|
|
Bulan Maret 2001
|
|
AGAR SELAMAT DARI MUSIBAH KAPAL LAUT
Penumpang
kapal motor sering kurang mengetahui tata cara penyelamatan bila
terjadi musibah. Padahal pengetahuan dan keterampilan itu penting.
Berikut sekilas tata cara penyelamatan di kapal motor penumpang (KMP)
yang boleh menjadi bekal selama perjalanan mudik.
Maka pengetahuan dan keterampilan penyelamatan menjadi penting bagi
penumpang KMP. Dengan bekal itu anak buah kapal (ABK) terlatih,
pemadam kebakaran, pelampung, sekoci bermotor, dan peralatan
penyelamatan lainnya, yang selalu ada di dalam kapal motor penumpang,
bisa difungsikan secara optimal. Bila terjadi kecelakaan, korban yang
jatuh pun bisa ditekan serendah mungkin.
Jangan salah sekoci
Beberapa jenis kecelakaan yang biasa menimpa sebuah kapal motor
penumpang di antaranya kebakaran, kebocoran, karam, diterpa badai atau
gelombang ganas. Apabila kecelakaan itu tidak dapat ditanggulangi dan
berpeluang besar menjadi musibah, nakhoda akan memerintahkan ABK dan
penumpang segera meninggalkan kapal. Perintah itu dalam bentuk sandi
bunyi seperti peluit sebanyak tujuh kali pendek-pendek dan disusul
sekali panjang.
Bila peringatan itu terdengar, manula, ibu hamil, orang sakit, dan
anak-anak akan mendapatkan prioritas pertama untuk diselamatkan oleh
ABK. Penumpang yang tidak termasuk dalam kelompok itu bisa melakukan
tindakan penyelamatan sendiri.
Yang pertama kali dilakukan adalah mengenakan pelampung dan menuju
sekoci. Pelampung ini selalu tersedia di lemari yang diberi keterangan
sebagai tempat pelampung. Langkah-langkah mengenakannya adalah sebagai
berikut:
- Pegang pelampung dengan lampu pelampung menghadap keluar. Ketika
kita terapung-apung di laut, lampu ini bisa dinyalakan dengan menarik
tali plastik jingganya, lalu dicelupkan ke dalam air laut. Sedangkan
peluitnya bisa dibunyikan siang atau malam hari, untuk mempermudah tim
SAR atau tim penolong mengetahui keberadaan kita.
- Baca nomor stasiun sekoci atau rakit otomatis, tempat kita harus
berada, pada bagian atas pelampung.
- Buka tali pengikat pelampung hingga tergantung bebas.
- Kalungkan pelampung ke leher melalui kepala.
- Tarik agak kencang kedua talinya lalu ikat dengan sempurna agar
pelampung tidak terlepas ketika kita terjun ke laut.
- Setelah siap, pergi ke stasiun sekoci seperti tertera pada
pelampung.
Selain sekoci bermotor, pada kapal motor penumpang selalu tersedia
pula sekoci otomatis. Ketika belum digunakan, bentuknya seperti kapsul
raksasa. Begitu jatuh di laut, bentuknya berubah menjadi seperti rumah
terapung, lengkap dengan atapnya. Di sinilah penumpang kapal tinggal
hingga datang pertolongan.
Selama terapung-apung di atas sekoci atau perahu penyelamat, penumpang
tak perlu takut kelaparan. Di dalam laci-lacinya terdapat bahan
makanan yang bisa dikonsumsi selama menunggu pertolongan. Jumlahnya
tidak banyak, tapi cukup untuk menahan rasa lapar.
Penumpang juga tak perlu khawatir tidak ditemukan tim pencari dan
penyelamat (SAR). Setiap kapal motor penumpang dilengkapi dengan alat
yang secara otomatis akan memberitahukan posisi terakhir. Namanya emergency
position indicating radio beacon (EPRB). Ketika musibah terjadi,
alat itu dilempar ABK ke laut dan talinya diikat di lambung kapal.
Selain itu, seorang markonis (petugas radio komunikasi) akan
berkomunikasi dengan kapal-kapal lain, stasiun pantai, tim SAR, dan
lainnya.
Dengan dukungan EPRB dan markonis, pengetahuan dan keterampilan
penyelamatan yang dimiliki penumpang, serta alat-alat penyelamat
lainnya, penumpang dan ABK diharapkan bisa selamat saat terjadi
musibah. |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online
|
|||||