|
|
Bulan Maret 2001
|
|
TEROBOSAN
BARU: LASER UNTUK BEDAH WASIR
"Yang biasa diatasi dengan obat-obatan, terutama untuk wasir
derajat I dan II. Tapi kalau terjadi pendarahan, dan tidak mempan
diobati, ya dilakukan tindakan lain untuk menghentikan pendarahan itu.
Bisa suntikan, mengikat, membakar, atau membekukan. Itu biasa untuk
derajat II dan III. Di sini tidak ada tindakan pemotongan
jaringan," tutur Peter Hasan. Terapi medis biasanya dengan obat
venotropik, steroida topikal, analgesik, dan pelembut defekasi.
Wasir stadium I gejalanya minimal, pendarahan, tidak nyeri, dan tanpa
benjolan. Stadium II, muncul benjolan (prolaps) di dubur pada saat
buang air besar, dan spontan bisa masuk kembali. Wasir stadium III,
benjolan tidak masuk kembali seusai buang air besar dan harus didorong
pakai tangan. Stadium IV, penonjolan disertai nyeri dan tidak dapat
dimasukkan lagi.
Untuk wasir derajat III dan IV, lanjut dr. Peter Hasan, baru dilakukan
tindakan bedah dengan memotong dan membuang jaringan wasir. Karena
sudah tidak bisa lagi dengan cara lain. Ada tiga tindakan bedah yang
bisa dilakukan, yakni operasi konvensional (menggunakan pisau dan
gunting), bedah dengan laser (sinar laser sebagai alat potongnya), dan
bedah stapler (wasir dipotong dan langsung dijepit supaya tidak
berdarah).
Sejak 1993, teknik Hemoroid Stapler dikembangkan di Italia, baru
kemudian diadopsi oleh negara lain, termasuk Indonesia tahun 1999. RS
Pluit menerapkan teknik Hemoroid Stapler sejak awal 2000. Teknik ini
tidak membuang jaringan wasir, tapi menghentikan suplai darah
(vaskulerasasi) terhadap jaringan wasir. Akibatnya, jaringan wasir
akan mengempis sendiri. Rasa nyeri pun sangat berkurang bila
dibandingkan dengan operasi biasa. Juga mengurangi waktu perawatan di
RS sehingga menghemat biaya. Pasien pun bisa kembali melakukan
aktivitas normal.
Sementara saat ini, tambah Peter Hasan, untuk operasi wasir, masih
banyak yang konvensional (operasi biasa). Sementara untuk bedah laser
belum banyak yang punya peralatannya. Namun di RS Pluit, semakin
"populer" dan makin banyak jumlah pasien wasir disembuhkan
dengan teknik bedah laser.
Ada beberapa keuntungan
"Operasi laser sebetulnya merupakan modifikasi teknik bedah juga.
Hanya saja alat pemotongnya bukan pisau atau gunting, tapi
laser," jelas Peter Hasan. Teknologi laser sebenarnya tidak baru,
sudah diterapkan untuk bedah wasir sejak tahun 1985-an. Namun khusus
di Indonesia, RS Pluit menjadi pionir dalam menerapkan teknik bedah
laser, sekitar tahun 1990.
Apa keunggulannya? Yang pasti, ujar Peter, teknik bedah laser lebih
"populer" bagi pasien. Apalagi bagi yang pernah menjalani
operasi konvensional, begitu dioperasi mengggunakan laser, akan bisa
membandingkannya.
"Dulu saya tidak bisa berkerja selama seminggu karena jungkir-jungkir
kesakitan. Sekarang dengan bedah laser, esoknya sudah bisa
kerja," ujar Peter Hasan, menirukan pengakuan salah satu pasien
yang pernah dioperasinya.
'Pisau laser', tambah Peter, selain memotong jaringan wasir, juga
'mematri' pembuluh darah sehingga tidak banyak darah keluar. Begitu
juga saraf - banyak terdapat di dubur - yang terpotong tidak
menyebabkan serabut sarafnya terbuka. Lain kalau dipotong pakai pisau,
serabut saraf tidak mengerut, sementara itu selubungnya mengerut,
sehingga serabut saraf menjadi terbuka.
"Itu yang bikin pasien kesakitan setengah mati. Sedangkan dengan
bedah laser, serabut saraf dan selubung saraf bisa menempel jadi satu,
seperti terpatri. Jadi, serabut saraf tidak terbuka dan terekspos.
Sehingga tidak begitu sakit."
Karena tidak terlalu sakit, lanjut Peter, pasien tidak perlu dirawat
inap. Cukup dengan obat jalan. "Hanya kalau ada hal yang
mengganggu, misalnya sakit jantung, gagal ginjal sehingga harus cuci
darah, ada gangguan pembekuan darah, ya perlu rawat inap,"
lanjutnya.
Selain tanpa atau sedikit sekali rasa sakit, juga sedikit sekali
pendarahan. Begitu juga pembengkakan berkurang. Tapi bagaimana dengan
luka bekas operasinya?
"Luka sih di mana pun tempatnya kalau tersentuh, ya sakit.
Terutama saat buang air besar pertama kali sejak pascabedah. Apalagi
kalau kotoran keras, rasa sakit itu muncul. Tapi buang air besar
selanjutnya biasanya tidak sakit. Pasien bisa jalan-jalan ataupun
melakukan kegiatan lain," tegasnya.
Untuk mencegah timbulnya infeksi pascabedah, tutur Peter Hasan, pasien
diberi antibiotik. Pencegahan berlangsung selama minggu pertama.
"Setelah daya perlindungan terhadap luka ada, ya cukup direndam
obat. Dulu pernah pasien tidak diberi antibiotik, meniru di AS, tapi
ternyata sekian persen pasien di sini terkena infeksi,"
kenangnya.
Tentang efek sampingan, menurut Peter Hasan, kalau bekerjanya baik,
tidak ada efek sampingan. Kemungkinan komplikasi sama seperti pada
pembedahan umumnya, hanya saja lebih kecil. Bedah laser ini tidak
menimbulkan jaringan parut. Jadi, tidak seperti pada bedah
konvensional yang banyak timbul jaringan parut.
Butuh waktu 45 menit
Pertama-tama dokter memberikan suntikan di tangan agar pasien tenang.
Begitu pula otot seputar dubur dilemaskan, supaya gampang mengeluarkan
jaringan wasirnya. Kemudian ia disuntik bius lokal. Begitu pasien
tidak merasakan sakit, pemotongan jaringan wasir dapat dimulai. Tentu
saja didahului dengan pembersihan di daerah sasaran operasinya.
Selanjutnya dengan menggunakan hand-piece sinar laser diarahkan
(difokuskan) ke titik sasaran (jaringan wasir) yang akan dipotong.
Posisi ujung laser, jelas Peter, tidak kontak atau menempel, tapi agak
jauh, beberapa sentimeter dari titik sasaran. Laser ditembakkan terus
sampai jaringan wasir terpotong, sekaligus terpatri.
"Lalu sumber pendarahan atau pangkal pembuluh darahnya dijahit
atau diikat. Sementara lukanya dibiarkan terbuka. Kalau luka dijahit,
besar kemungkinan terselip kotoran sehingga dapat terjadi infeksi.
Penyembuhan luka cukup lewat obat oral," lanjut Peter.
Sementara ada jaringan-jaringan wasir kecil yang memang tidak perlu
diangkat. "Cukup ditembak laser, ia akan menguncup, kempis, dan
hilang," tambahnya. Seluruh proses bedah - mulai dari suntik
hingga selesai - berlangsung sekitar 45 menit. Namun adakalanya sampai
satu jam lebih, kalau parah.
Untuk bedah wasir, pihak RS Pluit terutama menggunakan laser CO2.
"Laser CO2, enak buat pasien, tidak bikin bengkak.
Bisa juga pakai laser KTP. Enak bagi dokternya, karena tidak banyak
keluar darah, tapi lebih bengkak. Ada pula laser Nd:YAG. Untuk bedah
wasir, diperlukan daya laser 12 - 14 watt."
Berapa lama luka bisa sembuh? Di mana pun letaknya, di kulit atau
dubur, luka terbuka yang tidak dijahit lama sembuhnya.
"Luka di kulit wajah atau kepala, misalnya, kalau tidak dijahit
perlu waktu tiga minggu untuk bisa menutup kembali. Apalagi luka di
siku, lutut, atau tempat lain yang banyak gerak, bisa lebih lama lagi
sembuhnya, 4 - 6 minggu. Begitu pula dubur, tiap hari digunakan untuk
buang air besar, butuh kira-kira 4 - 6 minggu untuk bisa sembuh dari
luka terbuka."
Begitupun, meski sudah dianggap sembuh, lanjut Peter, luka itu masih
belum kuat. Kalau ditarik masih bisa robek lagi. Oleh karena itu, luka
di dubur sehabis operasi masih perlu dikontrol.
"Biasanya pasien operasi wasir kontrol sampai tiga bulan. Baru
setelah 3 - 4 bulan, luka itu akan sama kuat dengan kulit atau
jaringan sekitarnya. Sehingga sudah bisa lebih bebas, artinya buang
air besar lebih keras pun boleh."
Artinya, sebelum 3 - 4 bulan, pasien pascabedah laser tidak boleh
buang air besar yang keras. Karena bisa meregangkan atau bahkan
merobek bekas luka yang sudah menutup, kemudian memperlambat
penyembuhan luka itu.
Lewat 3 - 4 bulan pascabedah pun, pasien diharapkan tetap mengikuti
anjuran dokter agar tidak kambuh lagi. "Seumur hidupnya ia harus
menjaga pola makan. Buang air besar juga harus betul. Tidak boleh
mengejan saat buang air besar. Sebab, kalau pembuluh darah mendapat
tekanan tinggi, bisa melendung dan timbul wasir lagi. Ibarat
ban sepeda, kalau dipompa terlalu keras pasti ada bagian yang melendung
lebih besar."
Kemungkinan kambuh lagi? "Bukan saja kemungkinan besar, tapi
pasti akan kambuh kalau saja 'larangan' tadi dilanggar. Siapa pun
dokternya, dan di mana pun berobatnya, pasti akan kambuh. Karena
'merek' pembuluh darah di dubur enggak bisa diganti. Kalau mendapat
tekanan tinggi pasti akan melendung."
Kiat yang juga penting agar tidak kambuh, tambah Peter Hasan, banyak
makan sayur. Minum tidak kurang dua liter sehari. Cara buang air
besarnya juga harus betul. Kalau sudah mulas mau buang air besar,
jangan ditunda. Kalau ditunda sampai beberapa hari, fesesnya sudah
mengeras.
"Boleh saja pantang daging kambing, misalnya. Namun itu tidak
mutlak, boleh saja makan. Tidak banyak makan sambel, karena bisa
panas. Yang wajib adalah jangan sampai BAB keras atau sebaliknya
mencret. Mencret juga bisa memacu timbulnya wasir. Karena saat mencret
atau mulas orang pun cenderung mengejan."
Tingkat keberhasilan? "Itu sih tergantung dokternya. Kalau
dikerjakan dengan betul, baik pakai teknik konvensional maupun laser,
hasil akhirnya akan sama," kata Peter Hasan. Namun untuk bedah
laser, pasien dikenakan biaya sekitar Rp 3 juta.
Ada operasi ulang? "Adakalanya operasi ulang, kalau memang
dijadwalkan. Bukan karena kegagalan operasi. Terutama kalau kasus
wasir sudah parah. Wasir muncul mengelilingi dubur, seperti bunga
mekar merekah. Untuk kasus demikian, tentu tidak dapat membuang
jaringan wasir semuanya. Paling cuma bisa mengoperasi tiga posisi
sumber pendarahan utama. Biasanya disebut posisi pukul tiga, pukul
tujuh, dan pukul sebelas," jelas Peter.
Kalau jaringan di tiga posisi dibuang, lanjutnya, biasanya kondisi
akan membaik dan tidak kambuh lagi. Sementara jaringan lain yang belum
dibuang akan menguncup kecil. Nah, kalau pasien merasa terganggu atau
risih, baru setahun kemudian bisa dilakukan operasi kedua untuk
membuang jaringan wasir yang belum terbuang. Namun untuk saat ini,
operasi kedua sangat jarang. |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online
|
|||||