globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan Maret 2001

Segera terbit buku Oei Hong Kian, Dokter Gigi Soekarno; Peranakan yang Hidup dalam Tiga Budaya

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

WARISAN DENDAM JOE FRAZIER VS MUHAMMAD ALI

Siapa sangka dunia tinju ternyata seperti rimba persilatan yang mengenal dendam turun-temurun. Setidaknya, itulah yang dirasakan Jaqui Frazier terhadap Laila Ali. Bila tak ada alangan, dua macan betina itu akan bertarung Maret ini.

Suatu sore seorang ibu yang tak lagi muda tengah asyik meninju karung tinjunya dengan sekuat tenaga. Mengapa wanita yang juga pengacara itu rajin berlatih tinju di "Joe Frazier's Gym", dan bukannya bekerja di kantornya?

Jangan kaget, dialah Jaqui, putri Smokin' Joe alias Joe Frazier yang pada 1970-an pernah mengalahkan petinju legendaris Muhammad Ali. Dalam beberapa pertandingan keras lain dua kali ia hampir menang.

Dendam ayah beranak

Ternyata hingga kini Joe Frazier (56) belum bisa menerima kenyataan saat manajernya melempar handuk, tanda takluk, di ronde terakhir "Thrilla in Manila" tahun 1975. Padahal saat itu biarpun dipukul sampai setengah buta, Frazier ingin terus bertarung. Ia ingin menunjukkan kepada Ali dan dunia bahwa Smokin' Joe Frazier-lah yang terbesar, bukan Muhammad Ali si Mulut Besar.

Lebih-lebih selama bertahun-tahun Ali yang kharismatik dan kesayangan media sering mengolok-oloknya di atas maupun di luar ring. Kini saatnya ia membalas dendam lewat putrinya, Jaqui Frazier. Dengan tinjunya Jaqui diharapkan bisa menegakkan kehormatan keluarga, menghapus hinaan Ali. Setali tiga uang, Jaqui pun berharap bisa menganvaskan Laila Ali di ring, putri bungsu musuh bebuyutannya, yang sejak tiga tahun lalu naik daun sebagai petinju prof wanita. Itu sebabnya kini setiap pagi Jaqui rajin berlatih memukul kantung pasir di gim ayahnya.

Marvis, saudara laki-lakinya yang beberapa tahun lalu menjadi petinju kelas berat yang bermain sangat bagus, dan kini melatihnya, berpendapat serupa.

Pernyataan itu mampu menjawab teka-teki soal apa yang sesungguhnya ia cari. Bukankah sejak 1987 ia terjun menjadi pengacara dan sebagai putri seorang bekas juara tinju ia cukup kaya? Belum lagi, ia sudah menikah dan ibu dari tiga anak. Lebih-lebih usianya sudah 38 tahun, kurang baik untuk memulai olahraga yang menekankan adu kekuatan.

Dilupakan dunia

Perasaan amat diremehkan mengendap dalam diri Joe selama hidupnya. Ia yang berasal dari negara bagian selatan mengalami putus sekolah. Sebelum menjadi juara tinju dunia di New York, Joe pernah mencuri mobil untuk dijual. Ia pernah berangan-angan, andai bisa mengalahkan Muhammad Ali, ia akan mendapat beberapa juta untuk membeli mobil mahal serta menghadiahi istri dan pacarnya berlian sebesar kelereng. Ternyata ia salah. Masyarakat tidak sepenuhnya menerimanya. Sialnya lagi, tak ada yang peduli setelah ia gantung sarung tinju dan terjerat alkohol.

Bandingkan dengan Ali yang selalu disorot dunia. Saat ia menyalakan obor Olimpiade di Atlanta 1996, banyak orang mengucurkan air mata.

"Joe Frazier's Gym" berada di North Brown Street, Philadelphia, yang agak kumuh. Daerah ini memang kurang bisa dibanggakan. Terkadang terdengar deru kereta api di bawahnya, di sekitarnya ada sejumlah perusahaan kecil yang sederhana. Para pengemudi taksi pun selalu mengerutkan kening kalau ada orang yang minta diantar ke North Brown.

Di sasananya Joe masih menyimpan Jaguar atau Mercedes. Tangan kirinya yang terkenal keras pun bercincin emas besar. Kesuraman North Brown seimbang dengan sendu dan gelapnya sasana Joe. Hiasan yang ada cuma keyboard yang dimainkan instrukturnya kala iseng. Di dinding tergantung potret Joe Frazier, dihiasi sarung tinju emas superbesar yang agak kusam, bertuliskan pertandingan terbesar Frazier. Sebuah poster menantang mereka yang sedang berlatih, bunyinya: "Pemenang tidak pernah lemas. Orang yang lemas tidak pernah menang".

Kini Joe hanya sesekali muncul. Konon Frazier senior mempunyai dua atau tiga kekasih. Tapi komentar Marvis, "Ah, dia 'kan seorang laki-laki."

Nama Bizep Joe Frazier yang pernah besar itu kini kembali ke asal. Sehari-hari ia hanya mengenakan T-shirt hitam dan schlapphut (topi dari bahan lunak dengan pinggir lebar) hitam. Saat ia lewat, langkahnya gontai sambil mengisap cerutu superbesar. Jalannya yang agak goyang, katanya, tidak berhubungan dengan alkohol. "Saya minum lima tablet berbeda setiap hari untuk penyakit ginjal saya," katanya.

Pengacara ayah

Tepat di atas sasana, Jaqui membuka kantor pengacara. Di pintu terpampang tulisan "Suite 200". Ruangan itu dilengkapi sedikit perabot yang agak usang. Di atas almari besi bertumpuk surat penting diletakkan dua boneka gaya Barbie dan Ken: berupa Mini Ali dan Mini Frazier, menggambarkan "Thrilla in Manila".

Usai berlatih tinju, Jaqui melakukan tugas utama sebagai pengacara. Sudah bertahun-tahun ia mewakili kepentingan ayahnya yang terlibat proses perdata tentang tanah bangunan yang pernah dibeli Smokin' Joe, yang menurut pihak Frazier ditipu beberapa rekan bisnisnya.

"Sebagai pengacara ayah, saya belajar bertarung dan menerima kekalahan. Itu membantu saya di ring," kata Jaqui yang mengenakan rok sutera sepanjang bawah lutut untuk menutupi lututnya yang seperti balok beton, satu-satunya bagian tubuh yang tidak memuaskannya.

"Tujuan bertanding melawan Laila bukan untuk mencari duit. Saya panas padanya," aku Jaqui. Memang benar, karena pada pertandingan untuk memperebutkan gelar, petinju wanita terbaik hanya akan mendapat bayaran $ 10.000.

Suami Jaqui, Peter, pria tegap berbadan tambun yang berprofesi manajer kongres dan seminar, meyakinkan Jaqui agar tidak pusing memikirkan soal keuangannya, karena ia akan mengurus semuanya. Ia yakin, pertarungan "Ali" melawan "Frazier" wanita pasti menarik media dan TV swasta.

Tak heran bila hampir tiap hari ia rajin menelepon suami Laila, Johnny McClain. Bekas juara dunia kelas ringan itu tahu apa yang bisa diharapkan Laila dari Jaqui ataupun Jaqui dari Laila.

Si cantik senang berkelahi

Lucunya, Laila Ali (22) tidak terlalu tertarik pada pertandingan wanita abad XXI ini. "Jaqui siapa? Putri Joe Frazier? Saya bertinju bukan karena Jaqui Frazier, tapi karena saya suka," tegasnya.

Menurut dia lagi, tanpa harus bertanding dengan Jaqui pun ia akan tetap meneruskan hobinya. Sebelumnya, Laila yang cantik itu berprofesi sebagai ahli kecantikan. Gara-gara bertinju, ia harus mengorbankan kukunya yang panjang dan dicat merah darah.

Orang Amerika mengatakan, si seksi Laila yang berbibir tebal suka mengenakan blus tembus pandang itu "tumbuh dengan sendok perak di mulutnya". Sebenarnya, ayahnya telah menjauhkan putri bungsunya itu dari gemerlap dunia tinju. Malah setelah orang tuanya bercerai, putri kecil kesayangannya itu masuk sekolah terkemuka di Kalifornia seperti Malibu dan Marina del Rey.

Namun, tiba-tiba saja ia membangkang!

Kini Laila seakan "melangkah menyeberang jalan" yang gelap. Bukannya berkawan dengan remaja dari keluarga hitam yang maju, ia malah ikut geng jalanan. Bahkan ia pernah dihadapkan di meja pengadilan karena mencuri di toko.

Bila ditanya mengapa tiba-tiba bertinju, jawabannya sungguh tak dinyana, "Bukankah sudah sering saya berkelahi di jalanan? Saya memang suka bertanding. Sejak dulu saya tidak pernah kabur dari perkelahian."

Laila tidak mundur sekalipun ayahnya keberatan. "Ternyata ia keras kepala seperti saya," komentar Ali. Ali sedih ketika satu setengah tahun lalu mendengar Laila bertinju. Pasalnya, Ali tahu risikonya. Ia terkena Parkinson diduga juga akibat pukulan keras yang makin sering dialami di akhir kariernya.

Belakangan Ali mulai bisa menerima Laila naik ring. Empat dari delapan pertandingannya, kalau tidak dapat hadir, ia menghubungi lewat telepon. "Kamu meng-KO lagi, ya? Bagus," demikian antara lain komentarnya.

Namun, Ali tidak mau menjadi pelatih putrinya. Sekali-kali saja ia menasihati pelatih Laila, misalnya tinju kiri Laila harus lebih baik. Laila sadar, gaya bertinju masih harus diperbaiki walau selama ini ia selalu menang. Memang, di balik muka halusnya, Laila memiliki pundak lebar yang berotot. Itulah hasil berlatih tiga jam tiap hari di studio tinjunya yang sejuk dan bersih di Los Angeles Timur.

Tak takut muka rusak

Bagaimana komentar Laila tentang Jaqui? Dengan "warisan" mulut besar Ali, ia menjawab tahu cara menghadapinya. "Saya harap ia bertanding beberapa kali dulu dengan orang lain sebelum menghadapi saya, agar ia menjadi lebih baik. Andai toh terjadi pertandingan dalam waktu dekat, saya tidak begitu tertarik."

"Walau bisa mendapat banyak uang, saya tidak mau buru-buru. Jaqui jauh lebih tua, ia seperti dikejar waktu. Tapi kalau orang ingin melihat showdown itu, OK saja!"

Manajer dan suami Jaqui senang mendengarnya. Peter merancang menggelar pertandingan mereka mungkin bulan Maret ini, tepat 30 tahun setelah pertandingan pertama kedua orang tua mereka di Madison Square Garden.

Sebaliknya, seperti halnya Smokin' Joe, Jaqui "meledak" mendengar hinaan itu. "Kurang ajar, saya dianggap terlalu tua untuk bertinju," tegasnya. Padahal semasa mahasiswa, Jaqui pernah mendapat beasiswa atas prestasi olahraganya terutama dalam bidang bola basket. Selama beberapa tahun ia beroleh gelar pemain terbaik. Ia pun sudah enam kali bertanding pro dan semua ... menang!

"Jaqui amat percaya diri dan tenang. Tempo bertinjunya hebat, staminanya pun seperti kuda. Saya tidak akan membiarkan dia naik ring, kalau memang belum siap."

Laila tenang-tenang saja mendengar komentar Marvis. "Saya akan menghancurkannya seperti cara ayah saya. Frazier bukan petinju buruk. Namun, ia bukan Ali. Lagi pula ia bodoh. Tak hanya di ring, tetapi juga dalam bisnis," balasnya.

Jaqui yang dijuluki nama "Sister Smoke" mencoba tenang. Bukankah ia seorang pengacara berpengalaman yang tangguh, sedangkan "musuhnya" hanya seorang ahli kosmetik? Di balik pertentangan mereka, kedua wanita petinju itu sepakat tidak takut mukanya rusak. "Toh di AS ada ahli kosmetik terbaik di dunia," alasan mereka.

Lepas dari kemungkinan bakal serunya pertandingan itu, jangan sampai yang kalah kembali dibalut dendam, dan mewariskannya ke generasi berikut. Semoga.(Teja Fiedler/I)

Active Channel

© 1996 - 2000 Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/

Counter by Pandawa

Jelang Milenia III

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej