|
|
Bulan Maret 2001
|
|
PASIEN
SAKIT, AYAM PUN DIBEDAH
Mereka bukan saja berasal dari kawasan Jabotabek (Jakarta, Bogor,
Tangerang, Bekasi), melainkan juga dari Karawang, Bandung, Jawa
Tengah, Jawa Timur. Menurut Fefen, malah hampir dari semua daerah,
baik dari luar Jawa atau luar negeri. "Dari Arab Saudi beberapa
kali berobat ke sini. Ada juga dari Malaysia dan Filipina,"
tambah Fefen. Bagi yang rumahnya jauh, pasien tidak harus datang, bisa
diwakili oleh siapa saja.
Uniknya, setiap pasien dianjurkan membawa ayam kampung saat datang
berobat. Kalau enggan menenteng ayam dari rumah, bisa membeli di
tempat praktik. Harganya Rp 27.500,- seekor, sudah termasuk biaya
pendaftaran.
Ayamnya seperti apa, itu tergantung kebutuhan. Kalau pasien mengeluh
pinggangnya sakit, kata Fefen, untuk mengetahui penyebabnya mesti
dipilih ayam jantan. Sebaliknya, kalau pasiennya wanita dan ingin
punya keturunan, ya dianjurkan membawa ayam betina.
Tidak ada batasan soal umur ayam. Kalaupun disarankan ayam maksimal
berumur tiga bulan, konon itu hanya soal kepraktisan.
"Boleh-boleh saja membawa ayam besar, tapi 'kan mahal. Dengan
ayam kecil saja penyakit bisa dilihat, kenapa mesti pakai ayam yang
besar? Lagi pula air rebusan ayam yang dibutuhkan cuma satu
liter."
Alat "rontgen", sekaligus obat
Di tangan Fefen ayam itu berfungsi semacam alat "rontgen"
selain nantinya sebagai obat. "Insyaallah, atas izin Yang Maha
Kuasa, dengan ayam itu penyakit pasien bisa kelihatan," tutur
Fefen. Jadi, kondisi ayam akan menggambarkan kondisi kesehatan si
pasien setelah gangguan penyakit pada tubuh pasien ditransfer ke tubuh
ayam melalui doa-doa tertentu.
Sehabis itu barulah ayam dipotong dan dikuliti. Karkas-karkas ayam
yang sudah diberi nomor sesuai dengan nomor pendaftaran pasien itu
lalu dibedah untuk dilihat bagian dalamnya. Satu per satu pasien
kemudian dipanggil sesuai nomor pendaftarannya agar ikut menyaksikan
pembedahan dan deteksi penyakit.
Sret ... sret ...! Bak seorang dokter bedah, dengan sebilah
pisau tajam di tangan, Fefen membelah dada ayam hingga terbuka dan
tampak bagian jeroannya. Dengan cekatan jari-jemarinya memeriksa semua
organ di dalam tubuh ayam. Mulai dari jantung, paru-paru, ginjal, usus
dan lambung, ampela hati, kepala (otak), serta organ lainnya. Dari
kondisi organ-organ itulah diketahui penyakit apa saja yang diderita
pasien. "Nah, penyakit apa yang diderita pasien, ya sesuai dengan
keadaan organ ayam itu. Organ mana yang menunjukkan tanda-tanda sakit,
itulah yang diderita oleh pasien," jelasnya.
Dari pemeriksaan organ dan jeroan ayam, bisa dideteksi macam-macam
penyakit, antara lain kanker, wasir, jantung, usus buntu, lambung,
sakit kepala, ginjal, dsb. "Paling banyak penyakit jantung, gula,
ginjal, lambung, juga paru-paru. Kalau liver dan tumor agak
jarang," tutur Fefen Koto.
Kelainan pada jantung, menurut dia, terlihat dengan adanya pembuluh
darah jantung ayam yang tersumbat. "Tanda pembuluh darah jantung
tersumbat gampang saja. Kalau pada urat pada jantung ayam terdapat
pembengkakan, berarti pembuluh darah pasien juga demikian. Jadi,
pembengkakan itu menandakan jantung tersumbat."
Adakalanya dijumpai usus ayam melilit. Itu berarti si pasien pembawa
ayam itu mengalami gangguan pencernaan dan buang air besar tidak
normal. Gangguan lambung bisa dicirikan dengan membengkaknya ampela
ayam. Sedangkan untuk melihat kesuburan wanita, dilakukan melalui
bedah ayam betina. "Kalau indung telur ayam itu subur, berarti
kondisi indung telur wanita itu subur juga. Sebaliknya, kalau indung
telur ayam lengket, berarti indung telur wanita itu lengket
juga."
Keluhan belum tentu penyebab
Deteksi penyebab penyakit tidak serta merta mengikuti keluhan-keluhan
yang dia tampung dari pasien. Sebab, menurut Fefen, "Dari keluhan
itu belum bisa ditentukan sebab-sebabnya. Misalnya, untuk keluhan
sakit kepala atau pusing-pusing, bukan lantas kepala ayam itu dibedah
duluan. Karena bisa meleset."
Juga kalau ada yang mengeluh sesak napas padahal tidak menderita asma
atau penyakit paru-paru, bukan paru-paru ayam yang langsung diperiksa.
"Untuk itu, perlu dilihat kondisi organ perut ayam itu, bagaimana
posisi usus dan lambungnya. Usus yang melilit atau terjepit bisa saja
membuat napas sesak. Begitu pula orang yang mengeluh sering pusing,
padahal jantung dan organ kepala bagus, maka bagian perut yang
diperiksa. Jadi, yang perlu dipastikan adalah penyebab sakitnya itu,
dan bukan bagian yang dikeluhkan pasien," ujar Fefen yang mengaku
bisa menanggulangi penderita AIDS maupun kecanduan narkoba.
"Mudah-mudahan bisa. Pokoknya yang disebut penyakit di tubuh
seseorang, insyaallah akan kelihatan. Mereka banyak juga yang ke sini.
Yang perlu dilihat adalah organ jantungnya, baru kemudian dibelah
kepalanya (maksudnya kepala ayam - Red.). Dari situ bisa
ketahuan. Jantungnya bengkak, dan biasanya pembuluh otaknya pada
menonjol," kata Fefen.
Setelah ketahuan penyakitnya, oleh seorang asisten ayam dibersihkan
(dibuang ususnya) dan dipotong-potong sesuai dengan petunjuk Fefen.
Setelah dilengkapi bumbu sup dan ramuan, potongan daging ayam dan
ampela hati lalu didoakan untuk dijadikan obat. Bagi yang berobat
jarak jauh, yang dikirimkan kepada pasien berupa daging matang
(digoreng tanpa bumbu) atau dikemas sedemikian rupa agar ayam tidak
busuk. Daging ayam, termasuk ampela dan hati, dicuci bersih, kemudian
dimasak sup untuk diambil kuah atau kaldunya. Kaldu itulah yang
diminum sebagai obat.
Resep masakan sup bisa disesuaikan dengan selera pasien. Artinya,
selain menggunakan bumbu ala kadarnya yang sudah didoakan, boleh saja
menambahkan bumbu lain. Bumbu yang sudah diberi doa itu meliputi daun
bawang, cabe, biji pala, dan seledri. "Kalau merasa kurang sreg,
silakan ditambah bumbu sesuai selera," ujar Fefen. Namun, Fefen
wanti-wanti, potongan daging yang sudah menjadi ketentuan pengobatan
itu tidak boleh dipotong-potong lagi.
Kuah sup atau kaldunya cukup disisakan sebanyak 1 l (dari jumlah air
yang dimasak). "Satu liter kaldu atau kuah sup diminum sehari
habis. Sebaiknya diminum sebelum tidur. Penderita penyakit ginjal
minum kuah sup ayam hanya 250 cc sekali minum atau 500 cc. Kuahnya
untuk obat, dagingnya bisa diolah untuk lauk bagi yang sakit maupun
keluarga yang sehat."
Minum ramuan dan pantang jengkol
Selain membawa pulang daging ayam, masing-masing pasien juga dibekali
ramuan. Jenis ramuannya untuk setiap pasien berbeda-beda, tergantung
hasil "rontgen" lewat bedah ayamnya. Sewaktu ayam dibelah,
dari organ dalamnya akan ketahuan penyakit yang paling menonjol.
"Dari situ dapat ditentukan jenis ramuannya. Nah, penyakit
utamanya itu yang 'dihantam' menggunakan ramuan. Air ramuan baru boleh
diminum esok harinya, setelah kaldu ayam habis diminum," jelas
Fefen Koto.
Seperti halnya daging ayam, ramuan dicuci bersih sebelum direbus
sampai mendidih. Satu liter air godokan yang tersisa lalu disaring.
"Satu liter air godokannya itu diminum pasien sebanyak empat kali
sehari. Pagi, siang, sore, dan malam menjelang tidur. Esoknya ramuan
digodok lagi, dan diminum lagi. Begitu pula hari berikutnya (hari
ke-3), ramuan digodok dan airnya diminum dengan cara yang sama,"
katanya.
Ramuannya sendiri, menurut Fefen Koto, hanya sebagai pelengkap.
"Obat intinya, ya sup ayam itu," tuturnya. Ramuannya terdiri
atas sejumlah bahan. Ada kumis kucing, kunyit, temu lawak, kaca
beling, brotowali, dll. "Hanya saja masing-masing bahan sudah
ditentukan kadarnya," katanya.
Selain itu, pasien wajib menjalankan pantangan. Pertama, pantangan
umum yang berlaku bagi semua pasien (apa pun penyakitnya), yaitu
pantang makan jengkol, petai, nangka, dan makanan berbahan beras
ketan. Kedua, pantangan khusus (tergantung jenis penyakit yang
diderita pasien). "Kalau dari hasil bedah ayam terlihat jelas ada
penyakit jantung, maka pasien harus menghindari sate kambing dan
makanan yang asin-asin dan berlemak," saran Fefen.
Bagi penderita penyakit gula, pantangan utamanya yang manis-manis.
Begitu pula pola makan harus diatur, tidak terlalu kenyang. Sebaiknya,
lanjutnya, penderita gula maupun jantung perlu berolahraga semampunya,
terutama bila kondisi fisik mengizinkan.
Repotnya, kalau pasien menderita ginjal sekaligus penyakit jantung.
Penderita jantung, tambah Fefen, harus banyak minum. Sementara itu
penderita sakit ginjal harus membatasi minum. "Kalau ginjal sudah
parah, justru tidak boleh banyak minum. Minumnya dibatasi, cuma 150
cc. Bila pasien ginjal menenggak air dalam jumlah banyak, bisa
kelengar dia," ujarnya.
Lalu penderita penyakit paru-paru, lanjut Fefen, perlu menghindari
udara dingin, embun, kipas angin dan AC, juga berpikir berat. Pasien
yang sakit lambung (saluran pencernaan) terutama pantang makanan yang
pedas-pedas, asam, dan juga es.
Tentang kesembuhan, menurut dia, bisa dirasakan pasien. "Bisa
juga dilihat lewat bedah ayam berikutnya. Kalau tak lagi ditemukan
tanda penyakit pada organ ayam, pasien dinyatakan sembuh. Kemudian
pasien mandi air jeruk nipis yang diberi doa. Maksudnya, sebagai
pengunci agar pasien boleh lagi menikmati makanan yang sebelumnya
dipantang."
Berapa kali pasien mesti datang berobat, menurut Fefen, tidak bisa
ditentukan. "Semuanya itu tergantung Yang Di Atas,"
tuturnya. |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online
|
|||||