globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

November 2001

Perkara Kriminal

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

RAHASIA ANGKA 17

Pagi itu, 2 Mei 1974, cuaca sangat bersahabat. Matahari bersinar cerah di ufuk timur. Bagi Franz-Josef Faust, seorang pensiunan, cuaca macam ini tentu menggembirakan. Setiap hari, saat cuaca memungkinkan atau tidak, penduduk pinggiran hutan Dunkelstein ini selalu menjelajahi hutan itu, yang oleh banyak orang dikenal sebagai Lovers' Wood. Hari itu sebelum masuk hutan, ia menyiapkan sarapan sendiri dan mengemas bekal untuk makan siang. Seperti tak mau buang-buang waktu, ia segera berangkat pagi-pagi.

 

Ilustrasi: NBC Sukma Lovers' Wood membentang dari pinggir Kota St. Pölten sepanjang sungai Danube sejauh 32 km ke utara. Kota tua St. Polten telah berdiri sejak abad ke-13. Letaknya sekitar 64 km barat Wina, ibu kota Austria, dan 1,5 km ke utara yang mengarah ke barat menuju perbatasan Jerman. Walaupun telah menjadi kota industri, udara kota ini masih relatif bersih.

Bagi banyak orang, menjelajahi hutan itu tentu menyeramkan. Tapi tidak buat Franz-Josef Faust. Bahkan ketika ia tak sengaja menemukan korban tindak kejahatan di hutan itu.

Tepat pukul 07.26 dia menemukan onggokan gosong tak bergerak yang dikerubuti lalat. Sejenak ia memperhatikan dengan saksama, pemandangan mengerikan dari sesosok mayat.

Dari ukurannya, itu mayat seorang pria. Tubuhnya mulai tampak membengkak, sehingga lebih mirip raksasa. Wajahnya hitam terbakar, sementara kulitnya terbungkus lepuhan amat besar. Ototnya terkoyak di beberapa bagian, dan tak sehelai rambut atau pakaian pun tersisa. Dari aroma bau busuk yang menyengat, mudah ditebak kalau pria itu sudah cukup lama meninggal.

Franz-Josef Faust tidak mendekat, tapi mencoba mengenali tanda-tanda di sekitarnya agar dapat menemukan tempat itu kembali. Lalu dia mencari telepon umum terdekat.

Pukul 08.30 Dr. Julius Stengler tiba di tempat mayat mengerikan itu ditemukan. Dokter forensik berkacamata dengan bingkai dari bahan tanduk binatang ini bertugas di kantor polisi St. Pölten. Dia datang bersama petugas ahli dari Departemen Investigasi Kriminal.

"Dia sudah mati beberapa minggu, dan sudah tak bernyawa ketika seseorang membakarnya di sini," tutur dokter Stengler.

"Kapan dia dibakar?" tanya Inspektur Anton Hochbauer, yang berbadan besar dengan bahu lebar, kumis pirang, dan kepala botak, sambil mengamati detailnya.

"Baru saja," kata dokter itu. "Mungkin dua hari lalu, tapi saya baru bisa memberi penjelasan lebih rinci setelah membawanya ke kamar jenazah."

"Ini telapak roda mobil," teriak detektif Sersan Max Friedman, asisten inspektur dan anggota ketiga dari tim tadi.

Inspektur polisi berjalan menuju tempat sersan bertubuh langsing dan berambut pirang yang sedang jongkok di samping sepasang jejak roda di tanah yang lembek itu.

"Mereka tidak menggotongnya dalam jarak jauh," kata Inspektur.

Mayat itu digeletakkan sekitar 1,8 m dari salah satu jalan di hutan, yang biasa digunakan pekerja hutan, tapi tidak dilalui tim polisi saat menuju tempat kejadian perkara (TKP).

"Mereka?" ujar Sersan itu. "Berarti lebih dari seorang?"

Inspektur mengangguk. "Menurut saya, ini pembunuhan profesional. Semua ciri-cirinya dihilangkan. Saya yakin, setiap bagian penting dari tubuh yang diperlukan untuk identifikasi telah dirusak. Beruntung kalau kita berhasil menemukan identitasnya."

Perkiraan pesimistik Inspektur itu menunjukkan akurasinya. Tak ada petunjuk penting yang dapat ditemukan untuk mengidentifikasi mayat, walau beberapa bagian pakaian terbakar ditemukan dekat tubuh korban, dan jari korban cukup lengkap untuk diambil sidik jarinya. Wajahnya pun terlalu rusak sehingga percuma kalau difoto atau sulit dibuat sketsa gambarnya yang detail oleh polisi. Pakaiannya asli orang Austria, tapi tanpa petunjuk di mana pakaian itu dibeli. Bekas ban mobil di tanah pun terlalu samar untuk bisa dilacak jejaknya.

 

Bidai buatan RSU

Ilustrasi: NBC Sukma "Menurut Stengler, dia tewas sekitar pertengahan April akibat dua pukulan sangat keras di pelipis kiri. Diduga alat pemukul itu mirip palu godam atau benda sejenis," ujar Inspektur, terlihat muram melihat tumpukan laporan di meja kerjanya. "Korban seorang pria berusia sekitar tiga puluh hingga empat puluh tahun. Secara umum kondisi kesehatannya baik, kecuali satu ruas jari kirinya cedera."

"Cedera saat dia dibunuh?" tanya Sersan.

"Sebelumnya, dan hampir sembuh. Dia mengenakan bidai ini di bagian yang cedera," ujar Inspektur. Dari mejanya ia mengambil sebuah bidai gepeng panjang, biasa digunakan untuk membalut tulang yang patah. Bidai itu terbuat dari bahan khusus, yang lalu diperlihatkan kepada mitra kerjanya.

Sersan mengamati benda itu, lalu meletakkannya kembali ke atas meja.

"Apa Anda masih berpikir ini pembunuhan profesional?" ia bertanya.

"Apa lagi?" tutur Inspektur. "Tidak ada laporan adanya orang hilang di seluruh Austria yang berhubungan dengan mayat ini. Tidak pula ada orang hilang atau seseorang yang menghilang dari negara tetangga."

"Bisa saja korban itu orang asing," tutur Sersan dengan serius. "Tapi kenapa harus dibawa sampai ke St. Pölten? Saya pikir, komplotan profesional yang ingin membuang tubuh itu ke luar negeri akan melakukannya sedekat mungkin dengan perbatasan. Perbatasan terdekat di sini adalah Cekoslovakia, yang negara komunis (saat itu - Red.). Saya tidak pernah mendengar ada geng atau pembunuh profesional di sana. Kalaupun ada, bagaimana cara mereka melintasi perbatasan? Bagi mereka, akan lebih mudah untuk melarikan diri dari penjara ketimbang keluar Cekoslovakia dengan seonggok mayat berusia dua minggu!"

"Kurang dari dua minggu mungkin," kata Inspektur. "Stengler mengatakan, korban dibakar pada 1 Mei. Mereka menggunakan campuran bensin dan oli."

"Mengapa mereka tidak membakarnya sampai ludes? Itu juga mengesankan pelakunya tidak profesional," kata Sersan.

Inspektur tak segera menjawab. Setelah beberapa saat, dia mengambil sebatang cerutu racikan tangan yang berukuran pendek, membuang ujungnya, dan menyelipkannya di sudut bibirnya. Inspektur Hochbauer cuma merokok ketika dihadapkan pada masalah rumit atau sulit terpecahkan. Ia yakin cerutu bisa membantunya berpikir.

"Anda benar," akhirnya dia berujar. "Ini tidak dapat dikatakan pembunuhan profesional. Tak seorang pun mau membopong mayat busuk menyeberangi perbatasan Ceko, atau perbatasan lainnya, cuma untuk membuang mayat. Pembunuh profesional tidak bakalan menunggu sampai dua minggu untuk membuang tubuh korbannya. Pembunuh profesional tidak bakal menyiramkan bensin untuk membakarnya. Ini pasti perbuatan pembunuh biasa."

"Tapi dia sudah mati lebih dari dua minggu dan tak ada yang melapor kehilangan. Mungkinkah itu?" tanya Sersan.

"Ya. Ada orang hilang untuk waktu yang lama tanpa seorang pun mengetahuinya. Salesman di jalan, perantau yang mencari pekerjaan atau orang dalam perjalanan ke kota lain, atau orang yang tinggal sendirian. Kadang-kadang tidak ada orang yang melaporkan kehilangan itu," ujar Inspektur sambil melumat cerutunya di asbak.

"Hanya orang yang kenal dekat dengannya yang akan membunuh," kata Sersan.

"Tak selalu begitu. Ambil contoh, seorang salesman. Saat sedang mengendarai mobil di jalan, dia dihentikan oleh seseorang atau beberapa orang yang hendak menumpang. Tapi lalu ia dirampok dan dibunuh oleh 'penumpangnya' itu. Mayatnya di bagasi dibawa berkeliling selama beberapa minggu. Setelah busuk, mayat itu dibuang di hutan dan dibakar. Mobilnya mereka jual ke pedagang gelap atau dibuang begitu saja. Modus semacam itu cukup sering terjadi," kata Inspektur.

Sersan mengambil data-data dari meja. "Bagaimana kalau kita serahkan semua data ini ke Seksi Kejahatan Tak Terungkap?"

<<  1 2 3  >>

Active Channel

© Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/