|
Bulan Ini
Bulan Lalu
Buku Tamu
Mailing List
Di balik kisah
Info iklan
Email
|
Mugejek
ka Siberut
Mugejek ka Siberut samalah maknanya dengan melakukan perjalanan ke
Siberut. Tak hanya menawarkan keindahan Taman Nasional dan budaya
tradisional Mentawai, Siberut pun menguji kekuatan mental dalam menyeberangi
badai Samudera Indonesia, serta kemampuan fisik berjalan kaki!
 |
|
Kerei,
sang pemimpin yang meski ber-kabit juga bertas pinggang dan
berarloji. |
Pulau Siberut, berjarak sekitar 100 - 155 km barat Kota Padang, menghadap
Samudera Hindia. Meski hanya salah satu dari tiga pulau terbesar di
Kepulauan Mentawai, yang memiliki 61 pulau, ia tepat benar menjadi tujuan
perjalanan, mengingat di dalamnya terdapat beberapa desa yang mencoba
mempertahankan kebudayaannya.
Jadwal tak pasti
Masalah yang langsung mengadang bila hendak ke Siberut, biasanya berhubungan
dengan gangguan cuaca. Kapal kayu Sumber Rezeki Baru milik PT Rusco kadang
harus menunda pelayaran karena tidak mungkin menembus badai Samudera Hindia.
Jika tak ada kendala, kapal ini bertolak dari Muaro Padang ke Muara Siberut
setiap Senin dan Rabu sore. Tarifnya pun terjangkau, Rp 35.000,- untuk
penumpang di kamar dan Rp 25.000,- untuk penumpang di dek. Celakanya,
pelayaran selama 11 jam itu kerap terasa lebih lama. Apalagi kalau menanti
tiba di tujuan dengan jantung berdegup kencang, karena kapal kelebihan
muatan sementara fasilitas keselamatan jauh dari memadai.
Feri Barau milik Pelni yang seharusnya dapat berlayar tanpa mengkhawatirkan
badai, hanya bertolak sekali dalam dua minggu. Itu pun kadang gagal bertolak
dengan alasan mesin rusak. Tarifnya pun lebih murah, Rp 25.000 untuk
penumpang di kamar dan Rp 18.000 untuk penumpang di dek. Tak heran oleh
penduduk namanya dipelesetkan menjadi Kapal "Buruk".
Ketidakpastian jadwal transportasi ini sering membuat penduduk, terutama
yang berasal dari daerah hulu yang ingin pergi ke luar pulau, tertahan di
Muara Siberut. Padahal untuk kembali ke rumah harus mendayung sampan selama
dua hari! Penantian serba tak pasti ini juga kerap menimpa pengunjung, yang
tentu berakibat pada perubahan jadwal perjalanan dan pembengkakan anggaran.
Untung penginapan sangat sederhana di Meileppet memasang tarif amat murah,
cuma Rp 2.500,- per malam. Tapi, saya memilih menginap di rumah penduduk di
Meileppet, rumah Bapak Oreste Demo Saleleubajak, supaya bisa lebih dekat
mengenal masyarakat desa tersebut.
Transportasi lokal di Siberut masih banyak mengandalkan kekuatan kaki,
sampan, dan perahu kecil. Belum ada jalan raya. Yang terbentang hanya jalan
berlumpur sepanjang 4 km dari Muara Siberut menuju dermaga Meileppet yang
bertahun-tahun tak kunjung usai dibangun. Setelah itu yang tersisa hanya
jalan setapak, kecuali di lahan penebangan.
 |
|
Tinggal
sedikit masyarakat Mentawai yang mengenakan kabit. Yang masih
dipakai cuma sikairan (ikat kepala) dan kalung pada saat ada
acara adat. |
Untuk mencapai perkampungan tradisional seperti Rorogot, Roddok, Madobak,
Ugai, dan Matotonan kita harus mencarter speedboat dengan tarif Rp
300.000,- - Rp 500.000,-. Perjalanan melawan arus sungai diawali dari Desa
Muntei menuju Rorogot dengan waktu tempuh 1,5 jam. Untuk mencapai Desa
Roddok perlu waktu satu jam. Dari Roddok baru bisa dilanjutkan dengan
berjalan kaki.
Madobak dapat dicapai dari Roddok dengan naik boat selama 1,5 jam
disambung dua jam berjalan kaki. Sedangkan dari Madobak ke Ugai membutuhkan
waktu satu jam naik boat atau 30 menit berjalan kaki. Matotonan desa
paling dalam, dapat ditempuh dengan dua jam berjalan kaki dari Ugai. Kedua
desa yang disebut belakangan, jarang bisa dicapai dengan boat,
kecuali saat air sungai sedang pasang-pasangnya.
Persiapan lain yang tak kalah penting, berupa kelengkapan medis pribadi atau
tim. Penyebabnya, hingga saat ini Siberut masih kekurangan fasilitas
kesehatan. Kalaupun ada cuma Puskesmas dengan persediaan obat-obatan yang
sangat tidak memadai.
Kami sempat mendapat "peringatan" saat menyaksikan seorang ibu di
Desa Meileppet dipatuk seekor ular hijau yang terkenal ganas. Suami korban
yang telah berjalan kaki sejauh 8 km pulang-pergi untuk meminta serum bisa
ular ke puskesmas di Muara Siberut, pulang dengan tangan hampa. Akhirnya,
nasib si ibu dipercayakan sepenuhnya pada ramuan dan doa Teteu si Rakkut,
Kerei (dukun) ternama dari Desa Muntei.
Satwa endemik
Siberut dan pulau-pulau di Kep. Mentawai lainnya diperkirakan terpisah dari
daratan Sumatra sejak 500.000 tahun lalu pada zaman Pleistocene, oleh
naiknya permukaan air laut. Sejak itu pula pulau ini terisolasi kehidupan
daratnya. Boleh jadi isolasi itu menjadikan Siberut memiliki vegetasi dan
satwa endemik khas, yang takkan dijumpai di belahan dunia mana pun, lumayan
terjaga kelestariannya. Setidaknya hingga sebelum membludaknya arus
pendatang dengan berbagai kepentingan.
Untuk itu pula tahun 1997 pemerintah menjadikan 190.500 ha dari 430.300 ha
luas pulau ini sebagai taman nasional, memanjang dari utara hingga selatan,
nyaris membagi dua pulau Siberut.
Beberapa satwa penting di taman nasional itu di antaranya bilou atau siamang
kerdil (Hylobates klosii), simakkobu atau monyet ekor babi (Simias
Concolor), joja atau lutung mentawai (Presbytis potenziani),
Bokkoi atau beruk mentawai (Macaca pagensis), rusa sambar (Cerrus
unicolor oceanus), dan burung hantu mentawai (Otus mentawai).
Selain itu masih ada kurang-lebih 130 spesies burung lainnya, beragam
spesies reptil, amphibi, invertebrata, dan lebih dari 503 jenis vegetasi.
Karena kelangkaannya itu, status satwa di sana pun dinyatakan dilindungi
dari kepunahan oleh pemerintah. Perburuan dilarang.
Tapi, diam-diam banyak anggota masyarakat yang sulit menerima larangan itu,
karena berburu juga merupakan tradisi yang nyaris punah sehingga perlu
dilindungi. Apalagi, kepercayaan masyarakat Mentawai, disebut Arat
Sabulungan, mengajarkan seluruh makhluk dan fenomena alam memiliki jiwa dan
roh yang disebut simagre.
Kepercayaan itu tidak hanya menyangkut keharmonisan tubuh dan jiwa manusia,
tapi juga keseimbangan dengan alam. Jika keharmonisan tak lagi terjaga, akan
timbul penyakit atau petaka lain. Memang pelaksanaan beberapa seremoni
penting dalam Arat Sabulungan tidak terpisahkan dengan alam rimba belantara.
Termasuk, dalam praktik berburu, mereka tidak akan melakukannya sekadar
untuk bersenang-senang tanpa mempertimbangkan keseimbangan alam.
<<
1 2
>>
|