|
|
Bulan Maret 2001
|
|
MENIKMATI ANGIN DI PANTAI TERSEMBUNYI
Diam-diam
Gunung Kidul punya sederet pantai dengan beragam pesona: pasir putih,
ikan hias, semilir angin, dan hidangan ikan laut segar.
Dari Yogyakarta menuju pantai Gunung Kidul bisa ditempuh dengan
menggunakan kendaraan pribadi atau umum. Namun sesampai di Wonosari,
ibu kota kabupaten, untuk menuju pantai Sadang masih tersisa 40 km
lagi. Sayang tak ada kendaraan umum yang melayani pantai terpencil
ini. Kalau mau, bisa menumpang angkutan pribadi yang membawa hasil
bumi yang mondar-mandir di kawasan ini. Tentu dengan ongkos ala
kadarnya Rp 2.000 - Rp 3.000 sekali jalan. Lain halnya rute ke pantai
Baron dan Kukup yang dilayani kendaraan umum. Jaraknya juga hanya 18
km dari Wonosari.
Beraspal hotmix
Menyusuri wilayah Gunung Kidul adalah perjalanan yang menyenangkan.
Tak seperti kondisi masa lalu yang gersang dan rawan gizi. Gunung
Kidul kini menjelma menjadi kawasan hijau dan berkesan makmur.
Memang sesekali kekeringan masih menjadi persoalan serius, itu terjadi
manakala kemarau kelewat panjang. Selebihnya Gunung Kidul terbilang
asri dengan pepohonan hijau di sepanjang jalan. Bukit-bukit yang dulu
dibiarkan membelukar, kini dibikin teras-teras dengan tanaman
singkong, kacang-kacangan, atau tanaman keras jati. Sementara jaringan
jalan ke seluruh pelosok Gunung Kidul sudah beraspal hotmix.
Pantas bila acungan jempol dialamatkan pada Bupati Gunung Kidul tahun
1980-an Darmakum Darmakusumo. Di tangan alumnus Fakultas Kehutanan UGM
ini wajah muram Gunung Kidul disulap. Agaknya ia tahu betul
karakteristik tanah Gunung Kidul sehingga ia memilih jenis-jenis
tanaman yang cocok tumbuh di atasnya.
Dengan kondisi seperti itu 2 jam perjalanan antara Yogyakarta - Sadang
jadi terasa singkat. Apalagi saya ditemani Pak Bambang (43), guru yang
tinggal di Yogyakarta tapi mengajar di salah satu SLTP Negeri 15 km
selatan Wonosari.
Kebetulan ia libur karena hari itu persiapan Ebtanas. Pak Bambang yang
bertubuh tambun dan humoris ini banyak bercerita tentang kemajuan yang
dicapai oleh masyarakat Gunung Kidul.
Menurut pengamatan guru yang sudah berpengalaman 15 tahun ini,
masyarakat yang ada di perantauan maupun yang tinggal di Gunung Kidul
banyak yang meraih sukses. Ini lantaran mereka terbiasa bekerja keras
di tanah kelahirannya yang tandus. Ia lalu memberi contoh, sejak
digalakkan program penghijauan masyarakat mulai getol menanam pohon
jati di halaman rumahnya. Setelah berumur 10 - 15 tahun pohon jati
muda berdiamater kira-kira 12 cm itu mereka tebang. Kayu gelondongan
itu mereka potong-potong 3 - 4 m dan dijual kepada pemakai langsung
atau tengkulak. Sementara dahan-dahan yang lebih kecil atau kayu yang
bentuknya kurang baik dibeli perajin patung asal Klaten, Jawa Tengah,
untuk diolah menjadi hiasan.
Selain kayu jati, usaha penggemukan lembu pun menjadi komoditas
ekonomi penting. Warga malah memberlakukan ternak itu sebagai
tabungan. Mereka membeli lembu muda yang masih kurus. Setelah
dipelihara lembu "peraman" ini menjadi besar dan gemuk. Nah,
menjelang Lebaran atau hari-hari besar lainnya mereka menjualnya
dengan harga yang lumayan tinggi.
Sungguh asyik mendengar semua tuturan menariknya itu sehingga tak
terasa kami sudah sampai di pantai Sadang. Pagi itu Sadang baru saja
diguyur hujan.
Sadang berada di ujung paling timur wilayah Gunung Kidul. Sebenarnya
pantai ini adalah sebuah cekungan kecil di antara dua bukit. Untuk
menahan hantaman ganas ombak pantai laut selatan, Departemen
Perhubungan wilayah Gunung Kidul membuat bangunan penahan ombak.
Sedangkan di sisi barat dibuat jalan masuk bagi perahu-perahu nelayan
yang berlabuh.
Bisa mancing
Sadang barangkali lebih dikenal sebagai pelabuhan nelayan ketimbang
tempat rekreasi. Beberapa perahu tertambat di kolam dermaga yang
jernih. Sebagian nelayan membenahi jaring atau menambah bahan bakar.
Bagi yang gemar memancing, bisa menyalurkan hobinya itu di atas
bangunan beton penahan ombak yang berbatasan dengan laut lepas.
Menurut Suraji, seorang nelayan, para nelayan umumnya melaut pukul
04.00 dan kembali pukul 09.00. Wilayah jelajahnya hanya seputaran laut
selatan Gunung Kidul. Nelayan Gunung Kidul memang terhitung baru dalam
kancah pencarian ikan di laut lepas. "Tahun 1980 ada nelayan asal
Cilacap yang berlabuh di sini," katanya.
Lambat laun ketrampilan melaut mulai diminati oleh penduduk yang
sebelumnya buta laut. Kesempatan ini tak disia-siakan oleh pemilik
modal dari luar yang dengan sigap mencari mitra lokal untuk diajak
bekerja sama. "Kalau diperhatikan pemilik perahu umumnya orang
luar, misalnya Yogya, Solo, atau Cilacap," papar Marno, nelayan
yang ditemui di pantai Baron.
Tapi saat kami ke sana, kebetulan Baron sedang tak musim ikan.
"Wah, lagi sepi!" ujar seorang nelayan sambil membetulkan
jaringnya. Ia kemudian memberi gambaran bagaimana beruntungnya petani
saat musim ikan. Pernah dalam satu kali melaut nelayan bisa menangkap
3 kuintal ikan. Lebih untung lagi bila mereka mendapatkan ikan bawal.
Dengan harga Rp 8.000,-/kg, bayangkan berapa juta rupiah yang bisa
mereka raup. "Waktu itu kredit perahu seharga Rp 25 juta lunas
dalam 5 - 6 bulan."
Tapi yang namanya komoditas perikanan selalu mengalami pasang surut.
Bila sedang tak musim, untuk menangguk beberapa puluh kg ikan saja
sulitnya bukan main. Apalagi budaya melaut belum akrab betul dengan
para nelayan pantai selatan Yogyakarta ini.
Itulah sebabnya mereka suka-suka saja melaut. Terbukti, meski waktu
baru menunjukkan pukul 15.30, sudah tampak perahu yang diawaki oleh
dua orang melaut. Padahal, umumnya nelayan di wilayah lain mulai
melaut pukul 20.00, dan mendarat pukul 05.00. Sementara itu wilayah
pencarian ikan juga terbilang sempit, cuma di sekitar pantai selatan
Daerah Istimewa Yogyakarta, sepanjang kira-kira 60 km.
Kendati begitu aktivitas perikanan itu menghidupkan ekonomi rakyat. Di
Sadang maupun Baron bisa dijumpai tempat pelelangan ikan dalam skala
kecil. Di situ kita bisa membeli aneka ikan segar macam pari, bawal,
kerapu, atau tongkol dengan kisaran harga Rp 6.000,- - Rp 12.000,- per
kg tergantung jenis ikan. Malah, warung-warung di sana pun bisa
diminta untuk memasakkan.
Sungai bawah tanah
Ditinjau dari sisi geografis Baron memang cocok untuk tempat berlabuh
perahu. Pantainya menjorok ke dalam, tersembunyi di antara dua bukit.
Di bukit yang menjorok ke dalam di bawah tanah muncul sungai dari
bawah tanah yang berair tawar. Airnya amat jernih dan segar. Sebagian
pengunjung bahkan menikmati kesegarannya dengan mandi dan berendam di
air yang bebas polusi itu.
Di Baron sungai yang konon mengalir di bawah Kota Wonosari ini membagi
pantai menjadi dua bagian. Dalam keadaan pasang, air laut mendekati
bibir daratan. Sementara dalam keadaan surut pantai Baron seperti
terbelah dua: bagian dalam sungai dan bagian luar sungai yang
berbatasan langsung dengan laut lepas. Daratan pasir luar sungai ini
kerap dipakai oleh pengunjung untuk bermain-main.
Pengunjung juga bisa menikmati keindahan pantai Baron dari atas bukit
sebelah timur. Dari tempat parkir tinggal berjalan ke timur. Di antara
deretan warung ada jalanan menanjak. Dari situ terbentang jalan
setapak ke arah selatan. Di sisi kanan sepanjang jalan itu terlihat
seluruh kawasan pantai Baron. Pada ujung jalan terdapat gardu pandang,
di mana kita bisa memandang laut lepas dengan tiupan angin yang luar
biasa kencang. Sensasi di sini sungguh luar biasa. Badan merinding,
tubuh rasanya mau melayang saja.
Bila pandangan dilayangkan ke timur, tampak pantai berpasir putih
Kukup. Salah satu ciri khas yang bisa dijumpai adalah adanya penjualan
ikan hias laut. Bermodalkan ember, seser (jaring kecil), kantung
plastik, dan lampu petromaks para pedagang menangkap berbagai jenis
ikan yang ada di sela-sela karang. Dalam menentukan jadwal penangkapan
mereka hanya berpedoman pada pasang surut air laut dan peredaran bulan
menurut kalender Jawa.
Hasilnya mereka setorkan kepada pedagang pengumpul dari Yogyakarta,
Solo, dan Semarang. Sementara sisanya dijajakan di pantai dengan
membikin kolam-kolaman 1 x 2 m2 yang berlapis plastik. Ikan
pari, kuda laut, butana kasur, kepe-kepe, pelata, dan jenis ikan
lainnya bisa didapatkan di situ. Harganya tidak terlalu mahal. Kecuali
jenis trigger kembang yang mencapai puluhan ribu. Menurut Pak
Bambang, bila sudah sore, ikan-ikan tersebut bisa diborong dengan
harga Rp 5.000,-.
Selain ikan hiasnya, Kukup juga terkenal dengan gugusan pulau karang
kecil yang menyerupai bentuk Tanah Lot di Bali. Pulau yang terpisah
dengan Kukup ini bisa dicapai dengan jembatan sepanjang 25 m.
Sementara dari Kukup Anda bisa berjalan ke arah barat menyusuri pantai
yang berbukit. Bagi Anda yang suka jalan, trekking ini
merupakan kegiatan yang menyenangkan. Sambil melatih jantung Anda bisa
menikmati pemandangan ke laut lepas dan merasakan desiran angin
pantai. Kalau kuat, dalam waktu 30 menit, Anda akan tiba di sisi timur
pantai Baron. |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online
|
|||||