukurlah kalau mogoknya itu tidak untuk
selama-lamanya.
Hiperkolesterolemia diyakini para ahli "dunia lama" sebagai
akibat konsumsi kolesterol berlebihan. Padahal kolesterol bukanlah zat
esensial yang harus dipasok dari luar karena bisa dibuat sendiri di
dalam hati. Berapa pun jumlah kolesterol yang diperlukan, tubuh
sanggup memenuhinya sendiri, karena hati mampu menghasilkan 2.000 -
3.000 mg kolesterol per hari.
Kalau tubuh bisa memenuhi sendiri kebutuhan kolesterolnya, mengapa
kita perlu makan telur yang notabene kaya kolesterol? Apalagi asupan
kolesterol justru bikin runyam kesehatan. Inilah yang menimbulkan
"koles-telur-fobia", ketakutan makan telur dengan
pertimbangan takut akan munculnya kemungkinan dampak buruk kandungan
kolesterolnya.
Fakta tentang telur
Mengapa makan telur itu sehat?
Telur merupakan bahan makanan hewani yang harganya relatif murah,
praktis dan mudah disiapkan serta lezat rasanya. Selain itu telur
mengandung cukup mineral dan semua vitamin, kecuali vitamin C.
Komposisi asam aminonya nyaris sempurna, begitu pun daya cerna dan
daya serapnya, hanya terkalahkan oleh air susu ibu (ASI). Kalau ASI,
daya cernanya 100%, telur 93%. Sementara bahan makanan hewani lainnya
jauh di bawahnya, seperti susu sapi (84,5%), ikan (76%), daging sapi
(74,3%).
Kolesterol pada telur hanya terdapat dalam bagian kuningnya, sama
sekali tidak dalam bagian putihnya. Uniknya, hampir semua kandungan
gizi telur justru tersimpan dalam bagian kuningnya yang berkolesterol
itu. Hanya beberapa vitamin B-kompleks, seperti riboflavin (B2)
dan niasin (B3), serta natrium yang kadarnya sedikit lebih
tinggi dalam putihnya telur.
Masalahnya sekarang, mungkinkah memanfaatkan gizi telur tanpa memungut
dampak buruk kolesterolnya?
Sebagian pakar menganggap, tudingan kolesterol telur dapat memicu
serangan PJK terlalu dibesar-besarkan, sekalipun bukan berarti tidak
ada efeknya sama sekali terhadap kenaikan kolesterol darah. Hasil
penelitian Harvard School of Public Health terhadap lebih dari 100.000
penduduk AS yang sehat menyebutkan responsivitas setiap individu
terhadap asupan kolesterol telur berbeda-beda.
Hanya sepertiga responden yang kolesterol darahnya meningkat setelah
makan satu butir telur per hari. Itu pun kenaikannya cuma 3 mg/dl,
tidak cukup berarti dibandingkan dengan asupan 213 mg/dl kolesterol
yang berasal dari sebutir telur. Bahkan sebagian kecil di antara
responden makan dua butir atau lebih setiap hari.
Pertanyaannya kemudian, mengapa konsumsi telur tidak otomatis
meningkatkan kadar kolesterol darah? Tim Harvard menemukan adanya
sejumlah zat gizi dalam telur - antara lain zat antioksidan, asam
folat, dan komponen vitamin B lain - yang bersifat counterbalance
terhadap naiknya kadar kolesterol darah (Journal of the American
Medical Association, 21 April 1999).
Selain zat-zat tadi, sifat meredam kenaikan kadar kolesterol darah
juga terdapat dalam lemak telur. Dari 5 g kandungan lemak totalnya,
lebih dari separuhnya merupakan lemak tak jenuh dengan ikatan rangkap
tunggal. Lemak tak jenuh tunggal, yang menyokong kadar
"kolesterol baik" (high density lipoprotein, HDL),
ini justru bersifat antiaterosklerosis - mencegah penyempitan pembuluh
darah dan bersahabat dengan jantung.
Sebagai pembanding, tim Harvard juga melakukan penelitian efek lemak
lain terhadap kenaikan kadar kolesterol darah. Hasilnya, dibandingkan
dengan konsumsi makanan berkolesterol, makanan mengandung lemak jenuh
dan lemak trans sebenarnya lebih berpotensi memicu
hiperkolesterolemia, yang berujung pada meningkatnya risiko terserang
stroke dan PJK.
Sementara itu tim peneliti US National Heart, Lung, and Blood
Institute menyimpulkan, konsumsi makanan berkolesterol tidak
memberikan efek berarti terhadap kenaikan kadar kolesterol darah.
Penelitian dilakukan dengan membatasi konsumsi kuning telur para
responden. Hasilnya, hanya 15% responden yang mengalami penurunan
kolesterol darah, itu pun persentase penurunannya relatif sedikit.
Dr. Wanda Howell dkk. dari University of Arizona melakukan analisis
statistik terhadap 224 hasil penelitian tentang hubungan antara diet
dan kolesterol darah. Seluruh penelitian melibatkan lebih dari 8.000
responden dan dilakukan sepanjang 25 tahun. Kesimpulannya, konsumsi
makanan mengandung asam lemak jenuhlah yang paling berperan menaikkan
kadar kolesterol darah, bukan konsumsi makanan berkolesterol (American
Journal of Clinical Nutrition, 1999: 65).
Karena itu, Frank Hu, M.D., ketua tim peneliti Harvard, menasihatkan
pembatasan konsumsi makanan mengandung lemak jenuh (misalnya daging,
ayam ras, susu berlemak) dan lemak trans (misalnya margarin) lebih
penting daripada membatasi kolesterol telur. Dalam kesempatan berbeda
Dr. Wanda Howell pun menekankan, konsumsi lemak jenuh pada orang sehat
selayaknya lebih diperhatikan daripada konsumsi kolesterol. Soalnya,
terbukti bahwa telur mengandung kolesterol yang aman bagi kesehatan
jantung, sekaligus lezat dan bergizi.
Temuan ini setidaknya bisa membantu menjelaskan mengapa konsumsi telur
per kapita yang tinggi di suatu negara tidak secara otomatis
membengkakkan prevalensi PJK. Contohnya, konsumsi telur per kapita di
Prancis, AS, dan Inggris masing-masing 5,1 butir, 4,5 butir, dan 3,3
butir. Sementara data kematian akibat PJK per 100.000 penduduk per
tahun di negara-negara itu berturut-turut 250 orang, 400 orang, dan
516 orang.
Dalam data itu terlihat, prevalensi kematian akibat PJK berbanding
terbalik dengan tingkat konsumsi telur. Di antara ketiga negara,
Prancis yang konsumsi telurnya tinggi, tingkat kematian akibat PJK
justru paling rendah. Sebaliknya dengan Inggris, sekalipun konsumsi
telur per kapitanya paling rendah, tingkat kematian penduduk akibat
PJK justru paling tinggi.
Yang menarik, kematian akibat PJK di Jepang justru paling rendah,
padahal konsumsi telur per kapita di sana paling tinggi di dunia,
yakni 6,5 butir (Nutrition Close-Up, 13(3), 1996).
Tetap menikmati telur
Jika demikian hasilnya, mengapa prevalensi hiperkolesterolemia di AS
meninggi bersamaan dengan membudayanya makan telur? Ternyata pada saat
yang sama, tingkat konsumsi lemak mereka per kapita mencapai 37% dari
kebutuhan energi. Padahal batas toleransi konsumsi lemak yang sehat
maksimum 30%.
Dengan demikian, tidak layak menghubungkan telur dengan risiko PJK.
Atau, kalaupun ada hubungannya, telur pasti tidak bekerja sendirian
sebagai pemicu PJK.
Pada orang sehat dan sedang dalam masa pertumbuhan, asupan kolesterol
umumnya hanya menaikkan kolesterol darah sedikit. Sejumlah penelitian
membuktikan, orang-orang yang konsumsi lemaknya rendah dapat makan 1 -
2 butir telur per hari tanpa peningkatan kolesterol darah secara
berarti. Hal sebaliknya terjadi pada penderita kencing manis (diabetes
melllitus), kolesterol darah mereka sangat responsif terhadap
asupan kolesterol makanan.
Lalu siapa saja yang bisa leluasa makan telur? Siapa pun yang masih
dalam masa pertumbuhan (terutama anak prasekolah), tidak memiliki
silsilah keluarga dengan PJK, mempunyai profil lemak darah sehat,
berat badan normal (ideal), tidak merokok, dan rutin berolahraga.
Profil lemak darah disebut sehat jika kadar kolesterol total 200
mg/dl, kolesterol HDL 50 mg/dl, kolesterol LDL 150 mg/dl, dan
trigliserida 150 mg/dl.
Baku debat soal ada tidaknya pengaruh konsumsi telur terhadap PJK yang
telah dimulai sejak 1960-an agaknya masih belum akan berakhir. Namun,
tentu ada cara menikmati telur tanpa perlu menerima akibat negatifnya,
yakni dengan membatasi diri hanya makan 3 - 4 butir telur per minggu.
Bahkan dalam dasawarsa terakhir dinaikkan ambangnya menjadi 4 - 5
butir. Karena yang mengandung kolesterol hanya bagian kuningnya, maka
bagian putihnya boleh bebas dikonsumsi.
Jika jumlah itu belum memuaskan Anda, boleh saja menambahkan
penggunaan telur substitusi dalam makanan sehari-hari. Untuk
menggantikan setiap butir telur, kocok 2 putih telur, 1 sendok makan
susu bubuk tanpa lemak (nonfat milk), dan sedikit pewarna
kuning alami seperti kunyit bubuk. Sebagai penambah rasa, bubuhkan
garam dan merica bubuk. Agar lebih gurih, tambahkan minyak goreng,
lebih baik yang kaya lemak tak jenuh tunggal seperti minyak zaitun,
minyak wijen, atau minyak kacang tanah.
Jadi, tak ada alangan untuk menikmati telur. Bagi anak-anak, yang
sedang dalam masa pertumbuhan, telur tetap merupakan makanan bergizi
tinggi yang harganya terjangkau. Di AS pun satu di antara empat
penderita salah gizi (malnutrition) tertolong dengan paket
makanan sehat ditambah telur. Karena itu, tidak selayaknya kita
ikut-ikutan menderita "koles-telur-fobia", alias takut makan
telur. |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online
|
|||||