|
|
November 2001 Kelirumologi Jaya Suprana |
|
KONTRADIKSI PERIBAHASA Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, makna peribahasa adalah ungkapan atau kalimat-kalimat ringkas padat, yang berisi perbandingan, perumpamaan, nasihat, prinsip hidup atau aturan tingkah laku. Meski terkesan konstruktif, langsung terkait budi pekerti, dengan kandungan nasihat, prinsip hidup atau aturan dan tingkah laku, namun, mungkin saking banyaknya, terkadang peribahasa tidak sesuai realita, bahkan saling bertentangan satu dengan lainnya. Misalnya, ada peribahasa arif bahwa Biar lambat asal selamat, namun di sisi lain ada pula yang sibuk mengingatkan bahwa Siapa cepat siapa dapat. Maka, kita harus tangkas memanfaatkan peluang, apalagi akibat konon Kesempatan mengetuk pintu hanya sekali saja, namun ada pula yang tenang-tenang saja, sebab Tak lari gunung dikejar, masih ditambah yakin bahwa jika berhasil terkejar pun, masalah belum tentu beres, sebab bisa saja: Maksud hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai. Sementara, peribahasa manajemen organisasi mencemooh Banyak koki merusak masakan jelas bertentangan dengan paham Gotong royong atau semangat kebersamaan. Wejangan bahwa Rasa ingin tahu membunuh sang kucing jelas menghambat semangat belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi! Mereka yang patuh menganut paham Hemat pangkal kaya perlu siap kecewa dalam menghadapi realita kehidupan ekonomi, terutama akibat inflasi apalagi devaluasi. Sudah susah-payah hemat lalu menabung Rupiah, di masa krisis nilainya merosot tajam! Kita menjadi bersemangat seolah tak kenal putus-asa berkat peribahasa yang meyakinkan kita bahwa Di mana ada kemauan di situ ada jalan, sampai sadar bahwa di atas segala-galanya masih ada fakta bahwa Manusia merencanakan, Tuhan menentukan. Peribahasa Hanya ada dua hal di dunia yakni pajak dan mati, asyik dimanfaatkan Dirjen Pajak untuk kampanye meyakinkan masyarakat bahwa membayar pajak itu wajib. Tentang mati, memang pasti bagi siapa saja, namun mengenai pajak nanti dulu. Di Brunei Darussalam, rakyat tidak perlu membayar pajak, akibat sang Sultan sudah terlalu kaya-raya. Semboyan Maju terus pantang mundur secara kontekstual, pada saat perjuangan bangsa dan negara, memang menggetar sukma dan menggelorakan semangat juang! Namun, pada kenyataan hidup, mustahil kita benar-benar mampu dan perlu terus-menerus maju pantang mundur. Pada kenyataan hidup, ada saat melangkah maju, namun ada pula saat berhenti sejenak, bahkan kalau perlu: mundur, untuk pada suatu saat kembali maju. Yang jelas, kendaraan mobil mustahil Maju terus pantang mundur! Jika direnung secara logis, apalagi demi kebugaran mental tanpa kehilangan makna produktifnya, pada hakikatnya paham Bersenang-senang dahulu, baru bersenang-senang lebih menyenangkan ketimbang Bersusah-susah dahulu, baru bersenang-senang. Kisah perumpamaan juga tidak selalu realistis, seperti fabel berkisah tentang jangkrik yang di masa makmur kerjanya hanya menyanyi melulu, sementara semut bekerja keras mengumpulkan makanan, maka di masa paceklik sang semut mampu bertahan hidup, sementara sang jangkrik mati kelaparan. Pada kenyataan hidup, terbukti banyak insan yang kerjanya menyanyi melulu, seperti Michael Jackson atau Madonna, malah lebih mampu bertahan hidup di masa paling paceklik pun, akibat dana yang berhasil dihimpun di masa subur, jauh lebih berlimpah ketimbang mayoritas mereka yang gigih bekerja keras mati-matian mencari nafkah lewat profesi nonbiduan. |
|||||