|
|
Bulan Maret 2001
|
|
Menabung Gaya Jimpitan Cara saya menabung ala jimpitan sudah saya jalankan sejak sebelum saya bekerja dan berkeluarga. Awalnya diilhami oleh cara ibu saya dalam menghemat beras, lazim disebut jimpitan. Jimpitan dilakukan setiap kali akan menanak nasi. Sebelum beras dicuci, sebagian - biasanya segenggam - diambil lalu disimpan dalam tempat tersendiri. Tujuannya, saat persediaan beras sudah habis, ternyata masih ada cadangan hasil jimpitan sebelumnya. Dari pengalaman itu, setiap akan saya membeli sesuatu, baik yang rutin maupun insidentil, pasti saya menyisihkan sebagian uang yang jumlahnya tidak saya tentukan. Misalnya saat membeli bensin 5 liter seharga Rp 5.750,-, uang yang saya keluarkan dilebihkan umpama menjadi Rp 7.000,-. Selisih yang Rp 1.250,- saya tabung. Bila setiap bulan saya empat kali membeli bensin, maka akan terkumpul uang tabungan Rp 5.000,-. Demikian pula bila membeli baju, misalnya seharga Rp 100.000,- saya akan menambah pengeluaran untuk disimpan Rp 10.000,- atau sesuai selera waktu itu. Cara yang sama saya lakukan setiap kali membayar tagihan listrik, telepon, serta langganan surat kabar. Hasilnya, di akhir bulan ada cadangan uang siap pakai bila ada kebutuhan mendesak. Kalau jimpitan pada saat menanak nasi mengurangi beras yang akan dimasak, maka menabung cara ini justru dengan melebihkan pengeluaran. Mungkin semacam mengenakan pajak pada pengeluaran kita. Mau meniru? Silahkan. (Joko Mintoro H.) |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online
|
|||||