|
|
November 2001 Cermin |
|
MEMPERBAIKI TRANSFERENSI Berbagai ketegangan dalam relasi antarinsan tidak jarang terjadi karena pengaruh masa lampau yang begitu meresap dalam jiwa manusia. Coba dengarlah kisah Nina. Remaja putri yang baru saja lulus SMU ini merasa sangat terpuruk dalam depresi, akibat ketegangan kronis yang ditanggung selama pergaulannya dengan teman-temannya di SMU. Ketegangan ini amat melelahkan jiwanya. Mengapa Nina selalu menanggung ketegangan? Ternyata, semua itu akibat kecurigaan yang berlebihan terhadap setiap kawan atau temannya sendiri. "Aku memang tidak pernah percaya terhadap kebaikan teman-temanku. Tapi karena tidak berani menyatakan atau memperlihatkan ketidakpercayaan itu, akhirnya, aku sendiri harus menanggung semua kemunafikan yang kuciptakan sendiri. Capek sekali rasanya." Demikian pengakuannya. Mengapa Nina selalu curiga dan tak percaya? Dia mengaku tidak tahu persis mengapa. Yang ia rasakan hanya kebiasaan untuk "membawa cara pandang yang selalu curiga dan tak percaya". Dalam beberapa kali pertemuan dengan konselor akhirnya terungkap adanya fakta relasi yang buruk antara Nina dan ibundanya. Remaja putri tersebut banyak mengalami luka psikologis karena ulah ibu kandungnya yang tidak bisa dipercaya, emosinya berubah-ubah tidak menentu, dan pandangan-pandangannya tidak bisa dipegang. Rupa-rupanya, relasi buruk dengan ibu kandung itu membuat Nina "membawa terus" cara pandang yang selalu bernuansa curiga dan tak percaya dalam relasi dengan orang-orang lain pada masa kini.
Memang ulah jiwa manusia bisa sebegitu rumit akibat pengaruh masa lampau. Bagi seseorang, masa lampau adalah kumpulan aneka pengalaman yang mengkristalisasikan cara pandang atau world view yang mendarah daging di dalam jiwanya. Barangkali cara pandang itu benar, realistis, dan cocok untuk diterapkan pada masa lampau, namun jika diterapkan pada masa sekarang tidak selalu benar, tak realistis, dan tak cocok lagi. Bahkan sesungguhnya mayoritas cara pandang masa lampau, tidak benar, tidak realistis, dan tidak cocok lagi diterapkan sekarang. Oleh karena itu, jiwa yang sehat selalu melakukan revisi cara pandang yang pernah dimilikinya. Revisi yang terus-menerus itu terjadi dalam tempaan dunia kehidupan "di sini dan kini" (the here and now). Namun keharusan merevisi secara terus-menerus itu tidak gampang dilakukan, terutama karena ada hambatan yang berasal dari rasa malas dan rasa takut untuk berubah. Psikiater M. Scott Peck menyebut kedua penghambat itu inertia of laziness dan resistance to fear. Biasanya yang terjadi justru kemandekan revisi cara pandang dan berlangsungnya "pengiriman" (transfer) cara pandang masa lampau ke masa kini. Artinya, pemakaian cara pandang lama justru dilestarikan dalam kehidupan masa kini. Peristiwa pengiriman cara pandang masa lampau ke masa kini itu disebut transferensi. Kebanyakan psikoanalis dan psikiater meyakini, bahwa transferensi merupakan dasar dari kebanyakan "gangguan jiwa" (mental illness). Maka demi jiwa yang sehat, manusia perlu mengurangi transferensi dengan terus-menerus mencermati cara pandang yang dipakainya untuk menghadapi kehidupan hari demi hari. Manusia perlu mengenali cara pandang lama lalu berupaya merevisi cara pandang itu menjadi cara pandang baru yang lebih benar, realistis, dan cocok untuk menghadapi fakta-fakta dalam kehidupan sekarang. Revisi cara pandang yang menipiskan transferensi itu penting sekali untuk merawat dan menumbuh-kembangkan relasi antarinsan yang baik dan benar. Pasalnya, dengan cara pandang yang lebih sesuai dengan fakta-fakta "di sini dan kini", setiap insan akan bisa berpikir, bersikap, merasakan, dan bertindak secara lebih objektif, realistis, dan tepat. Kasus Nina di atas hanya salah satu contoh dari sekian banyak problematika relasi antarinsan yang dipengaruhi world view lama yang sudah lapuk dalam memandang kehidupan masa kini. Pada perspektif sosial, sesungguhnya bangsa Indonesia kini juga sedang mengalami problem relasi antarinsan yang sebegitu carut-marut karena pengaruh world view lama yang telah mendarah daging. Cara pandang lama itu mungkin bisa diringkas dalam ungkapan "cara pandang psikososiopolitik prareformasi", atau ada yang lebih suka menyebut "cara pandang Orde Baru". Tak bisa disangkal, cara pandang psikososiopolitik Orde Baru itu sedemikian lama meresap dalam jiwa warga bangsa Indonesia. Kurun waktu peresapannya tidak kurang dari tiga puluh tahun, sebanding dengan bentang zaman satu generasi. Kendati pemimpin puncak yang berkuasa pada periode tiga dasawarsa lebih itu telah menyingkir dari ajang kepemimpinan bangsa, namun cara pandangnya tidak serta merta ikut menghilang dari khazanah jiwa manusia Indonesia. Justru kini terbukti cara pandang lama itu masih kuat cengkeramannya. Salah satu buktinya adalah perilaku berpolitik yang tidak etis, dan terus berlanjutnya praktik korupsi di berbagai lapisan pemerintahan dan masyarakat. Ajang politik praktis di masa kini, kendati ditandai peningkatan kebebasan menyampaikan pendapat, tetap saja cuma menampilkan serba-serbi pertikaian elite yang penuh sorak-sorai namun tidak etis. Elite politisi tidak segan-segan melakukan "pembunuhan kepribadian" (character assassination) terhadap lawan politiknya. Untuk memenangkan pertarungan, mereka banyak memanipulasi konstitusi, menyebar disinformasi, bahkan menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan. Pertikaian elite politisi masa kini bagaikan pertandingan sepak bola dengan pemain-pemain yang curang tanpa etika. Ujung-ujung dari semua itu adalah penurunan kualitas relasi antar-sesama warga Indonesia. Orang Indonesia memandang sesama warga Indonesia bukan sebagai saudara sebangsa dan setanah air, melainkan sebagai orang lain, bahkan orang asing yang patut dicurigai. Di tengah kondisi demikian, tidak heran kalau bangsa Indonesia terancam potensi disintegrasi yang mengerikan. Seyogianya, demi Indonesia baru yang damai dan sejahtera, setiap warga dan elite pemimpin atau elite politisi niscaya menanggalkan cara pandang lama. Mereka perlu menerapkan cara pandang baru, cara pandang reformasi sejati, untuk melihat, memaknai, memperlakukan, dan menghadapi kehidupan sehari-hari "di sini dan kini". (dr. Limas Sutanto, Sp.K.J., pengamat psikososial dari STFT Widya Sasana, Malang.) |
|||||