globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan Maret 2001

Segera terbit buku Oei Hong Kian, Dokter Gigi Soekarno; Peranakan yang Hidup dalam Tiga Budaya

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

PASIEN SAKIT, AYAM PUN DIBEDAH

Lazimnya, operasi atau pembedahan dilakukan langsung pada tubuh pasien yang menderita sakit. Tapi, tidak demikian dengan pengobatan cara "bedah ayam". Meski yang sakit manusia, yang dibedah justru tubuh ayam miliknya. Lantas, daging dan sup ayam itu pula yang jadi obatnya.

Pengobatan unik ini dilakukan Fefen Koto (50), pengobat alternatif yang berpraktik di Bekasi Utara, sejak 1993. Tak kurang dari 50 orang yang datang berobat setiap harinya sejak dibuka pukul 07.00 dan tutup pukul 17.00. Mirip di sebuah klinik, mereka yang hendak berobat duduk antre di kursi panjang sebelum mendaftar untuk mendapatkan nomor dan dipanggil masuk oleh si juru sembuh.

Mereka bukan saja berasal dari kawasan Jabotabek (Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi), melainkan juga dari Karawang, Bandung, Jawa Tengah, Jawa Timur. Menurut Fefen, malah hampir dari semua daerah, baik dari luar Jawa atau luar negeri. "Dari Arab Saudi beberapa kali berobat ke sini. Ada juga dari Malaysia dan Filipina," tambah Fefen. Bagi yang rumahnya jauh, pasien tidak harus datang, bisa diwakili oleh siapa saja.

Uniknya, setiap pasien dianjurkan membawa ayam kampung saat datang berobat. Kalau enggan menenteng ayam dari rumah, bisa membeli di tempat praktik. Harganya Rp 27.500,- seekor, sudah termasuk biaya pendaftaran.

Ayamnya seperti apa, itu tergantung kebutuhan. Kalau pasien mengeluh pinggangnya sakit, kata Fefen, untuk mengetahui penyebabnya mesti dipilih ayam jantan. Sebaliknya, kalau pasiennya wanita dan ingin punya keturunan, ya dianjurkan membawa ayam betina.

Tidak ada batasan soal umur ayam. Kalaupun disarankan ayam maksimal berumur tiga bulan, konon itu hanya soal kepraktisan. "Boleh-boleh saja membawa ayam besar, tapi 'kan mahal. Dengan ayam kecil saja penyakit bisa dilihat, kenapa mesti pakai ayam yang besar? Lagi pula air rebusan ayam yang dibutuhkan cuma satu liter."

Alat "rontgen", sekaligus obat

Di tangan Fefen ayam itu berfungsi semacam alat "rontgen" selain nantinya sebagai obat. "Insyaallah, atas izin Yang Maha Kuasa, dengan ayam itu penyakit pasien bisa kelihatan," tutur Fefen. Jadi, kondisi ayam akan menggambarkan kondisi kesehatan si pasien setelah gangguan penyakit pada tubuh pasien ditransfer ke tubuh ayam melalui doa-doa tertentu.

Sehabis itu barulah ayam dipotong dan dikuliti. Karkas-karkas ayam yang sudah diberi nomor sesuai dengan nomor pendaftaran pasien itu lalu dibedah untuk dilihat bagian dalamnya. Satu per satu pasien kemudian dipanggil sesuai nomor pendaftarannya agar ikut menyaksikan pembedahan dan deteksi penyakit.

Sret ... sret ...! Bak seorang dokter bedah, dengan sebilah pisau tajam di tangan, Fefen membelah dada ayam hingga terbuka dan tampak bagian jeroannya. Dengan cekatan jari-jemarinya memeriksa semua organ di dalam tubuh ayam. Mulai dari jantung, paru-paru, ginjal, usus dan lambung, ampela hati, kepala (otak), serta organ lainnya. Dari kondisi organ-organ itulah diketahui penyakit apa saja yang diderita pasien. "Nah, penyakit apa yang diderita pasien, ya sesuai dengan keadaan organ ayam itu. Organ mana yang menunjukkan tanda-tanda sakit, itulah yang diderita oleh pasien," jelasnya.

Dari pemeriksaan organ dan jeroan ayam, bisa dideteksi macam-macam penyakit, antara lain kanker, wasir, jantung, usus buntu, lambung, sakit kepala, ginjal, dsb. "Paling banyak penyakit jantung, gula, ginjal, lambung, juga paru-paru. Kalau liver dan tumor agak jarang," tutur Fefen Koto.

Kelainan pada jantung, menurut dia, terlihat dengan adanya pembuluh darah jantung ayam yang tersumbat. "Tanda pembuluh darah jantung tersumbat gampang saja. Kalau pada urat pada jantung ayam terdapat pembengkakan, berarti pembuluh darah pasien juga demikian. Jadi, pembengkakan itu menandakan jantung tersumbat."

Adakalanya dijumpai usus ayam melilit. Itu berarti si pasien pembawa ayam itu mengalami gangguan pencernaan dan buang air besar tidak normal. Gangguan lambung bisa dicirikan dengan membengkaknya ampela ayam. Sedangkan untuk melihat kesuburan wanita, dilakukan melalui bedah ayam betina. "Kalau indung telur ayam itu subur, berarti kondisi indung telur wanita itu subur juga. Sebaliknya, kalau indung telur ayam lengket, berarti indung telur wanita itu lengket juga."

Keluhan belum tentu penyebab

Deteksi penyebab penyakit tidak serta merta mengikuti keluhan-keluhan yang dia tampung dari pasien. Sebab, menurut Fefen, "Dari keluhan itu belum bisa ditentukan sebab-sebabnya. Misalnya, untuk keluhan sakit kepala atau pusing-pusing, bukan lantas kepala ayam itu dibedah duluan. Karena bisa meleset."

Juga kalau ada yang mengeluh sesak napas padahal tidak menderita asma atau penyakit paru-paru, bukan paru-paru ayam yang langsung diperiksa. "Untuk itu, perlu dilihat kondisi organ perut ayam itu, bagaimana posisi usus dan lambungnya. Usus yang melilit atau terjepit bisa saja membuat napas sesak. Begitu pula orang yang mengeluh sering pusing, padahal jantung dan organ kepala bagus, maka bagian perut yang diperiksa. Jadi, yang perlu dipastikan adalah penyebab sakitnya itu, dan bukan bagian yang dikeluhkan pasien," ujar Fefen yang mengaku bisa menanggulangi penderita AIDS maupun kecanduan narkoba.

"Mudah-mudahan bisa. Pokoknya yang disebut penyakit di tubuh seseorang, insyaallah akan kelihatan. Mereka banyak juga yang ke sini. Yang perlu dilihat adalah organ jantungnya, baru kemudian dibelah kepalanya (maksudnya kepala ayam - Red.). Dari situ bisa ketahuan. Jantungnya bengkak, dan biasanya pembuluh otaknya pada menonjol," kata Fefen.

Setelah ketahuan penyakitnya, oleh seorang asisten ayam dibersihkan (dibuang ususnya) dan dipotong-potong sesuai dengan petunjuk Fefen. Setelah dilengkapi bumbu sup dan ramuan, potongan daging ayam dan ampela hati lalu didoakan untuk dijadikan obat. Bagi yang berobat jarak jauh, yang dikirimkan kepada pasien berupa daging matang (digoreng tanpa bumbu) atau dikemas sedemikian rupa agar ayam tidak busuk. Daging ayam, termasuk ampela dan hati, dicuci bersih, kemudian dimasak sup untuk diambil kuah atau kaldunya. Kaldu itulah yang diminum sebagai obat.

Resep masakan sup bisa disesuaikan dengan selera pasien. Artinya, selain menggunakan bumbu ala kadarnya yang sudah didoakan, boleh saja menambahkan bumbu lain. Bumbu yang sudah diberi doa itu meliputi daun bawang, cabe, biji pala, dan seledri. "Kalau merasa kurang sreg, silakan ditambah bumbu sesuai selera," ujar Fefen. Namun, Fefen wanti-wanti, potongan daging yang sudah menjadi ketentuan pengobatan itu tidak boleh dipotong-potong lagi.

Kuah sup atau kaldunya cukup disisakan sebanyak 1 l (dari jumlah air yang dimasak). "Satu liter kaldu atau kuah sup diminum sehari habis. Sebaiknya diminum sebelum tidur. Penderita penyakit ginjal minum kuah sup ayam hanya 250 cc sekali minum atau 500 cc. Kuahnya untuk obat, dagingnya bisa diolah untuk lauk bagi yang sakit maupun keluarga yang sehat."

Minum ramuan dan pantang jengkol

Selain membawa pulang daging ayam, masing-masing pasien juga dibekali ramuan. Jenis ramuannya untuk setiap pasien berbeda-beda, tergantung hasil "rontgen" lewat bedah ayamnya. Sewaktu ayam dibelah, dari organ dalamnya akan ketahuan penyakit yang paling menonjol. "Dari situ dapat ditentukan jenis ramuannya. Nah, penyakit utamanya itu yang 'dihantam' menggunakan ramuan. Air ramuan baru boleh diminum esok harinya, setelah kaldu ayam habis diminum," jelas Fefen Koto.

Seperti halnya daging ayam, ramuan dicuci bersih sebelum direbus sampai mendidih. Satu liter air godokan yang tersisa lalu disaring. "Satu liter air godokannya itu diminum pasien sebanyak empat kali sehari. Pagi, siang, sore, dan malam menjelang tidur. Esoknya ramuan digodok lagi, dan diminum lagi. Begitu pula hari berikutnya (hari ke-3), ramuan digodok dan airnya diminum dengan cara yang sama," katanya.

Ramuannya sendiri, menurut Fefen Koto, hanya sebagai pelengkap. "Obat intinya, ya sup ayam itu," tuturnya. Ramuannya terdiri atas sejumlah bahan. Ada kumis kucing, kunyit, temu lawak, kaca beling, brotowali, dll. "Hanya saja masing-masing bahan sudah ditentukan kadarnya," katanya.

Selain itu, pasien wajib menjalankan pantangan. Pertama, pantangan umum yang berlaku bagi semua pasien (apa pun penyakitnya), yaitu pantang makan jengkol, petai, nangka, dan makanan berbahan beras ketan. Kedua, pantangan khusus (tergantung jenis penyakit yang diderita pasien). "Kalau dari hasil bedah ayam terlihat jelas ada penyakit jantung, maka pasien harus menghindari sate kambing dan makanan yang asin-asin dan berlemak," saran Fefen.

Bagi penderita penyakit gula, pantangan utamanya yang manis-manis. Begitu pula pola makan harus diatur, tidak terlalu kenyang. Sebaiknya, lanjutnya, penderita gula maupun jantung perlu berolahraga semampunya, terutama bila kondisi fisik mengizinkan.

Repotnya, kalau pasien menderita ginjal sekaligus penyakit jantung. Penderita jantung, tambah Fefen, harus banyak minum. Sementara itu penderita sakit ginjal harus membatasi minum. "Kalau ginjal sudah parah, justru tidak boleh banyak minum. Minumnya dibatasi, cuma 150 cc. Bila pasien ginjal menenggak air dalam jumlah banyak, bisa kelengar dia," ujarnya.

Lalu penderita penyakit paru-paru, lanjut Fefen, perlu menghindari udara dingin, embun, kipas angin dan AC, juga berpikir berat. Pasien yang sakit lambung (saluran pencernaan) terutama pantang makanan yang pedas-pedas, asam, dan juga es.

Tentang kesembuhan, menurut dia, bisa dirasakan pasien. "Bisa juga dilihat lewat bedah ayam berikutnya. Kalau tak lagi ditemukan tanda penyakit pada organ ayam, pasien dinyatakan sembuh. Kemudian pasien mandi air jeruk nipis yang diberi doa. Maksudnya, sebagai pengunci agar pasien boleh lagi menikmati makanan yang sebelumnya dipantang."

Berapa kali pasien mesti datang berobat, menurut Fefen, tidak bisa ditentukan. "Semuanya itu tergantung Yang Di Atas," tuturnya. (A. Hery Suyono)

Active Channel

© 1996 - 2000 Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/

Counter by Pandawa

Jelang Milenia III

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej