globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan Maret 2001

Segera terbit buku Oei Hong Kian, Dokter Gigi Soekarno; Peranakan yang Hidup dalam Tiga Budaya

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

MENIKMATI ANGIN DI PANTAI TERSEMBUNYI 

Diam-diam Gunung Kidul punya sederet pantai dengan beragam pesona: pasir putih, ikan hias, semilir angin, dan hidangan ikan laut segar.

Kendati cuma seluas 3.142 km2 atau 0,175 dari luas wilayah Indonesia, propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta kaya akan pantai. Parangtritis cuma salah satu yang namanya melegenda. Selebihnya di Kabupaten Gunung Kidul terdapat pantai Sadang, Wediombo, Krakal, Kukup, dan Baron yang tak kalah elok. Kalau Parangtritis berciri khas garis pantai panjang dan landai, pantai di selatan Gunung Kidul bergaris pantai sempit, menjorok ke dalam.

Dari Yogyakarta menuju pantai Gunung Kidul bisa ditempuh dengan menggunakan kendaraan pribadi atau umum. Namun sesampai di Wonosari, ibu kota kabupaten, untuk menuju pantai Sadang masih tersisa 40 km lagi. Sayang tak ada kendaraan umum yang melayani pantai terpencil ini. Kalau mau, bisa menumpang angkutan pribadi yang membawa hasil bumi yang mondar-mandir di kawasan ini. Tentu dengan ongkos ala kadarnya Rp 2.000 - Rp 3.000 sekali jalan. Lain halnya rute ke pantai Baron dan Kukup yang dilayani kendaraan umum. Jaraknya juga hanya 18 km dari Wonosari.

Beraspal hotmix

Menyusuri wilayah Gunung Kidul adalah perjalanan yang menyenangkan. Tak seperti kondisi masa lalu yang gersang dan rawan gizi. Gunung Kidul kini menjelma menjadi kawasan hijau dan berkesan makmur.

Memang sesekali kekeringan masih menjadi persoalan serius, itu terjadi manakala kemarau kelewat panjang. Selebihnya Gunung Kidul terbilang asri dengan pepohonan hijau di sepanjang jalan. Bukit-bukit yang dulu dibiarkan membelukar, kini dibikin teras-teras dengan tanaman singkong, kacang-kacangan, atau tanaman keras jati. Sementara jaringan jalan ke seluruh pelosok Gunung Kidul sudah beraspal hotmix.

Pantas bila acungan jempol dialamatkan pada Bupati Gunung Kidul tahun 1980-an Darmakum Darmakusumo. Di tangan alumnus Fakultas Kehutanan UGM ini wajah muram Gunung Kidul disulap. Agaknya ia tahu betul karakteristik tanah Gunung Kidul sehingga ia memilih jenis-jenis tanaman yang cocok tumbuh di atasnya.

Dengan kondisi seperti itu 2 jam perjalanan antara Yogyakarta - Sadang jadi terasa singkat. Apalagi saya ditemani Pak Bambang (43), guru yang tinggal di Yogyakarta tapi mengajar di salah satu SLTP Negeri 15 km selatan Wonosari.

Kebetulan ia libur karena hari itu persiapan Ebtanas. Pak Bambang yang bertubuh tambun dan humoris ini banyak bercerita tentang kemajuan yang dicapai oleh masyarakat Gunung Kidul.

Menurut pengamatan guru yang sudah berpengalaman 15 tahun ini, masyarakat yang ada di perantauan maupun yang tinggal di Gunung Kidul banyak yang meraih sukses. Ini lantaran mereka terbiasa bekerja keras di tanah kelahirannya yang tandus. Ia lalu memberi contoh, sejak digalakkan program penghijauan masyarakat mulai getol menanam pohon jati di halaman rumahnya. Setelah berumur 10 - 15 tahun pohon jati muda berdiamater kira-kira 12 cm itu mereka tebang. Kayu gelondongan itu mereka potong-potong 3 - 4 m dan dijual kepada pemakai langsung atau tengkulak. Sementara dahan-dahan yang lebih kecil atau kayu yang bentuknya kurang baik dibeli perajin patung asal Klaten, Jawa Tengah, untuk diolah menjadi hiasan.

Selain kayu jati, usaha penggemukan lembu pun menjadi komoditas ekonomi penting. Warga malah memberlakukan ternak itu sebagai tabungan. Mereka membeli lembu muda yang masih kurus. Setelah dipelihara lembu "peraman" ini menjadi besar dan gemuk. Nah, menjelang Lebaran atau hari-hari besar lainnya mereka menjualnya dengan harga yang lumayan tinggi.

Sungguh asyik mendengar semua tuturan menariknya itu sehingga tak terasa kami sudah sampai di pantai Sadang. Pagi itu Sadang baru saja diguyur hujan.

Sadang berada di ujung paling timur wilayah Gunung Kidul. Sebenarnya pantai ini adalah sebuah cekungan kecil di antara dua bukit. Untuk menahan hantaman ganas ombak pantai laut selatan, Departemen Perhubungan wilayah Gunung Kidul membuat bangunan penahan ombak. Sedangkan di sisi barat dibuat jalan masuk bagi perahu-perahu nelayan yang berlabuh.

Bisa mancing

Sadang barangkali lebih dikenal sebagai pelabuhan nelayan ketimbang tempat rekreasi. Beberapa perahu tertambat di kolam dermaga yang jernih. Sebagian nelayan membenahi jaring atau menambah bahan bakar. Bagi yang gemar memancing, bisa menyalurkan hobinya itu di atas bangunan beton penahan ombak yang berbatasan dengan laut lepas.

Menurut Suraji, seorang nelayan, para nelayan umumnya melaut pukul 04.00 dan kembali pukul 09.00. Wilayah jelajahnya hanya seputaran laut selatan Gunung Kidul. Nelayan Gunung Kidul memang terhitung baru dalam kancah pencarian ikan di laut lepas. "Tahun 1980 ada nelayan asal Cilacap yang berlabuh di sini," katanya.

Lambat laun ketrampilan melaut mulai diminati oleh penduduk yang sebelumnya buta laut. Kesempatan ini tak disia-siakan oleh pemilik modal dari luar yang dengan sigap mencari mitra lokal untuk diajak bekerja sama. "Kalau diperhatikan pemilik perahu umumnya orang luar, misalnya Yogya, Solo, atau Cilacap," papar Marno, nelayan yang ditemui di pantai Baron.

Tapi saat kami ke sana, kebetulan Baron sedang tak musim ikan. "Wah, lagi sepi!" ujar seorang nelayan sambil membetulkan jaringnya. Ia kemudian memberi gambaran bagaimana beruntungnya petani saat musim ikan. Pernah dalam satu kali melaut nelayan bisa menangkap 3 kuintal ikan. Lebih untung lagi bila mereka mendapatkan ikan bawal. Dengan harga Rp 8.000,-/kg, bayangkan berapa juta rupiah yang bisa mereka raup. "Waktu itu kredit perahu seharga Rp 25 juta lunas dalam 5 - 6 bulan."

Tapi yang namanya komoditas perikanan selalu mengalami pasang surut. Bila sedang tak musim, untuk menangguk beberapa puluh kg ikan saja sulitnya bukan main. Apalagi budaya melaut belum akrab betul dengan para nelayan pantai selatan Yogyakarta ini.

Itulah sebabnya mereka suka-suka saja melaut. Terbukti, meski waktu baru menunjukkan pukul 15.30, sudah tampak perahu yang diawaki oleh dua orang melaut. Padahal, umumnya nelayan di wilayah lain mulai melaut pukul 20.00, dan mendarat pukul 05.00. Sementara itu wilayah pencarian ikan juga terbilang sempit, cuma di sekitar pantai selatan Daerah Istimewa Yogyakarta, sepanjang kira-kira 60 km.

Kendati begitu aktivitas perikanan itu menghidupkan ekonomi rakyat. Di Sadang maupun Baron bisa dijumpai tempat pelelangan ikan dalam skala kecil. Di situ kita bisa membeli aneka ikan segar macam pari, bawal, kerapu, atau tongkol dengan kisaran harga Rp 6.000,- - Rp 12.000,- per kg tergantung jenis ikan. Malah, warung-warung di sana pun bisa diminta untuk memasakkan.

Sungai bawah tanah

Ditinjau dari sisi geografis Baron memang cocok untuk tempat berlabuh perahu. Pantainya menjorok ke dalam, tersembunyi di antara dua bukit. Di bukit yang menjorok ke dalam di bawah tanah muncul sungai dari bawah tanah yang berair tawar. Airnya amat jernih dan segar. Sebagian pengunjung bahkan menikmati kesegarannya dengan mandi dan berendam di air yang bebas polusi itu.

Di Baron sungai yang konon mengalir di bawah Kota Wonosari ini membagi pantai menjadi dua bagian. Dalam keadaan pasang, air laut mendekati bibir daratan. Sementara dalam keadaan surut pantai Baron seperti terbelah dua: bagian dalam sungai dan bagian luar sungai yang berbatasan langsung dengan laut lepas. Daratan pasir luar sungai ini kerap dipakai oleh pengunjung untuk bermain-main.

Pengunjung juga bisa menikmati keindahan pantai Baron dari atas bukit sebelah timur. Dari tempat parkir tinggal berjalan ke timur. Di antara deretan warung ada jalanan menanjak. Dari situ terbentang jalan setapak ke arah selatan. Di sisi kanan sepanjang jalan itu terlihat seluruh kawasan pantai Baron. Pada ujung jalan terdapat gardu pandang, di mana kita bisa memandang laut lepas dengan tiupan angin yang luar biasa kencang. Sensasi di sini sungguh luar biasa. Badan merinding, tubuh rasanya mau melayang saja.

Bila pandangan dilayangkan ke timur, tampak pantai berpasir putih Kukup. Salah satu ciri khas yang bisa dijumpai adalah adanya penjualan ikan hias laut. Bermodalkan ember, seser (jaring kecil), kantung plastik, dan lampu petromaks para pedagang menangkap berbagai jenis ikan yang ada di sela-sela karang. Dalam menentukan jadwal penangkapan mereka hanya berpedoman pada pasang surut air laut dan peredaran bulan menurut kalender Jawa.

Hasilnya mereka setorkan kepada pedagang pengumpul dari Yogyakarta, Solo, dan Semarang. Sementara sisanya dijajakan di pantai dengan membikin kolam-kolaman 1 x 2 m2 yang berlapis plastik. Ikan pari, kuda laut, butana kasur, kepe-kepe, pelata, dan jenis ikan lainnya bisa didapatkan di situ. Harganya tidak terlalu mahal. Kecuali jenis trigger kembang yang mencapai puluhan ribu. Menurut Pak Bambang, bila sudah sore, ikan-ikan tersebut bisa diborong dengan harga Rp 5.000,-.

Selain ikan hiasnya, Kukup juga terkenal dengan gugusan pulau karang kecil yang menyerupai bentuk Tanah Lot di Bali. Pulau yang terpisah dengan Kukup ini bisa dicapai dengan jembatan sepanjang 25 m. Sementara dari Kukup Anda bisa berjalan ke arah barat menyusuri pantai yang berbukit. Bagi Anda yang suka jalan, trekking ini merupakan kegiatan yang menyenangkan. Sambil melatih jantung Anda bisa menikmati pemandangan ke laut lepas dan merasakan desiran angin pantai. Kalau kuat, dalam waktu 30 menit, Anda akan tiba di sisi timur pantai Baron. (G. Sujayanto)

Active Channel

© 1996 - 2000 Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/

Counter by Pandawa

Jelang Milenia III

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej