globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan Maret 2001

Segera terbit buku Oei Hong Kian, Dokter Gigi Soekarno; Peranakan yang Hidup dalam Tiga Budaya

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

TEROBOSAN BARU: LASER UNTUK BEDAH WASIR 

Ada beragam upaya menyembuhkan wasir. Mulai dari minum obat-obatan, suntik, hingga operasi. Sebagai upaya pengobatan terakhir, dokter umumnya melakukan bedah pisau (konvensional, terutama untuk wasir yang sudah parah "merekah"). Tapi, saat ini RS Pluit, Jakarta Utara, telah memperkenalkan teknik bedah menggunakan light amplification by stimulated emission of radiation (laser) untuk menghilangkan wasir. Selain tanpa rasa nyeri, juga lebih cepat sembuh.

Secara garis besar ada dua tingkat penyembuhan wasir, yakni lewat pengobatan dan bedah. Seperti kita ketahui, pembuluh darah yang melebar biasanya terhambat atau tidak lancar peredaran darahnya. Untuk kasus seperti ini, menurut Dr. Peter Hasan, ahli bedah laser dari RS Pluit, Jakarta Utara, penderita perlu diberi obat-obatan untuk memperlancar aliran darah. Juga obat untuk memperlancar buang air besar.

"Yang biasa diatasi dengan obat-obatan, terutama untuk wasir derajat I dan II. Tapi kalau terjadi pendarahan, dan tidak mempan diobati, ya dilakukan tindakan lain untuk menghentikan pendarahan itu. Bisa suntikan, mengikat, membakar, atau membekukan. Itu biasa untuk derajat II dan III. Di sini tidak ada tindakan pemotongan jaringan," tutur Peter Hasan. Terapi medis biasanya dengan obat venotropik, steroida topikal, analgesik, dan pelembut defekasi.

Wasir stadium I gejalanya minimal, pendarahan, tidak nyeri, dan tanpa benjolan. Stadium II, muncul benjolan (prolaps) di dubur pada saat buang air besar, dan spontan bisa masuk kembali. Wasir stadium III, benjolan tidak masuk kembali seusai buang air besar dan harus didorong pakai tangan. Stadium IV, penonjolan disertai nyeri dan tidak dapat dimasukkan lagi.

Untuk wasir derajat III dan IV, lanjut dr. Peter Hasan, baru dilakukan tindakan bedah dengan memotong dan membuang jaringan wasir. Karena sudah tidak bisa lagi dengan cara lain. Ada tiga tindakan bedah yang bisa dilakukan, yakni operasi konvensional (menggunakan pisau dan gunting), bedah dengan laser (sinar laser sebagai alat potongnya), dan bedah stapler (wasir dipotong dan langsung dijepit supaya tidak berdarah).

Sejak 1993, teknik Hemoroid Stapler dikembangkan di Italia, baru kemudian diadopsi oleh negara lain, termasuk Indonesia tahun 1999. RS Pluit menerapkan teknik Hemoroid Stapler sejak awal 2000. Teknik ini tidak membuang jaringan wasir, tapi menghentikan suplai darah (vaskulerasasi) terhadap jaringan wasir. Akibatnya, jaringan wasir akan mengempis sendiri. Rasa nyeri pun sangat berkurang bila dibandingkan dengan operasi biasa. Juga mengurangi waktu perawatan di RS sehingga menghemat biaya. Pasien pun bisa kembali melakukan aktivitas normal.

Sementara saat ini, tambah Peter Hasan, untuk operasi wasir, masih banyak yang konvensional (operasi biasa). Sementara untuk bedah laser belum banyak yang punya peralatannya. Namun di RS Pluit, semakin "populer" dan makin banyak jumlah pasien wasir disembuhkan dengan teknik bedah laser.

Ada beberapa keuntungan

"Operasi laser sebetulnya merupakan modifikasi teknik bedah juga. Hanya saja alat pemotongnya bukan pisau atau gunting, tapi laser," jelas Peter Hasan. Teknologi laser sebenarnya tidak baru, sudah diterapkan untuk bedah wasir sejak tahun 1985-an. Namun khusus di Indonesia, RS Pluit menjadi pionir dalam menerapkan teknik bedah laser, sekitar tahun 1990.

Apa keunggulannya? Yang pasti, ujar Peter, teknik bedah laser lebih "populer" bagi pasien. Apalagi bagi yang pernah menjalani operasi konvensional, begitu dioperasi mengggunakan laser, akan bisa membandingkannya.

"Dulu saya tidak bisa berkerja selama seminggu karena jungkir-jungkir kesakitan. Sekarang dengan bedah laser, esoknya sudah bisa kerja," ujar Peter Hasan, menirukan pengakuan salah satu pasien yang pernah dioperasinya.

'Pisau laser', tambah Peter, selain memotong jaringan wasir, juga 'mematri' pembuluh darah sehingga tidak banyak darah keluar. Begitu juga saraf - banyak terdapat di dubur - yang terpotong tidak menyebabkan serabut sarafnya terbuka. Lain kalau dipotong pakai pisau, serabut saraf tidak mengerut, sementara itu selubungnya mengerut, sehingga serabut saraf menjadi terbuka.

"Itu yang bikin pasien kesakitan setengah mati. Sedangkan dengan bedah laser, serabut saraf dan selubung saraf bisa menempel jadi satu, seperti terpatri. Jadi, serabut saraf tidak terbuka dan terekspos. Sehingga tidak begitu sakit."

Karena tidak terlalu sakit, lanjut Peter, pasien tidak perlu dirawat inap. Cukup dengan obat jalan. "Hanya kalau ada hal yang mengganggu, misalnya sakit jantung, gagal ginjal sehingga harus cuci darah, ada gangguan pembekuan darah, ya perlu rawat inap," lanjutnya.

Selain tanpa atau sedikit sekali rasa sakit, juga sedikit sekali pendarahan. Begitu juga pembengkakan berkurang. Tapi bagaimana dengan luka bekas operasinya?

"Luka sih di mana pun tempatnya kalau tersentuh, ya sakit. Terutama saat buang air besar pertama kali sejak pascabedah. Apalagi kalau kotoran keras, rasa sakit itu muncul. Tapi buang air besar selanjutnya biasanya tidak sakit. Pasien bisa jalan-jalan ataupun melakukan kegiatan lain," tegasnya.

Untuk mencegah timbulnya infeksi pascabedah, tutur Peter Hasan, pasien diberi antibiotik. Pencegahan berlangsung selama minggu pertama.

"Setelah daya perlindungan terhadap luka ada, ya cukup direndam obat. Dulu pernah pasien tidak diberi antibiotik, meniru di AS, tapi ternyata sekian persen pasien di sini terkena infeksi," kenangnya.

Tentang efek sampingan, menurut Peter Hasan, kalau bekerjanya baik, tidak ada efek sampingan. Kemungkinan komplikasi sama seperti pada pembedahan umumnya, hanya saja lebih kecil. Bedah laser ini tidak menimbulkan jaringan parut. Jadi, tidak seperti pada bedah konvensional yang banyak timbul jaringan parut.

Butuh waktu 45 menit

Pertama-tama dokter memberikan suntikan di tangan agar pasien tenang. Begitu pula otot seputar dubur dilemaskan, supaya gampang mengeluarkan jaringan wasirnya. Kemudian ia disuntik bius lokal. Begitu pasien tidak merasakan sakit, pemotongan jaringan wasir dapat dimulai. Tentu saja didahului dengan pembersihan di daerah sasaran operasinya. Selanjutnya dengan menggunakan hand-piece sinar laser diarahkan (difokuskan) ke titik sasaran (jaringan wasir) yang akan dipotong.

Posisi ujung laser, jelas Peter, tidak kontak atau menempel, tapi agak jauh, beberapa sentimeter dari titik sasaran. Laser ditembakkan terus sampai jaringan wasir terpotong, sekaligus terpatri.

"Lalu sumber pendarahan atau pangkal pembuluh darahnya dijahit atau diikat. Sementara lukanya dibiarkan terbuka. Kalau luka dijahit, besar kemungkinan terselip kotoran sehingga dapat terjadi infeksi. Penyembuhan luka cukup lewat obat oral," lanjut Peter.

Sementara ada jaringan-jaringan wasir kecil yang memang tidak perlu diangkat. "Cukup ditembak laser, ia akan menguncup, kempis, dan hilang," tambahnya. Seluruh proses bedah - mulai dari suntik hingga selesai - berlangsung sekitar 45 menit. Namun adakalanya sampai satu jam lebih, kalau parah.

Untuk bedah wasir, pihak RS Pluit terutama menggunakan laser CO2. "Laser CO2, enak buat pasien, tidak bikin bengkak. Bisa juga pakai laser KTP. Enak bagi dokternya, karena tidak banyak keluar darah, tapi lebih bengkak. Ada pula laser Nd:YAG. Untuk bedah wasir, diperlukan daya laser 12 - 14 watt."

Berapa lama luka bisa sembuh? Di mana pun letaknya, di kulit atau dubur, luka terbuka yang tidak dijahit lama sembuhnya.

"Luka di kulit wajah atau kepala, misalnya, kalau tidak dijahit perlu waktu tiga minggu untuk bisa menutup kembali. Apalagi luka di siku, lutut, atau tempat lain yang banyak gerak, bisa lebih lama lagi sembuhnya, 4 - 6 minggu. Begitu pula dubur, tiap hari digunakan untuk buang air besar, butuh kira-kira 4 - 6 minggu untuk bisa sembuh dari luka terbuka."

Begitupun, meski sudah dianggap sembuh, lanjut Peter, luka itu masih belum kuat. Kalau ditarik masih bisa robek lagi. Oleh karena itu, luka di dubur sehabis operasi masih perlu dikontrol.

"Biasanya pasien operasi wasir kontrol sampai tiga bulan. Baru setelah 3 - 4 bulan, luka itu akan sama kuat dengan kulit atau jaringan sekitarnya. Sehingga sudah bisa lebih bebas, artinya buang air besar lebih keras pun boleh."

Artinya, sebelum 3 - 4 bulan, pasien pascabedah laser tidak boleh buang air besar yang keras. Karena bisa meregangkan atau bahkan merobek bekas luka yang sudah menutup, kemudian memperlambat penyembuhan luka itu.

Lewat 3 - 4 bulan pascabedah pun, pasien diharapkan tetap mengikuti anjuran dokter agar tidak kambuh lagi. "Seumur hidupnya ia harus menjaga pola makan. Buang air besar juga harus betul. Tidak boleh mengejan saat buang air besar. Sebab, kalau pembuluh darah mendapat tekanan tinggi, bisa melendung dan timbul wasir lagi. Ibarat ban sepeda, kalau dipompa terlalu keras pasti ada bagian yang melendung lebih besar."

Kemungkinan kambuh lagi? "Bukan saja kemungkinan besar, tapi pasti akan kambuh kalau saja 'larangan' tadi dilanggar. Siapa pun dokternya, dan di mana pun berobatnya, pasti akan kambuh. Karena 'merek' pembuluh darah di dubur enggak bisa diganti. Kalau mendapat tekanan tinggi pasti akan melendung."

Kiat yang juga penting agar tidak kambuh, tambah Peter Hasan, banyak makan sayur. Minum tidak kurang dua liter sehari. Cara buang air besarnya juga harus betul. Kalau sudah mulas mau buang air besar, jangan ditunda. Kalau ditunda sampai beberapa hari, fesesnya sudah mengeras.

"Boleh saja pantang daging kambing, misalnya. Namun itu tidak mutlak, boleh saja makan. Tidak banyak makan sambel, karena bisa panas. Yang wajib adalah jangan sampai BAB keras atau sebaliknya mencret. Mencret juga bisa memacu timbulnya wasir. Karena saat mencret atau mulas orang pun cenderung mengejan."

Tingkat keberhasilan? "Itu sih tergantung dokternya. Kalau dikerjakan dengan betul, baik pakai teknik konvensional maupun laser, hasil akhirnya akan sama," kata Peter Hasan. Namun untuk bedah laser, pasien dikenakan biaya sekitar Rp 3 juta.

Ada operasi ulang? "Adakalanya operasi ulang, kalau memang dijadwalkan. Bukan karena kegagalan operasi. Terutama kalau kasus wasir sudah parah. Wasir muncul mengelilingi dubur, seperti bunga mekar merekah. Untuk kasus demikian, tentu tidak dapat membuang jaringan wasir semuanya. Paling cuma bisa mengoperasi tiga posisi sumber pendarahan utama. Biasanya disebut posisi pukul tiga, pukul tujuh, dan pukul sebelas," jelas Peter.

Kalau jaringan di tiga posisi dibuang, lanjutnya, biasanya kondisi akan membaik dan tidak kambuh lagi. Sementara jaringan lain yang belum dibuang akan menguncup kecil. Nah, kalau pasien merasa terganggu atau risih, baru setahun kemudian bisa dilakukan operasi kedua untuk membuang jaringan wasir yang belum terbuang. Namun untuk saat ini, operasi kedua sangat jarang. (A. Hery Suyono)

Active Channel

© 1996 - 2000 Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/

Counter by Pandawa

Jelang Milenia III

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej