|
|
Bulan Maret 2001
|
|
JANTUNG ANAK BOCOR? BISA DIREPARASI
Penyakit
jantung bawaan pada anak balita masih cukup banyak penderitanya.
Untunglah penyakit ini bisa diatasi meski biayanya cukup besar. Juga
kita mesti berhati-hati bila anak menderita sakit tenggorokan. Sebab,
bila tidak diberantas tuntas, kuman streptokokus yang menjadi biangnya
bisa membuahkan penyakit jantung rematik yang sulit disembuhkan.
Dokter menduga, Aji menderita kelainan jantung. Sebab itu, Aji
dianjurkan periksa kembali di rumah sakit jantung.
Bisa karena jamu
Penyakit jantung bawaan pada anak memang bukan penyakit langka. Di
antara 1.000 anak lahir hidup di Indonesia, menurut data rumah-rumah
sakit di Indonesia, sembilan di antaranya mengidap penyakit jantung
bawaan. "Hasil survai di luar negeri prevalensinya kurang lebih
sama," kata dr. Ganesja M. Harimurti, spesialis jantung dan
pembuluh darah dari Sub Bagian Jantung Anak, RS Jantung Harapan Kita,
Jakarta. "Jadi, kelainan ini bukan hanya diderita oleh anak di
negara-negara berkembang atau miskin," tambahnya.
Lebih dikenal dengan istilah jantung bocor atau penyakit jantung biru,
kelainan itu antara lain karena sekat pemisah bilik atau serambi
jantung kiri dan kanan belum atau tidak tertutup sempurna. Akibatnya,
jantung tidak berfungsi dengan baik.
Padahal, jantunglah yang memompa darah ke seluruh tubuh. Darah yang
mengandung 96% zat asam (darah bersih yang berwarna merah segar) dari
bilik kiri jantung dialirkan ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah
nadi. Saat kembali ke bilik kanan, darah tidak lagi bersih dan warna
berubah menjadi lebih tua. Pada saat itu kadar zat asamnya tinggal
sekitar 60%. Namun, selanjutnya darah kotor ini dipompa kembali dari
bilik kanan, dialirkan ke paru-paru untuk menghirup zat asam sehingga
menjadi bersih kembali. Begitulah aliran darah pada tubuh, yang
berlangsung tanpa henti sepanjang hidup kita.
Bila sekat pemisah tidak tertutup sempurna, tentu saja darah kotor
akan bercampur dengan darah bersih. Ini berakibat kerja jantung akan
terganggu, sehingga sering mengeluarkan tanda-tanda biru, khususnya
pada kuku jari tangan dan bibir penderita. "Namun, bila kadar zat
asam dalam darah masih berkisar 80%, umumnya tidak sampai memunculkan
tanda biru," jelas dr. Ganesja.
Pertumbuhan anak yang menderita kebocoran sekat jantung juga
terhambat. Nafsu makan berkurang dan umumnya bayi dengan penyakit ini
tidak kuat menyedot ASI. Anak tampak lesu dan mudah capai. Bila
dirontgen, jantung tampak membesar dan dengan pemeriksaan stetoskop
terdengar suara bising (murmur). Selain itu, anak tak
henti-hentinya mengalami batuk dan demam.
Disebut penyakit bawaan karena kebocoran terjadi sejak dalam
kandungan. Semestinya, jantung bayi sudah terbentuk sempurna pada usia
kehamilan tiga bulan. Tapi, karena beberapa hal seperti si ibu
terserang penyakit campak jerman atau rubela, terjadilah
ketidaksempurnaan itu.
Menurut dr. Ganesja, ibu yang melahirkan pada usia 35 tahun ke atas,
atau suaminya sudah berusia lanjut (di atas 55 tahun) pun cukup
berisiko melahirkan bayi dengan cacat bawaan ini.
Obat penenang, obat penghilang rasa mual atau jamu-jamuan tertentu
yang diberikan selama usia kehamilan muda, terkena sinar radiasi,
kurang vitamin, rokok (perokok aktif dan pasif) juga bisa merupakan
biang keladinya. Ditambah lagi faktor genetik lain yang tidak atau
belum diketahui penyebabnya.
"Kebocoran sekat jantung antara satu penderita dengan yang lain
tidak sama. Namun, banyak pula yang beruntung karena sekat tertutup
dengan sendirinya sebelum anak berusia dua tahun," tambah dr.
Ganesja.
Kapan sekat bisa atau perlu dikoreksi, kapan tidak perlu atau tidak
bisa lagi dikoreksi, menurut spesialis jantung ini, tergantung pada
cepat tidaknya si penderita diperiksakan ke dokter. Adakalanya,
sedemikian kecil kebocorannya sehingga tidak perlu dikoreksi karena
tidak akan mengganggu kesehatannya sepanjang hidupnya.
Penderitaan akan menjadi parah bila kebocoran yang cukup besar
didiamkan selama bertahun-tahun, misalnya sampai usia anak mencapai 9
- 10 tahun. Kalau darah bersih bercampur darah kotor didiamkan
sedemikian lama, akan terjadi perubahan pada paru-parunya. Pasalnya,
paru-paru akan terus menampung darah kotor secara berlebihan yang
lama-kelamaan akan menumpuk, sehingga dapat mengakibatkan kenaikan
tekanan darah di paru-paru.
Keadaan itu disebut hipertensi paru-paru. Gejalanya, penderita
merasakan sering sesak napas, sangat lesu, dan lemah. Wajah anak juga
tampak kebiru-biruan. Kondisi demikian sudah dikatakan parah dan sulit
direparasi lagi. Kejadian terlambat ini, menurut dr. Ganesja, sekitar
2% dari jumlah seluruh penderita.
Kelerlambatan itu biasanya karena ketidakpahaman atau kealpaaan para
orang tua penderita soal kelainan itu, biaya, kurangnya informasi,
atau kelengahan para dokter yang memeriksanya.
Bisa sembuh total
"Bayi usia satu hari pun, kalau dalam keadaan mendesak, bisa
'direparasi'," tutur dr. Ganesja. "Walaupun tentu saja
semakin besar usia sang bayi akan semakin mudah karena organ
jantungnya akan lebih besar".
Tingkat kesulitan pembedahan penyakit jantung bawaan, menurut dr.
Jusuf Rachmat, spesialis bedah jantung dari rumah sakit yang sama,
sangat tergantung pada letak dan parah tidaknya kelainan itu. Ada yang
cukup dilakukan satu kali koreksi, ada yang secara bertahap sampai
beberapa kali. Selama dilakukan pembedahan jantung terbuka ini
diperlukan mesin jantung-paru yang menggantikan fungsi jantung dan
paru-paru untuk sementara.
Kebocoran pada sekat bilik jantung, seperti dikatakan dr. Jusuf, lebih
mudah direparasi dibandingkan dengan sekat serambi jantung. Pasalnya,
pada serambi dindingnya tipis dan tekanan tidak tinggi, sedangkan pada
bilik tekanan lebih tinggi dan ototnya tebal. "Kebocoran bilik
yang kecil cukup 'dijahit' saja. Pada kebocoran yang lebih besar perlu
'ditambal' dengan selaput pembungkus jantung," katanya. Sedangkan
kebocoran pada bilik 'ditambal' dengan semacam kain sintetis dari
bahan dekron atau gortex, yang seumur hidup tidak akan
ditolak atau dapat menyatu dengan tubuh.
Angka keberhasilan pembedahan jantung bawaan, menurut spesialis bedah
jantung ini, semakin baik. "Kini keberhasilan bisa di atas 95%
dan anak akan tetap sehat sampai dewasa nanti," katanya.
"Kegagalan umumnya karena terdapat faktor kelainan lain di luar
penyakit bawaan itu," tambah dr. Jusuf.
Katup jantung rusak
Selain penyakit kebocoran sekat jantung, ada lagi satu penyakit
jantung pada anak yang sering diderita, yakni penyakit jantung
rematik. Karena itu, janganlah dianggap sepele bila anak Anda
tiba-tiba terserang demam tinggi (39 - 40oC) ditambah
tenggorokan merah dengan bercak-bercak putih. Siapa tahu ia terserang
kuman streptokokus. Kalau kuman ini tidak dibasmi tuntas dengan
antibiotik atau penisilin, dikhawatirkan akan meninggalkan toksin yang
mencetuskan penyakit demam rematik 1 - 2 bulan kemudian.
Menurut dr. Ganesja, jumlah penderita demam rematik yang datang ke RS
Jantung Harapan Kita dalam satu tahun sekitar 10 - 20 anak usia 5 - 6
tahun. Rata-rata penderita jantung rematik anak dari kalangan
masyarakat sosio-ekonomi rendah di negara dengan penduduk padat,
seperti Indonesia, India, dan RRC. Pasalnya, keadaan rumah mereka
banyak yang kumuh, kurang higienis ditambah lagi jarak antartetangga
sangat berdekatan sehingga kuman ini mudah menular ke anak lain.
Perlu diwaspadai, setiap radang tenggorokan yang tanpa pengobatan
antibiotik tampak sembuh, jangan dianggap sudah aman. Hati-hati pula
bila timbul gejala lain seperti sakit pada persendian yang
berpindah-pindah, sesak napas, jantung berdebar-debar, timbul
bercak-bercak merah atau benjolan-benjolan kecil pada kulit. Ditambah
lagi anak melakukan gerakan-gerakan yang tidak biasa dan tidak
terkontrol seperti menggerak-gerakkan kepala atau tangan. Sebab,
tanda-tanda demikian itu mungkin merupakan gejala demam rematik yang
kalau tidak segera diatasi, anak bisa mengalami kerusakan atau
pengerutan katup jantung atau kelemahan otot jantung.
Pengobatan yang segera dilakukan adalah pemberian suntikan penisilin
setiap empat minggu sekali selama lima tahun. Biaya sekali suntik
sekitar Rp 25.000,-. Bagi yang lebih berat keadaannya pengobatan bisa
sampai 25 tahun! "Mau tidak mau ini harus dilakukan secara
teratur sampai tuntas supaya tidak kambuh kembali. Sebab bila alpa,
bisa terjadi kekambuhan yang lebih parah," tegas dr. Ganesja.
"Dan ini sering terjadi pada masyarakat kita," tambah dr.
Jusuf.
Biaya ini masih lebih murah dibandingkan kalau harus dibedah untuk
memperbaiki atau mengganti katup yang rusak. Menurut dr. Jusuf,
penggantian katup adakalanya bisa dari jaringan tubuh penderita
sendiri, atau harus dari bahan sintetis. Acap kali kerusakan atau
penciutan bisa terjadi pada dua katup.
Pada kasus kelemahan otot jantung, penyembuhan secara tuntas acap kali
sulit dicapai, kecuali paling-paling dengan bantuan obat-obatan
sepanjang hidupnya.
Diakui dr Ganesja, masalah biaya merupakan hambatan utama pada
pengobatan ataupun pembedahan. "Mana mungkin mereka membiayai
operasi yang nilainya sampai Rp 35 juta?" tutur dr. Ganesja.
"Apalagi kalau harus mengganti katup dari bahan semacam logam
yang harganya selangit dan daya tahannya hanya sekitar 10 tahun".
Harga sebuah katup sekitar Rp 12 juta - Rp 20 juta.
Pada penyakit jantung bawaan pun rata-rata orang tua penderita masih
relatif muda, dengan penghasilan yang rata-rata pas-pasan. Padahal,
biayanya mulai Rp 10 - 15 juta (bagi mereka yang hanya memerlukan
sekali pembedahan) sampai Rp 24 - 35 juta!
Karena itu bantuan dana dari pihak ketiga seperti Yayasan Jantung
Indonesia, sumbangan para pemirsa dan pencinta sebuah acara favorit di
sebuah stasiun televisi swasta, dll. tentunya merupakan tindakan mulia
dan menjadi salah satu jalan keluar untuk mengatasi persoalan biaya
pada mereka yang kurang mampu. Pihak rumah sakit dalam hal ini juga
telah menyediakan dana khusus bagi mereka yang kurang mampu, namun
masih belum mencukupi.
Mereka, anak-anak balita penderita kelainan jantung bawaan dan lainnya
yang berasal dari keluarga tak mampu, masih membutuhkan uluran tangan
kita agar mereka bisa menyongsong masa depan yang lebih baik. |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online
|
|||||