|
|
Bulan Maret 2001
|
|
RATU
ADIL DAN LITURGI NATANAGARA
Rivalitas itu menunjukkan, krisis kepemimpinan seolah menjadi bagian
paling gawat dari sederetan krisis yang ada. Gus Dur misalnya, lebih
dari setahun lalu dianggap sebagai sosok penyelamat bangsa dari
ancaman perpecahan dan keterpurukan. Kini ia ibarat seorang komandan
pasukan yang ditinggalkan prajuritnya di medan laga. Legitimasinya
digerogoti oleh para wakil rakyat yang dulu mengusungnya ke kursi
presiden.
Bahkan presiden yang humanis itu dianggap pantas menerima
"kado" memorandum oleh DPR. Jika tak dihiraukan, DPR bisa
melayangkan memorandum ke-2 yang cuma berumur sebulan sebelum para
wakil rakyat mengusulkan Sidang Istimewa MPR. Sebuah forum yang bisa
menggulingkannya.
Baharuddin Jusuf Habibie, presiden ke-3, dulu juga bernasib serupa.
Pertanggungjawabannya ditolak dalam SI MPR yang membuatnya dinilai tak
layak memangku jabatan Presiden RI. Pakar konstruksi pesawat terbang
itu pun urung mencalonkan diri menjadi presiden.
Kama sampai moksa
Peta politik yang naik-turun itu mewarnai perjalanan kita sebagai
bangsa beberapa tahun belakangan ini. Pertanyaannya, apakah percaturan
politik itu sesuatu yang lumrah ataukah sebuah perwujudan wacana yang
berakar jauh ke masa silam?
Doktor Damardjati Supadjar, dosen Fakultas Filsafat UGM, melihat,
perjalanan bangsa dan para pemimpin itu tak lepas dari latar belakang
kosmologis. Perjalanan masyarakat yang kini disebut bangsa Indonesia
ini sempat diwarnai pengaruh ajaran Hindu - Buddha selama 12 abad.
Tiga abad sesudahnya masuk pengaruh Islam melalui pendatang. Setelah
itu datang pula nilai-nilai akibat kolonialisme Belanda sekitar 300
tahun, dan fasisme Jepang selama 3,5 tahun. Nah, dengan beragam latar
belakang pengaruh itu berdirilah negara RI pada 17 Agustus 1945.
Guyuran kearifan ajaran Hindu - Buddha selama berabad-abad itulah,
terutama, yang terasa paling mengkristal dalam darah daging bangsa
ini. Kearifan itu muncul dalam ajaran berwujud tataran kesadaran yang
meliputi kama, harta, darma, moksa.
Keempat tingkat kesadaran secara mikrokosmologis mempengaruhi
tampilnya para pemimpin. Dengan wawasan makrokosmos ini, menurut
Damardjati, munculnya pemimpin negeri diindikasikan oleh liturgi na-ta-na-ga-ra.
"Natanagara pertama-tama bukanlah nama orang, tetapi
perbuatan menata negara kendati yang mengemukakan pertama-tama adalah
Prof. Natanagara (secara bahasa Jawa dibaca Notonagoro, salah satu
penggagas ideologi Pancasila - Red.)," tandas dosen S1,
S2, dan S3 untuk mata kuliah Filsafat Agama dan Filsafat Ketuhanan di
UGM ini.
Maka pengaruh Hindu - Buddha selama sekian belas abad itu pun sudah
mengendap dalam alam bawah sadar Bung Karno (BK) yang kemudian menjadi
presiden pertama RI.
Pakar filsafat Timur itu berpendapat, kemunculan BK sesuai dengan
periode kosmologi kama; ini gambaran semangat laki-laki yang
menerobos segala sesuatu. Terbukti kemudian Sukarno melawan
kolonialisme dan melepaskan rakyat keluar dari belenggu penjajahan.
Sayangnya, BK yang merupakan personifikasi dari kama itu
terdepak lantaran dianggap tahu arah gerakan Pasukan Cakrabirawa.
Gerakan yang kemudian oleh Angkatan Darat disebut sebagai upaya
pendongkelan Sukarno dari jabatan presiden.
Lantas, berpedoman pada Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar) yang
diteken Bung Karno, Soeharto tampil hingga menjadi presiden ke-2 RI.
Dari sudut wawasan kosmologis, ia juga sosok yang tepat dengan periode
kosmologi harta.
Damardjati mengakui, keunggulan Soeharto yang lahir di Desa Kemusuk, 8
Juni 1921, terletak pada penghayatannya soal keseimbangan kosmis
melalui laku asta brata, atau hidup religius alami. Laku
untuk menyesuaikan dengan kedelapan unsur yaitu matahari, bulan,
bintang, suasana, tanah, bumi, air, angin, dan api. "Jadi, Pak
Harto itu juga memenuhi syarat dalam mempersonifikasikan tahap
kosmologis (harta) itu," jelas Damardjati.
Apa mukti, apa mati
Sayang, dalam perjalanannya, jenderal yang murah senyum itu melakukan
kesalahan fatal. Ia mengucapkan tekad yang bunyinya apa mukti apa
mati (sejahtera atau mati - Red.) pada 1945. Tekad itu
diperkuat oleh kerabat Mangkunegaran dengan tiji tibeh: mukti siji
mukti kabeh, mati siji mati kabeh (satu sejahtera, yang lain ikut
sejahtera; mati satu, mati semua - Red). Karena pada saat geger
1965 Soeharto mukti dan tidak mati, maka semua kroninya ikut mukti.
"Kita yang mempelajari visi-visi demikian, terus terang terkejut
secara kejiwaan. Kok begini, mati untuk mukti, enggak ada
ajaran Jawa begitu," kata Damardjati. Dalam ajaran Jawa, katanya,
tidak dikenal orang mencari kekayaan. Yang dicap kaya justru orang
luar. Sementara orang Jawa justru diidentikkan dengan kerendahan hati
dan kesaktian. "Yen wong Jawa ilang kasutapane, pada karo Cina
ilang petunge, pada karo Londo ilang budayane (Jika orang Jawa
kehilangan kesaktiannya, itu sama saja dengan orang Cina kehilangan
kemampuan menghitungnya, atau orang Belanda yang kehilangan budayanya
- Red.)."
Jadi, gangguan dalam menghadapi hari akhir Soeharto dan dinastinya
adalah hukum yang mau tidak mau akan mengenai diri sendiri karena
Soeharto salah membuat simpul mukti. Karena itu periode
sekarang masih periode harta, dan kesalahan itu harus
dikoreksi.
Dalam pengamatan Damardjati, keguncangan yang menimpa Soeharto juga
diperparah oleh kesalahannya dalam menafsirkan berbagai hal. Misalnya,
pada pemugaran Monumen Serangan Umum 1 Maret di Yogyakarta tahun 1997,
Soeharto menancapkan gunungan di belakang monumen.
"Padahal gunungan yang disusulkan dan ditancapkan tegak
lurus, dalam pewayangan berarti goro-goro. Terbukti, goro-goro
itu hingga sekarang belum selesai mewarnai kehidupan kita sebagai
bangsa. Gunungan seharusnya ditancapkan sejak awal,"
katanya. Dalam pewayangan gunungan merupakan wayang berbentuk
gunung untuk mengawali, membatasi, dan mengakhiri lakon. Sementara goro-goro
menggambarkan suasana kacau-balau.
Soeharto juga dianggap ceroboh ketika memainkan lakon wayang Semar
Mbabar Jati Diri (Semar Membuka Kedok). "Enggak pernah ada
Semar itu mbabar jati diri. Semar sudah ikhlas menjadi rakyat
dengan jati diri yang ksatria dan tak suka menonjolkan diri,"
tandas Damardjati. Semar adalah salah satu punakawan dalam dunia
pewayangan, yang juga titisan dewa.
Persoalannya, kenapa Soeharto yang dianggap ahli laku bisa
terjebak dalam kesalahan, "Lha ini anehnya, kalau soal
tekad itu orang bisa keliru."
Maka agar periode beralih dari harta ke darma sesuai
dengan periode kosmologis, sebetulnya belum terlambat bagi Soeharto
untuk membuang tali wangke (watak sial). Caranya, mengembalikan
kekayaan dan seluruh sistem yang keliru. Ini sekaligus sebagai
prasyarat agar periode harta beralih ke darma. Apalagi
ilmu Jawa yang juga dianut Soeharto mengajarkan bahwa kekayaan
sebaiknya jangan disimpan di laci. "Kekayaan itu harus disebarkan
di ujung kaki, nyebar udik-udik. Inilah kesempatan emas
keluarga Cendana dan kroninya kalau mau diampuni," tandas
Supadjar.
Dalam praktik udik-udik (kekayaan) itu bisa diserahkan kepada
rakyat melalui program Bangga Suka Desa, pembangunan keluarga
bersuasana kota di desa. Program ini dicanangkan Soeharto sendiri
ketika memperingati hari lansia beberapa tahun lalu. "Jadi,
sebenarnya ada peluang untuk mengoreksi secara total, cuma sayangnya
tak ada tanda-tanda keluarga Cendana mau bertobat. Aneh sekali, selalu
berkelit. Itu namanya bukan orang Jawa," tegas Damardjati.
Presiden ke-2,5 dan ke-2,75
Lantaran masih berkutat dalam periode harta, maka Habibie dan
Gus Dur belum bisa dianggap sebagai presiden ketiga dan keempat.
Habibie adalah presiden ke-2,5 (dua setengah), sementara Gus Dur
presiden ke-2,75 (dua tigaperempat). Keduanya, menurut Damardjati,
cuma bertugas mengantarkan periode harta menuju darma.
"(Darma) itu suatu masa ketika para pemimpin memerangi
kegelapan, kemiskinan, kebodohan seperti ajaran Buddha," jelas
Damardjati. Tugas mulia ini dalam era Soeharto tak dilakukan dengan
baik lantaran kesalahannya dalam membuat simpul tadi itu.
Wawasan kosmologis terdiri atas empat masa yaitu kama, harta,
darma, moksa, sementara liturgi kepemimpinan terdiri atas lima hal
yaitu na-ta-na-ga-ra. Karena itu, menurut Damardjati, harus ada
penyesuaian, dan penyesuaian itu ada pada diri Presiden B.J. Habibie
dan Abdurrahman Wahid. "Apakah presiden ketiga itu namanya
Habibie, 'kan bukan? Habibie itu nama dirinya 'kan Baharuddin. Jadi,
kalau Baharrudin ditulis dengan huruf Jawa, na-nya dipangku
("n" sebagai huruf akhir). Demikian juga dengan
Abdurrahmman." Jadi, keduanya tidak menyandang na bulat
seperti na kedua pada natanagara.
Atas dasar itu sekarang sedang ditunggu na bulat, untuk
menyelesaikan periode na-ta-na. Yang termasuk menyandang na
bulat, menurut Damardjati, adalah Sri Sultan Hamengkubuwana IX,
Gubernur DIY, dan Susilo Bambang Yudoyono, Menko Politik, Sosial, dan
Keamanan yang lahir di Pacitan, Jawa Timur, 9 September 1949.
Kedua tokoh penyandang na itu kalau diberi amanat, akan segera
mengubah situasi, lalu akan ada rekonsiliasi nasional. Sementara
masalah Soeharto diselesaikan secara menyeluruh termasuk menyerahkan
kekayaannya. Ujung-ujungnya, Indonesia menjadi tamansarinya dunia. Di
masa darma dan moksa ini Damardjati percaya, bisa jadi
muncul Ratu Adil, pemimpin yang memerintah dengan memakai udheng
supaya rakyat mudheng. Artinya pemimpin yang bijaksana. (G.
Sujayanto) |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online
|
|||||