|
|
Bulan Maret 2001
|
|
WARISAN
DENDAM JOE FRAZIER VS MUHAMMAD ALI
Jangan kaget, dialah Jaqui, putri Smokin' Joe alias Joe Frazier yang
pada 1970-an pernah mengalahkan petinju legendaris Muhammad Ali. Dalam
beberapa pertandingan keras lain dua kali ia hampir menang.
Dendam ayah beranak
Ternyata hingga kini Joe Frazier (56) belum bisa menerima kenyataan
saat manajernya melempar handuk, tanda takluk, di ronde terakhir
"Thrilla in Manila" tahun 1975. Padahal saat itu biarpun
dipukul sampai setengah buta, Frazier ingin terus bertarung. Ia ingin
menunjukkan kepada Ali dan dunia bahwa Smokin' Joe Frazier-lah yang
terbesar, bukan Muhammad Ali si Mulut Besar.
Lebih-lebih selama bertahun-tahun Ali yang kharismatik dan kesayangan
media sering mengolok-oloknya di atas maupun di luar ring. Kini
saatnya ia membalas dendam lewat putrinya, Jaqui Frazier. Dengan
tinjunya Jaqui diharapkan bisa menegakkan kehormatan keluarga,
menghapus hinaan Ali. Setali tiga uang, Jaqui pun berharap bisa
menganvaskan Laila Ali di ring, putri bungsu musuh bebuyutannya, yang
sejak tiga tahun lalu naik daun sebagai petinju prof wanita. Itu
sebabnya kini setiap pagi Jaqui rajin berlatih memukul kantung pasir
di gim ayahnya.
Marvis, saudara laki-lakinya yang beberapa tahun lalu menjadi petinju
kelas berat yang bermain sangat bagus, dan kini melatihnya,
berpendapat serupa.
Pernyataan itu mampu menjawab teka-teki soal apa yang sesungguhnya ia
cari. Bukankah sejak 1987 ia terjun menjadi pengacara dan sebagai
putri seorang bekas juara tinju ia cukup kaya? Belum lagi, ia sudah
menikah dan ibu dari tiga anak. Lebih-lebih usianya sudah 38 tahun,
kurang baik untuk memulai olahraga yang menekankan adu kekuatan.
Dilupakan dunia
Perasaan amat diremehkan mengendap dalam diri Joe selama hidupnya. Ia
yang berasal dari negara bagian selatan mengalami putus sekolah.
Sebelum menjadi juara tinju dunia di New York, Joe pernah mencuri
mobil untuk dijual. Ia pernah berangan-angan, andai bisa mengalahkan
Muhammad Ali, ia akan mendapat beberapa juta untuk membeli mobil mahal
serta menghadiahi istri dan pacarnya berlian sebesar kelereng.
Ternyata ia salah. Masyarakat tidak sepenuhnya menerimanya. Sialnya
lagi, tak ada yang peduli setelah ia gantung sarung tinju dan terjerat
alkohol.
Bandingkan dengan Ali yang selalu disorot dunia. Saat ia menyalakan
obor Olimpiade di Atlanta 1996, banyak orang mengucurkan air mata.
"Joe Frazier's Gym" berada di North Brown Street,
Philadelphia, yang agak kumuh. Daerah ini memang kurang bisa
dibanggakan. Terkadang terdengar deru kereta api di bawahnya, di
sekitarnya ada sejumlah perusahaan kecil yang sederhana. Para
pengemudi taksi pun selalu mengerutkan kening kalau ada orang yang
minta diantar ke North Brown.
Di sasananya Joe masih menyimpan Jaguar atau Mercedes. Tangan kirinya
yang terkenal keras pun bercincin emas besar. Kesuraman North Brown
seimbang dengan sendu dan gelapnya sasana Joe. Hiasan yang ada cuma keyboard
yang dimainkan instrukturnya kala iseng. Di dinding tergantung potret
Joe Frazier, dihiasi sarung tinju emas superbesar yang agak kusam,
bertuliskan pertandingan terbesar Frazier. Sebuah poster menantang
mereka yang sedang berlatih, bunyinya: "Pemenang tidak pernah
lemas. Orang yang lemas tidak pernah menang".
Kini Joe hanya sesekali muncul. Konon Frazier senior mempunyai dua
atau tiga kekasih. Tapi komentar Marvis, "Ah, dia 'kan seorang
laki-laki."
Nama Bizep Joe Frazier yang pernah besar itu kini kembali ke asal.
Sehari-hari ia hanya mengenakan T-shirt hitam dan schlapphut
(topi dari bahan lunak dengan pinggir lebar) hitam. Saat ia lewat,
langkahnya gontai sambil mengisap cerutu superbesar. Jalannya yang
agak goyang, katanya, tidak berhubungan dengan alkohol. "Saya
minum lima tablet berbeda setiap hari untuk penyakit ginjal
saya," katanya.
Pengacara ayah
Tepat di atas sasana, Jaqui membuka kantor pengacara. Di pintu
terpampang tulisan "Suite 200". Ruangan itu dilengkapi
sedikit perabot yang agak usang. Di atas almari besi bertumpuk surat
penting diletakkan dua boneka gaya Barbie dan Ken: berupa Mini Ali dan
Mini Frazier, menggambarkan "Thrilla in Manila".
Usai berlatih tinju, Jaqui melakukan tugas utama sebagai pengacara.
Sudah bertahun-tahun ia mewakili kepentingan ayahnya yang terlibat
proses perdata tentang tanah bangunan yang pernah dibeli Smokin' Joe,
yang menurut pihak Frazier ditipu beberapa rekan bisnisnya.
"Sebagai pengacara ayah, saya belajar bertarung dan menerima
kekalahan. Itu membantu saya di ring," kata Jaqui yang mengenakan
rok sutera sepanjang bawah lutut untuk menutupi lututnya yang seperti
balok beton, satu-satunya bagian tubuh yang tidak memuaskannya.
"Tujuan bertanding melawan Laila bukan untuk mencari duit. Saya
panas padanya," aku Jaqui. Memang benar, karena pada pertandingan
untuk memperebutkan gelar, petinju wanita terbaik hanya akan mendapat
bayaran $ 10.000.
Suami Jaqui, Peter, pria tegap berbadan tambun yang berprofesi manajer
kongres dan seminar, meyakinkan Jaqui agar tidak pusing memikirkan
soal keuangannya, karena ia akan mengurus semuanya. Ia yakin,
pertarungan "Ali" melawan "Frazier" wanita pasti
menarik media dan TV swasta.
Tak heran bila hampir tiap hari ia rajin menelepon suami Laila, Johnny
McClain. Bekas juara dunia kelas ringan itu tahu apa yang bisa
diharapkan Laila dari Jaqui ataupun Jaqui dari Laila.
Si cantik senang berkelahi
Lucunya, Laila Ali (22) tidak terlalu tertarik pada pertandingan
wanita abad XXI ini. "Jaqui siapa? Putri Joe Frazier? Saya
bertinju bukan karena Jaqui Frazier, tapi karena saya suka,"
tegasnya.
Menurut dia lagi, tanpa harus bertanding dengan Jaqui pun ia akan
tetap meneruskan hobinya. Sebelumnya, Laila yang cantik itu berprofesi
sebagai ahli kecantikan. Gara-gara bertinju, ia harus mengorbankan
kukunya yang panjang dan dicat merah darah.
Orang Amerika mengatakan, si seksi Laila yang berbibir tebal suka
mengenakan blus tembus pandang itu "tumbuh dengan sendok perak di
mulutnya". Sebenarnya, ayahnya telah menjauhkan putri bungsunya
itu dari gemerlap dunia tinju. Malah setelah orang tuanya bercerai,
putri kecil kesayangannya itu masuk sekolah terkemuka di Kalifornia
seperti Malibu dan Marina del Rey.
Namun, tiba-tiba saja ia membangkang!
Kini Laila seakan "melangkah menyeberang jalan" yang gelap.
Bukannya berkawan dengan remaja dari keluarga hitam yang maju, ia
malah ikut geng jalanan. Bahkan ia pernah dihadapkan di meja
pengadilan karena mencuri di toko.
Bila ditanya mengapa tiba-tiba bertinju, jawabannya sungguh tak
dinyana, "Bukankah sudah sering saya berkelahi di jalanan? Saya
memang suka bertanding. Sejak dulu saya tidak pernah kabur dari
perkelahian."
Laila tidak mundur sekalipun ayahnya keberatan. "Ternyata ia
keras kepala seperti saya," komentar Ali. Ali sedih ketika satu
setengah tahun lalu mendengar Laila bertinju. Pasalnya, Ali tahu
risikonya. Ia terkena Parkinson diduga juga akibat pukulan keras yang
makin sering dialami di akhir kariernya.
Belakangan Ali mulai bisa menerima Laila naik ring. Empat dari delapan
pertandingannya, kalau tidak dapat hadir, ia menghubungi lewat
telepon. "Kamu meng-KO lagi, ya? Bagus," demikian antara
lain komentarnya.
Namun, Ali tidak mau menjadi pelatih putrinya. Sekali-kali saja ia
menasihati pelatih Laila, misalnya tinju kiri Laila harus lebih baik.
Laila sadar, gaya bertinju masih harus diperbaiki walau selama ini ia
selalu menang. Memang, di balik muka halusnya, Laila memiliki pundak
lebar yang berotot. Itulah hasil berlatih tiga jam tiap hari di studio
tinjunya yang sejuk dan bersih di Los Angeles Timur.
Tak takut muka rusak
Bagaimana komentar Laila tentang Jaqui? Dengan "warisan"
mulut besar Ali, ia menjawab tahu cara menghadapinya. "Saya harap
ia bertanding beberapa kali dulu dengan orang lain sebelum menghadapi
saya, agar ia menjadi lebih baik. Andai toh terjadi
pertandingan dalam waktu dekat, saya tidak begitu tertarik."
"Walau bisa mendapat banyak uang, saya tidak mau buru-buru. Jaqui
jauh lebih tua, ia seperti dikejar waktu. Tapi kalau orang ingin
melihat showdown itu, OK saja!"
Manajer dan suami Jaqui senang mendengarnya. Peter merancang menggelar
pertandingan mereka mungkin bulan Maret ini, tepat 30 tahun setelah
pertandingan pertama kedua orang tua mereka di Madison Square Garden.
Sebaliknya, seperti halnya Smokin' Joe, Jaqui "meledak"
mendengar hinaan itu. "Kurang ajar, saya dianggap terlalu tua
untuk bertinju," tegasnya. Padahal semasa mahasiswa, Jaqui pernah
mendapat beasiswa atas prestasi olahraganya terutama dalam bidang bola
basket. Selama beberapa tahun ia beroleh gelar pemain terbaik. Ia pun
sudah enam kali bertanding pro dan semua ... menang!
"Jaqui amat percaya diri dan tenang. Tempo bertinjunya hebat,
staminanya pun seperti kuda. Saya tidak akan membiarkan dia naik ring,
kalau memang belum siap."
Laila tenang-tenang saja mendengar komentar Marvis. "Saya akan
menghancurkannya seperti cara ayah saya. Frazier bukan petinju buruk.
Namun, ia bukan Ali. Lagi pula ia bodoh. Tak hanya di ring, tetapi
juga dalam bisnis," balasnya.
Jaqui yang dijuluki nama "Sister Smoke" mencoba tenang.
Bukankah ia seorang pengacara berpengalaman yang tangguh, sedangkan
"musuhnya" hanya seorang ahli kosmetik? Di balik
pertentangan mereka, kedua wanita petinju itu sepakat tidak takut
mukanya rusak. "Toh di AS ada ahli kosmetik terbaik di
dunia," alasan mereka.
Lepas dari kemungkinan bakal serunya pertandingan itu, jangan sampai
yang kalah kembali dibalut dendam, dan mewariskannya ke generasi
berikut. Semoga. |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online
|
|||||