|
|
November 2001 Advis Medis |
|
Mengukur Kemanjuran Reaksi seorang penderita yang diberi obat oleh dokter, sebenarnya dapat diantisipasi. Namun penjelasan mengenai hal ini perlu dikomunikasikan kepada si pasien. Bila ia tidak mengerti apa yang harus dihadapi saat menerima obat, dapat terjadi salah tafsir yang sangat mengganggu. Itu tidak berarti semua tindakan dalam ilmu kedokteran dapat diantisipasi. Sebagai contoh, berbagai penyakit tumor ganas kadang-kadang memberi hasil yang tak dapat diramalkan. Namun stroke dapat diprediksi secara kasar. Kesembuhan tifus pun dapat diketahui dokter secara hampir pasti dalam 7 - 10 hari, walaupun dapat saja terjadi komplikasi di luar perhitungan. Singkat kata, ilmu pengobatan dapat menentukan dalam batas-batas yang cukup akurat tentang hasil suatu pengobatan tertentu. Beberapa contoh, bisa disebut. Flu, bila diberi obat campuran yang berisi antipiretik, antibatuk, dan antipilek akan sembuh dalam 1 - 5 hari. Namun syaratnya, istirahat. Tanpa itu, prediksi ini bisa meleset dan penyakit menjadi berkepanjangan. Diare harus sudah sembuh dalam 1 - 3 hari, bila tidak, berhentilah (total) makan cabai, susu, gado-gado, dan semua makanan merangsang untuk beberapa hari. Untuk berbagai penyakit kuman, antibiotik pun dapat diprediksi keberhasilannya. Bila terdapat infeksi kuman pada luka dan bisul (yang baru terjadi) di kulit harus dapat membaik dalam 1 - 2 hari, bila pilihan antibiotiknya cocok. Namun jika pada hari ketiga belum juga terlihat perbaikan, sudah dapat dipastikan antibiotiknya perlu diganti; juga mungkin perlu diperiksa apakah ada diabetes. Infeksi kandung kemih akut, yang ditandai oleh sakit sebelum dan sesudah kencing, serta ditemukan banyak sel darah putih dalam urine, akan bereaksi terhadap antibiotik yang cocok dalam waktu 1 - 3 hari. Bila tidak ada perbaikan dalam jangka waktu ini, maka pengobatannya perlu dikaji ulang. Radang paru-paru pun bereaksi sangat baik (membaik dalam 1 - 3 hari) terhadap pemberian antibiotik yang cocok, walaupun penyakitnya tergolong serius. Di lain pihak, bronkitis (penyakit ringan), malah bereaksi buruk terhadap antibiotik. Memang, sebagian besar kasus bronkitis akut tidak memerlukan antibiotik. Lebih bermanfaat dan terbukti lebih efisien bila pasien diberi obat asma dan jangan diberi obat penekan batuk seperti KODEIN ATAU DEKSTROMETORFAN. Bagaimana dengan keberhasilan pengobatan hipertensi? Semua obat hipertensi mempunyai kemampuan menurunkan tekanan darah, namun manfaatnya berbeda bagi setiap penderita. Nifedipin, misalnya menurunkan tekanan darah paling cepat, segera setelah tablet pertama (bila memang cocok), namun kadang-kadang dapat berakibat kurang baik, karena pendarahan berbagai organ menjadi kurang efisien. Efeknya pun pendek, hanya sekitar 5 - 7 jam. Karena itu tablet nifedipin biasa tidak dianjurkan untuk mengobati hipertensi; diperlukan nifedipin tablet jenis LEPAS LAMBAT untuk itu. Berbeda dengan amlodipin, yang segolongan dengannya, yang baru efektif setelah 2 - 3 minggu. Beta-bloker juga bereaksi setelah satu hari atau lebih, tetapi lebih perlahan dibandingkan nifedipin. Capoten dapat menurunkan tekanan darah dengan cepat pada hari pertama. Sebaliknya, ada obat-obat darah tinggi yang bekerja sangat perlahan, misalnya amlodipin tadi dan reserpin (juga memerlukan 2 - 3 minggu). Sementara hidroklorotiazide (HCT, dosis 12.5-25 mg sekali sehari) dan tiazide lain bekerja setelah sekitar 3 - 7 hari. Maka bisa dimengerti begitu obat antihipertensi dihentikan, keesokan harinya tekanan darah pasien segera naik lagi, kecuali pada obat-obat yang masa kerjanya panjang seperti HCT atau amlodipin, yang efeknya masih bertahan beberapa hari. Penyakit TBC pun, sekarang tak lagi merupakan momok seperti dahulu, asal obatnya dimakan teratur selama sedikitnya enam bulan. Bila diagnosis telah dibuat dengan baik, maka hasil SEMENTARA pengobatan dapat terlihat: pasien tampak menjadi lebih sehat, nafsu makan bertambah, berat badan mulai bertambah, perasaan lemah dan lesu menghilang. Tanda-tanda ini dapat dirasakan dalam waktu relatif singkat, yaitu 1 - 2 minggu setelah pengobatan. Namun banyak penderita, karena kurangnya penjelasan, menghentikan pengobatannya dengan alasan "sudah sembuh". Akibatnya, TBC akan menyerang kembali dan kumannya akan menjadi resisten. Perbaikan nafsu makan dan kesegaran yang bertambah merupakan pertanda bahwa pengobatan mulai berhasil, namun penelitian menunjukkan bahwa pengobatan TBC harus diteruskan selama enam bulan tanpa henti. |
|||||