globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

November 2001

Langlang

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

Mugejek ka Siberut

Mugejek ka Siberut samalah maknanya dengan melakukan perjalanan ke Siberut. Tak hanya menawarkan keindahan Taman Nasional dan budaya tradisional Mentawai, Siberut pun menguji kekuatan mental dalam menyeberangi badai Samudera Indonesia, serta kemampuan fisik berjalan kaki!

 
Foto: Dok. Binsar VSB

Kerei, sang pemimpin yang meski ber-kabit juga bertas pinggang dan berarloji.

Pulau Siberut, berjarak sekitar 100 - 155 km barat Kota Padang, menghadap Samudera Hindia. Meski hanya salah satu dari tiga pulau terbesar di Kepulauan Mentawai, yang memiliki 61 pulau, ia tepat benar menjadi tujuan perjalanan, mengingat di dalamnya terdapat beberapa desa yang mencoba mempertahankan kebudayaannya.

 

Jadwal tak pasti

Masalah yang langsung mengadang bila hendak ke Siberut, biasanya berhubungan dengan gangguan cuaca. Kapal kayu Sumber Rezeki Baru milik PT Rusco kadang harus menunda pelayaran karena tidak mungkin menembus badai Samudera Hindia. Jika tak ada kendala, kapal ini bertolak dari Muaro Padang ke Muara Siberut setiap Senin dan Rabu sore. Tarifnya pun terjangkau, Rp 35.000,- untuk penumpang di kamar dan Rp 25.000,- untuk penumpang di dek. Celakanya, pelayaran selama 11 jam itu kerap terasa lebih lama. Apalagi kalau menanti tiba di tujuan dengan jantung berdegup kencang, karena kapal kelebihan muatan sementara fasilitas keselamatan jauh dari memadai.

Feri Barau milik Pelni yang seharusnya dapat berlayar tanpa mengkhawatirkan badai, hanya bertolak sekali dalam dua minggu. Itu pun kadang gagal bertolak dengan alasan mesin rusak. Tarifnya pun lebih murah, Rp 25.000 untuk penumpang di kamar dan Rp 18.000 untuk penumpang di dek. Tak heran oleh penduduk namanya dipelesetkan menjadi Kapal "Buruk".

Ketidakpastian jadwal transportasi ini sering membuat penduduk, terutama yang berasal dari daerah hulu yang ingin pergi ke luar pulau, tertahan di Muara Siberut. Padahal untuk kembali ke rumah harus mendayung sampan selama dua hari! Penantian serba tak pasti ini juga kerap menimpa pengunjung, yang tentu berakibat pada perubahan jadwal perjalanan dan pembengkakan anggaran. Untung penginapan sangat sederhana di Meileppet memasang tarif amat murah, cuma Rp 2.500,- per malam. Tapi, saya memilih menginap di rumah penduduk di Meileppet, rumah Bapak Oreste Demo Saleleubajak, supaya bisa lebih dekat mengenal masyarakat desa tersebut.

Transportasi lokal di Siberut masih banyak mengandalkan kekuatan kaki, sampan, dan perahu kecil. Belum ada jalan raya. Yang terbentang hanya jalan berlumpur sepanjang 4 km dari Muara Siberut menuju dermaga Meileppet yang bertahun-tahun tak kunjung usai dibangun. Setelah itu yang tersisa hanya jalan setapak, kecuali di lahan penebangan.
Foto: Dok. Binsar VSB

Tinggal sedikit masyarakat Mentawai yang mengenakan kabit. Yang masih dipakai cuma sikairan (ikat kepala) dan kalung pada saat ada acara adat.

Untuk mencapai perkampungan tradisional seperti Rorogot, Roddok, Madobak, Ugai, dan Matotonan kita harus mencarter speedboat dengan tarif Rp 300.000,- - Rp 500.000,-. Perjalanan melawan arus sungai diawali dari Desa Muntei menuju Rorogot dengan waktu tempuh 1,5 jam. Untuk mencapai Desa Roddok perlu waktu satu jam. Dari Roddok baru bisa dilanjutkan dengan berjalan kaki.

Madobak dapat dicapai dari Roddok dengan naik boat selama 1,5 jam disambung dua jam berjalan kaki. Sedangkan dari Madobak ke Ugai membutuhkan waktu satu jam naik boat atau 30 menit berjalan kaki. Matotonan desa paling dalam, dapat ditempuh dengan dua jam berjalan kaki dari Ugai. Kedua desa yang disebut belakangan, jarang bisa dicapai dengan boat, kecuali saat air sungai sedang pasang-pasangnya.

Persiapan lain yang tak kalah penting, berupa kelengkapan medis pribadi atau tim. Penyebabnya, hingga saat ini Siberut masih kekurangan fasilitas kesehatan. Kalaupun ada cuma Puskesmas dengan persediaan obat-obatan yang sangat tidak memadai.

Kami sempat mendapat "peringatan" saat menyaksikan seorang ibu di Desa Meileppet dipatuk seekor ular hijau yang terkenal ganas. Suami korban yang telah berjalan kaki sejauh 8 km pulang-pergi untuk meminta serum bisa ular ke puskesmas di Muara Siberut, pulang dengan tangan hampa. Akhirnya, nasib si ibu dipercayakan sepenuhnya pada ramuan dan doa Teteu si Rakkut, Kerei (dukun) ternama dari Desa Muntei.

 

Satwa endemik

Siberut dan pulau-pulau di Kep. Mentawai lainnya diperkirakan terpisah dari daratan Sumatra sejak 500.000 tahun lalu pada zaman Pleistocene, oleh naiknya permukaan air laut. Sejak itu pula pulau ini terisolasi kehidupan daratnya. Boleh jadi isolasi itu menjadikan Siberut memiliki vegetasi dan satwa endemik khas, yang takkan dijumpai di belahan dunia mana pun, lumayan terjaga kelestariannya. Setidaknya hingga sebelum membludaknya arus pendatang dengan berbagai kepentingan.

Gambar ulang: anton Untuk itu pula tahun 1997 pemerintah menjadikan 190.500 ha dari 430.300 ha luas pulau ini sebagai taman nasional, memanjang dari utara hingga selatan, nyaris membagi dua pulau Siberut.

Beberapa satwa penting di taman nasional itu di antaranya bilou atau siamang kerdil (Hylobates klosii), simakkobu atau monyet ekor babi (Simias Concolor), joja atau lutung mentawai (Presbytis potenziani), Bokkoi atau beruk mentawai (Macaca pagensis), rusa sambar (Cerrus unicolor oceanus), dan burung hantu mentawai (Otus mentawai). Selain itu masih ada kurang-lebih 130 spesies burung lainnya, beragam spesies reptil, amphibi, invertebrata, dan lebih dari 503 jenis vegetasi. Karena kelangkaannya itu, status satwa di sana pun dinyatakan dilindungi dari kepunahan oleh pemerintah. Perburuan dilarang.

Tapi, diam-diam banyak anggota masyarakat yang sulit menerima larangan itu, karena berburu juga merupakan tradisi yang nyaris punah sehingga perlu dilindungi. Apalagi, kepercayaan masyarakat Mentawai, disebut Arat Sabulungan, mengajarkan seluruh makhluk dan fenomena alam memiliki jiwa dan roh yang disebut simagre.

Kepercayaan itu tidak hanya menyangkut keharmonisan tubuh dan jiwa manusia, tapi juga keseimbangan dengan alam. Jika keharmonisan tak lagi terjaga, akan timbul penyakit atau petaka lain. Memang pelaksanaan beberapa seremoni penting dalam Arat Sabulungan tidak terpisahkan dengan alam rimba belantara. Termasuk, dalam praktik berburu, mereka tidak akan melakukannya sekadar untuk bersenang-senang tanpa mempertimbangkan keseimbangan alam.

<<  1 2 >>

Active Channel

© Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/