|
|
Bulan Maret 2001
|
|
MENGAWETKAN
SPERMA SECARA MURAH MERIAH
Bukan soal hadiah yang didapat Mulyoto yang bikin berita ini
menggembirakan, tapi apa yang dia temukan itu berguna bagi para
ilmuwan dan dokter di negara sedang berkembang. Teknik pengeringan
yang dia lakukan hanya perlu biaya sedikit, cuma sekitar Rp 2.000,-.
Sementara dengan teknik pengeringan beku (freeze drying) yang
diterapkan sejak 1998 oleh para peneliti di Universitas Hawaii
pimpinan Prof. R. Yanagimachi dan Dr. T. Wakayama, biaya produksinya
sekitar Rp 4,75 juta per paket. Belum harga mesinnya yang sekitar
sekitar Rp 142,5 juta.
Hemat biaya
Ngomong-ngomong, ngapain sih sperma diawetkan? Tujuan
utamanya agar sperma dapat disimpan dan dipergunakan untuk inseminasi
buatan dalam jangka waktu lama. Salamon dkk. dari Sydney University
pada 1996 mempublikasikan makalah mengenai kemampuan membuahi sperma
domba yang disimpan selama 37 tahun dalam nitrogen cair. Mutu dan
kemampuan sperma awetan untuk membuahi tidak turun.
Selama ini penyimpanan sperma awetan dilakukan pada suhu beku, minus
196oC, dalam media penyimpan nitrogen cair. "Teknik
ini sudah dipakai secara luas di bidang peternakan untuk menyimpan
sperma sapi beku, dan dunia kedokteran manusia untuk menyimpan embrio,
sperma, maupun jaringan atau sel," terang dosen Fakultas
Peternakan Universitas Soedirman Purwokerto, yang pernah melakukan
penelitian tentang pengawetan sperma dan inseminasi buatan pada ayam
ini.
Cuma, cara tradisional itu banyak kendalanya. Tangki penyimpan
nitrogen cairnya saja harganya bisa samapi AS $ 5.000 (sekitar Rp 50
juta). Belum lagi bentuknya besar sekali, beberapa malah setinggi dan
seberat orang dewasa. Masa pakainya pun hanya sekitar 5 - 10 tahun.
Tak hanya itu, seminggu sekali setidaknya tangki harus diisi nitrogen
cair yang berkurang karena menguap. Prosesnya pun cukup berbahaya.
Lantai ruangan tempat tangki minta perlindungan khusus sebab nitrogen
harus diberi suhu minus 196oC agar tetap cair. Makanya,
mata dan kulit mesti dilindungi kalau tidak mau membeku terkena
cipratan nitrogen cair. Karena besar dan berat, tangki tidak praktis
kalau mau diangkut-angkut, dan berbahaya kalau sampai tumpah. Sejumlah
negara sudah melarang pengangkutan nitrogen cair tanpa izin atau truk
khusus.
Menjadi jelas mengapa temuan Mulyoto dikatakan sebagai terobosan besar
oleh Dr. Jillian Shaw, penyelianya. "Banyak keuntungan yang dapat
diperoleh bila kita mampu menyimpan sperma dalam suhu ruang,"
tutur Mulyoto lewat email. Keuntungan itu misalnya, hemat biaya
karena tidak perlu suplai nitrogen cair. Otomatis tidak perlu tangki
khusus penyimpan nitrogen cair yang makan tempat.
Lalu tidak ada risiko kecelakaan akibat penggunaan nitrogen cair
seperti frost bite) atau asphysia (kekurangan oksigen)
pada operator. Teknik temuan Mulyoto praktis, mudah dibawa dan dikirim
ke mana saja tanpa biaya ekstra penanganan, khususnya saat disimpan di
gudang Bea dan Cukai.
Sampai saat ini penyimpanan pada suhu ruang hanya bisa dilakukan pada
materi kering. Misalnya bahan makanan macam dendeng, ikan asin,
buah-buahan kering. Di alam fenomena hidup dalam keadaan kering ini
dikenal dengan fase dormant (tidur). Biji-bijian, beberapa
jenis mikroba, jamur (seperti ragi untuk tape dan tempe), serta
binatang (misalnya artemia dan tartigrada) mampu hidup dalam suhu
ruang dan suasana kering dengan kadar kelembapan nyaris 0%. Setelah
dibasahi atau terkena air, mereka dapat hidup normal lagi.
"Mati" secara fisiologis
Proses pengeringan secara umum bisa lewat beberapa cara. Pertama,
dengan pemanasan. Misalnya, direbus atau dipanaskan hingga kering.
Kedua, diisap dengan vakum sampai kering, lalu didiamkan agar menguap.
Ketiga, permukaannya ditiupi udara. "Cara terakhir itu yang saya
pakai," aku Mulyoto. Alasannya, tidak diperlukan pemanasan dan
tidak menggunakan oksigen.
"Pemanasan akan merusak DNA, sementara oksigen bisa menyebabkan
radikal oksigen," tambah penerima beasiswa AusAid untuk studi
pascasarjana Dipl. Agriculture Science di Melbourne University dan
Master of Reproductive Science di Monash University ini. Juga, alat
yang dibutuhkan relatif sederhana: cukup tabung gas nitrogen dan
selang penghubung.
Semula, Jillian Shaw menyarankan Mulyoto menggunakan teknik
pengeringan beku. Akan tetapi karena biayanya besar, lalu ia mencoba
pompa vakum. Itu juga masih mahal dan gas argon yang digunakan pun
mahal. Akhirnya, Mulyoto memilih plastic straw (tabung plastik
mirip isi bolpoin) saja. Sebab selain harganya relatif murah, tabung
buatan Prancis ini sudah teruji dan tidak meracuni zat yang disimpan
di dalamnya.
Tabung plastik itu biasa digunakan untuk menyimpan sperma atau embrio
beku, baik manusia maupun sapi. "Di Indonesia material ini bisa
diperoleh di Balai Inseminasi Buatan, Lembang," kata Mulyoto.
Ia menggunakan dua jenis ukuran, 0,25 ml dan 0,5 ml. Untuk
mengeringkan sperma digunakan gas nitrogen karena lebih murah, mudah
didapat, dan lebih aman dalam penanganannya dibandingkan dengan yang
cair.
Sperma segar yang mau dikeringkan disedot ke dalam tabung 0,25 ml
sehingga melumuri dinding bagian dalam tabung. Kemudian gas nitrogen
diembuskan ke dalamnya. Sambil tetap ditiup dengan gas nitrogen,
tabung itu dimasukkan ke dalam tabung yang lebih besar (0,5 ml), lalu
ditutup menggunakan pemanasan (heat seal). Agar lebih aman,
tabung itu dimasukkan ke dalam kantung alumunium foil kedap udara dan
diisi dengan gas nitrogen. Selanjutnya, bisa disimpan dalam suhu
ruang. Satu tangki gas nitrogen bisa dipakai untuk 1.700 tabung
plastik.
Kalau sperma awetan itu hendak digunakan, maka tabung itu dikeluarkan
dari kantungnya lalu dipotong ujung-ujungnya. Agar sperma bisa
mengalir keluar, tabung dialiri medium. Bisa berupa medium M2 (untuk
menangani embrio), MT-6 (untuk sperma), atau garam fisiologis. Sperma
akan hanyut bersama medium itu dan siap dipakai untuk pembuahan.
Tapi, tunggu dulu! Semua sperma itu dalam keadaan "mati".
Secara morfologis dan fisiologis, sperma-sperma itu memang
"mati" tapi DNA-nya tidak rusak. Supaya bisa dipakai untuk
membuahi sel telur, satu sel sperma disuntikkan ke dalam satu sel
telur (cara ini disebut intracytoplasmic sperm injection,
ICSI), yang sudah banyak digunakan pada pembuatan bayi tabung).
Selanjutnya, embrio ditangkarkan dalam inkubator sebagai gua garba
sementara sebelum dipindahkan ke dalam induk.
Survival rate-nya 100%
Tampaknya sederhana, tapi jalan menuju ke penemuan itu tidak mudah.
Untuk menguapkan air dari sperma, rehydrate (pengairan kembali)
sel, dan membuahi sel telur, Mulyoto berjuang selama hampir enam
bulan. Sebagai pengering, ia mencoba mulai dari udara hingga alhokol.
Akhirnya disadari, proses pengeringan akan terjadi seperti dia
harapkan jika tidak ada campur tangan oksigen.
Sebelum menggunakan dua tabung, Mulyoto hanya memakai satu tabung yang
lantas dirapatkan dengan perapat panas manual, namun masih bisa tembus
oksigen. Guna mencegah kebocoran itu, Mulyoto memasukkan tabung yang
sudah dirapatkan itu ke dalam tabung yang lebih besar dan dirapatkan
lagi. Cara ini hanya bisa bertahan sekitar sebulan sebelum akhirnya
oksigen menerobos masuk.
Mestinya, penyimpanan model begini bisa bebas bocor dan tahan lama.
Untuk itu, Mulyoto mencoba membungkus tabung dengan alumunium foil,
tapi oksigen tetap bisa menerobos masuk. Lalu ia membeli wadah khusus
kedap udara, sambil mencari cara lain yang tidak membuat kantong
bolong. Akhirnya, ia memilih kantung alumunium foil selebar 15 cm yang
ada di labnya. Dengan kantung ini sperma bisa awet hingga lebih dari
setahun.
Teknik ICSI yang dipakai Mulyoto dalam penelitiannya dilakukan secara
manual, hanya mengandalkan kepekaan tangannya. Dengan cara manual,
risiko terbesarnya sel telur rusak (yang sering terjadi pecah) setelah
disuntik sperma. Yang selamat tinggal sekitar 30%.
Kerusakan ini terjadi pada sel telur mencit yang memang sangat rentan.
Sedangkan sel telur hewan lainnya, macam sapi dan marmoset
(sejenis kera), relatif lebih tahan banting sehingga kerusakan dapat
dihindari. "Sebagai pembanding, saat saya bekerja dengan marmoset,
dengan teknik manual survival rate-nya 100%," kata
Mulyoto.
Survival rate sel telur mencit bisa ditingkatkan jika dibantu
mesin piezzo electric pulse seperti dilakukan temannya. Dengan
teknik ini kerusakan bisa diperkecil sehingga yang selamat bisa
mencapai 70%, karena dengan pulsa listrik kekuatan (suntikan) bisa
terkontrol dari waktu ke waktu. Lebih stabil. Akan tetapi,
kelemahannya, pulsa listrik harus dibantu dengan air raksa yang
ditempatkan pada ujung jarum suntik. "Air raksa itu zat berbahaya
yang harus dihindari karena menyebabkan kerusakan gen," tandas
Mulyoto.
Bisa diterapkan pada manusia
Bagi negara berkembang seperti Indonesia, metode pengeringan sperma
ala Mulyoto ini sangat membantu. Sampai sebatas pengawetan dan
penyimpanan, katanya, hal ini dapat diterapkan dengan mudah di mana
saja di Indonesia. Namun, untuk penggunaannya mungkin agak repot
karena diperlukan alat bantu mikromanipulator (untuk ICSI) dan
inkubator (untuk pembiakan embrio).
"Setahu saya, ada beberapa tempat di Indonesia yang memiliki
fasilitas ICSI, di antaranya klinik-klinik bayi tabung seperti Melati
di RS Harapan Kita, Dr. Soetomo Surabaya, Permata Hati di RSUP
Sardjito Yogyakarta, dan beberapa universitas," tutur Mulyoto
yang juga membantu pada Klinik Permata Hati.
Yang jelas, tegasnya, teknik ini sangat bermanfaat bagi konservasi
satwa langka. "Misalnya, dalam suatu penelitian di hutan
ditemukan satwa langka yang baru mati, maka material genetiknya
(seperti sperma) dapat langsung dikeringkan dan disimpan,"
Mulyoto yang pernah melakukan uji pendahuluan pemanfaatan spermatozoa
yang diperoleh setelah kematian (model untuk konservasi satwa langka)
bekerja sama dengan Dr. Sony Sumarsono dari jurusan Biologi, FMIPA,
ITB.
Bagusnya lagi, teknik ini bisa diterapkan pada manusia. Akan tetapi
banyak proses yang harus dilalui, seperti uji genetik. "Pada
tikus tidak ditemukan adanya kelainan pada keturunannya," kata
Mulyoto yang telah melahirkan sekitar 15 tikus dengan cara ini. Selain
itu banyak aspek nonteknis yang harus dikaji, utamanya aspek etika.
Jika tidak ada alangan, mungkin di masa yang akan datang orang tidak
perlu lagi menyimpan sperma di klinik In Vitro Fertilization atau bank
sperma. Cukup disimpan di rumah masing-masing saja. Selain hemat
biaya, juga bisa mencegah terjadinya kontaminasi silang antarspesimen
yang disimpan dalam tangki nitrogen cair yang sama.
Cara pengeringan sperma ala Mulyoto itu kini sedang dalam proses
pengajuan paten di Australia. Kelak nama Mulyoto akan tercantum
sebagai penemunya. |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online
|
|||||