|
|
Bulan Maret 2001
|
|
SIALANG SI POHON LEBAH
Lebah hutan memilih cabang yang terbuka, bebas dedaunan, di daerah
atasan pohon, untuk membangun sarang gandul yang bisa didarati dan
ditinggallandasi dengan bebas. Satu dahan bisa ditempati 20 sarang
lebah. Pada satu pohon kadang bisa ditemukan 100 – 200 sarang gandul
seperti itu.
Penduduk pinggir hutan selalu melestarikan pohon sialang yang
meraksasa semacam itu. Bukan karena percaya bahwa pohon itu dihuni
oleh roh halus mahasakti, tetapi karena sarang lebah yang bergantungan
pada dahannya bisa menghasilkan duit. Tidak ada orang waras yang mau
menghancurkan sumber duit semacam itu.
Kalau ada bagian hutan yang dibabat untuk dijadikan ladang bertanam
padi atau jagung, pohon sialang selalu dibiarkan tetap berdiri. Tidak
boleh diikutsertakan dalam proyek tebang habis. Lagi pula kayunya yang
sudah tua begitu keras, sehingga bisa merusak mata kapak dan gergaji.
Tidak mengherankan jika kaum lebah hutan suka tinggal di pohon aman
yang tidak diganggu itu. Ini benar-benar sumber madu yang bisa memberi
manfaat turun-temurun kepada seluruh suku bangsa. Sarang (kerajaan)
lebah selalu dipimpin oleh seekor ratu yang tugasnya kawin dan beranak
melulu. Sarang gandul mereka berbentuk kerucut terbalik. Bagian
pangkal yang lebar menempel pada dahan, sedangkan ujung kerucut yang
runcing menyambung di bawahnya. Bagian yang mengandung madu ialah
pangkal yang lebar itu. Bagian tengah berisi anak-anak lebah,
sedangkan ujung bawahnya cuma berisi kotoran serta lilin lebah.
Pesta kembang api
Di hutan daerah perbatasan Jambi dan Palembang, pohon sialang
merupakan milik masyarakat bersama, sesuai hukum adat. Panen madu
hasil karya lebah pun dilakukan sesuai hukum adat, dengan bagi hasil
yang adil dan makmur. Di masyarakat Pangkalankuras (Jambi), misalnya,
hasil madu dibagi dengan porsi 20% untuk para pekerja yang mengambil
madu, 20% untuk kepala suku, dan 60% dibagi rata untuk anggota suku.
Hasil madu dijual kepada para pedagang antarpulau yang membawa duit
dan kemakmuran bagi seluruh suku.
Madu dipetik pada waktu malam hari oleh para juragan saat bulan tidak
bersinar. Sebab, kalau ada cahaya, lebah masih begadang,
berdengung-dengung di sekitar sarang. Biasanya dilakukan oleh lima
juragan mudo yang bertugas memanjat pohon, dan satu juragan tua
yang tidak ikut memanjat pohon. Ia memanjat yang lain, yakni
memanjatkan doa.
Tangga untuk memanjat pohon setinggi 50 m itu berupa batang kayu bulat
yang disambung-sambung. Sambil memanjat, juragan mudo ini
membawa obor dari kulit pohon kepayang. Sengaja dipilih pohon kepayang
karena kalau kering ia mudah sekali memijar, tapi tidak sampai menyala
menjadi api, melainkan rontok. Justru rontok sambil memijar ini yang
diinginkan. Lebah-lebah akan mengejar rontokan obor yang jatuh seperti
hujan kembang api. Suatu pemandangan yang indah di gelapnya malam
gulita. Lalu tidak ada yang peduli lagi pada juragan muda yang akan
mengambil madu.
Sesudah semua lebah terusir dari sarang, barulah ayunan obor yang
menghasilkan rontokan kembang api tadi dihentikan. Dengan sepotong
bambu yang tajam, kepala sarang gandul dipotong dan ditampung ke dalam
timbo (ember berbentuk kerucut yang terbuat dari kulit kayu)
untuk diulur ke bawah. Tiba di bawah, timbo dilepas dari
talinya oleh anggota tim pembantu, dan sarang lebah bermadu pun
kemudian dipindah ke wadah lain.
Menyanyi mutlak perlu
Di hutan Pangkalankuras, Kabupaten Kampar, Riau daratan, pemungutan
madu dilakukan dengan menumbai (mendendangkan pantun mantera).
Sudah sejak berada di pangkal batang pohon sialang seorang juragan mudo
menyanyikan tumbai untuk mengajak para lebah segera tidur. Ini
sudah malam, noh!
Lalu disusul tumbai untuk meminta lebah agar tidak menegur
juragan karena juragan muda tidak berbahaya. Anggap saja ia itu seekor
anak tupai yang sedang bermain-main. Sesudah berhasil naik sampai
cabang pertama, si juragan muda nyanyi lagi. Kali ini ditujukan kepada
roh halus penghuni sialang. Permisi, mau numpang lewat.
Tiba di dahan yang ada sarang lebahnya, ia berdendang lagi. Kali ini
berupa rayuan gombal kepada para lebah yang sudah tidur. Alangkah
indah sarang Anda, dan hitam manis tubuh Anda benar-benar
menggelorakan darah muda.
Sebelum mengayun-ayunkan obor pencetus kembang api, ia menyanyikan tumbai
lagi untuk menyampaikan salam (Raja) Sulaiman, raja seru sekalian alam
binatang, termasuk lebah hutan. Kendati begitu, terkadang lebah-lebah
itu tetap membandel. Tidak mau meninggalkan sarangnya.
Kalau lebah tidak mau pergi mengejar kembang api dan kemudian malah
menyengat tangan atau kepala, si juragan muda tidak marah dan membunuh
lebah yang nakal itu. Ia malah berdendang lagi, ... itam mani baiknyo
laku awak diam dicubitnyo (Aduh, hitam manis yang baik, tega-teganya
dikau menyengat diriku ini yang sudah diam sediam-diamnya).
Bijak, tetapi tinggal kenangan
Sesudah merasa cukup memungut sarang bermadu, juragan muda tidak lupa
menyanyikan lagu tumbai pamit kepada roh penghuni pohon
sialang. Habis itu ia mendendangkan lagi pantun imbauan kepada para
lebah yang tergusur dan gentayangan di daerah bawahan agar sudi
kiranya kembali ke puing-puing sarang di atas lagi. Kalau bisa, tidak
usah lama-lama supaya dahan pohon tidak menanti-nanti ....
Sementara itu fajar yang sudah menyingsing membuat kawanan lebah yang
mengungsi bergerak ke atas bersama ratu yang turut mengungsi. Mereka
mencari tempat bekas istana kerajaan yang sudah porak poranda untuk
membangun istana lagi yang baru. Komplet dengan gudang penyimpanan
madu seperti yang sudah dicuri oleh juragan muda.
Kebijakan melestarikan pohon sialang dan pemungutan hasil lebah hutan
yang sustainable oleh masyarakat suku itulah yang membuat
sumber penghasilan dari lebah hutan bisa dimanfaatkan secara
turun-temurun. Keadaan menjadi runyam setelah di beberapa tempat hutan
dikuasai oleh para pendatang dari luar. Pohon sialang banyak yang
ditebang bersama hasil hutan (kayu) lain yang diekspor. Atau dibabat
habis karena lahan akan digunakan untuk membangun perkebunan inti
rakyat.
Cerita tentang pengambilan madu lebah seperti di atas banyak yang
tinggal kenangan. |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online
|
|||||